budiwiyono.com | opinions, analysis, techniques, experiences and insights.

Simplicity is the ultimate sophistication

Archive for the ‘Business Idea’ Category

Indonesia as Top 10 World Largest Economies at 2020

with 2 comments

Senangnya melihat Outlook masa depan Indonesia :)

Kilas balik sedikit:

“…. But the biggest praise will be for Indonesia: it will be the emerging-market star of 2011, with analysts lauding its innovative companies, growing middle class and relative political stability.” (Economist, 22 November 2010)

Roubini bilang:

“Goodby China, Hello Indonesia” !!

WOW!!!

Sebagai Ilustrasi:

Anak saya termasuk dalam kelompok umur yang jumlah nya paling besar di Indonesia (lihat gb. piramida penduduk, kelompok 5-9 thn).

Mereka akan produktif di kisaran tahun 2020-2030.

Bayangkan, saat itu Indonesia Dependency Rationya reversal ke arah super produktif. Kelompok umur yang paling besar di Indonesia, yang saat ini belum produktif, tahun 2025 mendadak jadi produktif.

Akan ada ledakan produktifitas kolektif lanjutan dari ledakan kelas middle yg sudah mulai terjadi saat ini

Tidak mengherankan jika  tahun 2020 Indonesia mulai masuk sbg Top 10 Largest Economies. Tahun 2030 Indonesia menjadi Top 6 Largest Economies..

So bagusnya jadi apa anak kita pada saat Indonesia sbg Top 6 Largest Economies di tahun 2030?

Written by budiwiyono

December 1, 2011 at 10:24 am

Peluang Usaha & Strategi Investasi khusus untuk Pensiunan (1)

with 11 comments

Pada prinsipnya, profesional yang mengambil atau terkena program pensiun maupun pensiun dini, idealnya dipersiapkan terlebih dahulu. Tetapi kenyataan yang ada, umumnya kebanyakan belum sempat membekali diri / mempersiapkan diri untuk berpindah dari kuadran karyawan ke kuadran entrepreneur. Kebanyakan terkaget-kaget dn stress jika masuk ke dunia wirausaha.

Untuk itu, berhubung saya telah mendapatkan banyak ilmu dari para coach saya, untuk itu saya merasa perlu membagikan tips strategi usaha dan investasi yang cocok untuk para pensiunan.

Karekteristik Usaha

Karakteristik Usaha yang cocok untuk pensiunan menurut saya adalah:

  • sektor usaha yang resikonya terukur dan secara alamiah tahan terhadap siklus trend naik turun (artinya bukan komoditas yang harga di pasar bisa diombang ambingkan oleh bandar, contoh: bukan saham, komoditas CPO, termasuk emas yang dalam trend jangka pendek bisa naik turun, etc).
  • bukan bisnis spekulatif
  • mudah dioperasikan
  • value meningkat bahkan dalam keadaan didiamkan sekalipun
  • mengandung leverage/daya ungkit

Kenapa karakter usaha di atas perlu kita define di depan? Karena banyak sekali cerita-cerita pengalaman para pensiunan yang kecebur bisnis yang salah. Seperti cerita mantan pimpinan sebuah perusahaan Multi National Company yang pensiun kemudian terjun ke bisnis taxi. Seluruh pesangon di guyurkan, tetapi bisnis gagal karena bisnis tsb adalah bukan bisnis yang mudah dioperasikan. Perlu jam terbang dan skill yang spesifik. Sehingga beliau yang seharusnya menikmati “uang bekerja untuk kita”, jadi terpaksa mencari kerja lagi sbg karyawan.

Juga cerita-cerita Pensiunan yang kehilangan hartanya setelah mengguyurkan pesangonnya pada bisnis yang spekulasi seperti bursa saham, bursa komoditas dan lain-lain.

Tentu ada yang comment, emangnya ada bisnis yang gampang? Jawabannya: Ada!

Pada artikel ini saya akan lempar satu ide strategi untuk Pensiunan.

Menurut saya, masa pensiun adalah masa yang memerlukan aktifitas yang mengarah pada kegiatan spiritual. Jadi bisnis yang “mulia” bisa menjadi faktor pendorong yang memotivasi.

Salah satu ide yang sesuai dengan paparan kriteria di atas adalah Bisnis Properti. Bisnis properti yang cocok untuk Pensiunan salah satunya adalah Bisnis / Kerjasama Bisnis Pengembang Perumahan (Property Developer). Bisnis ini berisi banyak sekali cabang peluang pembukaan lapangan kerja, mulai dari jasa tukang, mandor, arsitek, tukang listrik, dst dst, bahkan setelah perumahan jadi akan muncul usaha-usaha disekitarnya mulai dari warteg, rumah makan, fitness center, klinik, apotik, dst dst. Jadi setuju khan, jika kita sebut bisnis ini adalah bisnis yang mulia.

Demand Pasar

Juga, secara demand trend, menurut Riset Markplus, Urban Movement di Indonesia akan makin kuat. Bayangkan, pada akhir tahun 2010,  50% penduduk Indonesia adalah kaum Urban yang tinggal di perkotaan, bahkan tahun 2025 makin menguat menjadi +/- 68% penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan. Jelas khan, jika akan makin banyak saja kota satelit di kota-kota besar di Indonesia.

Tapi… emangnya menjadi Pengembang Properti itu gampang coy? Tenang… tenang, nanti akan saya jelaskan strateginya.

Mengingat:

  • Pensiunan memiliki dana pensiun / pesangon yang bisa di manfaatkan untuk Investasi yang aman
  • Pensiunan umumnya tidak memiliki skill strategi pemilihan lokasi perumahan

Sehingga menurut saya, sebaiknya Pensiunan bekerja sama dengan Pengembang Property.

Pembagian tugasnya simple sbb:

  1. Pengembang: bertugas mendesign produk rumah, mendevelop lahan, mendevelop rumah, dan menjual rumah sampai habis dengan menciptakan profit yang menarik
  2. Pensiunan: pensiunan dapat mengambil peran dalam mengakuisisi lahan yang prospektif. Dalam hal ini pensiunan mengambil peran sbg Pemilik Lahan. Jika dana terlalu kecil bisa bersama-sama dengan teman-temannya. Jika tidak tahu lahan yang bagus seperti apa bisa konsultasi dengan Pengembang. Jika tidak bisa menemukan Lahan yang bisa di akuisisi, bisa bekerjasama dengan Mediator Lahan, fee nya relatif murah dan sangat masuk akal.
  3. Investor: investor biasanya meminjamkan dananya untuk disertakan dalam pendanaan Pengembangan Perumahan. Investor memiliki keahlian dalam menilai project yang layak.

Nah, dari ketiga pemain di atas, posisi manakah yang paling aman? Posisi mana yang paling tidak beresiko? Jawabnya adalah posisi nomor 2. Yaitu Pemilik Lahan. Kenapa? Karena selama Lahan di develop, maka Lahan TETAP atas nama si Pemilik Lahan. Lahan hanya berpindah pemilik hanya jika sudah ada akad dengan pembeli rumah (buyer). Selama belum ada penjualan rumah, maka Lahan TETAP atas nama pemilik lahan.

Setiap ada rumah yang terjual, maka akan ada pemindahan kepemilikan dari pemilik Lahan ke Pembeli rumah, setelah sertifikat di split.

Sedangkan peran Developer dan Investor yang bisa saja dijalankan oleh satu badan usaha adalah dalam posisi yang paling beresiko. Kenapa? Karena Developer dan Investor tsb membangun Lahan dan Rumah di atas tanah milik pihak lain!

Bandingkan pada sisi pemilik Lahan, dalam kondisi apapun, lahan masih milik pemilik lahan dan tiap tahun harga tanah naik terusss…

Saran saya, mulailah menindaklanjuti Lahan yang hot deal, yang harganya bagus dengan prospek yang bagus untuk anda akuisisi. Jika Lahan terlalu luas, ajaklah teman-teman anda bersama-sama mengakuisisi Lahan dan split lah ke atas nama anda masing-masing. Jadi, anda masing-masing mengantongi Sertifikat Lahannya sendiri-sendiri. Juga secara bersama-sama telah mengakuisisi Lahan yang relatif luas dan prospektif.

Contoh:

Lahan 1 Hektar (=10.000 meter persegi), dengan harga lahan rp. 500rb/m2,maka harga lahan keseluruhan = 10.000 * 500 rb = rp. 5 M. Jika per orang hanya bisa invest 250 juta, maka bisa mengumpulkan  sebanyak 20 orang.

Setelah masing2 telah memegang sertifikat lahan seluas 500 m2, secara bersama bisa memulai bekerja sama dengan Property Developer.

Sebagai gambaran, jika Lahan 1 Hektar, perkiraan Laba adalah sebesar rp. 2 M. Jika para pensiunan sbg pemilik Lahan menerima Share Laba sebesar 30%, maka Laba yang diterima adalah sebesar rp. 0.6 M secara bersama sama.

Jadi yang diterima masing-masing Pensiunan sebagai pemilik lahan adalah:

  1. Menerima pencairan penjualan tanah, jika di jual setahun kemudian, asumsi harga tanah naik 20%, maka masing-masing Pensiunan akan menerima: 1.2* 500rb* 500 meter= rp. 300 juta
  2. Menerima Laba Pengembangan properti= rp. 0.6M/20 = rp. 30juta (penambahan penerimaan laba senilai 12% dari nilai tanah)

Case diatas hanyalah contoh, dalam contoh ini modal rp.250 juta -> menerima rp.330 juta, RoI 32% dalam satu tahun. Cukup duduk manis dan biarkan uang yang bekerja untuk anda!

Dalam dunia nyata, profit bisa saja lebih dari rp. 2 M per Hektar Lahan. Umumnya, proyek dengan lahan 1 – 2 hektar bisa selesai mulai di develop s/d terjual habis hanya perlu waktu 1 – 1.5 tahun.

Setelah anda menerima penjualan tanah + laba pengembangan rumah, silakan anda ulangi proses ini ke proyek proyek yang lain :)

Sementara saya rasa cukup, silakan comment jika ada yang perlu didiskusikan :)

Semoga sukses, selamat menjadi Land Lord dan selamat membangun :)

Notes:

Artikel ini saya dedikasikan umumnya untuk semua pensiunan, khususnya untuk rekan-rekan Indosat yang saat ini menjalani Program Pensiun Dini. Semoga sukses, kawan.

Berlangganan gratis Strategi Kebebasan Finansial melalui Properti

Ingin informasi lebih? Jangan khawatir, silakan berlangganan Gratis untuk mendapatkan informasi terkini berbagai strategi membangun kemakmuran melalui Property. Juga info terkini rekan-rekan yang telah berhasil menerapkannya.

Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (2)

with 3 comments

Lanjutan artikel sebelumnya : Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (1)

Budi Wiyono Wow! Akan makin banyak peluang :)
Ayo para Seniman Produk & Entrepreneur, siap-siap lah menampung disposable income target pasar :)

Yuswo Hady Berbisnis di social media murah meriah, modalnya cuma laptop, koneksi, plus hosting setahun sejuta perak, tapi bisa create value (money) tak terbatas mas. “Pabriknya” ada di otak, modalnya cuma dua: THINKING dan CREATIVITY. Pasti bakal boom… fresh graduate bakal makin males kerja kantoran, enakan kerja di rumah jadi SOCIAL MEDIA ENTREPRENEUR… viva social media

==

Consumer 3000 (2): Some Trends

by Yuswo Hady on Saturday, December 11, 2010 at 10:31pm

Minggu lalu saya telah menguraikan secara umum mengenai fenomena tembusnya GDP/kapita kita ke ambang batas psikologis US$3000 pada tahun depan (2011) dan bagaimana implikasinya kepada perubahan perilaku konsumen. Saya menyebut di situ bahwa dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi perubahan cepat konsumen Indonesia menuju terbentuknya Consumer 3000 yang didorong oleh dua perubahan fundamental, yaitu naiknya buying power dan meningkatnya pendidikan yang menjadikan mereka lebih knowledgable dan civilized. Berikut ini adalah beberapa tren ke depan yang saya lihat akibat munculnya Consumer 3000.

Democratize of Consumption

Naiknya daya beli Consumer 3000 akan menjadikan produk-produk yang dulunya hanya mampu dibeli kalangan atas kini sudah mampu dibeli oleh orang kebanyakan. Fenomena inilah yang saya sebut “demokratisasi konsumsi” (“democratize consumption”). Kebanyakan konsumen kita kini sudah mampu membeli produk-produk seperti lemari es, TV flat, telepon seluler, mobil seperti Avanza, Xenia atau Jazz (itu sebabnya macetnya Jakarta nggak ketulungan), paket-paket liburan (bahkan kini kita sudah biasa berlibur ke Universal Studio Singapura atau ke Pucket Thailand, tak hanya sekedar ke Bali), kartu kredit dan asuransi, tiket pesawat (itu sebabnya Bandara Soekarno-Hatta lebih krodit dari stasiun Gambir).

The Rise of “Mass Luxury”

Banyak barang-barang yang dulunya merupakan barang mewah, tanpa terasa kini downgrade menjadi “tidak mewah-mewah amat”. Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah “mass luxury”. Tanpa kita sadari, kini mobil Mercy-BMW sudah “tidak lagi” menjadi mobil mewah. Kenapa? Ya, karena kita melihatnya berseliweran tiap hari di jalan-jalan, termasuk melenggang di jalan-jalan kampung yang becek. Dan yang penting, begitu banyak kelompok masyarakat kita (termasuk kelompok yang bukan berasal dari kalangan atas) yang memiliki mobil tersebut. Mobil Alphard adalah “mass luxury”; Kartu kredit gold dan platinum adalah “mass luxury”; apartemen di Segitiga Emas adalah “mass luxury”. Barang-barang tersebut mewah, tapi semakin terjangkau oleh kantong kita.

Smart Consumer: “Hyper Value-Oriented”

Meningkatnya pendidikan membentuk Consumer 3000 menjadi smart consumers yang selalu kritis menimbang-nimbang produk dan layanan yang mereka beli. Berbekal informasi yang kaya (yang di-search di Google) secara cerdas mereka membandingkan benefit produk yang mereka beli dengan harga yang harus dibayar. Tak heran jika boom midnight sale terjadi di mal-mal di berbagai kota, yang diserbu smart consumers ini. Tak heran juga jika value-for-money brand seperti Nexian mengalami boom luar biasa. Ya, karena konsumen cerdas ini lebih memilih Nexian yang memiliki functionality yang sama dengan Blackberry, tapi dengan harga yang jauh lebih murah.

More Competitive, More Mobile

Ketika populasi Consumer 3000 sudah cukup besar, maka makin banyak kelompok masyarakat yang memiliki pekerjaan bagus dengan gaji yang cukup memadai. Dengan buying power yang cukup dan basic needs yang sudah terlampaui, maka kebutuhan untuk mencapai kesuksesan di karir dan pekerjaan menjadi urgensi yang kian penting. Mereka pun menjadi semakin kompetitif dan ingin selalu produktif. Mereka menjadi semakin mobile dengan semakin banyaknya urusan. Pemilik merek cekatan merespons tren ini, misalnya, membuat kemasan yang “one-time consumed” seperti yang dilakukan oleh Coca Cola dengan kemasan kecil (genggam). Begitu pula Pulpy Orange (kini diikuti Buavita) yang jeli meluncurkan produk kemasan kecil sekali minum yang memang pas untuk orang yang mobile dan sibuk.

We Need a Place to Talk

Ketika treshold $3000 sudah terlewati maka basic needs (food, shelter, sex, sleep) pun sudah terlewati. Yang muncul kemudian adalah kebutuhan yang lebih advance seperti status sosial, aktualisasi, self-esteem, narsis, bersosialisasi dan berkomunitas, dan sebagainya. Karena pergeseran ini, tidak heran jika Starbuck dan J.Co sukses luar biasa. Tak heran juga KFC dan McDonalds berubah fungsi menjadi kafe tempat nongkrong. Konsep ritel dan kantin 24 jam (dengan koneksi WiFi-nya tentu saja) seperti 7-Eleven atau McCafe juga dikerumuni anak nongkrong sampai pagi. Saat ini juga muncul kebiasaan baru, dimana anak-anak muda berjejaring sosial di Facebook atau Twitter, lalu “kopdar” (kopi darat)-nya di 7-Eleven atau McCafe.

Civilized Consumers

Beranjak naiknya pendidikan Consumer 3000 juga menjadikan mereka lebih civilized. Karena itu, saya meramalkan dalam kurun waktu yang tak lama peminat software bajakan dan VCD-DVD bajakan akan berkurang (thanks God, gedung-gedung bioskop bakal tambah ramai). Sinetron yang absurd dan membonsai otak pemirsa akan semakin sepi peminat. Begitu juga film-film yang judulnya menggunakan atribut-atribut menyeramkan seperti “Kuntilanak”, “Pocong”, atau “Sundel Bolong” akan menyurut; sebaliknya film hebat semacam “Laskar Pelangi” atau “Ayat-Ayat Cinta” kian menjadi mainstream.

Tecnology Savvy: Gadget Freak!!!

Ketika basic needs sudah terlampaui, maka kebutuhan gadget dan produk-produk konsumsi berteknologi seperti ponsel, kamera, digital music player, hingga komputer tablet akan mendominasi. Tak heran jika iPad dan Galaxy Tab laris bak kacang goreng. Gampang diprediksi, antrian mengular seperti di Plasa Senayan saat Galaxy Tab launching dua bulan lalu bakal berulang saat Blackberry Playbook, Dell Streak, atau HP Slate nanti meluncur di pasar. Begitupun App Store dan Android Market bakal menjadi tempat favorit untuk mengunduh apps. Consumer 3000 tahu ditel mengenai gadget-gadget terbaru di dunia karena mereka begitu gampang mendapatkan informasinya melalui blog, Facebook, Twitter, dan sebagainya.

Modern Retail Explosion

Tergusurnya pasar tradisional oleh modern retail 5-10 tahun lalu menjadi isu sosial-politis yang sensitif. Namun kini, isu tersebut semakin melunak. Kenapa? Karena kita semakin “terbiasa” dengan layanan lebih baik yang ditawarkan oleh modern retail seperti Indomaret atau Alfamart. Kombinasi antara konsumen yang knowledgable dan memiliki buying power tinggi membentuk Consumer 3000 menjadi konsumen yang high-demanding. Mereka menuntut value tinggi (convenience, bersih, ber-AC, dan dengan harga kompetitif) yang bisa dipenuhi oleh modern retail. Karena kenyataan ini, ledakan modern retail bakal terjadi untuk berbagai retail category mulai dari barang konsumsi sehari-hari (Indomaret/Alfamart), kelontong dan perkakas (ACE Hardware), apotik (Apotik 24), elektronik (Electronic City), bahan bangunan (Mitra-10), spare-part otomotif (Shop & Drive), dan lain-lain.

“Broadband Hunger”: Social Media Boom

Consumer 3000 juga adalah jenis konsumen yang sangat lapar koneksi broadband. Mereka berjejaring sosial di Facebook dan Twitter, mengoleksi beragam gambar di Flickr, dan men-download/upload video di YouTube, dan menampung presentasi di Slideshare. Tak hanya itu, mereka adalah kelompok konsumen yang paling siap melakukan e-commerce untuk berbagai produk seperti gadget, buku, software, beragam apps (di App Store atau Android Market). Karena itu beberapa tahun ke depan, kisah sukses e-commerce seperti Kaskus, Bhineka.com, atau TokoBagus.com bakal disusul ribuan kasus sukses berikutnya.

Era Satu Miliar Wirausaha

McKinsey&Co. secara umum mendefinisikan kelas menengah (middle class) adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai 1/3 dari keseluruhan pendapatan. Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Nantinya akan banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di bisnis franchise. Pilihan lain mereka terjun secara full-time menjadi social media entrepreneur. Kenapa social media entreppreneur? Karena berinvestasi untuk menjadi social media entrepreneur menuntut investasi yang relatif rendah tapi memilki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business. Karena itu saya memprediksi franchise entrepreneur dan social media entrepreneur bakal boom dalam beberapa tahun ke depan.

Welcome Consumer 3000! ***

Written by budiwiyono

December 11, 2010 at 11:02 pm

Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (1)

with 5 comments

Artikel mas Yuswohady di bawah ini isinya sangat senada dengan materi yang disampaikan Pak Faisal Basri pada Markplus’s Marketeers Club.

Budi Wiyono
Nice Article!
Kemarin saya juga dapat update di Markplus Marketeers, dipaparkan secara lugas (gak pake tedeng aling-aling) oleh Faisal Basri.

Perlu banyak tulisan Positif dalam menyongsong Breakout angka 3000 Mas…

Trend ini juga didukung dengan Capital InFlow yg berbeda dari tahun2 sebelumnya. Rasio Longterm Investment lebih bagus, dari 1:5 menjadi 1:2

Yuswo Hady
@Budi, @Tatty betul, momentum GDP/kapita $3000 harus direspons dan disikapi secara serius oleh pemerintah dan pelaku bisnis di negeri ini. Menilik ke Cina, bahkan Perdana Menteri Hu Jintau sendiri (pada tahun 2004) yang mengikrarkan dan me…ngajak seluruh komponen masyarakat agar Cina bisa cepat mewujudkan GDP/kapita $3000.Jadi jauh sebelum angka tersebut ditembus (karena visi Cina akan mencapainya di tahun 2020, tetapi karena komitmen yang tinggi dari bangsa besar ini akhirnya terwujud tahun 2008) Cina sudah mempersiapkannya (misalnya persiapan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara, dsb). Sehingga begitu angka tsb ditembus, negara ini sudah memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengakomodasi ledakan pertumbuhan yang terjadi.

Di Indonesia, hanya segelintir ekonom dan pejabat yang peduli dengan angka psikologis ini. Ketika posisi angka $3000 sdh ditembus saat ini, kita melihat kondisi infrastruktur kita baik jalan tol, bandara, pelabuhan yang memprihantikan dan overloaded. Karena itu tak terhindarkan akan terjadi “bottleneck” yang berakibat accelerated development di atas tak sehebat di Cina atau Korsel. Let’s seeSee More

==

Consumer 3000

by Yuswo Hady on Saturday, December 4, 2010 at 2:34pm

Minggu lalu (27/11) saya diundang SmartFM untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar Economic Outlook and Business Strategy 2011. Bersama beberapa pembicara lain, antara lain, ibu Aviliani, kami membahas perubahan lanskap bisnis tahun depan. Blessing in disguise, berkat seminar itu seminggu sebelumnya saya kurang tidur karena “keranjingan” menelusuri data demi data untuk bahan presentasi saya. Kenapa keranjingan? Karena saya mendapatkan sebuah temuan yang sangat menarik yang kemudian memacu andrenalin saya untuk menelusurinya.

Temuan menarik tersebut adalah kenyataan bahwa tahun depan (2011) untuk pertama kalinya GDP/kapita (nominal) Indonesia bakal menembus angka US$3000.  Saya periksa data IMF (International Monetary Fund) tahun ini diprediksikan GDP/kapita kita sebesar $2.963 dan tahun depan mencapai $3270. Sadarlah, kini kita sudah tidak lagi negara berkembang. Dengan jumlah penduduk 240 juta, Indonesia adalah negara besar dengan kekuatan ekonomi yang bakal sejajar dengan negara-negara besar lain seperti Cina, India, Brasil, atau Rusia.

Apa istimewanya angka GDP/kapita $3000? Menilik pengalaman negara lain, $3000 adalah angka batas (treshold) suatu negara yang akan masuk dalam jajaran negara maju. Ambil contoh Korea Selatan. Begitu Korea Selatan mencapai level angka GDP/kapita $3000, negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat (accelerated development) secara terus-menerus selama 11 tahun. Saking “kramat”-nya angka $3000 ini, Pemerintah Komunis Cina pada tahun 2002 pernah mencanangkan target GDP/kapita $3000 ini dicapai pada tahun 2020. Namun apa yang terjadi? Cina mampu menembus angka psikologis itu di tahuh 2008-2009, dan setelah itu menikmati akselerasi pertumbuhan yang sangat fenomenal.

Kenapa bisa begitu? Karena lapis masyarakat kelas menengah (middle class) dari negara yang GDP/kapita-nya menembus $3000 sudah begitu besar, sehingga kelompok ini menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang sangat powerful. Majalah Economist edisi 12 Februari 2009 mengenai tumbuhnya kelas menengah di negara-negara sedang tumbuh (emerging countries) mendefinisikan kelas menengah ini adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income) 1/3 dari keseluruhan pendapatan.

Disposable income inilah yang mereka pakai untuk membeli produk dan layanan “advance” seperti mobil, AC, lemari es, TV flat, gadget terbaru, layanan perbankan dan asuransi, berwisata ke luar negeri (nggak hanya ke Bali), nongkrong di cafe, hingga konsumsi broadband internet. Kuatnya permintaan dari kelas menengah inilah yang berpotensi mendorong tumbuhnya industri yang terkait secara meluas, yang pada gilirannya menggerakan laju pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.

Mengacu ke konsep kebutuhan dan motivasi manusia dari Maslow, begitu suatu masyarakat menembus angka psikologis $3000, maka kebututhan dasar (basic needs) sudah lewat. Karena itu mereka mulai naik ke atas, masuk ke kebutuhan yang lebih advance seperti self-respect, status sosial, kebutuhan bersosialisasi, dan sebagainya. Itu sebabnya tak mengherankan jika Starbuck begitu sukses di negeri ini. Atau, McDonalds dan KFC sekarang sudah berubah model, bukan fast food lagi, tapi sudah menjadi kafe. Coba saja Anda datang ke McDonalds dan KFC yang 24 jam, pada pukul 12 malam, pasti ramainya minta ampun. Mereka tak sekedar makan, tapi kongkow-kongkow, ada yang kerja dengan laptopnya, ada juga yang melakukan business meeting.

Macetnya jalan di Jakarta dan kroditnya bandara (melebihi stasiun dan terminal) juga merupakan bukti sudah hadirnya kelas menengah dan konsumen dengan buying power tinggi di negeri ini. Kemacetan Jakarta tak lain adalah akibat dari begitu banyaknya konsumen yang sudah mampu beli mobil, tapi panjang jalannya tidak bertambah. Begitu juga, kroditnya bandara adalah akibat begitu banyak konsumen kita yang sudah mampu beli tiket pesawat, tapi tidak didukung bertambahnya ruang bandara.

Apa implikasi dari tembusnya GDP/kapita kita ke angka ambang $3000? Saya memprediksikan akan terjadi revolusi konsumen. Tembusnya ambang $3000 akan memunculkan “konsumen baru” dengan psikografi, sosiografi, dan perilaku yang berbeda dengan yang ada sebelumnya. Konsumen baru itu saya sebut: “Consumer 3000”.

Di samping memiliki buying power yang tinggi, Consumer 3000 juga more educated, more knowledgable, more civilized. Mereka lebih modern, memiliki global mindset (thanks to Internet!), mereka juga lebih technology savvy yang haus gadget seperti Galaxy Tab atau iPad. Secara natural dan pelan tapi pasti, mereka akan menjadi konsumen yang lebih health-conscious dan environmentally-concern.

Tapi ingat, karena mereka more educated dan more knowledgable, maka mereka akan lebih rasional dan sangat kritis dalam menentukan pembelian dan memilih barang-barang yang akan mereka konsumsi. Karena itu Consumer 3000 adalah jenis konsumen yang sangat value-oriented. Artinya, mereka sangat kritis menimbang-nimbang dan mengkaji value dari produk yang ditawarkan. Mereka tidak lagi melihat dunia barat (dengan teknologi, merek, gaya hidup-nya) secara “terpana” dan “wah”. Mereka memiliki global mindset tapi tidak membabi-buta dalam mengonsumsi merek-merek global; value tetap menjadi ukuran terpenting bagi mereka dalam memutuskan pembelian.

Dengan tembusnya $3000, maka konsumen jenis baru ini akan tumbuh dengan pesat dan akan mewarnai pembelian dan konsumsi produk dan layanan di berbagai industri. Karena itu setiap marketer di negeri ini harus cermat memantau perubahan perilaku konsumen baru ini, dan kemudian meresponnya dengan strategi-strategi pemasaran yang relevan.

Transisi dari kondisi lama ke baru selalu diikuti dengan kondisi chaotic sebelum transisi tersebut mencapai keseimbangan baru. Karena itu, saya meramalkan kemunculan Consumer 3000 ini di Indonesia akan memicu munculnya “gempa tektonik” dalam jagat pemasaran di Indonesia. Dan dalam setiap keadaan yang tidak menentu selama “gempa tektonik” tersebut pasti terdapat banyak peluang (sekaligus ancaman) yang bisa dipetik oleh marketer. Siapa jeli, pasti dia dapat. “Welcome Consumer 3000”. *

Written by budiwiyono

December 11, 2010 at 10:54 pm

Tips agar Perusahaan menjadi Inovatif

leave a comment »

Berikut ini tips yang sangat… sangat sederhana tentang Bagaimana agar Perusahaan Menjadi Inovatif.

Tips ini menurut saya sangat cocok untuk Starter.Kalau perlu adopsi sbg Corporate Culture anda.

Jika model di bawah bisa di adopsi, maka silakan dilanjutkan ke level yang lebih serius lagi dalam mengadopsi prinsip-prinsip yang sama yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan berbasis Inovasi seperti IDEO dan Google.

Faktor-faktor tsb di bawah merupakan pengalaman Ciputra dalam menciptakan lingkungan perusahaan Inovatif.

===

Oleh: Harun Hajadi

Empat tahun yang lalu, saya sempat menulis tentang Innovation: Innovate or Die pada Edisi Ciputra News Juni 2005. Memang topik tentang inovasi tidak pernah usang. Dengan kompetisi di sekitar kita yang semakin ‘intense’, kita dipaksa untuk inovatif. Tetapi untuk kita menjadi sebuah perusahaan yang inovatif, tidak cukup kita hanya meng-’hire’ orang-orang yang inovatif. Faktor lain yang penting adalah dengan menciptakan suasana yang mendorong orang-orang di sekitar kita menjadi inovatif.

1. Atasan yang terbuka dengan ide-ide baru bawahannya. Ini adalah faktor yang penting sekali. Atasan berani mengambil keputusan untuk ‘go’ atau ‘no go’. Jika sudah mengatakan ‘go’, dia juga harus menerima konsekuensinya kalau tidak sukses, atau sebaliknya.

2. Peers’ yang mendorong inovasi. Ini faktor yang penting sekali. Belum tentu orang yang inovatif dapat mendorong orang lain atau menciptakan suasana menjadi inovatif. Faktor yang lebih penting adalah misalnya dengan selalu menempatkan orang-orang yang antusias, orang-orang yang berpikiran positif, yang dapat bekerja sama sebagai tim (bukan individualis), aktif, selalu mau belajar hal-hal yang baru, yang tidak posesif terhadap apa yang dikerjakan, dan selalu terbuka dengan masukan-masukan.

3. Mempunyai rasa memiliki. Saya tidak pernah percaya seseorang bisa dituntut untuk inovatif jika dia tidak mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap perusahaan tempat dia bekerja. Jika dia berpikir bahwa dia hanya bekerja dan setiap hari hanya masuk kerja karena kewajiban, tidak adil rasanya kita menuntut dia untuk inovatif, karena ‘gak nyampe gitu lho!’

Sebenarnya faktor-faktor di atas sudah kita ketahui semua, hanya saja memang kita tidak menyadarinya. Saya juga memperhatikan bahwa proyek-proyek yang inovatif di Ciputra Group sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas tadi.

Sebenarnya kata besar dari ini semua adalah ENTREPRENEURSHIP seperti yang selalu didengung-dengungkan oleh Founder kita Bapak Dr. Ir. Ciputra. Apakah kita memiliki ‘entrepreneurship spirit’ yang tinggi, sehingga kita secara naluri inovatif, inovatif dari cara kita bekerja, cara kita mencari peluang, cara kita memecahkan masalah, cara kita berinteraksi dengan orang lain ataupun cara kita memotivasi ‘sub-ordinate’ kita atau kolega kita. Selamat berinovasi dan ber-enterpreneurship…



Written by budiwiyono

December 4, 2010 at 9:31 am

5 Tips to Build Your Startup Business

with one comment

Sayang rasanya melewatkan artikel sharing experience dari Andi S. Boediman di bawah ini.

Silakan simak berikut ini dan monggo dikomentari :)

===

(@startuplokal) is a regular meetup event created by Natali Ardianto (@nataliardianto), Sanny Gaddafi, (@sagad) Nuniek Tirta Sari (@nuniek) and Aulia Halimatussadiah (@salsabeela).

Invited to sit as a panel in its 7th installment of Startup Lokal, I was put together with Chandra Marsono (@chandramarsono) from Oxford English School and moderated by Sumartok (@sumartok). Turn out that this is a vibrant night attended by many new startups and future technopreneurs which learn from each other and build their network.

This is some of my key points during the nights:

* Tips 1. Choose to be a celebrity or making money, pick one!
You might ended having both if you concentrate on one, but when you try to do both all at once, you will running out of resources.

* Tips 2. Make money from day one
Too many startup says that they use advertising as their revenue model. This is the sign that the site will fail since advertising can only be monetized at later stages where all the traffic has already built up. Find other short-term business model such as services or product selling and use advertising as other income. Kapanlagi.com did this by having mobile content company as a revenue generator to finance their website early stages.

* Tips 3. Serving a bigger client is a simpler & more profitable in a short-term business model than advertising-based business model.
Get into media industry by having advertising as a business model is a tough market. Getting into retail market too soon will drain your financial resources. Getting into B to B market is simpler since you serve a bigger clients needs. But keep in mind that B to B don’t build your brand, so keep your retail business to build your brand. Bhinneka.com did this by providing procurement services as well as retail market.

* Tips 4. Brand is more important than brain.
Partner with a bigger company and brand, tap in their customer database and offer value to this partner. Your own knowledge and effort to build your own market will usually take a lot more time than riding the access to market by a big partner or brand. Kaskus takes 12 years to build their own loyal community. Koprol reach quarter the users of Kaskus in 6 months after acquired by Yahoo. And you don’t have to be acquired to partner with other brand. The key is providing value proposition to this partner.

* Tips 5. Value that you can offer: product, access to market, media and attraction factor
Define your strength and look for partner that complement the other value. If you have a killer product, then find the right partner to access the market. If you have the access to market, look for the right product or media that benefit your customer, if you have the media, find something that will create a wow factor.

Hopefully what I share tonight will inspire future technopreneurs!

Original Article by Andi S. Boediman


Written by budiwiyono

November 9, 2010 at 11:00 pm

Altimeter Report: Social Commerce, How Brands Are Generating Revenue in Social Media, by @lcecere

with 2 comments

Definisi dari eCommerce sangatlah luas. Bagi saya definisi  eCommerce model lama yang kurang berhasil adopsinya di Indonesia menjadi barrier adopsi eCommerce selanjutnya. Mestinya para pemain fokusnya adalah lebih jeli dalam memlilih model yang “cocok” untuk budaya Indonesia.

Tentu kita semua pernah mendengar Forum Jual Beli Kaskus (FJB). FJB Kaskus adalah bukti suksesnya eCommerce dengan model Social Commerce di Indonesia.

Dulunya sich saya yakin, Kaskus tidak membuat FJB by Design secara ter-struktur. Kemungkinan besar secara kebetulan dilahirkan setelah Forum membernya membesar dan ternyata kemudian sukses besar. Ternyata orang Indonesia cocok banget dengan model Social Commerce.

Lantas, bagaimana sich CARA men-generate revenue dengan model Social Commerce? Adakah guidance yang komprehensif ?

“Move quickly, make decisions based on the voice of the customer, and fail forward, taking your insights onto the next chapter of the Rise of Social Commerce.” (Manish Mehta, social pioneer at Dell)

Ringkasnya, stepping adopsi adalah sbb:

Silakan simak secara lengkap guidance dari Altimeter yang sangat berdaging di bawah ini.

Monggo silakan dikomentari untuk diskusi.

Written by budiwiyono

November 6, 2010 at 8:14 am

Menilai tingkat pertumbuhan aset dengan Rumus 72

with 5 comments

Jika kita memiliki aset, katakanlah aset berupa Ruko, tentu kita ingin tahu apakah Ruko anda merupakan aset yang Nilai nya bertumbuh dengan semestinya.

Tentu banyak yang bertanya-tanya, aset kita ini bertumbuh apa menyusut yah?

Jika kita punya dana kemudian dibelikan mobil kedua baru yang sering nganggur di garasi, umunya banyak dari kita yang bisa menilai/menebak dengan mudah bahwa mobil tsb nilainya semakin lama akan makin menyusut. Sangat mudah, semisal mobil kita beli dengan harga Rp.250 juta, tahun depan harga mobil meyusut 15% (semisal), tahun depannya lagi semisal menyusut lagi 15% lagi dst… Sangat kasat mata.

Lain halnya jika kita membeli properti Ruko diatas, semua juga tahu bahwa setiap tahun harganya naik. Akan tetapi apa patokan performansi pertumbuhan harga aset Ruko tsb? Lebih bagus mana jika dibandingkan dengan disimpan sbg Deposito di Bank misalnya?

Silakan gunakan Rumus 72 sbb, rumus ini untuk mengetahui kapan aset anda NAIK menjadi 2 KALI lipatnya. Rumus ini dari Bradley J. Sugars.

72 : suku bunga rata-rata = n

n adalah jumlah tahun properti anda NAIK menjadi dua kali lipatnya.

Sebagai contoh:

  • Harga Ruko = Rp. 500 juta.
  • Rata-rata Suku bunga = 12%
  • Nilai Ruko menjadi double = 72:12 = 6

Dengan tingkat suku bunga 12% maka patokan Nilai Ruko menjadi dua kalinya, yaitu menjadi Rp. 1 Milyar PADA tahun ke 6 setelah pembelian.

Angka 6 tahun tsb bisa menjadi patokan. Jika kita membeli Ruko bekas ternyata histori harganya naik double dalam waktu kurang dari 6 tahun, maka performansi kenaikan nilai aset tsb lebih bagus karena melebihi patokan 6 tahun.

Atau jika beli Ruko baru, silakan di evaluasi, jika dalam 6 tahun bisa melebihi dua kali saat beli ( > Rp. 1 Milyar) maka kenaikan asetnya bagus, karena melebihi patokan.

Bandingkan juga dengan jika disimpan sbg Deposito, apakah uang kita menjadi 2 kalinya setelah 6 tahun?

Lebih-lebih lagi jika memperhitungkan hasil sewa Ruko juga ;)

Semoga berguna. Monggo silakan dikomentari.

Written by budiwiyono

October 28, 2010 at 9:44 pm

Riding the Wave: Strategi ANDAL Menaklukkan Industri Software

with one comment

Tadi sore, pulang kantor sempat mendengarkan Teguh S Pambudi mempromosikan buku bertema Technopreneurship di FM Radio. Judulnya: Riding the Wave: Strategi ANDAL Menaklukkan Industri Software.

Buku tsb menceritakan kisah dan kiat sukses berbisnis Software, dengan mengambil keteladanan dan otobiografi Indra Sosrodjojo, founder dan CEO Andal Software Sejahtera. ANDAL adalah Software lokal yang berhasil menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Tema buku tsb yang jarang sekali muncul di pasaran, yaitu bicara tentang pengalaman dan aspek bisnis usaha Software, khususnya di Pasar Indonesia. Di Indonesia ada sekitar 500 perusahaan yang memproduksi peranti lunak lokal dengan jumlah aplikasi mencapai 5.000 buah. Mereka adalah independent software house yang mengerjakan pesanan.

Namun, Ditjen HKI mencatat baru 10 perusahaan lokal yang mampu memproduksi peranti lunak branded, yang membuat brand untuk produk yang dihasilkannya. Ini artinya: baru 10 perusahaan yang menjadi pelaku industri.

Penulis berharap pembaca bisa meneladani Indra Sosrodjojo, founder dan CEO Andal Software Sejahtera, seorang pelaku Industri, yang selalu belajar dari mentor virtual-nya… yaitu Buku.

Bagaimana dengan Indra sendiri? Berikut ini statementnya terkait kenapa dia bersedia di bedah dapurnya:

Alhasil, kami pun bersedia untuk “dibedah”. Permintaan saya dan teman-teman di Andal Software cuma satu: buku ini dapat dipersembahkan untuk para pelaku industri TI, khususnya industri peranti lunak, sehingga industri ini pun akan berkembang dan bertumbuh di Indonesia.

Juga:

Kekhawatiran saya pribadi tentang membuka rahasia dapur tak terbukti. Kami saling share, dan saya merasa bahwa wawasan saya justru bertambah luas lewat proses saling berbagi.

Dalam diskusi yang panjang itu, saya mengungkap banyak hal tentang Andal Software, mulai dari berdiri, fase-fase jatuh bangun, dan terpenting: kunci untuk menunggangi gelombang industri peranti lunak yang dinamikanya luar biasa pesat.

Industri peranti lunak memang seperti gelombang. What works today, become obsolete tomorrow! Peranti lunak yang hari ini hebat, akan segera tenggelam esok lusa dengan datangnya pesaing baru.

Siapa tak bisa menunggangi gelombang dinamika yang demikian pesat, dia akan tenggelam, seperti tenggelamnya produk yang dihasilkannya.

Yang ini seru:

The real competitor, sometimes is our mindset and the old way of doing business. Sebagai technopreneur, mindset dan cara mengelola bisnis harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan konteks industri yang terus datang bergelombang melahirkan beragam game changer yang baru.

Kita bisa belajar bagaimana Turnaround dilakukan Indra Sosrodjojo. Buku ini bisa menjadi landasan, apa sikap kita terhadap Wave baru yaitu Cloud Computing dan SaaS.

Sebuah kebutuhan yang terasa semakin mendesak serta relevan karena gelombang terbaru yang siap menerjang di segmen Enterprise Software adalah adanya Cloud Computing dan Software as a Service (SaaS)

Monggo silakan diintip.

View this document on Scribd

Written by budiwiyono

July 29, 2010 at 11:10 pm

Zappos’s Customer Centric Culture Delivering WOW!

leave a comment »

Baca artikelnya pak Roni di bawah ini.

WOW! Zappos yang sangat kondang Customer Centric Culture-nya memang mumpuni dalam keunggulan layanan.

Wow!! (lagi)…

===

Suatu malam, Tony Hsieh menginap di sebuah hotel di Santa Monica, California saat menghadiri sebuah konferensi.

Setelah konferensi yang melelahkan, ia bersama temannya berkumpul di kamar hotel seorang peserta. Salah satu temannya menelpon room-service untuk memesan pizza.

Mereka kecewa karena mendapatkan jawaban bahwa hotel tidak lagi melayani pesanan di atas jam 11 malam.

Seorang di antara mereka secara bercanda mengusulkan agar menelpon customer service Zappos untuk memesan pizza. Zappos memang dikenal dengan layanan customer service yang mengagumkan. Tapi, mengorder pizza lewat Zappos? Alangkah isengnya.

Awalnya, customer service Zappos merasa bingung dengan pesanan aneh ini. Namun ia segera “tersadar” dan menjawab agar si penelpon menunggu sebentar. Beberapa menit kemudian ia kembali dan memberikan daftar 5 restoran pizza delivery yang masih buka saat itu.

Wow!

Tony Hsieh sendiri kaget dengan respon seperti ini dari karyawannya. Ia tak menyangka karyawannya bisa “berimprovisasi” sedemikian rupa dalam pelayanan. Mungkin ini dampak dari tidak adanya script di layanan call centernya untuk menangani pemintaan yang aneh-aneh seperti ini. Tujuannya adalah agar si karyawan bisa berimprovisasi dengan leluasa dalam melayani.

Bagaimana dengan temannya Tony yang memesan pizza itu? Setelah mendapat pelayanan seperti ini, sekarang ia menjadi pelanggan tetapnya Zappos.

Dalam cerita lain juga dikisahkan bahwa jika pesanan pelanggan tidak tersedia di Zappos, customer servicenya dengan senang hati mencarikannya di toko online milik pesaingnya.

Woow!

Source:
Roni Yuzirman
http://roniyuzirman.wordpress.com

Written by budiwiyono

July 28, 2010 at 4:06 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 295 other followers