Archive for the ‘Entrepreneurship’ Category
Investasi Franchise: Mini Market Indomaret
Menyambung artikel saya sebelumnya: 6 Level Entrepreneurship, yuk kita bahas mengenai investasi minimarket Indomaret.
Semua pasti sudah tahu apa kah Indomaret tsb, jadi di artikel ini tidak perlu dibahas. Kita langsung saja masuk ke aspek-aspek penting dalam berinvestasi Minimarket Indomaret tsb.
Pada Investasi Indomaret, kita tidak perlu memanage sendiri, semua dioperasionalkan oleh pihak Franchisor. Anda hanya invest dan memonitor laporan keuangan serta menerima Cash surplus tahap pertama dalam 6 bulan, selanjutnya per 3 bulan.
Tentu kita harus tahu VISI & MISI nya terlebih dahulu, apakah chemistry nya cocok dengan kita:
VISI INDOMARET
Menjadi aset nasional dalam bentuk jaringan ritel waralaba yang unggul dalam persaingan global.MOTTO INDOMARET
Mudah & HematBUDAYA PERUSAHAAN
- Kejujuran, kebenaran dan keadilan
- Kerja sama tim
- Kemajuan melalui inovasi yang ekonomis
- Kepuasan pelanggan
Kemudian kita harus tahu juga Targeting Indomaret.
PEMASARAN DAN PROMOSI
Sasaran pasar Indomaret adalah konsumen semua kalangan masyarakat. Lokasi gerai yang strategis dimaksudkan untuk memudahkan Indomaret melayani sasaran demografisnya yaitu keluarga.
Strategi pemasaran Indomaret diintegrasikan dengan kegiatan promosi. Secara berkala Indomaret menjalankan program promosi dengan berbagai cara, seperti memberikan harga khusus, undian berhadiah maupun hadiah langsung.
Mari kita lihat Growth Indomaret selama ini:
Pertumbuhan yang impresif! Selanjutnya mari kita lihat perhitungan ROI Investasi secara sederhana:
Jika sales anda 8 juta per hari, maka Laba perbulan anda adalah Rp. 8 juta per bulan. Perhitungan belum memasukkan biaya sewa gedung.
Dengan Asumsi Investasi Rp. 300 juta, maka Investasi anda akan balik lagi dalam waktu: Rp. 300 jt / Rp. 8 jt per bulan = 3.1 tahun.
Anda bisa mudah membayangkan, jika investasi rp.300 jt dan sales rp.8 jt /bln maka Investasi anda baliknya perlu waktu 3.1 tahun.
Tentu perhitungan di atas adalah perhitungan penyederhanaan.
Ekspektasi RoI
Umumnya keputusan Investasi menjadi menarik jika Laba per bulan nya dapat lebih besar dari rate Deposito di Bank.
Tapi menurut saya ekspektasi tsb tidak cukup, menurut saya Laba Usaha harus bisa mengalahkan rate bunga Kredit Usaha di Bank.
Maksud saya begini: jika anda ambil pinjaman di Bank Rp. 300jt dengan tenor 5 tahun dan bunga asumsi sebesar 16.5% atau lebih dikit, maka cicilannya sekitar rp. 7.4jt-8jt /bulan. Laba Usaha sebesar 8 juta tsb di atas masih bisa surplus membayar cicilannya Kreditnya.
Cek dengan simulasi Kredit sbg contoh kita pakai BNI: http://www.bni.co.id/BNIUKM/SimulasiPerhitunganKredit/tabid/402/Default.aspx
Cicilan Indomaret/Alfamart relatif hampir sama, sbg contoh BNI46 memberikan layanan Kredit Waralaba Alfamart, cicilan sebesar Rp. 8jt per bulan.
RT @BNI46: Ada Kredit pemilikan franchise dr BNI. Outlet Alfamart 8jt.an/bln, Simply Fresh 3jtan/bln dan Mister Baso 4jt.an/bln.
RT @BNI46: Alfamart : 11% efektif , mister baso 12,5%efektif, simply fresh 13,5 %efektif
RT @BNI46: Bisa untuk franchise lain,jenis kreditnya BNI Wirausaha bunganya 14% p.a.
Dalam case ini Laba Usaha bisa menutup Cicilan Kredit Bank.
Walaupun sangat pak pok. Jadi sales /hari harus di dorong meningkat atau evaluasi tempat sebelum membeli, adakah potensi peningkatan sales lebih lanjut.
Jika bisnis tsb tidak bisa membiayai dirinya sendiri untuk apa kita repot-repot mengambil resiko tsb… bener nggak? Kenapa? Karena jika gagal, Investasi pun melayang, kecuali ada yang bersedia take over.
Beda kasusnya jika kita investasi Properti, properti tsb tahun demi tahun mengalami apresiasi harga yang indexnya berada pada level +20%an per tahun.
Sekarang kita bisa survey pada lokasi-lokasi yang anda sasar. Apakah potensi salesnya worth dengan resikonya? Sales nya harus potensial mengalahkan rate kredit Bank.
Khusus untuk pensiunan, Pensiunan perlu strategi khusus. Pensiunan membutuhkan instrumen investasi yang lebih aman dan juga perlu kemudahan mengukur tingkat keberhasilannya. Mana ada pensiunan mau berbisnis dengan risk yang tinggi? Mereka ingin hidup tenang dan hasil yang jelas. Artikel khusus pensiunan membahas Strategi Investasi khusus untuk Pensiunan.
Monggo silakan rekan-rekan yang sudah berpengalaman Investasi Franchise, silakan share pengalamannya.
Artikel Sejenis:
6 Level Entrepreneurship
Pada saat mempelajari Hasil Test Bakat anak saya dengan Dermatoglyphics (Test Sidik Jari), saya cek di bagian Kwadran Pekerja. Saya jadi tertarik menelusuri lagi deskripsi-deskripsi sbb.
Pada bagian KWADRAN PEKERJA: Merupakan jenis karakteristik pekerja, meliputi:
- Eksekutif : pekerjaan yang struktural organisasional, dengan aturan yang jelas, sistem kerja, job deskripsi dan jenjang karier yang berkesinambungan.
- Self-Employee: pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan peran diri sendiri yang kurang dapat mendelegasikan tugas dan kewenangannya kepada orang lain maupun kerjasama tim.
- Business Owner : pekerjaan yang membutuhkan keleluasaan dan kreatifitas, tidak tergantung kepada tatanan sistem dan prosedur baku dan sangat berkaitan dengan tata hubungan relasi dengan orang lain maupun kerjasama tim dan mitra kerja kerja.
- Investor : pekerjaan mengandalkan keleluasaan dan intuisi, serta keputusan-keputusan subyektif dan tidak terikat dengan normatif dan pemikiran logis.
Klasifikasi di atas menekankan pada karakteristik pekerjaan terhadap distribusi bakat karakter bekerja.
Hasil test anak saya terdistribusi sbg: Investor: 32%, Self Employee: 27%, Eksekutif: 25%, Business Owner: 15%.
Nah agar saya bisa membantu anak saya untuk menekuni sekolahnya, FOKUS pada KEKUATAN dan terarah sesuai dengan bakat bawaan lahirnya, saya cek lagi pendefinisian apakah Self Employee, Investor, Business Owner dan Entrepreneur?
Kalau kita survey lingkungan kita, atau bahkan kita survey komunitas entrepreneur, mereka akan memberikan pendefinisian yang berbeda-beda.
Berikut ini adalah Klasifikasi Entrepreneurship dari ActionCoach.
Entrepreneurship dibagi menjadi 6 Level sbb:
- Entrepreneur: Dengan modal orang/pihak lain. Other people money.
- Investor: Banyak invest size relatif besar untuk making money TAPI masih dengan menggunakan modal sendiri.
- Business Owner: EARN. Manajer & Karyawan anda yg making money. Bisnis berjalan tanpa anda sbg pemilik bisnis terlibat langsung di dalamnya. Perlu Sistem Bisnis.
- Manager: Time di convert jadi Rp. CEO di bisnis milik sendiri. Sudah punya karyawan. Tetap dipimpin sendiri bisnisnya.
- Self Employeed: Time di convert jadi Rp. Bekerja sendiri. Sudah bukan karyawan orang lain.
- Karyawan: Time di convert jadi Rp.
Urutan menjalani karier biasanya dimulai dengan step 6 (Karyawan) menuju 1 (Entrepreneur).
Istilah Investor dan Business Owner di Result Sidik Jari berbeda, di mana istilah Investor pada dunia Kewirausahaan maksudnya lebih pada membeli bisnis / investasi dengan Modal sendiri. Dan level Investor dipandang berada di atas level Business Owner.
Saya jadi ingat pengalaman Keith Cunningham yang awal karier nya dimulai sebagai karyawan tapi punya prinsip yang jelas, perusahaan tempat dia bekerja pimpinannya HARUS mau meng-coach dia dalam hal ber-bisnis. Dan akhirnya dia dapat bekerja di lingkungan Bisnis TV Cable untuk belajar praktek bisnis langsung dan di coach oleh pemiliknya.
Saat ini Keith Cunningham menjadi Entrepreneur sukses dan mempunyai Sekolah Entrepreneur, ada yang menduga dialah “Rich Dad” dari Robert T Kiyosaki.
Any comment ?
Riding the Wave: Strategi ANDAL Menaklukkan Industri Software
Tadi sore, pulang kantor sempat mendengarkan Teguh S Pambudi mempromosikan buku bertema Technopreneurship di FM Radio. Judulnya: Riding the Wave: Strategi ANDAL Menaklukkan Industri Software.
Buku tsb menceritakan kisah dan kiat sukses berbisnis Software, dengan mengambil keteladanan dan otobiografi Indra Sosrodjojo, founder dan CEO Andal Software Sejahtera. ANDAL adalah Software lokal yang berhasil menjadi tuan rumah di negara sendiri.
Tema buku tsb yang jarang sekali muncul di pasaran, yaitu bicara tentang pengalaman dan aspek bisnis usaha Software, khususnya di Pasar Indonesia. Di Indonesia ada sekitar 500 perusahaan yang memproduksi peranti lunak lokal dengan jumlah aplikasi mencapai 5.000 buah. Mereka adalah independent software house yang mengerjakan pesanan.
Namun, Ditjen HKI mencatat baru 10 perusahaan lokal yang mampu memproduksi peranti lunak branded, yang membuat brand untuk produk yang dihasilkannya. Ini artinya: baru 10 perusahaan yang menjadi pelaku industri.
Penulis berharap pembaca bisa meneladani Indra Sosrodjojo, founder dan CEO Andal Software Sejahtera, seorang pelaku Industri, yang selalu belajar dari mentor virtual-nya… yaitu Buku.
Bagaimana dengan Indra sendiri? Berikut ini statementnya terkait kenapa dia bersedia di bedah dapurnya:
Alhasil, kami pun bersedia untuk “dibedah”. Permintaan saya dan teman-teman di Andal Software cuma satu: buku ini dapat dipersembahkan untuk para pelaku industri TI, khususnya industri peranti lunak, sehingga industri ini pun akan berkembang dan bertumbuh di Indonesia.
Juga:
Kekhawatiran saya pribadi tentang membuka rahasia dapur tak terbukti. Kami saling share, dan saya merasa bahwa wawasan saya justru bertambah luas lewat proses saling berbagi.
Dalam diskusi yang panjang itu, saya mengungkap banyak hal tentang Andal Software, mulai dari berdiri, fase-fase jatuh bangun, dan terpenting: kunci untuk menunggangi gelombang industri peranti lunak yang dinamikanya luar biasa pesat.
Industri peranti lunak memang seperti gelombang. What works today, become obsolete tomorrow! Peranti lunak yang hari ini hebat, akan segera tenggelam esok lusa dengan datangnya pesaing baru.
Siapa tak bisa menunggangi gelombang dinamika yang demikian pesat, dia akan tenggelam, seperti tenggelamnya produk yang dihasilkannya.
Yang ini seru:
The real competitor, sometimes is our mindset and the old way of doing business. Sebagai technopreneur, mindset dan cara mengelola bisnis harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan konteks industri yang terus datang bergelombang melahirkan beragam game changer yang baru.
Kita bisa belajar bagaimana Turnaround dilakukan Indra Sosrodjojo. Buku ini bisa menjadi landasan, apa sikap kita terhadap Wave baru yaitu Cloud Computing dan SaaS.
Sebuah kebutuhan yang terasa semakin mendesak serta relevan karena gelombang terbaru yang siap menerjang di segmen Enterprise Software adalah adanya Cloud Computing dan Software as a Service (SaaS)
Monggo silakan diintip.
Zappos’s Customer Centric Culture Delivering WOW!
Baca artikelnya pak Roni di bawah ini.
WOW! Zappos yang sangat kondang Customer Centric Culture-nya memang mumpuni dalam keunggulan layanan.
Wow!! (lagi)…
===
Suatu malam, Tony Hsieh menginap di sebuah hotel di Santa Monica, California saat menghadiri sebuah konferensi.
Setelah konferensi yang melelahkan, ia bersama temannya berkumpul di kamar hotel seorang peserta. Salah satu temannya menelpon room-service untuk memesan pizza.
Mereka kecewa karena mendapatkan jawaban bahwa hotel tidak lagi melayani pesanan di atas jam 11 malam.
Seorang di antara mereka secara bercanda mengusulkan agar menelpon customer service Zappos untuk memesan pizza. Zappos memang dikenal dengan layanan customer service yang mengagumkan. Tapi, mengorder pizza lewat Zappos? Alangkah isengnya.
Awalnya, customer service Zappos merasa bingung dengan pesanan aneh ini. Namun ia segera “tersadar” dan menjawab agar si penelpon menunggu sebentar. Beberapa menit kemudian ia kembali dan memberikan daftar 5 restoran pizza delivery yang masih buka saat itu.
Wow!
Tony Hsieh sendiri kaget dengan respon seperti ini dari karyawannya. Ia tak menyangka karyawannya bisa “berimprovisasi” sedemikian rupa dalam pelayanan. Mungkin ini dampak dari tidak adanya script di layanan call centernya untuk menangani pemintaan yang aneh-aneh seperti ini. Tujuannya adalah agar si karyawan bisa berimprovisasi dengan leluasa dalam melayani.
Bagaimana dengan temannya Tony yang memesan pizza itu? Setelah mendapat pelayanan seperti ini, sekarang ia menjadi pelanggan tetapnya Zappos.
Dalam cerita lain juga dikisahkan bahwa jika pesanan pelanggan tidak tersedia di Zappos, customer servicenya dengan senang hati mencarikannya di toko online milik pesaingnya.
Woow!
Source:
Roni Yuzirman
http://roniyuzirman.wordpress.com
Rahasia Sandiaga Uno Menjadi Orang Terkaya di Indonesia
Sharing dari Pak Roni yang ngalor ngidul dengan TDA dan Tycoon Sandiaga Uno.
Saya salut dengan Pak Sandiaga Uno yang sangat dekat dengan crowd Entrepreneur/SMB di Indonesia.
Sayang untuk dilewatkan kisahnya bukan?
Selain itu silakan simak Video Bagaimana Cara Menjadi Kaya by Sandiaga Uno
===
Sosok Sandiaga Uno begitu fenomenal. Ia tercatat dalam 100 orang terkaya di Indonesia dan diperolehnya hanya dalam waktu singkat. Mungkin hanya 10 tahunan.
Namun, apa yang dilakukannya, bagaimana caranya, masih menjadi tanda tanya bagi kita, termasuk saya yang awam ini.
Ternyata ia menjalankan bisnis private equity fund (PE).
Mahluk apa itu PE?
Menurut majalah Fortune Indonesia, PE adalah perusahaan pengelola investasi yang mendapat sponsor dari berbagai pihak baik individual maupun institusi.
Tugas PE adalah mencari perusahaan-perusahaan yang bermasalah yang layak dikucurkan investasi, lalu ditingkatkan kinerjanya, dan kemudian dijual kembali.
Hmmm, saya jadi ingat bukunya Brad Sugars, Billionaire in Training tentang “buy-build-sell” perusahaan. Ini rupanya yang dimaksud.
Secara sederhana, PE adalah jembatan bagi pemilik modal dan pihak yang membutuhkan. PE akan mendapatkan fee management sebesar 2% dan 20% untuk carry interest (semacam success fee?).
Sandiaga Uno memulai bisnis PE 14 tahun lalu dengan mendirikan Recapital dan Saratoga. Perusahaan ini mengincar perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan dan nyaris ambruk.
Apa resep Recapital menyembuhkan perusahaan sakit? Mereka menempatkan orang-orang ahli manajemen, membuat sistim manajemen yang transparan dan mengaitkan sistim kompensasi pegawai dengan kinerja.
So damn interesting!
Source:
Roni Yuzirman
http://roniyuzirman.wordpress.com
Artikel Sejenis:
- Peluang Usaha & Strategi Investasi khusus untuk Pensiunan (1)
- Video Bagaimana Cara Menjadi Kaya by Sandiaga Uno
Tradeshift, the “Skype for e-Invoicing”
Untuk pasar Indonesia laku gak ya?
===
Tradeshift, which has been described as the “Skype for invoicing”, has announced a raft of new partners in the SaaS accounting space, along with plans to open up its API to enable more third-parties to tie into its free invoicing system.
The launch partners who have had access to a beta version of Tradeshift’s API include: ERPLY (free ERP system), E-conomics (a SaaS accounting solution provider), Workbook (a specialized platform for the media business), Office123 (an open-source ERP system), Continia (bank payments systems), Winfinans (Windows-based desktop accounting), and Ibistic (the leading e-invoicing workflow system in Scandinavia).
This, says the company, in which early Skype investor Morten Lund is an adviser, puts it on track to bring “directly integrated electronic invoicing” to more than 100,000 small European businesses over the next 6 months.
Tradeshift, which competes with Maventa.com, is working on what it positions as the world’s first free invoicing platform – essentially dragging invoicing and business transactions into the 21st century via open standards and the cloud – news which we broke on its launch in February. However, the roll out of its API brings into focus more ambitious plans to become “the cloud platform linking what so far have been isolated islands of business software”, says co-founder and CEO Christian Lanng.
The Tradeshift API will launch publicly on the 1st of August 2010 to enable anyone who wants to build connected business software on top of the company’s platform making it possible for developers to create applications that utilize the Tradeshift Business Network Infrastructure in order for users to exchange business documents over the network.
Source: techcrunch.com
High cost economy of Indonesia riil sector
OMG! High cost economy!
Baru tahu dari bini, ternyata ongkos kirim ke Luar Negeri naik 100% jika pakai EMS POS. Sbg gambaran kirim ke Singapore per 80 kg semula rp.2.2 juta menjadi rp.4.4juta.
Lebih mahal dari biaya pesawat garuda eksekutif, JKT-SIN, pulang pergi lagi ![]()
Ckckck… geleng-geleng. Jaman CAFTA kita banyak banyak bicara daya saing koq kayak gini ya!
Are You Unhappy? Come to Indonesia. Welcome to Smiling Country
Are You Unhappy? Come to Indonesia.
Welcome to Smiling Country
![]()
Tadi pagi mendengarkan talkshow Tanadi Santoso, bicara soal ranking negara ter-happy, Indonesia mendapatkan rating yang bagus!
Hal ini penting untuk memberi masukan kepada banyak pihat tentang Branding yang tepat bagi Indonesia.
Di saat saat tingkat stress secara global naik, ada fakta menarih nih…
Indonesia mendapatkan urutan ke 23 Negara ter-Happy.
Posisi Indonesia lebih bahagia (happy) ketimbang negara berikut ini yang saya yakin banyak yang menganggap hidup di negara berikut ini lebih menjamin kebahagiaan
Negara, Ranking
- China, 31
- Thailand, 32
- Malaysia, 44
- Timor Leste, 48
- Papua New Guinea, 76
- Jerman, 81
- Saudi Arabia, 89
- India, 90
- New Zealand, 94
- Jepang, 95
- Brunei Darusalam, 100
- UK, 108
- Israel, 117
- Singapore, 131
- USA, 150
Dengan Top 10 sbb:
- 10. Luxembourg – 7.6 points
- 9. Guatemala – 7,6 points
- 8. Canada – 7,6 points
- 7. Sweden – 7,7 points
- 6. Australia – 7,7 points
- 5. Finland – 7,7 points
- 4. Iceland – 7,8 points
- 3. Austria – 8,0 points
- 2. Switzerland – 8,1 points
- 1. Denmark – 8,2 points
Selain ranking di atas juga ditemukan bahwa:
Mystery Shopping Providers around the world have participated in the Smiling Report 2009 which compiles customer service data from evaluations conducted across a spectrum of industries. The summary for 2008 includes answers to more than 2.5 million questions covering Smile, Greeting and Add-on sales in 66 countries.
Smiling 2008 was 77% compared to 82% in 2007 and 87% in 2004. The highest smiling country was Indonesia with 98% and the lowest was Pakistan with 44%. The best smiling industries were Health & Beauty Care and Transport with 86% and the lowest scores were in B2B with only 52%.
Add-on Sales scores have always been much lower than smile and greeting.
In 2008 it was 45% which is the same as in 2004. The score has been a bit better in 2005 51%, 2006 56% and 2007 48%, but now when sales is even more important it has dropped back to 45%. Highest sales score was in Pakistan with 82% and lowest is Finland with as low as 3%. B2B had the highest scores for add-on sales 65% while Leisure had the lowest with 40%.
Greeting 2008 and 2007 was 81% compared to 88% in 2004. The highest greeting countries were Indonesia and Hong Kong with 98% and the lowest was Morocco at 48%. The best greeting was found in Government services with 94% while B2B had 70%.
Big gap between the Continents
Australia had highest scores of all continents, in Smiling 89%, Greeting 92% and Add-on Sales 58%. Africa had the lowest scores of all continents, in Smiling 61%, Greeting 51% and Add-on sales 33%.
Pernah juga di bahas di salah satu forum marketer club yang saya ikuti di Jakarta, ada fakta bahwa, untuk ukuran Singapura, membuat branding Layanan Singapore Airlines yang standard nya adalah Pramugari harus Caring dan ramah, katanya susah sekali. Mereka harus di training untuk murah senyum. Ini senyum palsu lho!
Beda dengan melatih Caring values untuk Pramugari Indonesia, tidak selalu sulit karena budaya ramahnya masih bagus. Dan ini terlihat dari Ranking, Indonesia ranking 23 sedangkan Singapore berada di ranking 131, jauh sekali bukan?
Saya setuju sekali jika untuk Pariwisata, Indonesia harus di branding menjadi Smiling dan Happiness!. Cukup kuat karena fakta menunjukkan ranking kita bagus dalam hal ranking kebahagiaan. Jangan sampai negara yang urutannya di bawah Indonesia malah berhasil menancapkan ke benak pasar bahwa negara mereka adalah “Smiling Country”!
Bagaimana kita jadikan:
Are You Unhappy? Come to Indonesia. Welcome to Smiling Country
![]()
Silakan check negara-negara dengan ranking di bawah Indonesia yang memakai “Smiling Country” sebagai branding nya, saya mendapatkan beberapa temuan. Ayo buruan dipakai ramai-ramai, jangan sampai dipakai oleh negara yang urutannya di bawah kita
Sebagai pentutup artikel ini, saya selalu suka dengan inspirasi The 7 Laws of Happiness dari bung Arvan Pradiansyah:
If you want to be Happy, be Happy NOW!
![]()
Monggo silahkan dikomentari.
Reference:
Inspirasi Agrobisnis Indonesia
Tercengang setelah sempat melihat permadani kebun di Sumatra via udara, amaze…
Teringat kembali hampir 43% Warga Indonesia bekerja di sektor pertanian, 20% di sektor perdagangan/hotel/restoran.
Jika 43% Farmers tsb bisa di bina + di arahkan menciptakan value add dgn berkebun/bertani dan juga mengolah hasil agro mereka, sehingga mereka selain sbg farmer juga diajari menciptakan value add / menjadi manufacturer ringan, wow akan DASYAT!
Pantesan Industri kompetitor sawit memakai berbagai alasan lingkungan untuk memukul harga CPO.
Ada yang bisa kasih inspirasi apa saja yang bisa diolah farmers kita?
Dimulai dari saya yach…
Saya pikir KUD-KUD di daerah perkebunan Sawit rakyat harus bisa mengajak petani untuk turut mengadakan Pabrik CPO mini. Jadi TBS petani tidak ada kejadian busuk lagi karena tidak kebagian proses di Pabrik CPO eksisting.
Kemudian, KUD juga wajib berinovasi untuk memikirkan value add yang melibatkan petani dalam produksinya. Seperti produksi minyak goreng yang sesuai standar SNI.
Katanya neh, jika kita bandingkan: Petani menjual TBS dibanding jual sbg Minyak Goreng, maka value produk menjadi 6X lebih mahal.
Ada yang bisa bantu how nya?
Silakan komentarnya jika ada ide yang lain.
Seleksi Tenant Inkubator Inovasi Telematik Bandung Angkatan II I2TB dan Kementrian Komunikasi dan Informatika RI
Ini ada iklan yang mungkin ada yang membutuhkan…
==
PENERIMAAN TENANT PROGRAM INKUBATOR INOVASI TELEMATIKA BANDUNG (I2TB) ANGKATAN II
PENGUMUMAN
Dalam rangka menunjang keberhasilan UMKM Industri Kreatif berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Program Inkubator Inovasi Telematika Bandung (I2TB) bekerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, Direktorat Sistem Informasi Perangkat Lunak dan Konten, Program Insentif Pusat Inovasi UMKM, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Sarana Jabar Ventura dan Tunas Indonesia Kreatif membuka kembali kesempatan bagi UMKM berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berlokasi di Kota Bandung dan sekitarnya untuk bergabung dalam PROGRAM I2TB ANGKATAN II.
Fasilitas yang akan diberikan :
- Tempat workshop
- Fasilitas kantor
- Konsultasi bisnis
- Akses pasar dan pendanaan
- Pelatihan
- Dana bergulir
- Showroom
Pesyaratan :
- UMKM berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
- Usaha telah berjalan selama min. 2 tahun
- Berbadan hukum CV, PT
- Menyerahkan bisnis plan * bisa diunduh www.i2tb.web.id
Untuk informasi pendaftaran bisa mengunjungi website Program Inkubator Inovasi Telematika Bandung di alamat www.i2tb.web.id
Inkubator Inovasi Telematika Bandung (I2TB)
Surapati Core Blok K-11
Jl. PHH. Mustofa 39, Bandung
Telp (022) 87241402










