budiwiyono.com | opinions, analysis, techniques, experiences and insights.

Vision without action is fantasy. Action without vision is random activity.

Archive for the ‘Marketing’ Category

Kesalahan Umum New Product Developmet dan Solusinya

with 2 comments

Kesalahan umum yang terjadi pada proses New Product Development (NPD) adalah mengasumsikan pelanggan tahu apa kebutuhan masa depan pelanggan dengan menanyakan apa kebutuhan pelanggan tsb. Hal ini salah besar.., karena pelanggan sering tidak/belum bisa mengungkapkan kebutuhan mereka.

Kesalahan ini karena kesalahan menggunakan mindset dan tools yang salah, tentu hal ini terkait dengan kebanyakan adalah lulusan aliran MBA dengan mindset seperti berikut ini:

Kesalahan Umum New Product Development

Kesalahan Umum New Product Development

Kesalahan lainnya adalah terlalu lama berkutat pada upacara adat stepping waterfall development yang seringkali lemah pada feedback & reengineering (Pivot). Bisa dikatakan produk dan market fit nya juga lemah.

Jangan heran jika pada proses ini bisa berlangsung lebih dari setahun, bayangkan berapa opportunity loss jika sebuah perusahaan beromset 10 T terlambat 2 tahun untuk meluncurkan produk ? (Makin besar sebuah perusahaan, maka fungsi waktu nya makin mahal.) Dan jangan heran juga jika produk yang kemudian diluncurkan akhirnya ditolak oleh pelanggan sehingga menjadi produk gagal.  Survey-pun membuktikan, angka produk yang gagal bisa mencapai lebih dari 70% loch!

70 % of all new product launches fail in the first year.. ditambah lagi tahun berikutnya..

Waterfall Development - Formal Process

Waterfall Development – Formal Process

Cara-cara tsb sebetulnya masih mungkin bisa jalan untuk product re-engineering, tapi bukan untuk menciptakan produk baru.

Juga Silo silo organisasi sering menjadi penyebab utama kegagalan dalam proses new product development, terutama dalam hal, produk yang belum tervalidasi terburu buru di handsover ke tim product development / marketing. Proses Search pada kebanyakan proses New Product Development umumnya lemah. Continues iteration dalam proses reengineering jarang terjadi dengan mulus. Selain itu kebanyakan tim New Product Development isinya orang orang teknis yang kurang paham dengan domain kebutuhan customer (dimana kebanyakan customer tidak bisa menyampaikan apa kebutuhan mereka di masa yang akan datang).

Customer vs Product Development

Customer vs Product Development

Sebagai solusi nya, seharusnya mindset dan tools yang benar dalam menciptakan produk baru adalah seperti proses di bawah ini. Diperlukan tim dengan mindset, skills, proses, teamwork yang berbeda dengan cara cara di atas. Seperti berikut ini.

Solusi MVP pada Business Models and Customer Development

Solusi MVP pada Business Models and Customer Development

Belum ada cara lain yang lebih efektif dalam upaya menciptakan produk baru selain cara ini.

Semakin hari industri semakin membutuhkan tim yang kompeten dan cakap dalam menciptakan model bisnis dan produk baru untuk mempertahankan perusahaan agar tetap sustain dan berumur panjang.

Kenapa? Karena semakin banyak Perusahaan bangkrut diterjang jaman! Karena dengan perubahan perubahan yang sangat dinamis, baik perubahan political legal, social culture, technology, economy dan market..,  akan bisa membuat perusahaan yang awalnya pionir kemudian maunya nyaman tiba-tiba bangkrut diterjang jaman!

Banyak Perusahaan-perusahaan yang melakukan Business as Usual. Perusahaan yang Business as Usual bisa saja awalnya perusahaan pionir lho…, tapi kemudian berubah menjadi senang di area comfort zone, tidak mau atau tidak berani berubah, berharap tetap hidup nyaman padahal sedang menghadapi harakiri masal. Bayangkan, perusahaan-perusahaan pionir saja bisa bangkrut, bagaimana dengan perusahaan mediocre ya? Seperti perusahaan dari kelompok perusahaan pionir: Monitor Group milik Michael Porter (Pionir & Mahaguru Strategic Management), Kodak (Pionir Kamera), etc. Pionir yang sedang berjuang melawan kematian: Nokia, BB (RIM), etc.

Memang Berubah (Change) itu mengandung resiko sangat tinggi, tapi apakah anda punya pilihan lain?

Anatomy of Change

Anatomy of Change (Source: Markplus)

Change or Die. So, Let’s Change!

Reference:

  • Materi-materi Steve Blank, steveblank.com
  • MarkplusInc
  • Yuswohady.com

Written by budiwiyono

January 17, 2014 at 6:00 pm

Social Media for B2B Company

leave a comment »

Berhubung saya sering sekali menerima pertanyaan “Apa gunanya Social Media bagi B2B Company?”, berikut saya paste pandangan dari Pakar Social Media, Brian Solis. Sbb.

==
Question: What are the best practices for B2B?

Answer:

Social media is not relegated to any industry. The benefits of smarter engagement know no bounds. However, smarter engagement, regardless of market or industry, requires research and an understanding of how people find and share information and also how they influence and are influenced by their peers. You’ll find that with B2B, information, direction, insights around challenges and opportunities, are bound by shared experiences. What’s different of course, are the networks and the nature of the interaction. Depending on the nature of the business, the top networks are usually not Facebook and Twitter – instead, they’re blogs, YouTube, and LinkedIn.

Companies focused on solutions for other businesses find that participating in conversations for the sake of conversations carry little value. Instead, delivering value or insights based on real-world challenges or questions helps decision makers make decisions.

For example, Indium, a global solder supplier specializing in solder products and solder paste for electronics assembly materials, studies how prospects search for solutions based on keywords. Rather than manipulate search results to send people to Web pages, the company invests in useful content to match keyword searches with value-added original content. The result? The company experienced a 600% spike in leads over the course of six months.

If you add video to the equation, there’s a reason that Youtube is the second largest search engine next to Google. People are using similar keywords to find results based on a video narrative.
The question is, what are your customers and prospects searching for and what’s turning up in their results?

Overall, it’s time to take a few simple, but profound steps to bridge the gap between customer expectations and business objectives.

  1. Close the gap between what your audience wants and what you think they want.
  2. Avoid the repetitive, one-way messaging that gets you culled from people’s social streams.
  3. Turn your customers into your sales force with shareable new media experiences.

Written by budiwiyono

November 8, 2011 at 11:44 am

Pilih mana, jadi Hunter atau Farmer?

with 6 comments

Jika anda adalah Salesperson atau yang berniat jadi Salesperson.

Pilih mana, jadi Hunter atau Farmer?

Ralph. R. Roberts seorang top real estate salesman, telah berhasil menjual lebih dari 600 properti—ratusan kali lebih banyak dari rata-rata salesman.

Dalam buku Walk Like a Giant, Sell Like a Madman, master pemasaran legendaris ini menyarankan agar kita berhenti BERBURU untuk mencari prospek baru dan mulai BERTANI.

Yang mau “pinjam” bukunya PM saya.

Written by budiwiyono

February 19, 2011 at 1:09 am

Panduan menyerap Buku Social Media: Engage

with 2 comments

Jennifer Kane menulis catatan yang menarik isinya Panduan membaca sesuai kebutuhan Buku Social Media: “Engage” by Brian Solis.  Brian Solis sendiri mengatakan:

Kane takes into account varying levels of social media prowess and recommends alternative ways for approaching the book in order to help you get the most out of it.

I loved it…in fact, I’ve converted her post into a downloadable document so in case you wished to print a copy to keep with the book.

Monggo silakan dinikmati, semoga bisa membantu untuk menjadi praktisi Social Media :).

View this document on Scribd

Written by budiwiyono

July 25, 2010 at 1:14 am

Potret Belanja Online di Indonesia 2010

with 5 comments

Representasi dari hampir 30 juta konsumen pengguna internet Indonesia. Rekomendasi WoM merupakan driver adopsi belanja online, 62% via Social Media, teman dan keluarga. Juga ada trend di Aspac bahwa belanja produk tertentu seperti consumer electronics selalu didahului dengan aktifitas calon buyer meliputi Review Product, Riset Product dan bahkan tanya jawab… via Online!

Metode payment dengan Credit Card masih kurang dipercaya di Indonesia relatif jika dibandingkan dengan trend global.

Selengkapnya:

====

Potret Belanja Online di Indonesia 2010
Wednesday, July 14th, 2010
oleh : Siti Sumaryati
Swa.co.id

The Nielsen Company of Indonesia meliris riset teranyarnya tentang belanja onlne di dunia. Riset yang diselenggarakan di 55 negara tempat Nielsen beroperasi dengan 15 zona waktu yang berbeda ini melibatkan 27 665 pengguna internet. Di Indonesia sendiri, riset ini diselenggarakan pada 8 – 28 Maret 2010 dengan jumlah responden lebih dari 500 pengguna internet di kota-kota besar di Indonesia. Dengan jumlah responden lebih dari 500 ribu tersebut merepresentasikan hampir 30 juta konsumen pengguna internet Indonesia.

Konsumen Indonesia tidak berbeda dengan Asia Pasifik dan global dalam berbelanja internet. Mereka akan membeli produk berturut-turut (4 besar jawaban tertinggi): buku, pakaian/aksesoris/sepatu, tiket pesawat/reservasi, dan electronic equipment dalam 6 bulan ke depan. Walau demikian, angka persentase konsumen Indonesia masih lebih kecil dibanding Asia Pasifik dan dunia. Produk yang paling sedikit dibeli oleh konsumen Indonesia secara online dalam waktu 6 bulan ke dapan hanya bunga dan minuman beralkohol masing-masing 1%. Sementara di Asia Pasifik adalah sewa kendaraan hanya 5% responden yang menjawab.

Ketika ditanya apakah akan membeli produk komputer software secara online (bukan men-download) dalam 6 bulan ke depan, 16% responden menjawab ya. Angka ini merupakan tertinggi ketiga di Asia Pasifik setelah India (21%) dan Vietnam (17%) lebih besar dari Asia Pasifik yang hanya sebesar 12%. Ini merupakan sinyal positif bahwa konsumen Indonesia sebenarnya sudah mulai sadar akan hak cipta dan tidak hanya menggunakan produk bajakan.

Sedangkan website seperti apa yang sering digunakan dalam berbelanja online, 25% responden mengatakan situs untuk toko yang hanya menyediakan layanan belanja online, 21% situs yang juga memuat outlet produk batu bata dan semen, 18% situs yang memungkinkan respnden untuk memilih produk dari berbagai toko online, dan hanya 4% yang menyukai situs belanja online yang juga memjual produk melalui katalog dan telpon. Sisanya sebanyak 32% responden tidak pernah berbelanja online. Angka ini menurun dibanding Q4 2009 yang sebanyak 37%.

Anggaran yang mereka keluarkan untuk belanja online yang terbanyak adalah sampai 10% dari total belanja bulanan (76%), antara 11%-50% (23%) dan hanya 1% respoden yang belanja 50-75% dari anggaran belanja bulanan.

Konsumen Indonesia ternyata masih memerlukan dorongan orang lain untuk belanja online. Sebanyak 62% menggunakan bantuan media sosial dan rekomendasi keluarga atau teman untuk memutuskan belanja online. Hal ini juga terjadi dengan rata-rata konsumen di Asia Pasifik. Untuk pembelian produk-produk seperti consumer electronic dan software, mereka sangat hati-hati. Mereka membutuhkan review produk dan perlu riset terlebih dahulu dan tidak akan memberli produk tersebut tanpa consulting online terlebih dahulu.

Walaupun belakangan ramai kasus ketidakpuasan pelanggan di media, namun konsumen Indonesia masih ramah dan sopan. Mereka tidak terllau menyukai membagi pengalaman buruknya dari belanja online, 70% responden Indonesia menjawab tidak, berbeda dengan Cina yang 62% menjawab ya.

Sedangkan metode pembayaran yang sering digunakan adalah melalui PalPay (22%), kartu debit (20%), transfer bank(18%), kartu kredit (17%) dan transfer uang (14%). Ini berbeda dengan konsumen global yang memilih kartu kredit (44%), PalPay (15%), kartu debit (12% dan COD (12%) untuk pembayaran belanja online. Tampaknya konsumen global sudah lebih memercayai transaksi online dengan kartu kredit sementara konsumen di Tanah Air masih rentan terhadap penipuan kartu kredit.

Written by budiwiyono

July 15, 2010 at 9:39 am

4 Kunci membuat sebuah produk atau layanan Elegan (Tanadi Santoso)

leave a comment »

Berikut tulisan Tanadi Santoso yang sangat menginspirasi…

==

4 Kunci membuat sebuah produk atau layanan Elegan (Re-Post)

In Pursuit Of Elegance (~ Matthew E. May)
Why the Best Ideas have Something Missing.

In Pursuit of Elegance

Elegan. Mengapa idea yang terbaik selalu tidak lengkap?

Konsep menarik ini adalah bagaimana membuat sebuah “produk” itu bisa menjadi “elegan” dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Pengetahuan ini akan membuat kita mampu memanfaatkannya untuk menciptakan produk atau layanan yang lebih menarik, lebih menggiurkan, lebih disukai, lebih tepat guna, lebih diinginkan, lebih pas, atau dalam bahasa Matthew, lebih elegan.

Ada 4 kunci yang membentuk konsep ini.

Yang pertama adalah symmetry atau keselarasan. Kalau forensik menemukan separoh wajah anda dan diinstruksikan untuk mengkonstruksi ulang maka akan terbentuk wajah yang sangat amat mirip dengan wajah anda sebenarnya, karena wajah kita, otak kita, tangan kaki kita, semuanya dalam format simetri.

Simetri adalah keselarasan dan keharmonisan alam semesta. Alam dilengkapi dengan simetri. Gambar salju dapat digambar dari segitiga kecil, ditambahkan segitiga lagi, dan seterusnya. Hutan lebat, digambarkan pohon dengan dahan yang rumit, maka kalau kita sederhanakan akan terasa kesamaan dari ranting-ranting kecil yang membentuk daun dan dahannya sampai bentuk keseluruhannya. Elegan design memiliki simetri.

Kunci kedua adalah rayuan. “Seduced by Nothing” ini menerangkan, bahwa manusia sejak bayi selalu tertarik akan misteri, keingintahuan, atau ketidak lengkapan sesuatu.

Senyuman Monalisa dianggap misterius, dan membangkitkan banyak emosi yang berbeda dari orang yang melihatnya. Ada kesedihan, kebahagiaan, mencomooh, rayuan tersembunyi, bahkan amarah. Riset mendalam menunjukkan bahwa Leonardo sengaja menyamarkan dan mengaburkan beberapa bagian pada senyumnya, sehingga apa yang dilihat orang satu akan beda dengan orang lain, tergantung bagaimana otak dan asumsi orang yang melihatnya. Sehingga lukisan Monalisa ini bisa menjadi seperti cermin, menggambarkan kembali apa yang ingin anda artikan.

Presentasi perkenalan produk baru iPhone, yang kontan menjadi buah bibir semua orang yang melihat presentasi Steve Jobs, juga penuh misteri. Karena setelah demo itu, tidak ada lagi berita detail apapun, tidak ada iklan apapun, dan tidak ada keterangan apapun dari Apple, untuk waktu berbulan bulan. Kehausan akan rasa ingin tahu, dibiarkan menjadi senjata “Word Of Mouth” yang sangat sukses dalam promosi iPhone.

Ketiga adalah Laws of Substraction, atau Hukum Pengurangan, juga menjadi faktor kunci suksesnya iPhone. Steve Jobs yang selalu sangat fanatik pada design, mengutamakan kesederhanaan, computer mouse dengan satu tombol, komputer tanpa internet kabel, iPod tanpa banyak tombol, dan iPhone juga akhirnya diluncurkan dengan layar sentuh tanpa tuts keypad. Kesederhanaan adalah kunci elegan. Bisnis Hotel mengurangi pelayanan yang tidak dihargai pelanggannya untuk mampu menawarkan kamar baik dengan harga murah. Kita perlu hilangkan hal2 yang tidak penting buat pelanggan kita.

Kunci keempat, “On Sustainable Solution”, atau solusi yang bisa bertahan lama, mengajarkan tentang pemikiran yang mendalam. Sustainable hanya bisa dicapai kalau kita mencari jawaban dengan sangat mendasar. Solusi yang optimal, dan tidak cepat puas dengan jawaban yang pertama muncul, dan dapat bertahan dalam panjangnya waktu, adalah jawaban yang elegan. E=mc2 nya Einstein, Teori evolusinya Darwin, adalah salah satu contoh yang bertahan dalam perubahan waktu.

Pemikiran ini berguna bagi, pelukis, designer produk, pelaku advertising, dan pebisnis. Empat kunci dasar ini dapat diaplikasikan pada layanan dan produk, pada penulisan cerita fiksi atau pembuatan filem, pada pembuatan iklan, ataupun dipakai untuk memberikan solusi yang paling elegan pada persoalan bisnis kita.

Ori Source: Tanadi Santoso.

Written by budiwiyono

June 27, 2010 at 8:43 am

Piramida Sukses Strategi Online Marketing

leave a comment »

Tips menarik Strategi Online Marketing dari Riyeke Ustadiyanto.

Written by budiwiyono

May 14, 2010 at 4:38 pm

Posted in Marketing

Tagged with

How Social media platform can effect your NPS score

leave a comment »

Saya copas artikel menarik dari Gabriel Wu sbb. Semoga berguna.

===

How Social media platform can effect your NPS score
Whether it’s a book review on Amazon, a local food blogger reporting on your restaurant, or someone angrily tweeting about the service you just completed on their car – recommendations are now forming the basis of a number of services online.

This could be very important to you if you are using the Net Promoter score (NPS) as a key measure which clearly measures ‘recommendation’.

The rise of social media has led to consumer journalism; where everyone is a critic, everyone is a reviewer, and everyone can broadcast their opinion. How do consumers filter through this mass of reviews and recommendations? The social construct they employ is built on trust.

To what extent can you trust the reviewer? What else have they reviewed? What’s their experience with the category? A paper in the Journal of Consumer Psychology investigated trust levels of expert vs. novice and experienced vs. inexperienced reviewers, they found the following

The researchers found that people were more likely to trust a reviewer when the combination of the level of expertise and the degree of confidence was surprising. That is, they tended to trust the non-expert reviewer more when he was very confident than when he was not so confident.

In contrast, they tended to trust the expert reviewer more when he was tentative than when he was very confident.

Written by budiwiyono

May 13, 2010 at 10:04 am

The next trend: Social Networking-based Applications within the Enterprise.

with 4 comments

Jika kita melihat betapa suksesnya pertumbuhan Facebook di Indonesia, yang terlihat dari growth member asal Indonesia yang luar biasa. Social Networking adalah Indonesia Bangets… Dengan hobi orang Indonesia yang suka ngrumpi, suka bantu orang, suka berkelompok.

Berikut data yang menyatakan bahwa Indonesia Ranking 2 Pertumbuhan Facebook Tertinggi di Dunia.

Kita juga sering melihat, mendengar atau bahkan mengalami sendiri fenomena pelarangan akses facebook melalui jaringan internet perusahaan selama jam kerja. Akses baru dibuka pada jam istirahat atau jam-jam AOH/after office hours.

Melihat fenomena suksesnya adopsi Social Networking di Indonesia, baik Facebook, Twitter, Friendster, Google Buzz yang baru maupun puluhan Social Network lain, timbul pemikiran bagaimana jika Social Networking di adopsi saja ke dalam aplikasi Enterprise – yaaa! di adopsi saja ke dalam aplikasi Intranet perusahaan.

Bisnis bisa menggunakan social networking kemudian jadikan sebagai bahan bakar dalam revolusi di bidang collaboration. Jadi produktif khan?, dimana Facebook di gunakan untuk gaul santai, begitu jam kantor yang diakses adalah sebangsa Facebook juga tetapi untuk keperluan produktifitas kantor.

Contoh: Aplikasi pembuatan dokumen-dokumen kantor bisa dikerjakan secara kolaboratif di dalam intranet kantor secara FUN dengan model social networking style. Social Networking yang khas meliputi:

  • Corporate People connection,
  • Activities: seperti Status update, Friend feed, Follow friend activity, Commenting, etc.
  • Data: sharing data diantara connected People.

Sebenarnya inti dari Social Network adalah engine Social Graph, jika disederhanakan isinya adalah struktur “friend connections” yang dimiliki oleh seseorang.

Trend tersebut disambut oleh Google dengan menerbitkan API “OpenSocial” yang di dukung secara kolaboratif dalam pengembangan spesifikasi dan API nya oleh vendor-vendor besar lainnya seperti IBM, SAP, Oracle incl. SalesForce.com, CISCO, etc. yang juga diikuti oleh pemain lain yang lebih kecil seperti SocialText, Alfresco, etc.

Dengan OpenSocial, maka aplikasi Intranet yang anda bangun dapat anda cangkokkan fitur-fitur Social Networking seperti yang telah disinggung di atas.

Berikut ini contoh nyata bagaimana jika Wiki di cangkok kan fitur Social Network akan menjadi seperti apa, saya ambilkan contoh produk “Enterprice Wiki” platform dari SocialText:

[Disclaimer: saya tidak ada hubungan afiliasi dengan SocialText, video ini adalah untuk contoh kasus riil saja]

Bagaimana menurut anda, aplikasi Enterprise apa saja yang akan muncul di perusahaan-perusahaan di Indonesia, Indonesia dengan kultur-nya yang Social Network banget…

Bagi yang ingin “mengukur” impact Social Media silakan simak: 26 Tools for Social Media Monitoring.

Monggo silakan dikomentari…

Breaking News:

Setelah artikel ini, saya juga akan sharing inisiatif Social networking kantor saya, Lintasarta, yang telah mengadopsi Social Networking technology untuk menjalankan Portal Idea Creation: CreativeSolutionsAward – CSA2 yang melibatkan masyarakat umum, dimana saya adalah co-founder dari inisiatif tsb (bersama bos saya dan tim saya). Inisiatif ini otomatis menjadikannya sebagai adopter Social Networking pada kategori Co-Creation Web 2.0 yang pertama di Indonesia.

So Stay Tuned :)

Written by budiwiyono

February 28, 2010 at 9:27 pm

Peluang industri pembiayaan luar biasa (Sharing bersama asosiasi perush pembiayaan ind pada Seminar Lintasarta: IT in Multifinance Industry)

leave a comment »

Otomotif, 4 thn lagi double. Forecast menjadi 1 juta di 2015. Penetrasi ke pelosok juga menjadi key success factor. Motor akan lebih gila lagi growthnya. Jadi PR nya adalah perush Multifinance harus pintar memanage seleksi calon debitur dan harus bisa memanage ledakan jumlah nasabah. Bayangkan u/ mobil saja doubling only in 4 years. Diperlukan teknologi untuk bisa mengikuti ledakan pasar ini, termasuk kompetensi seleksi calon nasabah.

Berikut catatan saya dari seminar tsb.

Wow, peluang industri pembiayaan ruuar biasa. Industri yg tumbuh 25% setahun (sharing bersama asosiasi perush pembiayaan ind pada Seminar Lintasarta: IT in Multifinance Industry)

Jumlah mobil di Indonesia akhir 2009, 11 – 13 rb. Saat ini +3.000 hanya dalam 3 bulan saja. Tahun ini prospeknya sangat baik.
Overview bisnis pembiayaan industri otomotif sangat luar biasa, registrasi  583 mobil baru per bulan di Jakarta saja tahun lalu, 2500 motor per bulan. Saat ini menjadi 600 mobil dan 3000-3500 motor per bulan.

Jangan kaget motor akan jadi makin banyak. Industri yang tumbuh 25% setahun mengalahkan sektor lain.

Saran asosiasi:
Pembatasan agar bukan pembatasan kepemilikan mobil, disarankan yang diatur/dibatasi adalah penggunaan mobil sepeti aturan di jalan umum, aturan usia mobil, etc. Di Jepang jumlah mobil jauuuh lbh banyak tapi masih bisa manage masalah kemacetan.

Prospek ke depan:

  • Sektor rumahan juga prospek, pembangunan rumah yg main masih dikuasai perbankan.
  • Pembiayaan Syariah.
  • Otomotif, 4 thn lagi double! 1 juta di 2015.

Saran agar bisa kompetisi:

  • Perusahaan pembiayaan ICT nya harus kuat karena jumlah nasabah banyak, dan cabang juga makin banyak. Penetrasi motor sampai ke pelosok juga karena perusahaan pembiayaan.
  • Risk mgmt risk pembiayaan secara optimal
  • Sumber dana murah jangan tergantung dengan perbankan
  • Efisiensi operasional
  • Sistem informasi debitur u/ provide info cepat sesuai kebutuhan (saat ini masih jadi pekerjaan rumah). Sistem Informasi Debitur (SID) harus kuat. U/ cek histori bayar dan kemampuan bayar. Diluar negeri sudah adopt single identity, di BI masih berdasar nama ibu kandung.
  • Indonesia belum punya UU u/ perusahaan pembiayaan
  • Perpajakan: pemberlakuan pajak progresif kepemilikan kendaraan + uu ppn u transaksi sale and leaseback dan barang tarikan
  • Pendanaan
  • Jenis: diversifikasi penambahan layanan refinance, ukm dan gadai
  • ACFTA

Written by budiwiyono

February 23, 2010 at 3:41 am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,681 other followers

%d bloggers like this: