Archive for the ‘IT Technology’ Category
Social Media for B2B Company
Berhubung saya sering sekali menerima pertanyaan “Apa gunanya Social Media bagi B2B Company?”, berikut saya paste pandangan dari Pakar Social Media, Brian Solis. Sbb.
==
Question: What are the best practices for B2B?
Answer:
Social media is not relegated to any industry. The benefits of smarter engagement know no bounds. However, smarter engagement, regardless of market or industry, requires research and an understanding of how people find and share information and also how they influence and are influenced by their peers. You’ll find that with B2B, information, direction, insights around challenges and opportunities, are bound by shared experiences. What’s different of course, are the networks and the nature of the interaction. Depending on the nature of the business, the top networks are usually not Facebook and Twitter – instead, they’re blogs, YouTube, and LinkedIn.
Companies focused on solutions for other businesses find that participating in conversations for the sake of conversations carry little value. Instead, delivering value or insights based on real-world challenges or questions helps decision makers make decisions.
For example, Indium, a global solder supplier specializing in solder products and solder paste for electronics assembly materials, studies how prospects search for solutions based on keywords. Rather than manipulate search results to send people to Web pages, the company invests in useful content to match keyword searches with value-added original content. The result? The company experienced a 600% spike in leads over the course of six months.
If you add video to the equation, there’s a reason that Youtube is the second largest search engine next to Google. People are using similar keywords to find results based on a video narrative.
The question is, what are your customers and prospects searching for and what’s turning up in their results?
Overall, it’s time to take a few simple, but profound steps to bridge the gap between customer expectations and business objectives.
- Close the gap between what your audience wants and what you think they want.
- Avoid the repetitive, one-way messaging that gets you culled from people’s social streams.
- Turn your customers into your sales force with shareable new media experiences.
Altimeter Report: Social Commerce, How Brands Are Generating Revenue in Social Media, by @lcecere
Definisi dari eCommerce sangatlah luas. Bagi saya definisi eCommerce model lama yang kurang berhasil adopsinya di Indonesia menjadi barrier adopsi eCommerce selanjutnya. Mestinya para pemain fokusnya adalah lebih jeli dalam memlilih model yang “cocok” untuk budaya Indonesia.
Tentu kita semua pernah mendengar Forum Jual Beli Kaskus (FJB). FJB Kaskus adalah bukti suksesnya eCommerce dengan model Social Commerce di Indonesia.
Dulunya sich saya yakin, Kaskus tidak membuat FJB by Design secara ter-struktur. Kemungkinan besar secara kebetulan dilahirkan setelah Forum membernya membesar dan ternyata kemudian sukses besar. Ternyata orang Indonesia cocok banget dengan model Social Commerce.
Lantas, bagaimana sich CARA men-generate revenue dengan model Social Commerce? Adakah guidance yang komprehensif ?
“Move quickly, make decisions based on the voice of the customer, and fail forward, taking your insights onto the next chapter of the Rise of Social Commerce.” (Manish Mehta, social pioneer at Dell)
Ringkasnya, stepping adopsi adalah sbb:
Silakan simak secara lengkap guidance dari Altimeter yang sangat berdaging di bawah ini.
Monggo silakan dikomentari untuk diskusi.
Akun YM kena Hack segera Change Password
Berikut report dari sahabat saya, yang menginformasikan dia sangat masygul menjawab chat dari akun saya yang di hijack orang.
(07:46:36 AM) hijacker: back yet?
(07:46:48 AM) myfrind#1: Belum Om.
(07:46:54 AM) hijacker: hahahaha, I’m in SHOCK right now..
(07:47:01 AM) myfrind#1: Kenapa Bro?
(07:47:08 AM) hijacker: http://www.smalXX.XXX/XXX – WOW use that real quick and tell me its not crazy..
(07:47:21 AM) myfrind#1: mluncur
(07:47:29 AM) hijacker: they are soooo right! lol what’s it saying for you?
(07:47:45 AM) myfrind#1: Hihihi… I’ll try
(07:47:59 AM) hijacker: plz u have to tell me, fill it out..I have to know if your results were as crazy as mine lol
(07:48:14 AM) myfrind#1: Hahaha…
(07:48:26 AM) hijacker: k
(07:48:57 AM) myfrind#1: Kok harus subscription?
Setelah Chat yang sangat aneh tsb, rekan saya tsb kontak saya.
Sambil heran bin hirun dia menanyakan apakah URL tsb beneran saya yang refer.
Saya kemudian dikirimi script Chat tsb, sambil agak geram, ngakak juga melihat script Chatnya si hijacker.
Barusan dapat report sejenis, dengan Chat Script sbb:
[07:10] hijacker: There you are…
[07:29] myfrind#2: hey bud
[07:29] hijacker: hahahaha, I’m in SHOCK right now..
[07:29] myfrind#2: why?
[07:29] hijacker: http://www.smalXX.YYY/YYY – WOW use that real quick and tell me its not crazy..
[07:30] myfrind#2: what’s that?
[07:30] hijacker: they are soooo right! lol what’s it saying for you?
[07:31] myfrind#2: piye kabarmu?
[07:31] hijacker: plz u have to tell me, fill it out..I have to know if your results were as crazy as mine lol
[07:31] myfrind#2: fuck u man. u hijack my friend Account. !! ass hole
[07:32] hijacker: k
[07:34] myfrind#2: get a decent job dude
Pendapat teman saya:
Terlihat hijacker memakai Bot, pertanyaan berikutnya muncul kalo kita response.
Yuks, rajin-rajin ganti password di akun-akun public kita.
Paypal & Open Source behind the Science
Pendekatan Paypal adalah menggunakan Open Source Software yang dijalankan di Server-Server “kecil”, It’s unbelievably cost-effective…
Profile service-nya adalah sangat kritikal terhadap keamanan data (online payment gitu loch!) dan kehandalan operasional.
Jadi apakah masih memperdebatkan Open Source layak atau tidak ?
===
The old way was to spend a lot of money on limited software and hardware. The new way, as PayPal’s CTO (Scott Thompson) of three years found, is to scale out with lots of low-cost hardware and software. Open source enables this, and to marvelously good effect, as Thompson describes:
PayPal runs thousands of Linux-based, single-rack-unit servers, which host the company’s Web-presentation layer, middleware and user interface. Thompson says he quickly saw the economic, operational and development advantages of open source and [Red Hat Enterprise] Linux technology. He now sees no other way to do it.
“When you’re buying lots of big iron, as I did in other places I’ve worked, your upgrade path is $2 million, $3 million at a clip. You just had to buy big chunks of stuff to scale,” he says. “Here at PayPal, our upgrade path is 10 $1,000 no-name servers, slapped into the mid-tier of the platform. And we just keep scaling it that way. It’s unbelievably cost-effective.”
You see how perceptions change? From ‘the old way is the only way’ to ‘the old way is insanity,’ and in a very short period of time. The article is fascinating for any CIO looking to scale out her IT. Open source offers a better way. Better performance and better value, at a much lower cost.
Riding the Wave: Strategi ANDAL Menaklukkan Industri Software
Tadi sore, pulang kantor sempat mendengarkan Teguh S Pambudi mempromosikan buku bertema Technopreneurship di FM Radio. Judulnya: Riding the Wave: Strategi ANDAL Menaklukkan Industri Software.
Buku tsb menceritakan kisah dan kiat sukses berbisnis Software, dengan mengambil keteladanan dan otobiografi Indra Sosrodjojo, founder dan CEO Andal Software Sejahtera. ANDAL adalah Software lokal yang berhasil menjadi tuan rumah di negara sendiri.
Tema buku tsb yang jarang sekali muncul di pasaran, yaitu bicara tentang pengalaman dan aspek bisnis usaha Software, khususnya di Pasar Indonesia. Di Indonesia ada sekitar 500 perusahaan yang memproduksi peranti lunak lokal dengan jumlah aplikasi mencapai 5.000 buah. Mereka adalah independent software house yang mengerjakan pesanan.
Namun, Ditjen HKI mencatat baru 10 perusahaan lokal yang mampu memproduksi peranti lunak branded, yang membuat brand untuk produk yang dihasilkannya. Ini artinya: baru 10 perusahaan yang menjadi pelaku industri.
Penulis berharap pembaca bisa meneladani Indra Sosrodjojo, founder dan CEO Andal Software Sejahtera, seorang pelaku Industri, yang selalu belajar dari mentor virtual-nya… yaitu Buku.
Bagaimana dengan Indra sendiri? Berikut ini statementnya terkait kenapa dia bersedia di bedah dapurnya:
Alhasil, kami pun bersedia untuk “dibedah”. Permintaan saya dan teman-teman di Andal Software cuma satu: buku ini dapat dipersembahkan untuk para pelaku industri TI, khususnya industri peranti lunak, sehingga industri ini pun akan berkembang dan bertumbuh di Indonesia.
Juga:
Kekhawatiran saya pribadi tentang membuka rahasia dapur tak terbukti. Kami saling share, dan saya merasa bahwa wawasan saya justru bertambah luas lewat proses saling berbagi.
Dalam diskusi yang panjang itu, saya mengungkap banyak hal tentang Andal Software, mulai dari berdiri, fase-fase jatuh bangun, dan terpenting: kunci untuk menunggangi gelombang industri peranti lunak yang dinamikanya luar biasa pesat.
Industri peranti lunak memang seperti gelombang. What works today, become obsolete tomorrow! Peranti lunak yang hari ini hebat, akan segera tenggelam esok lusa dengan datangnya pesaing baru.
Siapa tak bisa menunggangi gelombang dinamika yang demikian pesat, dia akan tenggelam, seperti tenggelamnya produk yang dihasilkannya.
Yang ini seru:
The real competitor, sometimes is our mindset and the old way of doing business. Sebagai technopreneur, mindset dan cara mengelola bisnis harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan konteks industri yang terus datang bergelombang melahirkan beragam game changer yang baru.
Kita bisa belajar bagaimana Turnaround dilakukan Indra Sosrodjojo. Buku ini bisa menjadi landasan, apa sikap kita terhadap Wave baru yaitu Cloud Computing dan SaaS.
Sebuah kebutuhan yang terasa semakin mendesak serta relevan karena gelombang terbaru yang siap menerjang di segmen Enterprise Software adalah adanya Cloud Computing dan Software as a Service (SaaS)
Monggo silakan diintip.
Panduan menyerap Buku Social Media: Engage
Jennifer Kane menulis catatan yang menarik isinya Panduan membaca sesuai kebutuhan Buku Social Media: “Engage” by Brian Solis. Brian Solis sendiri mengatakan:
Kane takes into account varying levels of social media prowess and recommends alternative ways for approaching the book in order to help you get the most out of it.
I loved it…in fact, I’ve converted her post into a downloadable document so in case you wished to print a copy to keep with the book.
Monggo silakan dinikmati, semoga bisa membantu untuk menjadi praktisi Social Media
.
Potret Belanja Online di Indonesia 2010
Representasi dari hampir 30 juta konsumen pengguna internet Indonesia. Rekomendasi WoM merupakan driver adopsi belanja online, 62% via Social Media, teman dan keluarga. Juga ada trend di Aspac bahwa belanja produk tertentu seperti consumer electronics selalu didahului dengan aktifitas calon buyer meliputi Review Product, Riset Product dan bahkan tanya jawab… via Online!
Metode payment dengan Credit Card masih kurang dipercaya di Indonesia relatif jika dibandingkan dengan trend global.
Selengkapnya:
====
Potret Belanja Online di Indonesia 2010
Wednesday, July 14th, 2010
oleh : Siti Sumaryati
Swa.co.id
The Nielsen Company of Indonesia meliris riset teranyarnya tentang belanja onlne di dunia. Riset yang diselenggarakan di 55 negara tempat Nielsen beroperasi dengan 15 zona waktu yang berbeda ini melibatkan 27 665 pengguna internet. Di Indonesia sendiri, riset ini diselenggarakan pada 8 – 28 Maret 2010 dengan jumlah responden lebih dari 500 pengguna internet di kota-kota besar di Indonesia. Dengan jumlah responden lebih dari 500 ribu tersebut merepresentasikan hampir 30 juta konsumen pengguna internet Indonesia.
Konsumen Indonesia tidak berbeda dengan Asia Pasifik dan global dalam berbelanja internet. Mereka akan membeli produk berturut-turut (4 besar jawaban tertinggi): buku, pakaian/aksesoris/sepatu, tiket pesawat/reservasi, dan electronic equipment dalam 6 bulan ke depan. Walau demikian, angka persentase konsumen Indonesia masih lebih kecil dibanding Asia Pasifik dan dunia. Produk yang paling sedikit dibeli oleh konsumen Indonesia secara online dalam waktu 6 bulan ke dapan hanya bunga dan minuman beralkohol masing-masing 1%. Sementara di Asia Pasifik adalah sewa kendaraan hanya 5% responden yang menjawab.
Ketika ditanya apakah akan membeli produk komputer software secara online (bukan men-download) dalam 6 bulan ke depan, 16% responden menjawab ya. Angka ini merupakan tertinggi ketiga di Asia Pasifik setelah India (21%) dan Vietnam (17%) lebih besar dari Asia Pasifik yang hanya sebesar 12%. Ini merupakan sinyal positif bahwa konsumen Indonesia sebenarnya sudah mulai sadar akan hak cipta dan tidak hanya menggunakan produk bajakan.
Sedangkan website seperti apa yang sering digunakan dalam berbelanja online, 25% responden mengatakan situs untuk toko yang hanya menyediakan layanan belanja online, 21% situs yang juga memuat outlet produk batu bata dan semen, 18% situs yang memungkinkan respnden untuk memilih produk dari berbagai toko online, dan hanya 4% yang menyukai situs belanja online yang juga memjual produk melalui katalog dan telpon. Sisanya sebanyak 32% responden tidak pernah berbelanja online. Angka ini menurun dibanding Q4 2009 yang sebanyak 37%.
Anggaran yang mereka keluarkan untuk belanja online yang terbanyak adalah sampai 10% dari total belanja bulanan (76%), antara 11%-50% (23%) dan hanya 1% respoden yang belanja 50-75% dari anggaran belanja bulanan.
Konsumen Indonesia ternyata masih memerlukan dorongan orang lain untuk belanja online. Sebanyak 62% menggunakan bantuan media sosial dan rekomendasi keluarga atau teman untuk memutuskan belanja online. Hal ini juga terjadi dengan rata-rata konsumen di Asia Pasifik. Untuk pembelian produk-produk seperti consumer electronic dan software, mereka sangat hati-hati. Mereka membutuhkan review produk dan perlu riset terlebih dahulu dan tidak akan memberli produk tersebut tanpa consulting online terlebih dahulu.
Walaupun belakangan ramai kasus ketidakpuasan pelanggan di media, namun konsumen Indonesia masih ramah dan sopan. Mereka tidak terllau menyukai membagi pengalaman buruknya dari belanja online, 70% responden Indonesia menjawab tidak, berbeda dengan Cina yang 62% menjawab ya.
Sedangkan metode pembayaran yang sering digunakan adalah melalui PalPay (22%), kartu debit (20%), transfer bank(18%), kartu kredit (17%) dan transfer uang (14%). Ini berbeda dengan konsumen global yang memilih kartu kredit (44%), PalPay (15%), kartu debit (12% dan COD (12%) untuk pembayaran belanja online. Tampaknya konsumen global sudah lebih memercayai transaksi online dengan kartu kredit sementara konsumen di Tanah Air masih rentan terhadap penipuan kartu kredit.
Google Track Record on Social Media products
We know that 20% development time for google’s marketing new products has failed at the market commercialization stage.
Google Engineers don’t believe in marketing, but marketing is not easy, and successful marketing is not a commodity.
Hence google failed in Social Media products so far.
Pic Source: mashable.com
Social Circles – The real life social network
Berikut ini pemikiran fundamental tentang Social Networking dari Paul Adams-nya Google.
Terdapat banyak perbedaan antara real life social network dan online social network.
Semantic Web
Luar biasa perkembangan Semantic Web. Silakan dinikmati semoga berguna.
As the Web has matured, we’ve learned how to augment web pages with information that makes the pages easier to index by search engines. This practice is called Search Engine Optimization, and while it helps lead people to answers, it doesn’t provide answers. Put another way, instead of asking Google “What cameras are available for the iPad?” we search for “iPad camera” then use the returned results to answer our real question. The Semantic Web would be able to provide the answer more directly.
As part of its Open Graph program, Facebook has chosen to use RDFa, code that augments HTML pages with meaning. Google is also using RDFa in order to produce “rich snippets,” convenient summary information about search results at a glance. Many of their examples are for product reviews.
Best Buy began using RDFa in its web pages about two years ago in order to share more information about its stores. They leverage Good Relations, a vocabulary created specifically for e-commerce.
GoodRelations is a standardized vocabulary for product, price, and company data that can (1) be embedded into existing static and dynamic Web pages and that (2) can be processed by other computers. This increases the visibility of your products and services in the latest generation of search engines, recommender systems, and other novel applications.
The retailers that include semantic aspects in their websites will have an advantage over those that don’t. Best Buy has already reported an unexpected 30% increase in search traffic. As more sophisticated crawlers appear, retailers need to expose their data in new ways that enhance a shopper’s ability to find exactly what they’re looking for.
Berikut Slide GoodRelations…









