budiwiyono.com | opinions, analysis, techniques, experiences and insights.

Profil Marketer 2.0, apakah anda comply? ;)

Posted in Marketing by budiwiyono on December 28, 2008

majalah_swa1-224x300

SwaSembada edisi 4-17 Desember 2008, menampilkan profiling dari riset yang telah dilakukan pada 12-21 Nop 08 terhadap sample 31 Manajer/GM/Direktur Pemasaran/Promosi/Merek.

Kriteria dan ciri-ciri Marketer versi 2.0, menurut SWA, pemasar yang sesungguhnya adalah mereka yang bisa menggabungkan kecerdasan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi.

Profiling yang dihasilkan dari survei, memperlihatkan spesies baru di dunia pemasaran memang sudah muncul.

Statistik antara lain sbb:

  • 100% responden telah menggunakan gadget (notebook(46,03%), Blackberry(14,29%), PDA(30,16%) & Communicator(9,52%).
  • 95% telah terlibat pada Komunitas Social Online, terbanyak facebook(32,79%), Friendster(26,23%), My Space(3,28%), milis(24,59%), LinkedIn(1,64%).
  • 41,94% telah memiliki blog, sisanya belum.

Yang menarik adalah tentang aktifitas, kegiatan di dalam kantor dan diluar kantor sama seringnya (61,29%). Mobilitas tinggi, 90% dalam setahun telah melakukan perjalanan bisnis luar negeri, 70% telah melakukan perjalanan dinas dalam negeri.

Selengkapnya berikut inilah Profile Marketer versi 2.0.

Apakah anda comply? ;)

profil-marketer-20

Apa alasan konsumen online

Posted in Marketing by budiwiyono on December 27, 2008

Menurut Amalia Maulana, motivasi konsumen untuk Online adalah sbb:

Saya highlight bahwa ada 4 motivasi online bagi konsumen, yaitu (1) to connect — ini makanya email2an makin jadi sehari2, juga connect yang sudah lebih interaktif seperti via Facebook, Friendster, dll, (2) to enjoy — ya lah, biarpun sedang cari berita atau lagi ngerjain pekerjaan apapun, sesekali diseling dengan browsing pekerjaan jadi ringan. Selain browsing, juga to enjoy ini ada hubungannya dengan fun, entertainment yang bisa didapat via Internet, (3) to learn — nah ini yang lebih seriousa.. lihat aja dari murid SD sampai mahasiswa S3 semuanya sekarang sudah cannot live without Internet, penelitian menyatakan bahwa orang merasa menjadi ‘resourceful’ dengan media ini, dan sebagian dari mereka juga bilang mereka menjadi ’smarter’ dengan adanya media ini. (4) to trade — nah, yang terakhir ini yang ada hubungannya dengan beli membeli, bayar membayar dan pokoknya any transaction via media ini.

Bagaimana memanfaatkan online media adalah dengan mengerti ato paham betul apa yang diinginkan oleh visitors, sebisanya dalam website dibekali dengan fungsi2 yang komplit, kalo bisa semuanya ada (dari no.1 sampai 4 diatas).

Bagaimana menurut anda ?

PR Is Dead As We Know It!!!

Posted in Marketing by budiwiyono on December 25, 2008
*Taken from my new book: “CROWD: Marketing Becomes Horizontal”

Sejak dini eBay sadar harus secara jujur dan transparan melakukan conversations dengan seluruh stakeholders-nya.
Caranya?
Secara cerdas memanfaatkan medium corporate blogging.

Langkah awalnya, eBay menyewa veteran social media, Richard Brewer-Hay, untuk merancang dan meluncurkan sebuah blog. eBay Ink, yang memberikan akses langsung bagi pelanggan untuk berkomunikasi secara langsung dan transparan dengan eBay. Singkatnya, eBay Ink merupakan media dimana investor, analis, karyawan, buyers-sellers di eBay, dan pengguna Paypal dan Skype dapat berdialog dengan siapapun orang di dalam perusahaan, dari satpam hingga CEO.

Yang menarik, Brewer-Hay disewa eBay sebagai blogger yang independen, tidak memihak baik kepada eBay maupun pihak di luar eBay yang menjadi audiensnya. Usut punya usut, sejak awal disewa, Brewer-Hay sudah meminta eBay meneken kontrak yang membebaskan dirinya ngomong apapun di blog: hal baik maupun jelek. Pokoknya dia menulis apa adanya secara seimbang, dengan kejujuran, dengan transparansi, tidak boleh yang baik-baik melulu.

Kata Brewer-Hay:
“My words go straight up onto the blog, unedited.”
“It’s got to be transparent.”
“There’s got to be an authenticity to it,”
“…an honesty to it,”
“People can comment, too, and comments are going to be open.”
“You’re going to get the good, the bad, and the ugly.”
“I have no prior agenda with any of the execs or people in the company.”
“That’s a big, important thing.”

Yang menarik dari kata-kata sang blogger adalah:
Bagaimana bisa ia disewa untuk bicara secara independen?
Termasuk untuk menjelek-jelekkan eBay, seperti yang terjadi pada Wal-Mart Watch?

Inilah “roh” dari corporate blogging.
Corporate blogging bukanlah PR
Corporate blogging bukanlah topeng.
Corporate blogging bukanlah pupur dan gincu.
Corporate blogging adalah CONVERSATIONS yang sesungguh-sungguhnya.

Kalau orang seperti Richard Brewer-Hay bisa menjembatani perusahaan dengan setiap stakeholders baik di dalam maupun di luar perusahaan secara jujur, transparan, dan dilandasi trust.

Pertanyaannya kemudian: “Lalu fungsi corporate PR mau dikemanakan?”
Kita tahu selama ini fungsi Public Relation (PR) adalah membangun citra positif perusahaan: dengan ngomong positif ke wartawan dan media massa; dengan melakukan kegiatan-kegiatan corporate social responsibility; dengan menulis advertorial di sebanyak di sebanyak mungkin surat kabar mengenai perilaku baik perusahaan.

Namun celakanya, seringkali terjadi PR adalah layaknya salon kecantikan.
Fungsinya memoles wajah perusahaan dengan pupur dan gincu.
Agar yang jelek di dalam menjadi kinclong di luaran.
Agar yang busuk-busuk di dalam menjadi wangi di luaran.
Agar yang bopeng-bopeng jadi mulus bersinar.

Kalau orang PR masih menyikapi pekerjaannya seperti itu,
…maka bisa saya pastikan profesi PR bakal mati, kenapa?
Karena yang dibutuhkan bukannya PR Manager,
…tapi CHIEF BLOGGER OFFICER – CBO,
…seperti Richard Brewer-Hay.

Akankah profesi PR di jurang kehancuran?
Waaaah… kok menakutkan amat!?!?…

From: Yuswo Hady
Tagged with: , ,

Pay It Forward

Posted in Get Inspired by budiwiyono on December 21, 2008

payitforward

Pay It Forward, film yang disutradarai oleh Mimi Leder itu mengisahkan tentang sebuah ide sederhana dari seorang anak kecil berusia 11 tahun, Trevor Mckinney, yang dibintangi oleh Haley Joel Osment. Trevor Mckinney hidup bersama ibunya, Arlene, yang diperankan oleh aktris Helen Hunt. Dikisahkan bahwa ibu Mckinney adalah seorang pemabuk, sedangkan ayahnya jarang berada di rumah.

Kisah film tersebut berawal pada saat seorang guru ilmu sosial di sekolah Mckinney memberikan sebuah tugas. Sang guru, Mr. Simonet, yang diperankan oleh Kevin Spcey, meminta para murid memikirkan sebuah ide yang dapat mengubah dunia. Para murid juga diminta untuk mewujudkannya langsung ke dalam tindakan nyata.

Pada saat itulah Mckinney Trevor mencetuskan ide Pay It Forward atau bayar dimuka. Inti dari ide Mckinney tersebut adalah ia hanya perlu menolong tiga orang. Tahap pertama Mckinney membantu temannya, seorang guru ilmu sosial di sekolahnya, dan seorang pemakai narkoba.

Sedangkan orang yang ditolong tidak perlu memberikan imbalan apa pun, kecuali menolong tiga orang lainnya. Ide Mckinney sangat sederhana, tetapi mekanismenya menciptakan mata rantai yang luas dan berkesinambungan. Dalam film tersebut dikisahkan bahwa ide sederhana Mckinney berpengaruh cepat dan meluas ke beberapa kota di sekitar tempat tinggalnya.

Anda terispirasi? Buatlah Club untuk social activity dengan skema tersebut dan untuk saling memotivasi, share hasil perkembangannya, OK?

Source: TDA

Strategi Menembus Pasar Luar Negeri Melalui Internet

Posted in Entrepreneurship, IT Technology, Marketing by budiwiyono on December 21, 2008

Oleh : Nukman Luthfie — http://www.sudutpandang.com/

INTERNET adalah sebuah jaringan komputer dunia, yang tidak mengenal batas antara negara. Kita bisa terhubung dengan siapa saja di belahan dunia lain melalui Internet dengan begitu mudahnya.  Dengan karakter seperti  itu, semestinya Internet dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk menembus pasar ekspor. Kita bisa menjual barang ke manca negara tanpa harus melakukan pameran di luar negeri atau bertemu langsung dengan calon buyer secara langsung.

Jika kita berhasil menembus pasar ekspor hanya melalui Internet, maka margin usaha kita akan tinggi, mengingat salah satu biaya terbesar eksportir adalah biaya promosi roadshow di luar negeri.

Bagaimana strateginya? Di bawah ini saya uraikan beberapa strategi mendasar yang wajib dilakukan.

Memiliki Situs Web yang Sesuai Pasar

Memiliki situs web adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk menembus ekspor via Internet. Melalui situs web inilah calon pembeli mendapatkan informasi selengkap mungkin mengenai siapa kita, barang apa saja yang diproduksi, berapa besar kapasitas produksi, bagaimana kualitas barang, serta informasi pendukung lainnya. Anggaplah ini sebagai catalog produk yang biasanya dicetak oleh para eksportir dan disebarluaskan ke calon-calon buyernya di berbagai Negara. Bedanya, di situs web kita bisa memperbarui produk-produk dengan mudah dan cepat sehingga calon buyer selalu mendapat informasi terbaru.

Tentu saja, situs web bukan hanya pengganti katalog produk. Situs web juga sebuah media komunikasi yang interaktif dengan calon pembeli. Oleh karena itu, situs web harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk berkomunikasi langsung, baik dalam bentuk email maupun chat.

Kecuali itu, karakter situs harus disesuaikan dengan karakter pasar. Jika ingin lebih mudah menembus pasar Eropa misalnya, desain situs web sebaiknya sederhana, klasik, tanpa animasi aneh-aneh, karena memang seperti itulah kebanyakan karakter desain Eropa. Sebaliknya, jika ingin menembus Amerika Serikat, karakter desain yang modern kreatif akan mempermudah orang Amerika untuk tertarik membuka situs web kita.

Untuk bahasa, apa boleh buat, bahasa Inggris adalah sebuah keharusan. Namun jika ingin lebih efektif lagi menembus Eropa, buat beberapa versi bahasa untuk negara-negara yang lebih nyaman dengan bahasa ibunya, misalnya Perancis dan Spanyol.

Search Engine Friendly

Pengguna Internet memiliki perilaku khusus dalam hal mencari informasi  produk. Mereka tidak terlalu suka langsung masuk ke situs web sebuah perusahaan dan mencari informasi produknya di sana. Mereka lebih senang mencarinya melalui search engine seperti Google, Yahoo!, MSN Live dan lainnya. Statistik dari berbagai lembaga riset menunjukkan, sekitar  68% pengguna Internet mencari informasi produk melalui mesin pencarian.

Oleh karena itu, wajib hukumnya memiliki situs web yang search engine friendly. Situs yang memenuhi standar ini akan mudah dan cepat diindeks oleh berbagai search engine utama, seperti Google, Yahoo! dan MSN Live. Banyak perusahaan yang seringkali abai dengan hal-hal semacam ini. Perhatian mereka lebih terfokus pada tampilan – indah tidaknya – sebuah situs. Padahal, search engine friendly ini justru memiliki nilai startegis agar mudah dicari pengguna Internet.

Menguasai  Keyword yang Tepat

Jika kita berjualan furniture, maka kita harus melakukan audit, apakah ketika pengguna Internet mengetik keyword atau kata-kata kunci yang berkaitan dengan furniture itu, situs kita berada di halaman hasil pencarian yang strategis? Tidak harus no nomor satu hasil pencarian. Berada di halaman satu hasil pencarian sudah cukup bagus. Bagaimana pun, pengguna Internet masih rela membaca hasil pencarian sampai halaman ke lima.

Meski demikian, penguasaan kata kunci pun perlu strategi khusus. Saya sering bertemu dengan pemilik situs yang bangga bahwa kata kunci nama domiannya menduduki nomor satu hasil pencarian di search engine. Sebenarnya itu hal yang biasa saja. Yang justru harus diriset dengan serius adalah, kata kunci apa yang diketik oleh calon buyer kita berkaitan dengan produk yang kita tawarkan. Ketika kita menjual handphone misalnya, akankah menggunakan kata kunci handphone, mobile phone, atau cell phone? Memahami istilah-istilah yang berkaitan dengan produk yang kita jual ke negara-negara tertentu amat strategis dalam menembus ekspor.

Promosi Online

Meski calon buyer akan datang dengan sendirinya jika situs kita search engine friendly dan menguasai keyword yang tepat, tetap saja sebuah web yang berorientasi penjualan harus dipromosikan dengan serius untuk mendapatkan pengunjung berkualitas. Sedikitnya ada tiga hal yang penting dilakukan.

Pertama, bergabung dengan e-marketplace dunia, seperti Alibaba.com, Globalsources.com dan eBay.com serta emarket place vertical yang sesuai dengan produk yang kita jual. Di tempat maya itulah para buyer dan seller seluruh dunia bertemu.  Memang di sana persaingan amat ketat, banyak penjual produk yang sama dari negara lain atau bahkan dari sesama perusahaan Indonesia. Namun dari situlah kita akan mudah ditemukan oleh calon pembeli yang serius.

Kedua, bergabung dengan social networking dunia. Karena yang bergabung di social networking itu manusia, maka sebaiknya eksekutif perusahaan, bukan perusahaanya, yang bergabung ke socian networking itu. Jika ingin menembus pasar luar negeri, maka salah satu yang saya rekomendasikan adalah Linkedin.com. Inilah jaringan social dunia maya para eksekutif dan pebisnis dunia. Masuklah ke sana, bergabunglah dengan kelompok-kelompok orang yang diasumsikan membutuhkan produk kita.

Ketiga, promosi melalui Google Adwords, yang amat bermanfaat ketika kita tidak mampu menguasai keyword-keyword tertentu.

Paham Seluk Beluk Ekspor

Ini langkah strategis yang harus disiapkan jauh-jauh hari. Percuma saja kita mendapatkan banyak potential buyer jika kita pada akhirnya tidak bisa mengirim barangnya ke negara tujuan karena tidak paham prosedur ekspor. Hal lain yang harus jadi perhatian adalah soal pembayaran. Kita harus paham betul soal LC dan prosedur pembayaran gara jangan sampai kita tertipu. Selalu ada saja peluang kita ditipu oleh buyer yang mau menerima barang tapi enggan membayar. Apalagi di dunia Internet, di mana kita tidak pernah bertemu dengan buyer kita.

Oleh karena itu, lengkapilah diri dengan ilmu ekspor impor.

Selamat menembus pasar luar negeri melalui dunia maya!

The Top 5 Viral Facebook Techniques

Posted in IT Technology, Marketing by budiwiyono on December 19, 2008

Posted by Nick O’Neill on July 26th, 2007 4:04 PM

The dynamic of Facebook application marketing is rapidly changing. What
once was an environment in which your application was practically
guaranteed to go viral has shifted to one in which you need to come up
with creative ways of marketing your application. The MyBucks application
is a perfect example of this. After Aryeh Goldsmith (the creator of the
MyBucks application) added the “Top Referrers” feature, the application
immediately turned viral. After seeing all the applications go viral I
have decided to do a brief overview of a few key features that help
your application go viral. While this is not an exhaustive list, it
covers the majority of tricks of the trade that are currently being
used.

  • Forced Invite – The first instance that I saw this implemented was by David Gentzel when he launched the Happy Hour application.
    Within a matter of weeks the application has already become the 13th
    most popular application on Facebook, which is no easy feat. This
    method was duplicated by other applications with varying success within
    a matter of hours. What exactly is this method you ask? As soon as
    someone decides to add the application they are forced to invite 10
    friends. This is a risky tactic but David Gentzel was able to leverage
    his other highly popular applications to drive traffic to this
    application. Personally, I don’t recommend this tactic. It is a brute
    force method that can be used by those with popular applications that
    don’t have rich feature sets. I have a feeling that most happy hour
    users don’t return to the app on a daily basis, but then again I don’t
    have statistics to back that up.
  • Invite after action – When the Facebook platform first
    launched there were no restrictions as to how many people an
    application user could invite per day. As a result many of the initial
    applications that took advantage of the checkbox invite forms grew
    rapidly. Since the launch, there is now a limit of 10 friends per day
    by each application user. While it has been significantly limited by
    Facebook, it is still a useful form of marketing. When building your
    application you should definitely come up with an effective way of
    allowing users to invite other people.
  • News feed – The news feed is the most powerful component
    of Facebook. Period. There are two ways that applications can leverage
    the news feed. The first is naturally built in. Most of the time, when
    a user adds an application it is displayed in their friends’ news
    feeds. While it is not a guarantee that it will show up in other
    people’s news feeds (due to a number of factors pertaining to news feed
    optimization), this is the primary thing that helps applications spread
    virally. When I launched my Bush Countdown clock
    I added no viral components and relied completely on people’s news
    feeds. This has spread the application to close to 8,500 users. While
    not spectacular, it is hardly something to sneeze at. The second way of
    using a news feed is by leveraging the news feed API calls that
    Facebook has provided. Within reason, you can regularly post news items
    to a user’s mini-feed within their profile. A small percentage of the
    time that item will end up on their friends’ news feeds. While this is
    severely limited, at least you can get it on to your users’ mini-feeds.
    Every form of exposure you can get (within reason) for your
    application, you should strive for.
  • Referrals/Giveaways – This is the most recent form of
    viral marketing on Facebook. I am seeing a number of applications
    adopting this technique. The referrals tactic is to come up with an
    effective way of encouraging your applications users to market your
    application for you. They can market your application on blogs,
    websites, forums, Facebook walls, messages to friends and more. The
    bottom line is that you end up with your application users being the
    ones that get scrappy with the marketing, not you. Giveaways are
    usually combined with this to provide an incentive for users to promote
    your application. There is a risk though in making your application
    look cheap, but for now I think this is a great technique.
  • One-on-One – Used alone, this technique may not result in
    viral growth of your application but combining this technique with one
    of the others I have listed can result in exceptional results. The
    concept is straight forward. Reach out to people that you think will
    find your application useful. This technique is more for targeted
    applications, not for generic applications such as poke wars or zombie
    biting or any of the other generic applications out there. Reach out to
    those individuals that you think will benefit from your application and
    then follow-up with them once they’ve added it. The result is
    passionate users that become your own brand evangelists. This technique
    has been used by countless communities to help generate passionate
    users. If you nurture your application users you will see positive
    results in the long-term.

While each of these techniques can provide varying results, all of
them are targeted at creating the viral effect. Ultimately that is what
makes the Facebook platform so appealing currently. You can rapidly
reach thousands to millions of individuals in a short span of time at
minimal cost. The problem with these viral techniques are that many of
them will become practically useless soon after I release this post.
That is the nature of viral marketing. Viral marketing techniques lose
their appeal after they become adopted by the masses. While the
techniques that have been used until now are far from revolutionary, I
have a feeling that we will begin to see truly creative techniques in
the coming months.

Source: allfacebook.com

Facebook Pages Insider’s Guide

Posted in Entrepreneurship, IT Technology, Marketing by budiwiyono on December 19, 2008

Many businesses, from leading global brands to favorite local bands, are enjoying tremendous impact using Facebook Pages for free viral marketing. Check out some key strategies from the most successful businesses on Pages:

1) Regularly adding engaging and useful content
2) Letting fans participate in the conversation
3) Expanding their distribution with Facebook Ads

We’ve collected some of these winning strategies—along with the nuts of bolts of how to create and manage a Page—into a Facebook Pages Insider’s Guide

Source: Facebook.com

Mediabetea, diabetes bisa sembuh total?

Posted in Me, Family & Friends, my Corner by budiwiyono on December 13, 2008

Setelah istri saya melihat Mediabetea di MetroTV (Healthy Life), diperlihatkan dalam acara tersebut success story penderita diabetes yang parah dan batal amputasi s/d akhirnya sembuh total.

Kami tertarik untuk mencoba Herbal Mediabetea untuk ibunda tersayang saya. Mediabetea claim bisa menyembuhkan penderita secara total, pendekatannya dengan menyembuhkan pangkreas penderita.

Tadi kami belanja Mediabetea dan campuran buah kicinya. Sudah juga kami kirim ke Semarang. Insya Allah akan saya report hasil terapi ibu saya ke blog ini. Semoga sukses, amien.

mediabetea2

carapakai

Apa Gaya Menjual Anda???

Posted in Entrepreneurship by budiwiyono on December 13, 2008

Proses Selling

Menjual tidak hanya terbatas pada proses menawarkan sebuah produk atau jasa saja, melainkan termasuk juga terampil berkomunikasi dengan efektif dan mampu mempengaruhi orang lain sehingga mereka bersedia menerima ide pemikiran kita dan dengan sukarela melakukan apa yang kita sarankan.

Dalam hidup sehari hari, kita selalu terlibat dalam proses selling tanpa bisa dihindari, misalnya ketika seorang ibu menyuruh anaknya untuk mandi, makan dan mengerjakan PR sekolah, secara tidak langsung sang ibu sudah menjual sebuah saran supaya sang anak setuju untuk pergi mandi, makan dan mengerjakan PR nya, atau ketika anda mengajak teman teman untuk clubbing di café kesukaan anda, anda sudah menjual kepada teman anda, yaitu ide dan keinginan anda untuk clubbing di café tersebut.

Bahkan ketika anda ditawarkan sebuah produk dan menolak untuk membeli, anda juga sudah menjual, yaitu anda menjual alasan kenapa anda tidak mau membelinya.

Dalam proses selling, setiap orang memiliki strategi yang berbeda sesuai dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental masing masing.

Strategi Menjual

Kalau dilihat dari pendekatannya, strategi atau gaya menjual yang biasa kita temukan bisa dikategorikan sebagai berikut:

1. Gaya Mengemis dan Memohon Belas Kasihan, strategi ini sangat tidak efektif karena kita sama sekali tidak memiliki kendali dan hanya menggantungkan keberuntungan kita pada belas kasihan prospek.
Biasanya cara ini digunakan oleh anak2 ketika meminta sesuatu pada orang tuanya, tapi dalam praktek sehari hari kita masih juga menemukan cara tersebut pada orang dewasa dan pada sales tertentu, pendekatan dengan gaya ini bisa kita kenali dari gayanya yang khas seperti “tolonglah pak/bu, ini kan sudah mau tutup bulan dan target saya masih belum tercapai…”, atau “tolong dibantu… saya kan memiliki 3 orang anak yang harus saya nafkahi…” dsb… dsb…

2. Gaya Maksa, strategi ini sering anda jumpai pada direct selling, dimana para sales ngotot dan memaksa meskipun sang prospek sudah menjelaskan tidak ada kebutuhan dan tidak tertarik untuk membeli, meski relatif lebih baik daripada yang no 1, tetap saja strategi ini kurang efektif, justru kebanyakan prospek akan kapok dan trauma karena cara pendekatan yang maksa ini, dan cara inilah juga yang memunculkan persepsi negatif terhadap profesi sebagai sales, sehingga
banyak sales yang menjadi kurang pede dan menyebut dirinya dengan
sebutan “tenaga marketing”, bukan sales.

3. Memberi Perintah, meski lebih efektif dari 2 gaya sebelumnya, tetap saja pendekatan ini tidak fleksibel, karena untuk memberikan instruksi atau perintah, kita membutuhkan otoritas, kekuasaan, pesona dan karisma, dan begitu kita berada diluar daerah kekuasaan kita, pendekatan tersebut sudah sulit untuk diterapkan.

4. Melakukan Negosiasi, syarat untuk bisa melakukan negosiasi adalah anda harus memiliki posisi tawar yang minimal seimbang dengan prospek, dan biasanya dalam negosiasi ada beberapa hal penting yang  harus anda korbankan, “Jika anda memberi ini… maka saya akan memberikan itu.. dan itu… dan itu…”

5. Pendekatan Persuasif, yaitu strategi membujuk dan mempengaruhi dengan menggunakan pengetahuan tentang psikologi dan perilaku manusia, dibandingkan dengan pendekatan sebelumnya, pendekatan ini jauh lebih fleksibel dan bisa digunakan kapan saja meskipun posisi tawar kita lemah.

6. Pendekatan dengan HypnoPersuasion, karena hypnosis adalah sebuah seni berkomunikasi dengan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, maka sekarang metoda hypnosis juga digunakan dalam proses selling dengan  hasil yang terkadang menakjubkan.

Dalam pendekatan ini seorang sales sudah menguasai metoda HypnoPersuasion ini mampu mengontrol suasana hati dan pikiran prospek, mengontrol arah pembicaraan, memunculkan kebutuhan &
keinginan membeli pada level bawah sadar prospek sehingga mampu
meminimalkan keberatan, karena prospek akan merasa ide dan keputusan membeli tersebut berasal dari dirinya sendiri.

Berdasarkan gaya pendekatan diatas, anda termasuk tipe yang mana?

Action Tips:

Berikut ini tips yang bisa anda lakukan untuk menerapkan konsep diatas dalam hidup sehari hari:

1. Sadar bahwa ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, secara  tidak langsung kita sudah terlibat dalam proses menjual, apakah itu mengutarakan sebuah ide atau pendapat, memberikan saran maupun mengungkapkan keinginan & harapan kita.
2. Seandainya profesi anda adalah sebagai seorang Sales, anda boleh berbangga hati, karena sebagus apapun produk yang dihasilkan, sebuah
perusahaan tidak bisa jalan dan bekembang tanpa kontribusi dari para
sales. Disamping peran penting sales dalam distribusi sebuah produk,  sales juga berjasa dalam mengedukasi dan memberikan informasi up to date tentang perkembangan terbaru dalam sebuah bidang industri tertentu, jadi bisa dikatakan bahwa para customer tergantung dan belajar secara tidak langsung dari sales (karena keterbatasan waktu untuk mencari informasi baru), tidak terkecuali apakah customernya seorang dokter, insiyur atau pemilik sebuah perusahaan.
3. Analisa strategi menjual yang biasa anda gunakan, apakah efektif dan sudah optimal? Adakah yang harus diubah? Apa yang paling pintar  anda lakuka? Dan apa yang harus anda pelajari?
4. Tingkatkan keterampilan berkomunikasi anda dengan belajar metoda
berkomunikasi yang efektif dan persuasif, dan metoda HypnoPersuasion
bisa memberikan alternatif yang menarik dan mudah dipelajari dengan
cepat.

Semoga bermanfaat.
Sukses Tanpa Batas…!!!

Source:
Dipl. -Betr. Psych. Awie Suwandi MCH.
Hyposis Life Coach & Hypnotherapist
www.AwieSuwandi.com

Tagged with: , ,

Solusi untuk UKM: Internet Murah untuk Kios Anda

Posted in Entrepreneurship, IT Technology by budiwiyono on December 8, 2008

by Iim Rusyamsi

Saya mengamati seorang penjaga kios kecil dengan produk minuman air mineral isi ulang, Hengki, namanya. Kiosnya berhadapan dengan kantor saya di Mangga Dua Square. Ia selalu memegang ponsel (handphone) dan selalu sibuk dengan ponselnya tersebut.

Saya coba iseng bertanya sedang apa, apakah sedang ber-sms-an, lalu dia menjelaskan bahwa ia sedang menggunakan internet di ponselnya tersebut. Saya pun penasaran. Aplikasi apa yang biasa ia pakai? Ia biasa menggunakannya untuk browsing emailnya di Gmail lalu chat dengan Yahoo! Messenger. Dan sesekali iseng mengunjungi website lain.

Dia bilang bahwa ini dilakukan untuk bisnisnya bukan sekedar ‘main’ di internet. Ia cek email dan chat untuk komunikasi dengan gudang dan tempat sumber air minumnya dan juga dengan beberapa customer. Karena memang kebanyakan customernya adalah perkantoran di sekitar kiosnya termasuk kantor saya.

Ia menggunakan koneksi GPRS dari sebuah operator baru yang bertarif Rp. 0.7 per KB. Menurutnya sangat hemat dan aksesnya cepat. Dengan pulsa Rp. 25.000 bisa untuk 2 minggu termasuk untuk SMS dan telpon. Dan hardware yang digunakannya pun hanya sebuah ponsel ‘jadul’ yang ada fasilitas GPRS dan Java application.

Ponsel ‘jadul’ tersebut berkisar sekitar Rp. 300.000 – Rp. 600.000 untuk harga seken-nya.

Akhirnya saya pun penasaran, kebetulan saya punya ponsel tidak terpakai, jadi bisa sebagai secondary ponsel, lalu saya beli kartu pra bayar dari satu operator pemain lama, GPRS tarifnya sekitar Rp. 1 per KB. Ponsel ini full saya pakai untuk saya mengakses internet jika sedang di jalan, saya bisa buka YM, Facebook dan Gmail.

Ponsel primary saya pun bisa menggunakan GPRS malah 3.5G namun tarifnya sangat mahal dan pasca bayar sehingga sulit untuk mengatur pemakaiannya.

Dengan pulsa awal Rp. 25.000,- prabayar ini, bisa saya pakai selama 2 minggu ini pun saya pakai juga untuk telpon dan SMS.

Untuk apikasi, Dedi, penjaga kios tersebut, memberikan tips, ada link sumber aplikasi untuk ponsel yaitu : http://wap.getjar.com. Dengan masuk ke portal tersebut, pemilik ponsel akan langsung diberi menu beberapa aplikasi mobile yang sesuai dengan ponsel yang digunakan. Type ponsel kita langsung terlihat dihalaman depannya. Kita tinggal pilih aplikasi yang bisa di download dan di install di ponsel kita.

Untuk aplikasi browser kita bisa pilih : Opera Mini, lalu YM bisa pilih YMtiny. Dan beberapa situs jika kita akses, akan otomatis memilih ‘mobile mode’ atau wap. Sehingga yang didownload hanyalah text dan mini, yang membuat pulsa kita berhemat.

Sayangnya beberapa website lokal kita tidak menerapkan hal ini sehingga memberatkan para pembacanya dari ponsel.

Saya membaca di media harian beberapa hari lalu, ternyata 12 juta pemakai internet di Indonesia, ternyata terbanyak pengakses menggunakan ponsel dalam mengakses internet. Ini mungkin dikarenakan banyaknya operator GSM yang bersaing dan memberikan promosi murah dan juga membanjirnya ponsel murah.

Satu lagi informasi membanggakan ternyata pembuat aplikasi YMtiny, yaitu aplikasi chat untuk Yahoo! Messenger yang dipakai banyak orang di dunia adalah hasil karya anak bangsa. Dia adalah Arief Yusuf Rahmanto, pada hari Selasa, 2 Desember lalu, profilnya di muat di Kompas.

Mungkin ini solusi murah untuk Anda yang memiliki bisnis di kios-kios. Tidak perlu komputer yang saat ini sangat mahal, namun cukup dengan ponsel, komunikasi via internet tetap lancar. Anda mungkin bisa inovasikan fasilitas ini untuk meningkatkan profit bisnis Anda.

Satu hal lagi pentingnya kita membiasakan mengirimkan email dengan menghapus bagian email yang tidak terpakai dan mengirim hanya email yang bermanfaat, akan menghemat bandwidth untuk Hengki yang mengandalkan internet dari pulsa handphonenya.

Mudah-mudahan bermanfaat.