budiwiyono.com | opinions, analysis, techniques, experiences and insights.

Vision without action is fantasy. Action without vision is random activity.

Archive for November 2009

Mengelola Masalah

with 2 comments

Nice article dari Ikhwan Sopa

“Makin besar masalah yang Anda hadapi, makin besar peluang yang Anda miliki.”
Matthias Schmelz – Penulis buku termahal di dunia, di Amazon bukunya (450 halaman) dijual seharga $995.

Di dalam kata “problem” ada suku kata “pro”. Dalam bahasa latin, “pro” berarti “positif” atau “berpihak”. Jika kita punya masalah, maka ia sebenarnya positif dan berpihak kepada kita. Ingatlah lagi berbagai masalah dan persoalan yang berhasil kita selesaikan, pasti selalu berdampak positif dan makin membesarkan kita.

Apa yang sering terjadi, adalah sikap otomatis kita yang cenderung menjadikan masalah atau problem sebagai sesuatu yang “kontra” terhadap diri kita sendiri. Maka menghadapi masalah, sebenarnya adalah tentang bagaimana menjadikannya sebagai sekutu yang makin menguatkan kita.

Untuk bisa menyelesaikan masalah, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah merubah proses berpikir dan berpersepsi. Sebab, inti setiap masalah adalah tentang cara berpikir dan cara memandang. Kemudian, cara berpikir dan cara memandang itulah yang akan membentuk cara kita membangun perasaan. Artinya, perasaan tidak datang dan diterpakan begitu saja kepada kita. Ia adalah sesuatu yang kita bangun sendiri. Di sinilah letaknya, apa yang sesungguhnya menjadi persoalan kita.

Jika kita bisa merubah proses berpikir dan bercara pandang, dan kemudian kita bisa membangun perasaan yang lebih berpihak atau “pro” kepada diri sendiri, maka kita akan menjadi lebih kreatif. Dan kreatifitas, akan bermuara pada berbagai pilihan. Dan kekayaan pilihan, adalah peluang untuk berbagai keputusan dan tindakan yang akan menciptakan solusi.

== ALBERT EINSTEIN ==
Fisikawan, Outstanding Problem Solver.

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa jika dia diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan suatu masalah, maka ia akan menggunakan 55 menit untuk mendefinisikan masalah dan 5 menit untuk menemukan solusi.

Cara problem solving a la Einstein telah terbukti juga ampuh untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan pada umumnya. Einstein mengungkapkan sembilan langkah penting yang perlu ditempuh untuk menyelesaikan masalah.

1. Rephrase the problem

Ketika seorang eksekutif di Toyota bertanya kepada para karyawan, “bagaimanakah caranya menaikkan produktifitas kalian?”, maka respon yang diperoleh adalah wajah-wajah bengong. Kemudian, eksekutif itu merubah pertanyaannya menjadi, “bagaimanakah caranya agar pekerjaan kalian menjadi lebih mudah?” Kita tahu, sisanya adalah sejarah besar Toyota.

Me-rephrase persoalan akan membuat pola berpikir menjadi lebih akurat dan berdayaguna.

2. Expose and challenge assumptions

Setiap persoalan, selalu dilatarbelakangi oleh setumpuk asumsi. Asumsi-asumsi itu, bisa jadi tidak akurat atau mengakibatkan bias. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuatnya eksplisit, dan kemudian mengujinya dengan berbagai pertanyaan yang menantang.

“Benarkah bahwa…?”

Menguji asumsi akan membuat pola berpikir menjadi lebih jernih dan terarah.

3. Chunk up

Setiap persoalan, adalah bagian dari persoalan yang lebih besar. Maka, apa yang perlu dilakukan adalah menelusuri persoalan ke atas, sehingga bisa diketahui dengan jelas bagaimana dan seberapa besar pengaruhnya pada berbagai target yang lebih besar.

“Bagian dari persoalan apakah, persoalan yang satu ini?”

Chunking up akan membuat persoalan menjadi jelas duduk perkaranya.

4. Chunk down

Setiap persoalan, terdiri dari berbagai persoalan yang lebih kecil. Maka, apa yang perlu dilakukan adalah menelusuri persoalan ke bawah, sehingga bisa diketahui dengan jelas detil-detil dari persoalan.

“Persoalan-persoalan apa yang membangun persoalan yang satu ini?”

Chunking down akan membuat persoalan menjadi lebih spesifik dan pada saat yang sama akan membuat diri kita bisa merasa lebih besar dari persoalan.

5. Find multiple perspectives

Setiap persoalan, terkait dengan berbagai sudut pandang berbagai pihak. Persoalan dan penyelesaiannya, akan berpengaruh terhadap hubungan-hubungan dengan berbagai pihak ini. Dalam NLP, cara ini erat hubungannya dengan konsep ekologis.

“Bagaimanakah persoalan ini dari sudut atau dari kacamata…?”

Mengambil multi persepsi akan membuat persoalan menjadi lebih fokus dan pada saat yang sama akan sangat membantu agar berbagai kemungkinan solusi tidak berdampak menciptakan persoalan baru atau memperberat suatu persoalan yang lain.

6. Use effective language constructs

Aspek pilihan bahasa dan kata-kata sangat berpengaruh terhadap bagaimana suatu persoalan akan ditindaklanjuti dan dikelola. Lebih jauh lagi, aspek bahasa dan kata-kata sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya tingkat stamina kita dalam menindaklanjuti dan mengelola persoalan.

“Besar atau hanya sering?”

7. Make it engaging

Buatlah persoalan menjadi menarik, karena kita akan menghabiskan sejumlah energi dan waktu dalam menghadapi persoalan. Jika persoalan menarik, maka energi dan waktu yang digunakan akan tergantikan dengan efisien dan menguatkan.

“Persoalan, atau tantangan?”

8. Reverse the problem

Salah satu trik untuk keluar dari persoalan dengan segera, adalah dengan menjungkirbalikkan persoalan.

Jika kita ingin menang, cari tahu apa yang akan membuat kita kalah. Jika kita ingin besar, temukan apa yang membuat kita kecil. Jika kita ingin berhasil, selidiki apa yang akan membuat kita gagal.

9. Kumpulkan fakta-fakta

Persoalan harus jelas dan detil. Jangan sampai, sesuatu yang bukan persoalan malah kita anggap persoalan, atau suatu persoalan muncul dengan kabur dan samar-samar.

== MATTHIAS SCHMELZ ==
Penulis buku termahal di dunia, “The Millionaire Maker”.

Proses berpikir, cara pandang, perasaan, dan kreatifitas, selalu berhubungan dengan berbagai makna. Dan makna, selalu lekat dengan kata-kata dan bahasa.

Kata-kata memiliki kekuatan, sebab pikiran kita bekerja dengan bahasa. Jika kita ingin merubah proses berpikir dan berpersepsi, kita bisa memulainya dengan mengubah kata-kata yang kita gunakan. Mulailah dengan memaknai ulang kata “masalah”, “persoalan”, dan “problema”. Kita perlu melakukan ini sesegera mungkin saat kita merasa ketiga hal itu datang.

Pilihan 1 – “Situasi”

Jika kita memaknainya sebagai situasi, maka hal ini akan membuat kita lebih tenang. Sebab, apa yang disebut dengan situasi bersifat netral, dan dia tidak hanya terekspos kepada diri kita secara pribadi, melainkan “sedang terjadi” pada dunia yang kita hidup di dalamnya. Entah apakah situasi itu baik atau buruk, setiap situasi punya karakter khas, yaitu bisa dianalisis.

Dalam kacamata ini, masalah, persoalan, dan problema, adalah “obyek pembelajaran“. Dan belajar, tidak pernah merugikan.

Pilihan 2 – “Tantangan”

Jika kita memaknainya sebagai tantangan, maka hal ini akan memicu ambisi kita untuk dua hal sekaligus, yaitu menerima dan menuntaskan. Rata-rata kita menyukai tantangan. Hidup kita cenderung membosankan tanpa tantangan.

Dalam kacamata ini, masalah, persoalan, dan problema, adalah sesuatu yang membuat “hidup menjadi lebih hidup“.

Pilihan 3 – “Kesempatan”

Jika kita memaknainya sebagai kesempatan, maka hal ini akan merubah sikap dan pendekatan kita. Jika kita benar-benar bisa memaknainya, maka kita tidak memilih kalimat, “Kok bisa sih, gue ngalamin yang beginian?” melainkan, “Apa yang bisa aq lakukan untuk keluar dari hal ini?” atau, “Apa dari hal ini yang akan menguntungkan saya?”

Pilihan 4 – “Kesenjangan Keputusan”

Jika kita memaknainya sebagai kesenjangan keputusan, maka hal ini akan langsung mendorong kita untuk menuju solusi. Dengan dorongan ini, kita tidak lagi berputar-putar di sekitar persoalan dan terlalu lama berkutat dengannya, melainkan mulai memikirkan berbagai keputusan yang harus kita ambil sebagai penyelesaian.

Kabar baiknya, berbagai persoalan, biasanya hanyalah tentang kesenjangan keputusan. Nyaris setiap persoalan bisa diselesaikan dengan mengambil keputusan.

== STEVEN GILLMAN ==
Brain Power Enhancer.

Teknik Un-Bonding – “Bagaimana jika…?”

Setiap persoalan melekat pada suatu pihak. Persoalan kita melekat pada diri kita. Persoalan juga bisa melekat pada sesuatu yang tidak bermasalah. Untuk bisa menghadapi persoalan, kita harus bisa memisahkan persoalan atau mengisolirnya dari berbagai hal yang tidak relevan. Salah satu caranya adalah dengan membuat persoalan menjadi “semakin berat”.

Kita menjalankan bisnis di rumah. Kemudian muncul persoalan, yaitu bahwa kita menganggap rumah kita sudah mulai sumpek.

“Bagaimana jika… rumah ini lebih kecil lagi?”
“Apa yang bisa kita lakukan?”

Menjawab pertanyaan di atas, akan cenderung mendorong kita memisahkan bisnis kita dari rumah kita. Kita bisa berpikir untuk menempatkan bisnis kita di salah satu pojok rumah kita.

Jika kita melupakan pertanyaan ini, apa yang kita anggap solusi mungkin saja adalah membesarkan rumah atau menyewa ruangan kantor di luar rumah. Untuk bisnis kita itu adalah solusi, tapi bisa memunculkan persoalan baru, yaitu biaya.

== MINDTOOLS ==
Career Skills Expert.

Teknik Mencecar – “Mengapa…?”

“Mengapa pelanggan kita, Tuan A tidak puas?”
Sebab kita tidak melayaninya sebagaimana yang kita janjikan.

“Mengapa kita tidak melayaninya sebagaimana yang kita janjikan?”
Sebab kita terlalu sibuk dengan pelanggan lain dan berbagai pekerjaan.

“Mengapa kita terlalu sibuk dengan pelanggan lain dan berbagai pekerjaan?”
Sebab kita tidak pernah mengira pelanggan menjadi begitu banyak dan pekerjaan menumpuk dalam waktu singkat.

“Mengapa sampai kita tidak bisa memproyeksikan hal ini?”
Sebab kita selalu sibuk mengejar penjualan.

“Mengapa penjualan kita menjadi sesuatu yang harus dikejar?”
Sebab kita butuh cash flow yang terjamin.

Oh begitu. Kita perlu berhemat lebih jauh lagi, agar cash flow tetap terjamin dan kita bisa menyisihkan sebagian darinya untuk membiayai karyawan kita mengikuti pelatihan “service excellence” bersama Pak Sopa, sehingga walaupun sibuk berjualan mereka tetap bisa melayani pelanggan dengan baik. Nanti saya minta beliau mengisi pelatihan di luar jam kerja. ;)

Teknik Apresiasi – “Terus kenapa kalo gitu…?”

Teknik ini biasa digunakan di dunia militer. Tujuannya adalah memperkaya informasi terkait dengan fakta-fakta masalah. Teknik ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan “Terus kenapa kalo gitu…?” secara bertubi-tubi.

“Terus kenapa kalo gitu…?”
Ya…

“Terus kenapa kalo gitu…?”
Ya… terus …

“Terus kenapa kalo gitu…?”
Terus…

“Terus kenapa kalo gitu…?”
Jadinya…

Pertanyaan yang bertubi-tubi dan diajukan dengan kepala dingin, akan membuat persoalan menjadi semakin jelas arah dan juntrungannya. Semakin pasti dampak dan akibatnya. Semakin kuat pengaruh dan perannya.

== CHUCK GALLOZZI ==
Personal Development Expert, Motivator.

Jika kita menghadapi masalah, sebenarnya kita sedang memiliki “sesuatu yang perlu berubah“.

Langkah 1 – Menjawab Masalah

“Apa yang saya inginkan sekarang?”

Pertanyaan ini terdiri dari sub-sub pertanyaan;

“Apa yang saya ingin miliki?”
“Ingin menjadi manusia yang bagaimanakah saya ini?”
“Apa yang akan saya lakukan dalam posisi itu?”
“Apa yang saya akan bagi bersama orang lain?”

Menjawab pertanyaan ini adalah tentang tujuan, arah, orientasi, makna hidup, dan alasan keberadaan diri.

Langkah 2 – Merespon Masalah

“Apa yang menghalangi saya dari mendapatkannya?”
“Apa yang akan saya lakukan tentang itu?”

Menjawab pertanyaan yang pertama adalah sebuah pengakuan tentang keberadaan masalah. Tindak lanjut dari jawabannya adalah persiapan-persiapan. Menjawab pertanyaan berikutnya adalah memproduksi peta jalan (roadmap) dan rencana tindakan (action plan).

Langkah kedua ini adalah tahap pertama menuju solusi. Tahap pertama menuju solusi selalu merupakan tahap yang diwarnai dengan berbagai keragu-raguan. Ketahuilah bahwa fenomena ini adalah normal. Kuncinya adalah berani dan percaya diri.

Langkah 3 – Implementasi

Lakukan apa yang telah menjadi rencana tindakan.

Langkah 4 – Maintenance

Lakukan monitor untuk progres dan kemajuan, dan lakukan langkah perbaikan jika dipandang perlu.

Langkah 5 – Relapse

Kita mungkin tidak langsung berhasil. Maka yang perlu kita lakukan adalah mengulangi kembali langkah 1 sampai langkah 5. Lagi… lagi… dan lagi.

“Gagal hanya ada jika kita berhenti.”

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
http://www.motivasi-komunikasi-leadership.co.cc
http://www.facebook.com/motivasi

Written by budiwiyono

November 28, 2009 at 4:57 pm

Posted in Get Inspired

Tagged with

Review Workshop Ritel F. Guswai by TDA

leave a comment »

Sharing dari Pak Roni….

Semoga berguna.

———- Forwarded message ———-
From: Badroni Yuzirman <roniyuzirman@gmail.com>
Date: 2009/11/17
Subject: [tangandiatas] Menelanjangi dan Menertawakan Diri Sendiri di Workshop Ritel TDA
To: tangandiatas@yahoogroups.com

Ini istilah yang diberikan oleh Pak Hantiar
<http://twitter.com/hantiar>

yang membuat kami cekikikan namun
mengangguk setuju.

Kami duduk berdekatan bersama Pak Iim <http://twitter.com/iimrusyamsi>,
Hertanto <http://twitter.com/hertantowidodo>, Try
Atmojo<http://twitter.com/TryAtmojo>dan
Hasan <http://twitter.com/hasan_basri> saat mengikuti workshop sehari
Mengelola Toko Ritel yang Efektif untuk Memaksimalkan Profit oleh Christian
F. Guswai <http://guswaiway.blogspot.com/>, pakar dan praktisi ritel
terkemuka di Indonesia.

Apa yang disampaikan Pak Guswai sehingga kami merasa seperti ditertawakan
dan ditelanjangi itu?

Contohnya begini: ia memaparkan ada 7 kriteria mencari lokasi toko yang ideal, yaitu: harus visible, punya heavy traffic, terletak di arah arus
pulang, didukung oleh public facilities, acquisition cost yang reasonable, regulasi yang mendukung dan akses yang baik.

Saat kami, para gerombolan “Laskar Nekad Pemberani” memulai di ITC Mangga Dua itu, semua syarat itu tidak terpenuhi kecuali acquisition cost yang gratis. Itulah yang membuat kami terbahak menertawakan keluguan ketika itu.
Gimana mau sukses? Lha wong, syarat yang terpenuhi hanya satu.

Ketika memaparkan topik studi kelayakan pendirian toko. Kami juga tergelak dengan sikap kami yang selalu berpikir: pokoknya action dulu, hasilnya gimana nanti aja.

Itu bagus. Sangat action oriented. Sangat nekad. Sangat “otak kanan”. Tapi, menurut Pak Guswai, penggunaan otak kanan jangan sembrono begitu, harus terukur sehingga sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Ketika kita buka toko, rata-rata nggak ada yang berani menetapkan berapa target omzet dan profitnya kan?

Padahal itu adalah basic dari semuanya.

Jika kita punya hitungan biaya tetap dan variabel yang jelas, tentunya dengan mudah kita bisa menentukan berapa omzet dan keuntungan yang ideal untuk dikejar. Hitungan awal ini juga berguna untuk exit strategy ketika menemukan masalah di perjalanan.

Hmmmm…. good point. Tidak salah kita mendatangkan pakar yang terbilang langka di Indonesia ini. Saya berani mengatakan demikian karena saya tidak tahu pakar ritel lain di Indonesia yang pemikirannya bisa diakses oleh publik dengan mudah. Kalau tidak percaya, coba saya tantang anda menyebutkan 5 orang saja pakar ritel di Indonesia. Sulit bukan?

Industri ritel adalah industri yang dimasuki oleh mayoritas pengusaha skala kecil dan menengah di Indonesia. Jumlahnya mungkin puluhan juta. Tapi itu berbanding terbalik dengan tersedianya sumber-sumber informasi dan pengetahuan mengenainya. Ironis sekali ya?

Acara yang dilangsungkan Sabtu, 14 November lalu boleh saya katakan adalah salah satu workshop terbaik yang diadakan oleh TDA. Pesertanya membludak, datang tidak hanya dari Jabodetabek, melainkan juga dari Kediri, Bengkulu, Semarang, Surabaya, Bandung, bahkan Samarinda.

Meski pun masih dirasa kurang cukup, tapi Pak Guswai telah berhasil memilihkan topik-topik penting bagi para peserta seperti: bagaimana membuat studi kelayakan bisnis sederhana, bagaimana mencari dan memilih lokasi yang tepat, bagaimana strategi penetapan harga, bagaimana cara mengelola inventory, bagaimana mengelola SDM, bagaimana meningkatkan pelayanan.

Gaya penyampaian yang menarik dengan ilustrasi studi kasus riil di lapangan memancing banyak pertanyaan bertubi-tubi dari peserta. Bahkan sampai terjadi debat terbuka dengan peserta yang tidak sepaham dengan pendapatnya. Seru.

Yang saya sayangkan adalah, kenapa baru kali ini diadakan di TDA setelah hampir 4 tahun usianya? Kenapa tidak dari dulu-dulu, sebelum teman-teman banyak yang tumbang dan berdarah-darah karena kurang ilmu dan informasi.
Tapi it’s okey. Better late dan never.

Sebuah fenomena menarik saat workshop adalah begitu kompak dan pedulinya para pengurus TDA untuk meng-update Twitter mereka untuk menginformasikan poin-poin penting workshop agar dibaca oleh para followernya. Pak Iim,Hertanto, Try Atmojo masih ingat dan peduli dengan member yang tidak berkesempatan mengikuti kegiatan yang bergizi tinggi ini.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim <http://manetvision.com/>, Founder Komunitas TDA <http://tangandiatas.com/>

Written by budiwiyono

November 17, 2009 at 3:11 am

eCommerce Lesson Learned from Zappos – THE ZAPPOS MISSION: To live and deliver WOW

with 2 comments

THE ZAPPOS MISSION: To live and deliver WOW.

As we grow as a company, it has become more and more important to explicitly define the Zappos core values from which we develop our culture, our brand, and our business strategies. With so many new employees joining the company as we grow, we want to make sure that everyone is on the same page and acting consistently with what we want Zappos to be all about.

Over time, we will be restructuring performance evaluations so that a big part of every employee’s performance evaluation is based on how well he/she represents and makes decisions based on the Zappos core values.

While there are many subcomponents to each value, we’ve distilled the most important themes into the following 10 core values.

1) Deliver WOW Through Service
2) Embrace and Drive Change
3) Create Fun and A Little Weirdness
4) Be Adventurous, Creative, and Open-Minded
5) Pursue Growth and Learning
6) Build Open and Honest Relationships With Communication
7) Build a Positive Team and Family Spirit
8) Do More With Less
9) Be Passionate and Determined
10) Be Humble

Ideally, we want all 10 core values to be reflected in everything we do, including how we interact with each other, how we interact with our customers, and how we interact with our vendors and business partners.

There is a lot of work that lies ahead, and it will be quite some time before our 10 core values are truly reflected in how we think, how we act, and how we communicate.

As we grow, our processes and strategies may change, but we want our values to always remain the same. Our core values should always be the framework from which we make all of our decisions. Because this is our first time publishing our core values, there may be some additions or changes made over the next year, but our goal is to ultimately decide on a final list of core values to serve as the framework for how we run and grow the company.

I encourage everyone to re-examine everything that is being done at the company and ask yourself what changes can be made to better reflect our core values. For example, our employee handbook could be improved so it sounds more like “Zappos” and less like an employee handbook that you might find at another company. The forms that we use internally, our job application forms, some of our email templates, parts of our web site, and much, much more can all be improved to feel more like Zappos and better reflect our core values.

So the challenge to everyone is this: make at least one improvement every week that makes Zappos better reflect our core values.

The improvements don’t have to be dramatic – it can be as simple as adding in an extra sentence or two to a form to make it more fun, for example. But if every employee made just one small improvement every week to better reflect our core values, then by the end of this year we will have over 50,000 small changes that collectively will be a very dramatic improvement compared to where we are today.

A brief description of each of the 10 core values is below.

DELIVER WOW THROUGH SERVICE

At Zappos, anything worth doing is worth doing with WOW.

WOW is such a short, simple word, but it really encompasses a lot of things. To WOW, you must differentiate yourself, which means do something a little unconventional and innovative. You must do something that’s above and beyond what’s expected. And whatever you do must have an emotional impact on the receiver. We are not an average company, our service is not average, and we don’t want our people to be average. We expect every employee to deliver WOW.

Whether internally with co-workers or externally with our customers and partners, delivering WOW results in word of mouth. Our philosophy at Zappos is to WOW with service and experience, not with anything that relates directly to monetary compensation (for example, we don’t offer blanket discounts or promotions to customers).

We seek to WOW our customers, our co-workers, our vendors, our partners, and in the long run, our investors.

Ask yourself: What are things you can improve upon in your work or attitude to WOW more people? Have you WOWed at least one person today?

EMBRACE AND DRIVE CHANGE

Part of being in a growing company is that change is constant. For some people, especially those that come from bigger companies, the constant change can be somewhat unsettling at first. If you are not prepared to deal with constant change, then you probably are not a good fit for the company.

We must all learn not only to not fear change, but to embrace it enthusiastically, and perhaps even more importantly, to encourage and drive it. We must always plan for and be prepared for constant change.

Although change can and will come from all directions, it’s important that most of the changes in the company are driven from the bottom up – from the people that are on the front lines that are closest to the customers and/or issues.

Never accept or be too comfortable with the status quo, because historically, the companies that get into trouble are the ones that aren’t able to respond quickly enough and adapt to change.

We are ever evolving. If we want to continue to stay ahead of our competition, we must continually change and keep them guessing. They can copy our images, our shipping, and the overall look of our web site, but they cannot copy our people, our culture, or our service. And they will not be able to evolve as fast as we can as long as embracing constant change is a part of our culture.

Ask yourself: How do you plan and prepare for change? Do you view new challenges optimistically? Do you encourage and drive change?
How do you encourage more change to be driven from the bottom up?
Are you empowering your direct reports to drive change?

CREATE FUN AND A LITTLE WEIRDNESS

One of the things that makes Zappos different from a lot of other companies is that we value being fun and being a little weird. We don’t want to become one of those big companies that feels corporate and boring. We want to be able to laugh at ourselves. We look for both fun and humor in our daily work.

This means that many things we do might be a little unconventional – or else it wouldn’t be a little weird. We’re not looking for crazy or extreme weirdness though. We want just a touch of weirdness to make life more interesting and fun for everyone. We want the company to have a unique and memorable personality.

Our company culture is what makes us successful, and in our culture we celebrate and embrace our diversity and each person’s individuality. We want people to express their personality in their work. To outsiders, that might come across as inconsistent or weird. But the consistency is in our belief that we function best when we can be ourselves. We want the weirdness in each of us to be expressed in our interactions with each other and in our work.

One of the side effects of encouraging weirdness is that it encourages people to think outside the box and be more innovative. When you combine a little weirdness with making sure everyone is also having fun at work, it ends up being a win-win for everyone: Employees are more engaged in the work that they do, and the company as a whole becomes more innovative.

Ask yourself: What can we do to be a little weird and differentiate ourselves from everyone else? What can we do that’s both fun and a little weird? How much fun do you have in your job, and what can you do to make it more fun? What do you do to make your co-workers’ jobs fun as well?

BE ADVENTUROUS, CREATIVE, AND OPEN-MINDED

At Zappos, we think it’s important for people and the company as a whole to be bold and daring (but not reckless). We want everyone to not be afraid to take risks and to not be afraid to make mistakes, because if people aren’t making mistakes then that means they’re not taking enough risks. Over time, we want everyone to develop his/her gut about business decisions. We want people to develop and improve their decision-making skills. We encourage people to make mistakes as long as they learn from them.

We never want to become complacent and accept the status quo just because that’s the way things have always been done. We should always be seeking adventure and having fun exploring new possibilities. By having the freedom to be creative in our solutions, we end up making our own luck. We approach situations and challenges with an open mind.

Sometimes our sense of adventure and creativity causes us to be unconventional in our solutions (because we have the freedom to think outside the box), but that’s what allows us to rise above and stay ahead of the competition.

Ask yourself: Are you taking enough risks? Are you afraid of making mistakes? Do you push yourself outside of your comfort zone? Is there a sense of adventure and creativity in the work that you do? What are some creative things that you can contribute to Zappos? Do you approach situations and challenges with an open mind?

PURSUE GROWTH AND LEARNING

At Zappos, we think it’s important for employees to grow both personally and professionally. It’s important to constantly challenge and stretch yourself, and not be stuck in a job where you don’t feel like you are growing or learning.

We believe that inside every employee is more potential than even the employee himself/herself realizes. Our goal is to help employees unlock that potential. But it has to be a joint effort: You have to want to challenge and stretch yourself in order for it to happen.

If you’ve been at Zappos for more than a few months, one thing is clear: Zappos is growing. We grow because we take on new challenges, and we face even more new challenges because we’re growing. It’s an endless cycle, and it’s a good thing: it’s the only way for a company to survive. But it can also at times feel risky, stressful, and confusing.

Sometimes it may seem that new problems crop up as fast as we solve the old ones (sometimes faster!), but that just means that we’re moving – that we’re getting better and stronger. Anyone who wants to compete with us has to learn the same things, so problems are just mile markers. Each one we pass means we’ve gotten better.

Yet no matter how much better we get, we’ll always have hard work to do, we’ll never be done, and we’ll never “get it right.”

That may seem negative, but it’s not: we’ll do our best to “get it right,” and then do it again when we find out that things have changed. That is the cycle of growth, and like it or not, that cycle won’t stop.

It’s hard… but if we weren’t doing something hard, then we’d have no business. The only reason we aren’t swamped by our competition is because what we do is hard, and we do it better than anyone else. If it ever gets too easy, start looking for a tidal wave of competition to wash us away.

It may seem sometimes like we don’t know what we’re doing. And it’s true: we don’t. That’s a bit scary, but you can take comfort in knowing that nobody else knows how to do what we’re doing either. If they did, they’d be the web’s most popular shoe store. Sure, people have done parts of what we do before, but what we’ve learned over the years at Zappos is that the devil is in the details. And that’s where we’re breaking new ground.

So there are no experts in what we’re doing. Except for us: we are becoming experts as we do this. And for anyone we bring on board, the best expertise they can bring is expertise at learning and adapting and figuring new things out – helping the company grow, and in the process they will also be growing themselves.

Ask yourself: How do you grow personally? How do you grow professionally? Are you a better person today than you were yesterday? How do you get your co-workers and direct reports to grow personally? How do you get your co-workers and direct reports to grow professionally? How do you challenge and stretch yourself? Are you learning something everyday? What is your vision for where you want to go? How do you get the company as a whole to grow? Are you doing everything you can to promote company growth, and at the same time are you helping others understand the growth? Do you understand the company vision?

BUILD OPEN AND HONEST RELATIONSHIPS WITH COMMUNICATION

Fundamentally, we believe that openness and honesty make for the best relationships because that leads to trust and faith. We value strong relationships in all areas: with managers, direct reports, customers (internal and external), vendors, business partners, team members, and co-workers.

Strong, positive relationships that are open and honest are a big part of what differentiates Zappos from most other companies. Strong relationships allow us to accomplish much more than we would be able to otherwise.

A key ingredient in strong relationships is to develop emotional connections. It’s important to always act with integrity in your relationships, to be compassionate, friendly, loyal, and to make sure that you do the right thing and treat your relationships well. The hardest thing to do is to build trust, but if the trust exists, you can accomplish so much more.

In any relationship, it’s important to be a good listener as well as a good communicator. Open, honest communication is the best foundation for any relationship, but remember that at the end of the day it’s not what you say or what you do, but how you make people feel that matters the most. In order for someone to feel good about a relationship, he/she must know that the other person truly cares about them, both personally and professionally.

At Zappos, we embrace diversity in thoughts, opinions, and backgrounds. The more widespread and diverse your relationships are, the bigger the positive impact you can make on the company, and the more valuable you will be to the company. It is critical for relationship-building to have effective, open, and honest communication.

As the company grows, communication becomes more and more important, because everyone needs to understand how his/her team connects to the big picture of what we’re trying to accomplish.

Communication is always one of the weakest spots in any organization, no matter how good the communication is. We want everyone to always try to go the extra mile in encouraging thorough, complete, and effective communication.

Ask yourself: How much do people enjoy working with you? How can you improve those relationships? What new relationships can you build throughout the company beyond just the co-workers that you work with on a daily basis? How do you WOW the people that you have relationships with? How can you make your relationships more open and honest? How can you do a better job of communicating with everyone?

BUILD A POSITIVE TEAM AND FAMILY SPIRIT

At Zappos, we place a lot of emphasis on our culture because we are both a team and a family. We want to create an environment that is friendly, warm, and exciting. We encourage diversity in ideas, opinions, and points of view.

The best leaders are those that lead by example and are both team followers as well as team leaders. We believe that in general, the best ideas and decisions are made from the bottom up, meaning by those on the front lines that are closest to the issues and/or the customers. The role of a manager is to remove obstacles and enable his/her direct reports to succeed. This means the best leaders are servant-leaders. They serve those they lead.

The best team members take initiative when they notice issues so that the team and the company can succeed. The best team members take ownership of issues and collaborate with other team members whenever challenges arise.

The best team members have a positive influence on one another and everyone they encounter. They strive to eliminate any kind of cynicism and negative interactions. Instead, the best team members are those that strive to create harmony with each other and whoever else they interact with.

We believe that the best teams are those that not only work with each other, but also interact with each other outside the office environment. Many of the company’s best ideas have been the direct result of informal interactions outside of the office. For example, the idea for our culture book came about from a casual discussion outside the office.

We are more than just a team though – we are a family. We watch out for each other, care for each other, and go above and beyond for each other because we believe in each other and we trust each other. We work together but we also play together. Our bonds go far beyond the typical “co-worker” relationships found at most other companies.

Ask yourself: How do you encourage more teamwork? How do you encourage more people to take initiative? How do you encourage more people to take ownership? What can you do with your team members so that you feel both like a family and a team? How can you build stronger relationships with your team members both inside and outside the office? Do you instill a sense of team and family not just within your department, but across the entire company? Do you exemplify a positive team spirit?

DO MORE WITH LESS

Zappos has always been about being able to do more with less. While we may be casual in our interactions with each other, we are focused and serious about the operations of our business. We believe in hard work and putting in the extra effort to get things done.

We believe in operational excellence, and realize that there is always room for improvement in everything we do. This means that our work is never done. In order to stay ahead of the competition (or would-be competition), we need to continuously innovate as well as make incremental improvements to our operations, always striving to make ourselves more efficient, always trying to figure out how to do something better. We use mistakes as learning opportunities.

We must never lose our sense of urgency in making improvements. We must never settle for “good enough”, because good is the enemy of great, and our goal is to not only become a great company, but to become the greatest service company in the world. We set and exceed our own high standards, constantly raising the bar for competitors and for ourselves.

Ask yourself: How can you do what you’re doing more efficiently? How can your department become more efficient? How can the company as a whole become more efficient? How can you personally help the company become more efficient?

BE PASSIONATE AND DETERMINED

Passion is the fuel that drives ourselves and our company forward. We value passion, determination, perserverance, and the sense of urgency.

We are inspired because we believe in what we are doing and where we are going. We don’t take “no” or “that’ll never work” for an answer, because if we had, Zappos would never have started in the first place.

Passion and determination are contagious. We believe in having a positive and optimistic (but realistic) attitude about everything we do, because we realize that this inspires others to have the same attitude.

There is excitement in knowing that everyone you work with has a tremendous impact on a larger dream and vision, and you can see that impact day in and day out.

Ask yourself: Are you passionate about the company? Are you passionate about your work? Do you love what you do and who you work with? Are you happy here? Are you inspired? Do you believe in what we are doing and where we are going? Is this the place for you?

BE HUMBLE

While we have grown quickly in the past, we recognize that there are always challenges ahead to tackle. We believe that no matter what happens, we should always be respectful of everyone.

While we celebreate our individual and team successes, we are not arrogant nor do we treat others differently from how we would want to be treated. Instead, we carry ourselves with a quiet confidence, because we believe that in the long run our character will speak for itself.

Ask yourself: Are you humble when talking about your accomplishments? Are you humble when talking about the company’s accomplishments? Do you treat both large and small vendors with the same amount of respect that they treat you?

RECOMMENDED BOOKS

The following are books that Zappos recommends. They are available to all employees and vendors for free in the Zappos library, located next to the merchandising area in the Las Vegas office. If you are an employee, you may also order them for yourself from Amazon and submit an expense report to have the cost reimbursed.

Deliver WOW Through Service
- “The Fred Factor” by Mark Sanborn
- “Purple Cow” by Seth Godin
- “Raving Fans” by Ken Blanchard
- “Lovemarks” by Kevin Roberts
- “Branded Customer Service” by Janelle Barlow

Embrace and Drive Change
- “Who Moved My Cheese?” by Spencer Johnson

Create Fun and A Little Weirdness
- “Lovemarks” by Kevin Roberts

Be Adventurous, Creative, and Open-Minded
- “Re-imagine!” by Tom Peters
- “The Tipping Point” by Malcolm Gladwell

Pursue Growth and Learning
- “Self-Help Stuff That Works” by Adam Khan
- “Blink” by Malcolm Gladwell

Build Open and Honest Relationships With Communication

Build a Positive Team and Family Spirit
- “Fish!” by Stephen C. Lundin

Do More With Less
- “212″ by S.L. Parker
- “The Tipping Point” by Malcolm Gladwell

Be Passionate and Determined
- “212″ by S.L. Parker
- “Good to Great” by Jim Collins

Be Humble
- “Good to Great” by Jim Collins

———————-

THE ZAPPOS VISION:

- One day, 30% of all retail transactions in the United States will be online.

- Consumers will buy from the company with the best service and the best selection.

- Zappos will be that company.

Written by budiwiyono

November 15, 2009 at 4:30 pm

Penyedia Listrik Swasta

leave a comment »

Bosan dengan pemadaman berulang? Bahkan saya dengar, di luar jawa kondisinya jauh lebih parah. Kalau ingin infrastruktur Negara maju sehingga bisa mensupport Industri dan Ekonomi dalam skala luas, maka ketersediaan listrik menjadi wajib, kudu dan harus!

Bagaimana tidak, bahkan kedepannya, mobil-mobil pun akan menjadi mobil listrik. Listrik akan menjadi sumber energi utama di bumi ini. Jadi peruntukan listrik makin lama makin meluas. Sekarang mobil isi bensin di pom bensin, barangkali ke depannya harus beli di pom listrik. Jadi pelanggan beli listrik dengan membawa baterai kosong dan mengambil baterai yang sudah terisi. Persis seperti beli gas dengan menukar tabung kosong ditukar dengan tabung isi ;)

UNDANG-UNDANG KETENAGALISTRIKAN 2009, mengamanatkan sbb.:

“Badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat dapat berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik guna meningkatkan penyediaan tenaga listrik kepada masyarakat. Pemerintah menerbitkan Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik.”

Jadi kita bisa bayangkan akan banyak PLN swasta :) Sepanjang pebisnis listrik telah mengurus perijinan usaha, termasuk ijin IUKU. IUKU adalah izin usaha ketenagalistrikan untuk kepentingan umum yang dikeluarkan oleh departemen energi dan sumber daya mineral.

Insentif pemerintah:

Pemerintah membebaskan bea masuk impor barang modal atas pembangunan dan pengembangan industri pembangkit tenaga listrik untuk kepentingan umum. Hal ini diharapkan dapat mendorong perkembangan usaha industri pembangkit tenaga listrik dan menjamin tersedianya tenaga listrik oleh badan usaha, termasuk PT Perusahaan Lisrtik Negara (Persero).

Kepala Biro Humas Departemen Keuangan (Depkeu) Harry S Zoeratin mengatakan, pembebasan tersebut berlaku sejak 18 Agustus. “Peraturan Menteri Keuangan No 128/PMK.01/2009 ini mengubah peraturan menteri keuangan No 154/PMK.01/2008,” terang dia, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (31/8/2009). (source: okezone)

Anda tertarik untuk bisnis penyediaan listrik?

Written by budiwiyono

November 15, 2009 at 12:45 am

Uncovering Steve Jobs’ Presentation Secrets

with one comment

For his new book, communications coach Carmine Gallo watched hours of Jobs’ keynotes. Here he identifies the five elements of every presentation by the Apple CEO

By Carmine Gallo
published on businessweek.com

stevejobspresentationsecret

The Apple music event of Sept. 9, 2009, marked the return of the world’s greatest corporate storyteller. For more than three decades, Apple (AAPL) co-founder and CEO Steve Jobs has raised product launches to an art form. In my new book, The Presentation Secrets of Steve Jobs: How to Be Insanely Great in Front of Any Audience, I reveal the techniques that Jobs uses to create and deliver mind-blowing keynote presentations.

Steve Jobs does not sell computers; he sells an experience. The same holds true for his presentations that are meant to inform, educate, and entertain. An Apple presentation has all the elements of a great theatrical production—a great script, heroes and villains, stage props, breathtaking visuals, and one moment that makes the price of admission well worth it. Here are the five elements of every Steve Jobs presentation. Incorporate these elements into your own presentations to sell your product or ideas the Steve Jobs way.

001_jobs_book

1. A headline. Steve Jobs positions every product with a headline that fits well within a 140-character Twitter post. For example, Jobs described the MacBook Air as “the world’s thinnest notebook.” That phrase appeared on his presentation slides, the Apple Web site, and Apple’s press releases at the same time. What is the one thing you want people to know about your product? This headline must be consistent in all of your marketing and presentation material.

2. A villain. In every classic story, the hero fights the villain. In 1984, the villain, according to Apple, was IBM (IBM). Before Jobs introduced the famous 1984 television ad to the Apple sales team for the first time, he told a story of how IBM was bent on dominating the computer industry. “IBM wants it all and is aiming its guns on its last obstacle to industry control: Apple.” Today, the “villain” in Apple’s narrative is played by Microsoft (MSFT). One can argue that the popular “I’m a Mac” television ads are hero/villain vignettes. This idea of conquering a shared enemy is a powerful motivator and turns customers into evangelists.

3. A simple slide. Apple products are easy to use because of the elimination of clutter. The same approach applies to the slides in a Steve Jobs presentation. They are strikingly simple, visual, and yes, devoid of bullet points. Pictures are dominant. When Jobs introduced the MacBook Air, no words could replace a photo of a hand pulling the notebook computer out of an interoffice manila envelope. Think about it this way—the average PowerPoint slide has 40 words. In some presentations, Steve Jobs has a total of seven words in 10 slides. And why are you cluttering up your slides with too many words?

4. A demo. Neuroscientists have discovered that the brain gets bored easily. Steve Jobs doesn’t give you time to lose interest. Ten minutes into a presentation he’s often demonstrating a new product or feature and having fun doing it. When he introduced the iPhone at Macworld 2007, Jobs demonstrated how Google Maps (GOOG) worked on the device. He pulled up a list of Starbucks (SBUX) stores in the local area and said, “Let’s call one.” When someone answered, Jobs said: “I’d like to order 4,000 lattes to go, please. No, just kidding.”

5. A holy smokes moment. Every Steve Jobs presentation has one moment that neuroscientists call an “emotionally charged event.” The emotionally charged event is the equivalent of a mental post-it note that tells the brain, Remember this! For example, at Macworld 2007, Jobs could have opened the presentation by telling the audience that Apple was unveiling a new mobile phone that also played music, games, and video. Instead he built up the drama. “Today, we are introducing three revolutionary products. The first one is a widescreen iPod with touch controls. The second is a revolutionary mobile phone. And the third is a breakthrough Internet communications device…an iPod, a phone, an Internet communicator…an iPod, a phone, are you getting it? These are not three devices. This is one device!” The audience erupted in cheers because it was so unexpected, and very entertaining. By the way, the holy smokes moment on Sept. 9 had nothing to do with a product. It was Steve Jobs himself appearing onstage for the first time after undergoing a liver transplant.

One more thing…sell dreams. Charismatic speakers like Steve Jobs are driven by a nearly messianic zeal to create new experiences. When he launched the iPod in 2001, Jobs said, “In our own small way we’re going to make the world a better place.” Where most people saw the iPod as a music player, Jobs recognized its potential as a tool to enrich people’s lives. Cultivate a sense of mission. Passion, emotion, and enthusiasm are grossly underestimated ingredients in professional business communications, and yet, passion and emotion will motivate others. Steve Jobs once said that his goal was not to die the richest man in the cemetery. It was to go to bed at night thinking that he and his team had done something wonderful. Do something wonderful. Make your brand stand for something meaningful.

For more of Job’s techniques, flip through this slide show. Then catch a video interview with Carmine Gallo about how he researched his book.

Written by budiwiyono

November 5, 2009 at 9:53 pm

Free Blackberry Applications

leave a comment »

Demand for free applications is always huge, so is the availability, but with so much of information available over internet, it is extremely difficult for busy BlackBerry users to take out time for a detailed scanning.

But before moving ahead, let me share with you a disturbing news published on the website of CNET,  “The U.S. Computer Emergency Readiness Team warned BlackBerry users on Tuesday about a new program called PhoneSnoop that allows someone to remotely eavesdrop on phone conversations. The PhoneSnoop application must be installed on the phone by someone who has physical access to it or by tricking the user into downloading it, the CERT advisory said.”

Don’t worry, just avoid installing  PhoneSnoop on your handheld, and also keep it locked, so that some of your professional rivals are not able to do so.

Now, if you are looking for a treasure island of free BlackBerry applications – all in one place – then take out an hour from your busy schedule and go through the details of 100 free applications, mentioned on  Blackberry App World Website.

Looking at some of the recommendations:

1.10 free BlackBerry applications suggested by Grant on  Makeuseof.com are, no doubt useful; however, blackberry facebook application and twitterberry are already quite popular, and I strongly suggest both for making your life aligned with Social Media revolution. You may try  other applications as well.

2. 15 must have free Blackberry application recommended by Technically Personal do have few common software, already mentioned in previous recommendation. Here, I would give full marks to ‘Opera Mini for Web Browsing,’  in view of it’s awesome functionality, allowing me to surf through fully functional linkedin and facebook website on my BlackBerry Curve.

Hope, you are able to find out free Blackberry applications of your choice !

Source: abhijitkar

Written by budiwiyono

November 5, 2009 at 1:41 am

Pembiayaan Bisnis dengan Modal Ventura

with 5 comments

Apakah Modal Ventura itu?

Modal Ventura adalah suatu modal (keuangan) yang biasanya disediakan bagi usaha-usaha baru yang berpotensial tinggi, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan investasi tinggi. Modal Ventura disediakan oleh Kapitalis Ventura atau dalam bahasa asingnya, Venture Capitalist (VC). Sebagai timbal-balik dari investasi, Kapitalis Ventura akan mengambil bagian di kepemilikan perusahaan anda. Keuntungan diperoleh investor ketika perusahaan berada di bursa saham atau bila perusahaan menghasilkan keuntungan.

Modal Ventura berasal dari sekelompok investor yang mengumpulkan uang bersama di dalam Dana Ventura dan menginvestasikan dana itu untuk wiraswasta-wiraswasta yang berpotensial tinggi. Modal Ventura bisa juga berasal dari pihak-pihak kaya yang memulai usaha mereka sebagai wiraswasta. Bentuk pembiayaan ini menarik banyak bisnis baru yang belum lama beroperasi dan terlalu kecil untuk mengumpulkan dana di pasar umum (seperti surat obligasi) dan tidak terkualifikasi untuk mengambil pinjaman bank.

Hal-hal penting yang perlu diketahui tentang Modal Ventura
Bila anda memberikan sebagian dari kepemilikan perusahaan anda sebagai ganti dari pembiayaan usaha, anda berarti menerima partner bisnis baru. Menemukan Kapitalis Ventura yang dapat bekerja sama dengan anda sangat penting. Mereka tidak hanya memberikan anda modal, tetapi juga membagi pengalaman mereka dan koneksi di dunia bisnis.

Untuk mendapatkan pembiayaan bisnis, anda harus mampu untuk mempresentasikan bisnis anda secara professional. Tepatnya, anda memerlukan rencana pemasaran yang menunjukkan bahwa anda dapat menghasilkan keuntungan tinggi. Kesalahan-kesalahan umum yang terjadi adalah di mana pengusaha tidak mengetahui tujuan bisnis dan bidang usaha mereka. Sebelum anda mengajukan permintaan modal ventura, sebaiknya anda memikirkan dan merencanakan usaha anda selama beberapa bulan.

Di mana saya dapat menemukan Modal Ventura?
Indonesia adalah pasar yang berkembang untuk Modal Ventura. Salah satu tempat yang bisa anda cari adalah yellow pages, di mana anda bisa menemukan daftar perusahaan-perusahaan Modal Ventura seperti contohnya di Jalan Sudirman atau sekitar Indonesia.

Beberapa perusahaan seperti:
- Pertamina
- Perusahaan Gas Negara (PGN)
- Bahana Artha Ventura (BAV)
- PT Venture Capital
- Bina Swadaya
- Kospin Jasa

Sumber lainnya adalah perusahaan yang dimiliki oleh negara, yaitu “Permodalan Nasional Madani.” Salah satu jalan untuk menemukan sumber-sumber pembiayaan adalah melalui kontak bisnis di universitas-universitas. Profesor-profesor di program-program bisnis biasanya mempunyai hubungan dengan berbagai sumber.

Kemudian bagaimana dengan Venture Capital yang mensupport bisnis berteknologi tinggi untuk para dotcom technopreuneur? Seperti kisah Venture Capital yang membiayai Facebook Founder saat masih usia muda dalam file “The Social Network”.

Salah satu masalah yang paling sering dibicarakan oleh pelaku bisnis digital startup adalah soal akuisisi. Sebuah startup yang diakusisi setidaknya telah membuktikan kualitasnya karena dipercaya investor.

Apakah banyak Venture Capital yang membiayai technopreneur Indonesia? Jangan khawatir, ternyata banyak!

Beberapa contoh adalah Tokopedia.com dan Urbanesia.com dengan East Ventures sebagai Venture Capital. Selain itu ada juga Koprol.com yang telah diakuisisi Yahoo!

Menurut Satya, owner Koprol, sebelum proses akuisisi, pebisnis tak bisa hanya melihat permasalahan uang yang ditawarkan. Hal lain yang harus dilihat adalah sejauh mana visi misi bisnis pada awalnya bisa di-support. “Dalam proses akuisisi kita minta rencana dan produk kita didukung. Apa yang kita mau harusnya bisa terwujud setelah proses akuisisi,” jelasnya.

Meski kemudian merasa bahwa dirinya menjadi seperti karyawan sekarang, Satya merasa sejauh ini apa yang diberikan Yahoo! sesuai dengan apa yang diharapkan. Diakuinya, pekerjaannya di Koprol kini terasa lebih ringan bahkan bisa liburan, namun ia punya kesempatan lebih besar untuk mengembangkan ide-ide baru di perusahaan berskala global. Inilah bonus atau boleh dikatakan mimpi yang mungkin dirasakan para penggagas Koprol saat ini karena bisa belajar dari perusahaan yang besar.

Sebagai pelengkap, silakan tonton film “The Social Network” yang mengisahkan Facebook saat memulai sebagai Startup, story dimulai dari kamar Mark Zuckerberg yang saat itu masih sebagai mahasiswa. Dimana Mark bertemu Venture Capital melalui proses mentoring juga oleh Sean Parker, Founder Napster. Dalam perkembangan selanjutnya Sean Parker kemudian berpisah dengan Mark dan mendirikan perusahaan Venture Capital.

Bagi yang tertarik belajar tentang dunia Venture Capital, silakan mengakses: http://www.coursehero.com/courses/25/Intro-to-Venture-Capital/

 

Artikel sejenis:

Written by budiwiyono

November 5, 2009 at 1:29 am

Transkrip rekaman rekayasa kasus KPK

leave a comment »

Berikut ini adalah cuplikan transkrip rekaman rekayasa kasus KPK dari Okezone.com:

Wisnu ke Anggodo (23 juli 2009)

“Bagaimana perkembangannya,”
“ya, masih tetap nambahin BAP, ini saya masih di Mabes”
“pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya R (nama
salah satu pucuk pimpinan kejaksaan), minggu ini, terus balik ke sini,
terus action”
“RI-I belum”
“Udah-udah, aku masih mencocokkan tanggal”

Anggoro ke Anggodo (24 Juli 2009)

“Yo pokoke saiki Berita Acarane kene dikompliti”
“wes gandeng karo Ritonga kok dek’e”
“janji ambek Ritonga, final gelar iku sama kejaksaan lagi, trakhir senen”
“…sambil ngenteni surate RI-1 thok nek?”
“lha kon takok’o Truno, tho””yo mengko bengi, ngko bengi dek’e”

Hadi Atmoko ke Anggodo (27 Juli 2009)
“..dan ini kronologinya saya sudah di Bang Farman semua,”
“sebetulnya ada satu saksi lagi si Edi Sumarsono Pak, yang Antasari
itu Pak”Sama pembuktian lagi waktu Ari kesana, ada pertemuan rapat
dengan KPK Pak”
“Ada pertemuan di nya di ruang rapat Chandra”

Anggodo ke Kosasih (28 Juli 2009)
“Kos, itu kronologis jangan Lu kasih dial oh Kos”
“Jangan dikasihkan soalnya Edi sudah berseberangan”
“Cuman Lu harus ngomong sama dia:’terpaksa Lu harus jadi saksi’,
karena Chandra Lu yang perintah, kalao nggak, nggak bisa nggandeng”

Anggodo ke seorang wanita (28 Juli 2009)
“Besok kon tak ente…, ngomong ke Ritonga, Edi Sumarsono itu bajingan
bener, sebenarnya dia mengingkari semua”
“besok penting ngomong. Edi ngingkari Pak, padahal Antasari bawa Chandra”

Anggodo ke Parman (penyidik) (29 Juli 2009)
“Kelihatannya kronologis saya yang benar”
“Iya sudah benar kok, saya lihat, di surat lalulintas. Saya sudah
ngecek ke Imigrasi, sudah benar kok”

Anggodo ke Wisnu (29 Juli 2009)
“Terus gimana Pak, mengenai Edi gimana Pak”
“Edi udah tak omongken Irwan apa. Ini bukan sono yang salah, kita-kita
ini yang jadi salah”
“Iya, padahal ia saksi kunci Chandra”
“Maksud saya Pak, dia kenalnya dari Bapak dan Pak Wisnu, gak apa-apa kan Pak”
“Nggak apa-apa, kalau dari Wisnu nggak apa-apalah”
“Kalau kita ngikutin, kan berarti saya ngaku Irwan kan. Cuma kalau dia
nutupin dia yang perintah…perintahnya Antasari suruh ngaku ke Chandra
itu ga ngaku. Terus siapa yang ngaku”
“ya you sama ARI”
“Nggak bisa dong Pak, wong nggak ada konteksnya dengan Chandra”
“Nggak,’saya dengar dari Edi”
“Iya dari Edi, emang perintahnya dia Pak. Lha Edinya nggak mau ngaku,
gitu Pak,’dia nggak kenal Chandra, saya ndak nyuruh ngasihin duit,’
gimana bos?”
“Ya ngdak apa-apa”

Anggodo ke Wisnu (30 Juli 2009)
“Pak tadi jadi ketemu?”
“Udah, akhirnya Kosasih yang tau persis teknis di sana. Suruh
dikompromikan disana, Kosasih juga sudah ketemu Pak Susno, dia juga
ketemu Pak Susno lagi si Edi. Yang penting kalo dia tidak mengaku
susah kita.”
“Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra
atas perintah Antasari”
“Nah itu”
“Wong waktu di malam si itu dipeluk anu tak nanya, kok situ bisa
ngomong. Si Ari dipeluk karena teriak-teriak, dipeluk sama Chandra itu
kejadian”
“Bohong, nggak ada kejadian, kamuflase saja.”
“Nggak ada memang. Jadi dia cuma dikasih tau disuruh Ari gitu. Dia
curiga duite dimakan Ari.”
“Bukan sial Ari-nya Pak, dia cerita pada waktu ke KPK dia yang minta
Ari, kalau ditanya saya bilang Edi ada disitu, diwalik sama-sama doa,
Ari yang suruh ngomong dia ngomong dia ada. Kalau itu saya ga jadi
masalah pak, itu saya suruh…”
“Pokoknya yang kunci-kuncinya itu saya sudah ngomong sama Kosasih,
kalo tidak ada lagi…nyampe…ya berarti ya enggak bisa kasus ini gitu”
“Yang penting buat saya Pak si Ari ini, dia ngurusi Ade Rahardja
segala. Ujung-ujungnya dia dapet perintah nyerahkan ke Chandra itu
siapa Pak? Kan nggak nyambung pak”
“Bukan Pak, dia memerintahkan nyerahken ke Chandra yang Bapak juga
tahu kan, karena kalo ga ada yang merintah Chandra Pak, nggak nyambung
uang itu lho’
“Memang keseluruhan tetap keterangan itu, kalau edi nggak ngaku ya
biarin yang penting Ari sama Anggodo kan cerita itu”
“kan saksinya kurang satu”
“Saksinya akan sudah 2, Ari sama Anggodo”
“Saya bukan saksi, saya kan penyandang dana kan”
“kenapa dana itu dikeluarkan, karena saya disuruh si Edi kan, sama
saja kan, ha ha ha…”
“suruh dia ngaku lah Pak, kalao temenan kaya gini ya percuma pak punya temen.”
“Susno dari awal berangkat sama saya ke Singapura. Itu dia sudah tahu
Toni itu saya, sudah ngerti Pak. Yang penting dia nggak usah
masalahin. Itu kan urusan penyidik”Yang penting dia ngakuin itu bahwa
dia yang merintahkan untuk nyogok Chandra, itu aja”
“Sekarang begini, dia perintahkan kan udah Ari denger, you denger kan.
Sudah selesai…”
“Tapi, kalo dia nggak Bantu kita Pak, terjerumus. Dia dibenci sama Susno”
“Biarin aja, tapi nyatanya dia ngomong dipanggil Susno”

Anggodo dengan seorang wanita (6 Agustus 2009)

“iyo tapi ditakono tanda tangani teke sopo, iya toh gak iso jawab.
Modele bajingan kabeh, Yang. Chandra iku yo, wis blesno ae Yang, ojo
ragu-ragu…”

Anggodo dengan …(7 Agustus 2009)

“menurut bosnya Trunojoyo, kalau bisa besok sudah keluar”
“Male bilang tidka bagus, karena pemberitaannya hari minggu, orang
sedang libur. Bagusnya Senin pagi, langsung main”
“Truno minta TV dikontak hari ini, supaya besok counternya dari Anggoro”

Anggodo dengan …(8 Agustus 2009)

“Nggak usah ngomong sama penyidik. Cuma abang saja tahu bahwa BAP nya
Ari tuh seperti itu. Jadi dalam posisi dia BAP, masih sesuai apa yang
dia anu. Jangan sampai dia berpikir, kita bohong”
“Siap Bang”
“Sama harus dikaitkan ini, seperti sindikat Edi, Ari sama KPK satu
sindikat mau memeras kita, ya Bang”
“iya”
“Intinya si Ari sudah di BAP seperti kronologis. Kenapa kok kita
laporkan Ari itu. Kenapa sudah laporan begini kok dia melarikan diri.
Gitu loh. Dan si Edi itu di BAP itu nggak ngaku. Kit anggak usah
ngomong. Pokoknya si edy nggak tahu kita.
“Bang, nanti maksudnya di BAP kita nantinya, inti bahwa pengakuan itu Bang”
“iya”
“sekarang jangan dibuka dulu. Maksudnya status si Ari itu, kita merasa
Ari sama Edy dan ini tuh, ini kita diperas KPK sudah kita bayar.
Kenapa jadi masalah begini. Gitu loh Bos”
“Iya”
“menurut pengakuan Ari, dia sudah membayar seluruh dana teresbut
kepada orang-orang KPK, nggak tahu siapa”
“Betul”

Alex dengan Anggodo (10 Agustus 2009)

“Secara keseluruhan apik. Anggoro nggak lari”
“Kenceng dia ngomonge”
“Kenceng. Tak rekam banter mau”
“Y owes. Terus poin-poinnya tersasar, kan?”
“Sudah”
“Tidak lari. Ciamik dee njelasnoe”
“Ini ada suatu rekayasa, nampak dari pemanggilan jadi saksi terus
tersangka. Tenggat waktu 9 bulan. Sudah kondusif. Moro-moro karena ada
testimony, muncul pemanggilan sebagai tersangka. Secara keseluruhan
oke.”
“Mengenai cekal, salah sasaran”
“Ya dalam kasus Yusuf Faisal, kok dicekal Anggoro. Itu bagaimana.
Penyitaan dan penggeledahan juga salah sasaran. Dalam kasus Yusuf
Faisal, kok yang digeledah Masaro. Pokoknya intinya sudah masuk
semua.”

Alex dengan Anggodo dan Robert (10 Agustus 2009)

“Iya memang dicuplikan. Nggak banyak, tapi intinya kita berkelit,
kalau ini bukan penyuapan. Karena di awal itu, beritanya dari Antasari
dulu, testimoni itu. Jadi dia cuplik dari Antasari, terus baru
disambung ke kita, jadi dijelaskan sama Bonaran, kalo itu bukan
penyuapan. Dan permasalahannya, kedatangan Antasari menemui Anggoro itu juga membawa konsekwensi Antasari bisa dipermasalahkan”
“Ngomong gimana? Pengacara dari Anggoro press rilis hari ini.”

Written by budiwiyono

November 3, 2009 at 5:36 pm

The Science Of Getting Rich, Wallace D. Wattles

leave a comment »

Sebuah buku klasik (diterbitkan thn 1910) yang mengupas tentang kekayaan dipandang dari sudut ilmu pengetahuan (ilmiah). Buku ini akhirnya jadi pedoman bagi penulis-penulis dan pembicara-pembicara terkenal.

Dalam buku ini Wallace D. Wattles mengungkapkan bahwa semua benda yang ada di seluruh dunia ini berasal dari satu zat dasar, suatu zat tak
berbentuk yang sangat cerdas. Dia juga menyatakan bahwa semesta adalah gudang kekayaan yang tak pernah kering, bahwa ada lebih dari cukup
kekayaan bagi setiap penduduk bumi untuk hidup berkelimpahan. Yang harus dilakukan oleh setiap orang yang ingin menjadi kaya adalah membentuk pikiran tentang hal yang diinginkannya sehingga ia bisa “mencetak” pikiran tersebut ke zat dasar tadi.

Yang harus diperhatikan oleh orang-orang adalah bahwa untuk membentuk pikiran tersebut, dia juga harus memiliki perilaku yang baik, menyingkirkan persaingan, bekerja sama, dan menganut paham memberi nilai guna yang lebih tinggi daripada nilai tunai yang diterima.

Bila kita melakukan cara-cara yang disebutkan oleh Wattles dalam bukunya ini, kita akan mendapatkan kemakmuran sejati, secara fisik dan spiritual.

Source: Didin Razani

Written by budiwiyono

November 3, 2009 at 9:10 am

Tito Ortiz vs Lyoto Machida, UFC 84 “Ill Will”

leave a comment »

Tito Ortiz vs Lyoto Machida, UFC 84 “Ill Will”
(24/5/2008 – Las Vegas, Nevada)
http://video.aol.co.uk/video-detail/tito-ortiz-vs-lyoto-machida/947099247
Menarik menyimak Tito yang full power dikalahkan oleh Machida yang superb cerdik :)

Written by budiwiyono

November 1, 2009 at 5:52 pm

Posted in Misc

Tagged with ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,681 other followers

%d bloggers like this: