budiwiyono.com | opinions, analysis, techniques, experiences and insights.

Vision without action is fantasy. Action without vision is random activity.

Pro dan Kontra Ujian Akhir Nasional (UAN)

with 7 comments

Berikut diskusi saya di FB tentang sikap Pro saya terhadap Ujian Akhir Nasional…

Disclaimer:

Untuk rekan-rekan guru, profesi guru adalah termasuk profesi yang paling mulia di dunia yang fana ini. Saya tidak bermaksud menyamaratakan semua guru, tulisan saya ini hanya pengalaman terhadap subjektifitas penilaian rapor yang subjektif oleh OKNUM guru (karena konflik kepentingan tertentu). Sampai saat ini saya sangat menghormati profesi mulai dari guru. Semoga anda diberi kekuatan untuk tetap menjadi guru teladan… Karena pekerjaan guru adalah jariyah penyebaran ilmu yang bermanfaat yang pahalanya tidak pernah putus :)

Perlu kita ketahui siswa yang mendapatkan penilaian kurang fair sampai kemudian dia dewasa dan sukses menjadi profesional / wirausaha, sampai detik ini masih mengingat pengalaman buruk tsb. Karena hal ini termasuk kategori “children bullying”.

Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak yang berkepentingan terhadap Evaluasi UAN.

Bagi bro and sis yang ingin comment juga monggo silakan yah :)

Budi Wiyono Ada apa dengan Ujian Nasional? Koq banyak yang protes? Jamannya saya dulu UN adalah penyelamat siswa yang niat sekolah. Banyak ‘bintang kelas’ jadi-jadian yang jeblok di UN, dan digantikan juara sesungguhnya (UN jauh lebih fair dan tidak mudah dicurangi oknum guru)

Tjatur Sadono, Putri Hapsari and Arief Muhamad like this.

Sereal Kiler
Sereal Kiler
btol btol btol.

Budi Wiyono
Budi Wiyono
Hayo siapa yang merasa dicurangi oknum guru Ngacuuuung…(yang dijadikan juara saat ujian lokal: anaknya, saudaranya, anak temannya, etc), tapi akhirnya bisa menjadi Juara saat UN?

Necky Effendy
Necky Effendy
Saya yang ga setuju pak. Tidak ada rasa keadilan bagi sekolah2 di daerah dengan di jakarta pak. Sbg contoh yg paling nyata, SD anak gw dgn lokasi cuma 3 km sm ponakan gw tapi berbeda kualitas dan tingkat pelajarannya. Kl yg ini pengalaman pribadi pak, dari sebulan yg lalu sy cuma menyuruh anak latihan dan latihan hanya 3 mata pelajaran. IPA, Matematika, dan Bhs Indonesia. Kenapa hanya fokus disitu? ya karena kelulusan dan penerimaan smp hanya dari nilai 3 itu pak. Lah…terus ngapain capek2 belajar yg lain dunks…??….peace pak boss…maaf kl ga sependapat.

Budi Wiyono
Budi Wiyono
@Necky Saya pro terhadap UN. Sekolah di daerah banyak yang mampu faktanya. Sekolah yang tertinggal harus mengejar ketertinggalannya (tidak melihat daerahnya, bisa saja sekolah di pusat kota tapi tertinggal). Bayangkan ketidakseragaman yang akan terjadi jika tidak ada tolok ukur yang sama. Akan hancur dan semakin mundur. Bayangkan penyelewengannya juga jika tidak ada UN. Sekolah pinggiran akan semakin tertinggal jika tidak ada UN. UN dan perbaikan mekanisme yg harus terus di sempurnakan bukannya malah di tiadakan.

Necky Effendy
Necky Effendy
Sekolah yang tertinggal justru bisa mengejar ketertinggalan dengan biaya UN yang mencapai 3 trilyun pak….kebayang ga sih pak sekolah yg di jakarta tapi ambruk (berita beberapa bulan yg lalu). Kalau mau penyeragaman…langsung saja pak ga usah hanya 3 mata pelajaran tapi semua mata pelajaran biar ga mubazir belajarnya. Kalaupun mau mutu nya ditingkatkan lihat2 lah pak…SMP atau SMA sy masih setuju.. tapi kalau tingkat SD….pendapat saya tidak fair pak. Pendapat saya justru penyelewengan 3 trilyun itu yg sangat rentan … KKN….hehehe jadi curhat deh. Kalo ada diskusi terbuka tentang ini…terus terang pak…saya akan senang hati….di sekolah anak sy yg ada pertemuan ortu murid dengan para pengajar…mereka tidak dapat memuaskan saya dengan jawaban2nya

Tony Wiharjito
Tony Wiharjito
Ehm….kenyataannya kalo gak ada UN emang jauh lebih gak transparan lagi,pk ujian masuk lokal per sekolah yg di nilai oleh sekolah masing2 rawan kolusi,dimana berkas ujian pun gak dibalikin lg. Dikombinasikan pake nilai rapor? Sama aja gak jelasnya, banyak rapor jadi2an yg jg rawan kolusi. Kalo UN,dipriksa pk komputer,lebih transparan & standardized (kl jaman kt dl pake ebtanas yg meski manual tp yg mengkoreksi jwbn guru2 sekolah lain,ttp lbh aman dr kolusi). Jd UN emang bukan metode seleksi ideal,tp s/d skrg msh yg paling aman dari praktek kolusi. Mgkn tar kl mental kolusi di Indonesia udah terkikis,br UN bs dihapus & metode seleksi kelulusan/masuk sekolah bs pk nilai raport komprehensif.

Budi Wiyono
Budi Wiyono
@Necky Saya sendiri nggak mau melebar ke korupsi deh ya. Lebih fokus ke UN atau Tanpa UN dulu aja pak.
Aku berpendapat begini juga karena pengalaman sekolah dulu. Aku punya teman dan adik yang dalam situasi tanpa UN seperti apa dengan UN seperti apa. Pada saat tanpa UN (kelas 1-kelas 5), mereka di ganjal, selalu jatuh ke nomor 2 paling banter. Begitu pakai UN (kelas 6), langsung ranking 1 sak sekolahan! Kita bicara ini Endonesia loh… Rawan penyimpangan, makanya jadinya seperti itu.
Kesan yang saya dapat dari pihak yang kontra UN adalah pihak tsb terkesan tidak mau/tidak berani berkempetisi.
Sungguh aneh mau meniadakan UN dengan tidak tersedia way out nya. Terkesan seperti mau melarikan diri dari kenyataan dan tantangan.
Saya juga tahu, ukuran kognitif (otak kiri thok) tidak menjadi jaminan sukses dalam karir anak sekolahan kelak, tetapi kita ini bicara dalam pembatasan “dgn kurikulum yang berlaku saat ini” IMHO, saat ini, tanpa UN, akan makin hancur. Sekolah yang tidak mampu bersaing akan makin tidak bisa mengejar. Nilai 6 di sekolah berkualitas jadi terkesan lebih jelek dari nilai 9 di sekolah abal-abal. Jadi lebih gak karuan lagi.
Hehe nice discussion! :) Piss :)

Necky Effendy
Necky Effendy
i got it bro…i see ur point now…hehehehe, mudah2an endonesia bisa lebih maju dengan UN or without UN. peace.

Emanuel Setio Dewo
Emanuel Setio Dewo
Daku juga Pro UAN. Karena selain menjadi evaluasi akhir belajar siswa, UAN juga menjadi ajang penggemblengan mental.

Edward Simond Koto
Edward Simond Koto
gw juga pro UAN, tapi harus fair juga dalam menghukum, jika banyak siswa yang gagal UAN, siswa kan uah otomatis terhukum dengan kegagalannya. HArusnya gurunya juga dihukum. misalnya setiap 10 orang siswa yang gak lulus, gurunya turun gaji 10%. Jadi Guru juga ada semanggat memperbaiki kualitas masing masing.

Budi Wiyono
Budi Wiyono
@Dewo Setuju juga
@Edward Setuju banget, hehe. Jadi bener-bener jadi sarana benchmark.
Dan satu lagi, peran ORTU sangat sangat diperlukan. Hidup di Endonesia harus pinter-pinter jaga anak-anak & daya saing anak kita.

Budi Wiyono
Budi Wiyono
@Dewo Setuju juga
@Edward Setuju banget, hehe. Jadi bener-bener jadi sarana benchmark.
Dan satu lagi, peran ORTU sangat sangat diperlukan. Hidup di Indonesia harus pinter-pinter jaga anak-anak daya saing anak kita.

Necky Effendy
Necky Effendy
Hahahahahah…Edo…harusnya adil juga dunks, kalo setiap 10 siswa yg ga lulus kena punishment. Kalo berhasil lulus semua kudu dapat reward dunks…baru ini fair ada punishment aja juga reward….khan jadi balance

Budi Wiyono
Budi Wiyono
@Necky Pak, Reward bagus untuk memacu semangat, yang lulus semua sih gak perlu reward bos, khan ini yang jadi standard. Yang perlu dikasih reward lulus semua PLUS rating yang membanggakan, nah ini perlu di hadiahin reward :)

Necky Effendy
Necky Effendy
itu pak…maksudnya…biar guru2nya memacu peningkatan mutu sekolahnya dengan ok…hehhehe

Budi Wiyono
Budi Wiyono
@Necky Tul pak :)

Rein? Rein
Rein? Rein
wah wah rasanya kalau mau ngomongin UN bisa panjang ceritanya … saya tidak setuju sama UN karena menilai siswa hanya dari 1x tes saja dan tidak komprehensif. Kalau nilai UN jadi salah satu unsur bobot yg cukup besar (mis.50%) utk kelulusan saya setuju, dgn mempertimbangkan nilai di kelas 1,2,3 dengan bobot tertentu.
Masalah kalau tidak ada UN akan dicurangi oknum guru, ya kontrolnya yg diperketat – mis.tempatkan pengawas independen misalnya. Jgn lantas mengadakan UN yang tidak komprehensif jadi senjata.
ujung2nya sih.. mendiknas niat gak serius mikirin ginian dgn mempertimbangkan +/- nya…
okelah kalau begitu

Budi Wiyono
Budi Wiyono
@Rein Yang diragukan adalah sistem rating di Rapor-nya yg lokal. Alasan: 1) Tidak standard derajat ukurnya antar wilayah 2) Soal lokal itu selalu lebih mudah bocor 3) Nilai rapor sepenuhnya wewenang guru, nah ini yg paling rawan dimanfaatkan oleh oknum. 4) etc.
Intinya rapor itu kurang dipercaya dan tidak standar pengukurannya.
Anda lulus di sekolah A di kota X, susah dibandingkan dengan Fulan lulus di sekolah B di kota Y.
IMHO, lebih baik UN sekali tapi bisa lebih dipercaya ketimbang tidak ada UN sama sekali.
Anak sekolah memang harus well prepared dalam menghadapi UN. Toch yang nilainya bagus dalam UN hampir selalu anak yang “bagus” juga. Maksudnya hampir tidak mungkin anak yg gak pernah belajar bisa dapat nilai bagus dalam UN (buktinya banyak yang gak lulus toch, hehe…).
Intinya jangan meniadakan UN selama tidak ada solusi pengganti yg *Lebih Baik*.
Just my 2 cent…

Rein? Rein
Rein? Rein
Kalau dibuat per kanwil seperti sistem target sales perusahaan gimana ya . jadi target lulusnya dimanage oleh kanwil tsb (bukannya emang kudu gt ya? jgn2 sdh jalan bgt?) kanwil ini kan biasa paling tahu kondisi daerah dibawahnya jd bisa mengadjust targetnya sekalian controllingnya …seperti di perusahaan saja, target sales kanwil jakarta ga akan sama dengan target di kanwil NTT misalnya (kalau ada). Kalau saya memandang kisruh UN adalah kesalahan pemerintah yg tidak mampu mengkontrol proses penilaian jadinya menggunakan tools yg terlalu memaksa.. jaman skr sudah jaman horizontal dan tidak cocok melakukan “command & control” yg memaksa, harus perhatikan aspirasi dari bawah

Edward Simond Koto
Edward Simond Koto
@Necky : heheh iya ya, lupa gw ngomongin rewardnya, Abis gw kelamaan kerja dikantor gw yang dulu, yang gak kenal masalah pemberian reward, apalagi kalo rakyat kecil yang berjasa hehehhe. tapi kalo berdosa dikit pasti dapet punsiment…nasib nasib.

About these ads

Written by budiwiyono

March 21, 2010 at 6:08 pm

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hmmmmmm, memang seperti itulah UN

    febri

    March 23, 2010 at 7:25 am

  2. tidak setuju……..karena yang mengetahui kondisi siswa adalah guru bukan pemerintah, jadi yang lebih tahu siswa dapat lulus dari bangku sekolah adalah guru.

    sri

    March 24, 2010 at 2:57 pm

  3. emang bener dengan adanya UN siswa akn termotivasii belajar,,emang bner dengan adanya UN tidak ada kecurangan oleh guru…

    tp dengan kualitas sekolah yang belum merata saya tidak setuju klu diseragamkan….

    bner si,,sekolah harus mengejar ketertinggalannya…tp caranya gmna??kualitas guru didarerah terpencil bahkan terpelosok bisa dikatakan sangat memperihatinkan…

    jadi menurut saya,,pertama tugas pemerintah harus setidaknya meratakan kualitas sekolah2 yang ada diindonesia dengan memperbaiki kualitas guru,fasilitas buku2 dan lain2..mungkin bisa sambil jalannya program UN…..

    rhio ramli

    April 16, 2010 at 2:33 pm

  4. ….kontra dg UN justru penting menelusuri secara mendalam proses pendidikan yg harus berlangsung di setiap satuan pendidikan kita. Jika peserta didik melalui proses pendidikan yg benar maka UN tdk perlu menjadi perdebatan (tdk perlu menjadi kekuatiran) kita. Jika peserta didik setiap hari pergi ke sekolah (satuan pendidikan) & belajar benar di sana lalu kembali ke rumah mengerjakan sejumlah tugas yg menjadi tugasnya sebagai peserta didik, lalu didukung oleh orangtua/wali menstimulus anaknya belajar di luar jam sekolah, maka peserta didik akan memiliki sejumlah potensi untuk mengetahui materi pembelajaran yg disajikan oleh pendidik sesuai silabus yg menjadi tolak ukur (pedoman) penyusunan soal UN. Fsilitas teknologi telekomunikasi utk mengakses berbagai informasi materi pembelajaran melalui internet, selain buku-buku yg banyak di pasaran (di toko buku, maupun buku elektronik di berbagai situs buku elektronik) bahkan dpt dipesan ke penerbit, merupakan potensi yg dapat membantu mutu proses pendidikan kita. Lebih lagi jika pendidik menyiapkan media pembelajaran yg lebih menarik, terasa indah & mengasyikkan bagi peserta didik, misalnya melalui percobaan bagi mata pembelajaran sains, maka smua akan terproses menjadi peserta didik yg siap lulus UN. Sejak awal masuk sekolah (satuan pendidikan) selalu memiliki sejumlah pengetahuan yg optimal baru dpt naik jenjang berikutnya dlm suatu sekolah, & seterusnya sampai pd jenjang terakhir ketika akan mengikuti UN. Salah satu masalahnya adalah MIND SET (cara berfikir) kita yg kadang keliru dari awal, karena kadang hanya kita memikirkan peserta didik itu lulus dari suatu satuan (lembaga) pendidikan, dan kadang TIDAK MENITIKBERATKAN pd esensi pendidikan itu sendiri yaitu agar peserta didik (anak kita) memiliki sejumlah pengetahuan & keterampilan serta karakter positif. BUKAN SEKEDAR utk lulus & mendapatkan ijazah. Sejak berangkat dari rumah anak kita (peserta didik) & org tua & mungkin juga pendidik serta mungkin juga pemerintah daerah memiliki MIND SET YANG KELIRU bahwa 3 thn sejak masuk sekolah (SLTP & SLTA), anak kita (peserta didik) harus tamat atau dpt ijazah. Pd hal yg akan menjadi alat ukurnya adalah apakah secara obeyektif anak kita (peserta didik) telah memiliki sejumlah mutu sumber daya manusia sesuai dgn jenjang & karakteristik satuan pendidikan kita. APA YG DIBUAT OLEH DEPDIKNAS ITU ADALAH BENAR ADANYA, termasuk UN, sebab UN merupakan tahapan akhir dari sejumlah proses yg dinilai sebelum UN tiba. Seperti 2 (dua) ujian semester di kls satu SLTA atau kls X yg juga harus melalui ujian praktikum utk mata pembelajaran sains, yg di dalamnya terkandung materi UN. Demikian juga di kls dua SLTA melalui proses yg identik, sampai di kls tiga SLTA. Sehingga semua optimal & akan mencapai nilai tujuh ke atas setiap mata pembelajaran, & jika Standar Kelulusan kita hanya rata-rata 5,5 (lima koma lima), maka secara global kita harus malu, atau sebaliknya kita tau diri bahwa ternyata bangsa kita adalah komunitas orang-orang bodoh, & jangan heran bilaman semua kekayaan alam kita tdk mampu kita kelola. Jangan heran kalau institusi pendidikan kita hanya mampu membentuk kader tenaga kerja internasional kebanyakan sebagai pembantu rumah tangga, bukan inovator yg mampu berkreasi dll bukan yg produktif. Kalau tdk mencapai nilai standar kelulusan, berarti ada yg salah dlm proses pendidikan kita bukan UN yg harus ditiadakan. Dapat dibayangkan jika tdk ada ujian maka semua akan lulus, termasuk yg hanya namanya saja terdaftar sudah dapat ijazah dll yg negatif.
    Salah satu permasalahan dlm setiap satuan pendidikan kita adalah proses-proses itu tidak dialami secara optimal oleh peserta didik, akibat berbagai kendalah termasuk kendala dari kita orangtua. Sebab ternyata ada orang tua yg keliru yaitu berpandangan-salah ketika guru memberi tugas pd peserta didiknya (org tua marah ketika anaknya diberi banyak tugas oleh pendidiknya), ada org tua marah jika anaknya tdk naik kelas, ada org tua mempersalahkan pendidik jika anaknya ditegur guru, atau diberi sanksi oleh pendidik akibat melakukan pelanggaran, karena anaknya amat baik di rumah, namun ketika di luar rumah seperti di jalan ia ngebut atau tidak kerja tugas, atau hanya menyalin tugas temannya, atau nyontek saja pd orang lain, atau selalu nyontek pd bukunya setiap ulangan indvidu, atau tdk mau melakukan praktikum, dll yg indentik. Akibatnya pendidik mengalami gangguan dlm menyusun strategi utk ME-RECOVERY (menyembuhkan, membangun kembali) karakter negatif menjadi positif dari peserta didik yg bersangkutan. Ini semua merupakan kajian dlm menyiapkan anak kita (peserta didik) agar sukses menempuh pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak sampai tingkat doktoral bahkan sampai usulan menjadi profesor kelak.
    Tugas kita sebagai orangtua adalah mendorong anak kita (peserta didik) untuk mengikuti dgn telaten semua proses pembelajaran yg disajikan oleh pendidik. Karena di dlm mengikuti semua proses, peserta didik (anak kita) sedang dibentuk mentalnya menjadi telaten sehingga kelak dlm realita kehidupannya akan menjadi bijak, obyektif, tidak senang melakukan jalan pintas yg curang dll yg positif.
    Tugas kita sebagai orangtua adalah mendorong institusi pendidikan kita (satuan pendidikan pada mana anak kita mengikuti pendidikan) agar melakukan proses pembelajaran yg optimal dlm menjalankan tugasnya. Pendidik kita di setiap satuan pendidikan disuport utk melakukan langkah-langkah inovatif dlm membangun media pembelajaran yg optimal mewujudkan proses pembelajaran yg terkesan menarik, indah & mengasyikkan bagi peserta didik (bagi anak-anak) kita.
    Tugas kita orangtua peserta didik atau masyarakat melalui wakil-wakil kita di Parelemen atau langsung ke KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL adalah mendorong semua komponen yg terkait utk memberikan perhatian bagi berlangsungnya proses pembelajaran pd mana peserta didik (anak-anak kita) benar-benar terlibat secara aktif dlm prsoses pembelajaran, melalui sejumlah proses pembelajaran yg optimal dpt mengembangkan potensi diri mereka (peserta didik = anak-anak kita) untuk memiliki kekuatan atau potensi optimal (pasal 1 UU No. 20/2003 ttg Sisdiknas).
    Sebagai bagian dari masyarakat, kita semua terasa penting mendorong agar indikator-indikator keberhasilan pendidikan di semua daerah otonom di tingat Kabupaten/Kota bukan KUANTITAS prosentase kelulusan sejumlah peserta didik, MELAINKAN MUTU PROSES PEMBELAJARAN, MUTU PROSES UJIAN NASIONAL dll mutu atau kualitas pd setiap jenjang & jenis satuan pendidikan kita.
    Salah satu pentingnya UN adalah bahwa UN independen dlm menyajikan soal, memiliki mutu soal yg standar, dll. Sehingga satuan pendidikan kita dpt dievaluasi secara obeyektif. Dpt dibayangkan jika Ujian Akhir dilaksanakan sendri oleh guru di sekolah yg bersangkutan pd mana soalnya dibuat sendiri oleh guru, diperiksa sendiri oleh gurunya, tentu tdk dpt dijamin independensi bahkan reliability dari pemeriksaan belum tentu optimal, walau secara teoritis soalnya telah diuji validitas & reliabilitasnya. Sehingga UN sangat peniting.
    Salah satu yg penting diperjuangkan bersama adalah proses UN itu harus berjalan sesuai Panduan Operasional Standar dari Badan Standar Nasional Pendidikan Depdiknas. Ketika ada pelanggaran, konsisten ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yg berlaku.

    Arizenjaya

    April 18, 2011 at 11:30 am

  5. Sebaiknya UN dibubarkan karena banyak di Indikasikan dari pantauan ICW/Indonetion Corupption Watch terjadi penyimpangan pengawas pelaksanaan yang tdk independen serta indikasi beredar kunci jawaban dari oknum yang tidak bertanggung jawab.yang menyebabkan pendidikan tdk fairness dan akuntabilitas tdk ada. Maka sebainya Ujian Nasional diganti menjadi ujian seleksi masuk SMP dan SMA Negeri dg pengawasan independent seperti masuk perguruan tinggi negeri. jadi biarkan kelulusan oleh sekolah yang bersangkutan. . ini yang mungkin mengurangi sindrom anak dan sekolah yg dihantui , sehingga ada penghematan puluhan Milyard rupiah yg dapat digunakan untuk perbaikan gedung sekolah dan lainnya,
    Pemerintah dapat mengukur kualitas pendidikan dan mengurangi biaya tinggi akibat adanya ujian nasional ini smoga pemerintah mau dengar saran ini

    sumindar

    July 7, 2012 at 9:39 am

  6. saya adalah siswi sma di daerah lampung timur, saya setuju dengan di adakanya UN tetapi dengan catatan hasil UN di ambil 40% dan nilai rapor di ambil 60% untuk menentukan kelulusan siswa kenapa saya mengatakan seperti itu karena proses selama 3 tahun jika hanya di tentuka dalam 4 hari itu sangat tidak adil sehingga proses selama 3 tahun itu harus di beri penghargaan lebih di bandingkan proses yang hanya di laksanakan selama 4 hari. itu akan menjadikan siswa di sekolah sekolah tidak takut atau kawatir lagi menghadapi UN.

    puput

    November 22, 2012 at 5:50 pm

  7. UN itu tidak ada pengaruhnya terhadap kualitas pendidikan (Menurut Prof. Zamroni). Oleh karena itu, UN sebaiknya hanya untuk pemetaan mutu (data untuk pemerintah), bukan untuk menentukan kelulusan, apalagi untuk syarat masuk ke pendidikan yang lebih tinggi. Jika kemudian ada usaha tambahan, misal dengan les, alat ukur UN tidak dapat menilai secara valid kualitas pembelajaran di kelas : apakah hasil UN berdasarkan pembelajaran di kelas atau karena bimbingan belajar atau karena yang lain?

    Muhammad Hanif Priatama

    March 15, 2013 at 9:00 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,760 other followers

%d bloggers like this: