budiwiyono.com | opinions, analysis, techniques, experiences and insights.

Simplicity is the ultimate sophistication

Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (2)

with 3 comments

Lanjutan artikel sebelumnya : Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (1)

Budi Wiyono Wow! Akan makin banyak peluang :)
Ayo para Seniman Produk & Entrepreneur, siap-siap lah menampung disposable income target pasar :)

Yuswo Hady Berbisnis di social media murah meriah, modalnya cuma laptop, koneksi, plus hosting setahun sejuta perak, tapi bisa create value (money) tak terbatas mas. “Pabriknya” ada di otak, modalnya cuma dua: THINKING dan CREATIVITY. Pasti bakal boom… fresh graduate bakal makin males kerja kantoran, enakan kerja di rumah jadi SOCIAL MEDIA ENTREPRENEUR… viva social media

==

Consumer 3000 (2): Some Trends

by Yuswo Hady on Saturday, December 11, 2010 at 10:31pm

Minggu lalu saya telah menguraikan secara umum mengenai fenomena tembusnya GDP/kapita kita ke ambang batas psikologis US$3000 pada tahun depan (2011) dan bagaimana implikasinya kepada perubahan perilaku konsumen. Saya menyebut di situ bahwa dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi perubahan cepat konsumen Indonesia menuju terbentuknya Consumer 3000 yang didorong oleh dua perubahan fundamental, yaitu naiknya buying power dan meningkatnya pendidikan yang menjadikan mereka lebih knowledgable dan civilized. Berikut ini adalah beberapa tren ke depan yang saya lihat akibat munculnya Consumer 3000.

Democratize of Consumption

Naiknya daya beli Consumer 3000 akan menjadikan produk-produk yang dulunya hanya mampu dibeli kalangan atas kini sudah mampu dibeli oleh orang kebanyakan. Fenomena inilah yang saya sebut “demokratisasi konsumsi” (“democratize consumption”). Kebanyakan konsumen kita kini sudah mampu membeli produk-produk seperti lemari es, TV flat, telepon seluler, mobil seperti Avanza, Xenia atau Jazz (itu sebabnya macetnya Jakarta nggak ketulungan), paket-paket liburan (bahkan kini kita sudah biasa berlibur ke Universal Studio Singapura atau ke Pucket Thailand, tak hanya sekedar ke Bali), kartu kredit dan asuransi, tiket pesawat (itu sebabnya Bandara Soekarno-Hatta lebih krodit dari stasiun Gambir).

The Rise of “Mass Luxury”

Banyak barang-barang yang dulunya merupakan barang mewah, tanpa terasa kini downgrade menjadi “tidak mewah-mewah amat”. Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah “mass luxury”. Tanpa kita sadari, kini mobil Mercy-BMW sudah “tidak lagi” menjadi mobil mewah. Kenapa? Ya, karena kita melihatnya berseliweran tiap hari di jalan-jalan, termasuk melenggang di jalan-jalan kampung yang becek. Dan yang penting, begitu banyak kelompok masyarakat kita (termasuk kelompok yang bukan berasal dari kalangan atas) yang memiliki mobil tersebut. Mobil Alphard adalah “mass luxury”; Kartu kredit gold dan platinum adalah “mass luxury”; apartemen di Segitiga Emas adalah “mass luxury”. Barang-barang tersebut mewah, tapi semakin terjangkau oleh kantong kita.

Smart Consumer: “Hyper Value-Oriented”

Meningkatnya pendidikan membentuk Consumer 3000 menjadi smart consumers yang selalu kritis menimbang-nimbang produk dan layanan yang mereka beli. Berbekal informasi yang kaya (yang di-search di Google) secara cerdas mereka membandingkan benefit produk yang mereka beli dengan harga yang harus dibayar. Tak heran jika boom midnight sale terjadi di mal-mal di berbagai kota, yang diserbu smart consumers ini. Tak heran juga jika value-for-money brand seperti Nexian mengalami boom luar biasa. Ya, karena konsumen cerdas ini lebih memilih Nexian yang memiliki functionality yang sama dengan Blackberry, tapi dengan harga yang jauh lebih murah.

More Competitive, More Mobile

Ketika populasi Consumer 3000 sudah cukup besar, maka makin banyak kelompok masyarakat yang memiliki pekerjaan bagus dengan gaji yang cukup memadai. Dengan buying power yang cukup dan basic needs yang sudah terlampaui, maka kebutuhan untuk mencapai kesuksesan di karir dan pekerjaan menjadi urgensi yang kian penting. Mereka pun menjadi semakin kompetitif dan ingin selalu produktif. Mereka menjadi semakin mobile dengan semakin banyaknya urusan. Pemilik merek cekatan merespons tren ini, misalnya, membuat kemasan yang “one-time consumed” seperti yang dilakukan oleh Coca Cola dengan kemasan kecil (genggam). Begitu pula Pulpy Orange (kini diikuti Buavita) yang jeli meluncurkan produk kemasan kecil sekali minum yang memang pas untuk orang yang mobile dan sibuk.

We Need a Place to Talk

Ketika treshold $3000 sudah terlewati maka basic needs (food, shelter, sex, sleep) pun sudah terlewati. Yang muncul kemudian adalah kebutuhan yang lebih advance seperti status sosial, aktualisasi, self-esteem, narsis, bersosialisasi dan berkomunitas, dan sebagainya. Karena pergeseran ini, tidak heran jika Starbuck dan J.Co sukses luar biasa. Tak heran juga KFC dan McDonalds berubah fungsi menjadi kafe tempat nongkrong. Konsep ritel dan kantin 24 jam (dengan koneksi WiFi-nya tentu saja) seperti 7-Eleven atau McCafe juga dikerumuni anak nongkrong sampai pagi. Saat ini juga muncul kebiasaan baru, dimana anak-anak muda berjejaring sosial di Facebook atau Twitter, lalu “kopdar” (kopi darat)-nya di 7-Eleven atau McCafe.

Civilized Consumers

Beranjak naiknya pendidikan Consumer 3000 juga menjadikan mereka lebih civilized. Karena itu, saya meramalkan dalam kurun waktu yang tak lama peminat software bajakan dan VCD-DVD bajakan akan berkurang (thanks God, gedung-gedung bioskop bakal tambah ramai). Sinetron yang absurd dan membonsai otak pemirsa akan semakin sepi peminat. Begitu juga film-film yang judulnya menggunakan atribut-atribut menyeramkan seperti “Kuntilanak”, “Pocong”, atau “Sundel Bolong” akan menyurut; sebaliknya film hebat semacam “Laskar Pelangi” atau “Ayat-Ayat Cinta” kian menjadi mainstream.

Tecnology Savvy: Gadget Freak!!!

Ketika basic needs sudah terlampaui, maka kebutuhan gadget dan produk-produk konsumsi berteknologi seperti ponsel, kamera, digital music player, hingga komputer tablet akan mendominasi. Tak heran jika iPad dan Galaxy Tab laris bak kacang goreng. Gampang diprediksi, antrian mengular seperti di Plasa Senayan saat Galaxy Tab launching dua bulan lalu bakal berulang saat Blackberry Playbook, Dell Streak, atau HP Slate nanti meluncur di pasar. Begitupun App Store dan Android Market bakal menjadi tempat favorit untuk mengunduh apps. Consumer 3000 tahu ditel mengenai gadget-gadget terbaru di dunia karena mereka begitu gampang mendapatkan informasinya melalui blog, Facebook, Twitter, dan sebagainya.

Modern Retail Explosion

Tergusurnya pasar tradisional oleh modern retail 5-10 tahun lalu menjadi isu sosial-politis yang sensitif. Namun kini, isu tersebut semakin melunak. Kenapa? Karena kita semakin “terbiasa” dengan layanan lebih baik yang ditawarkan oleh modern retail seperti Indomaret atau Alfamart. Kombinasi antara konsumen yang knowledgable dan memiliki buying power tinggi membentuk Consumer 3000 menjadi konsumen yang high-demanding. Mereka menuntut value tinggi (convenience, bersih, ber-AC, dan dengan harga kompetitif) yang bisa dipenuhi oleh modern retail. Karena kenyataan ini, ledakan modern retail bakal terjadi untuk berbagai retail category mulai dari barang konsumsi sehari-hari (Indomaret/Alfamart), kelontong dan perkakas (ACE Hardware), apotik (Apotik 24), elektronik (Electronic City), bahan bangunan (Mitra-10), spare-part otomotif (Shop & Drive), dan lain-lain.

“Broadband Hunger”: Social Media Boom

Consumer 3000 juga adalah jenis konsumen yang sangat lapar koneksi broadband. Mereka berjejaring sosial di Facebook dan Twitter, mengoleksi beragam gambar di Flickr, dan men-download/upload video di YouTube, dan menampung presentasi di Slideshare. Tak hanya itu, mereka adalah kelompok konsumen yang paling siap melakukan e-commerce untuk berbagai produk seperti gadget, buku, software, beragam apps (di App Store atau Android Market). Karena itu beberapa tahun ke depan, kisah sukses e-commerce seperti Kaskus, Bhineka.com, atau TokoBagus.com bakal disusul ribuan kasus sukses berikutnya.

Era Satu Miliar Wirausaha

McKinsey&Co. secara umum mendefinisikan kelas menengah (middle class) adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai 1/3 dari keseluruhan pendapatan. Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Nantinya akan banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di bisnis franchise. Pilihan lain mereka terjun secara full-time menjadi social media entrepreneur. Kenapa social media entreppreneur? Karena berinvestasi untuk menjadi social media entrepreneur menuntut investasi yang relatif rendah tapi memilki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business. Karena itu saya memprediksi franchise entrepreneur dan social media entrepreneur bakal boom dalam beberapa tahun ke depan.

Welcome Consumer 3000! ***

Written by budiwiyono

December 11, 2010 at 11:02 pm

Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (1)

with 5 comments

Artikel mas Yuswohady di bawah ini isinya sangat senada dengan materi yang disampaikan Pak Faisal Basri pada Markplus’s Marketeers Club.

Budi Wiyono
Nice Article!
Kemarin saya juga dapat update di Markplus Marketeers, dipaparkan secara lugas (gak pake tedeng aling-aling) oleh Faisal Basri.

Perlu banyak tulisan Positif dalam menyongsong Breakout angka 3000 Mas…

Trend ini juga didukung dengan Capital InFlow yg berbeda dari tahun2 sebelumnya. Rasio Longterm Investment lebih bagus, dari 1:5 menjadi 1:2

Yuswo Hady
@Budi, @Tatty betul, momentum GDP/kapita $3000 harus direspons dan disikapi secara serius oleh pemerintah dan pelaku bisnis di negeri ini. Menilik ke Cina, bahkan Perdana Menteri Hu Jintau sendiri (pada tahun 2004) yang mengikrarkan dan me…ngajak seluruh komponen masyarakat agar Cina bisa cepat mewujudkan GDP/kapita $3000.Jadi jauh sebelum angka tersebut ditembus (karena visi Cina akan mencapainya di tahun 2020, tetapi karena komitmen yang tinggi dari bangsa besar ini akhirnya terwujud tahun 2008) Cina sudah mempersiapkannya (misalnya persiapan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara, dsb). Sehingga begitu angka tsb ditembus, negara ini sudah memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengakomodasi ledakan pertumbuhan yang terjadi.

Di Indonesia, hanya segelintir ekonom dan pejabat yang peduli dengan angka psikologis ini. Ketika posisi angka $3000 sdh ditembus saat ini, kita melihat kondisi infrastruktur kita baik jalan tol, bandara, pelabuhan yang memprihantikan dan overloaded. Karena itu tak terhindarkan akan terjadi “bottleneck” yang berakibat accelerated development di atas tak sehebat di Cina atau Korsel. Let’s seeSee More

==

Consumer 3000

by Yuswo Hady on Saturday, December 4, 2010 at 2:34pm

Minggu lalu (27/11) saya diundang SmartFM untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar Economic Outlook and Business Strategy 2011. Bersama beberapa pembicara lain, antara lain, ibu Aviliani, kami membahas perubahan lanskap bisnis tahun depan. Blessing in disguise, berkat seminar itu seminggu sebelumnya saya kurang tidur karena “keranjingan” menelusuri data demi data untuk bahan presentasi saya. Kenapa keranjingan? Karena saya mendapatkan sebuah temuan yang sangat menarik yang kemudian memacu andrenalin saya untuk menelusurinya.

Temuan menarik tersebut adalah kenyataan bahwa tahun depan (2011) untuk pertama kalinya GDP/kapita (nominal) Indonesia bakal menembus angka US$3000.  Saya periksa data IMF (International Monetary Fund) tahun ini diprediksikan GDP/kapita kita sebesar $2.963 dan tahun depan mencapai $3270. Sadarlah, kini kita sudah tidak lagi negara berkembang. Dengan jumlah penduduk 240 juta, Indonesia adalah negara besar dengan kekuatan ekonomi yang bakal sejajar dengan negara-negara besar lain seperti Cina, India, Brasil, atau Rusia.

Apa istimewanya angka GDP/kapita $3000? Menilik pengalaman negara lain, $3000 adalah angka batas (treshold) suatu negara yang akan masuk dalam jajaran negara maju. Ambil contoh Korea Selatan. Begitu Korea Selatan mencapai level angka GDP/kapita $3000, negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat (accelerated development) secara terus-menerus selama 11 tahun. Saking “kramat”-nya angka $3000 ini, Pemerintah Komunis Cina pada tahun 2002 pernah mencanangkan target GDP/kapita $3000 ini dicapai pada tahun 2020. Namun apa yang terjadi? Cina mampu menembus angka psikologis itu di tahuh 2008-2009, dan setelah itu menikmati akselerasi pertumbuhan yang sangat fenomenal.

Kenapa bisa begitu? Karena lapis masyarakat kelas menengah (middle class) dari negara yang GDP/kapita-nya menembus $3000 sudah begitu besar, sehingga kelompok ini menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang sangat powerful. Majalah Economist edisi 12 Februari 2009 mengenai tumbuhnya kelas menengah di negara-negara sedang tumbuh (emerging countries) mendefinisikan kelas menengah ini adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income) 1/3 dari keseluruhan pendapatan.

Disposable income inilah yang mereka pakai untuk membeli produk dan layanan “advance” seperti mobil, AC, lemari es, TV flat, gadget terbaru, layanan perbankan dan asuransi, berwisata ke luar negeri (nggak hanya ke Bali), nongkrong di cafe, hingga konsumsi broadband internet. Kuatnya permintaan dari kelas menengah inilah yang berpotensi mendorong tumbuhnya industri yang terkait secara meluas, yang pada gilirannya menggerakan laju pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.

Mengacu ke konsep kebutuhan dan motivasi manusia dari Maslow, begitu suatu masyarakat menembus angka psikologis $3000, maka kebututhan dasar (basic needs) sudah lewat. Karena itu mereka mulai naik ke atas, masuk ke kebutuhan yang lebih advance seperti self-respect, status sosial, kebutuhan bersosialisasi, dan sebagainya. Itu sebabnya tak mengherankan jika Starbuck begitu sukses di negeri ini. Atau, McDonalds dan KFC sekarang sudah berubah model, bukan fast food lagi, tapi sudah menjadi kafe. Coba saja Anda datang ke McDonalds dan KFC yang 24 jam, pada pukul 12 malam, pasti ramainya minta ampun. Mereka tak sekedar makan, tapi kongkow-kongkow, ada yang kerja dengan laptopnya, ada juga yang melakukan business meeting.

Macetnya jalan di Jakarta dan kroditnya bandara (melebihi stasiun dan terminal) juga merupakan bukti sudah hadirnya kelas menengah dan konsumen dengan buying power tinggi di negeri ini. Kemacetan Jakarta tak lain adalah akibat dari begitu banyaknya konsumen yang sudah mampu beli mobil, tapi panjang jalannya tidak bertambah. Begitu juga, kroditnya bandara adalah akibat begitu banyak konsumen kita yang sudah mampu beli tiket pesawat, tapi tidak didukung bertambahnya ruang bandara.

Apa implikasi dari tembusnya GDP/kapita kita ke angka ambang $3000? Saya memprediksikan akan terjadi revolusi konsumen. Tembusnya ambang $3000 akan memunculkan “konsumen baru” dengan psikografi, sosiografi, dan perilaku yang berbeda dengan yang ada sebelumnya. Konsumen baru itu saya sebut: “Consumer 3000”.

Di samping memiliki buying power yang tinggi, Consumer 3000 juga more educated, more knowledgable, more civilized. Mereka lebih modern, memiliki global mindset (thanks to Internet!), mereka juga lebih technology savvy yang haus gadget seperti Galaxy Tab atau iPad. Secara natural dan pelan tapi pasti, mereka akan menjadi konsumen yang lebih health-conscious dan environmentally-concern.

Tapi ingat, karena mereka more educated dan more knowledgable, maka mereka akan lebih rasional dan sangat kritis dalam menentukan pembelian dan memilih barang-barang yang akan mereka konsumsi. Karena itu Consumer 3000 adalah jenis konsumen yang sangat value-oriented. Artinya, mereka sangat kritis menimbang-nimbang dan mengkaji value dari produk yang ditawarkan. Mereka tidak lagi melihat dunia barat (dengan teknologi, merek, gaya hidup-nya) secara “terpana” dan “wah”. Mereka memiliki global mindset tapi tidak membabi-buta dalam mengonsumsi merek-merek global; value tetap menjadi ukuran terpenting bagi mereka dalam memutuskan pembelian.

Dengan tembusnya $3000, maka konsumen jenis baru ini akan tumbuh dengan pesat dan akan mewarnai pembelian dan konsumsi produk dan layanan di berbagai industri. Karena itu setiap marketer di negeri ini harus cermat memantau perubahan perilaku konsumen baru ini, dan kemudian meresponnya dengan strategi-strategi pemasaran yang relevan.

Transisi dari kondisi lama ke baru selalu diikuti dengan kondisi chaotic sebelum transisi tersebut mencapai keseimbangan baru. Karena itu, saya meramalkan kemunculan Consumer 3000 ini di Indonesia akan memicu munculnya “gempa tektonik” dalam jagat pemasaran di Indonesia. Dan dalam setiap keadaan yang tidak menentu selama “gempa tektonik” tersebut pasti terdapat banyak peluang (sekaligus ancaman) yang bisa dipetik oleh marketer. Siapa jeli, pasti dia dapat. “Welcome Consumer 3000”. *

Written by budiwiyono

December 11, 2010 at 10:54 pm

Tips agar Perusahaan menjadi Inovatif

leave a comment »

Berikut ini tips yang sangat… sangat sederhana tentang Bagaimana agar Perusahaan Menjadi Inovatif.

Tips ini menurut saya sangat cocok untuk Starter.Kalau perlu adopsi sbg Corporate Culture anda.

Jika model di bawah bisa di adopsi, maka silakan dilanjutkan ke level yang lebih serius lagi dalam mengadopsi prinsip-prinsip yang sama yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan berbasis Inovasi seperti IDEO dan Google.

Faktor-faktor tsb di bawah merupakan pengalaman Ciputra dalam menciptakan lingkungan perusahaan Inovatif.

===

Oleh: Harun Hajadi

Empat tahun yang lalu, saya sempat menulis tentang Innovation: Innovate or Die pada Edisi Ciputra News Juni 2005. Memang topik tentang inovasi tidak pernah usang. Dengan kompetisi di sekitar kita yang semakin ‘intense’, kita dipaksa untuk inovatif. Tetapi untuk kita menjadi sebuah perusahaan yang inovatif, tidak cukup kita hanya meng-’hire’ orang-orang yang inovatif. Faktor lain yang penting adalah dengan menciptakan suasana yang mendorong orang-orang di sekitar kita menjadi inovatif.

1. Atasan yang terbuka dengan ide-ide baru bawahannya. Ini adalah faktor yang penting sekali. Atasan berani mengambil keputusan untuk ‘go’ atau ‘no go’. Jika sudah mengatakan ‘go’, dia juga harus menerima konsekuensinya kalau tidak sukses, atau sebaliknya.

2. Peers’ yang mendorong inovasi. Ini faktor yang penting sekali. Belum tentu orang yang inovatif dapat mendorong orang lain atau menciptakan suasana menjadi inovatif. Faktor yang lebih penting adalah misalnya dengan selalu menempatkan orang-orang yang antusias, orang-orang yang berpikiran positif, yang dapat bekerja sama sebagai tim (bukan individualis), aktif, selalu mau belajar hal-hal yang baru, yang tidak posesif terhadap apa yang dikerjakan, dan selalu terbuka dengan masukan-masukan.

3. Mempunyai rasa memiliki. Saya tidak pernah percaya seseorang bisa dituntut untuk inovatif jika dia tidak mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap perusahaan tempat dia bekerja. Jika dia berpikir bahwa dia hanya bekerja dan setiap hari hanya masuk kerja karena kewajiban, tidak adil rasanya kita menuntut dia untuk inovatif, karena ‘gak nyampe gitu lho!’

Sebenarnya faktor-faktor di atas sudah kita ketahui semua, hanya saja memang kita tidak menyadarinya. Saya juga memperhatikan bahwa proyek-proyek yang inovatif di Ciputra Group sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas tadi.

Sebenarnya kata besar dari ini semua adalah ENTREPRENEURSHIP seperti yang selalu didengung-dengungkan oleh Founder kita Bapak Dr. Ir. Ciputra. Apakah kita memiliki ‘entrepreneurship spirit’ yang tinggi, sehingga kita secara naluri inovatif, inovatif dari cara kita bekerja, cara kita mencari peluang, cara kita memecahkan masalah, cara kita berinteraksi dengan orang lain ataupun cara kita memotivasi ‘sub-ordinate’ kita atau kolega kita. Selamat berinovasi dan ber-enterpreneurship…



Written by budiwiyono

December 4, 2010 at 9:31 am

Dua teman Jia kena VIRUS KAWASAKI (sebarkan!)

with 6 comments

Dua status saya di FB:

Status #1:

Kasihan teman Jia, terkena VIRUS KAWASAKI. Sangat merusak: paru-paru, syaraf dan jantung.
MMC angkat tangan, rujuk ke RSCM, berlarut akhirnya ketemu penyakitnya. Kmdn rujuk ke Omni Serpong, satu2nya yg bisa handle Virus Kawasaki.
Anaknya sekarang syaraf mata diserang sekarang jadi silindris tebal. Jantung hampir saja telat.
Hati-hati, jika anak lagi lemah jangan ke Mal / Area penuh kuman.
November 23 at 8:34pm

@Oky Nggak cuman serem, infusnya saja rp.3juta per botol! Sekarang sudah habis 13 botol. Itu baru infusnya lho!
@Diandra Kemungkinan tertular dari Mal itu mbak. Anak tsb kalo keluar rumah seringnya ke Mal.

Status #2:

Baru ketahuan ada satu lagi teman Jia yang kena VIRUS KAWASAKI, yang ternyata sakit lebih duluan dari temannya yg statusnya sy tulis 23 Nov.
Dia Lama di RS dan para Dokter tidak tahu apa penyakitnya!!!!
Akhirnya Si Ortu dapat info ciri2 penyakit dari Ortu murid yang lain, kemudian mendatangi Dokter Najib (Omni) di rumahnya di BSD.
HASIL: JANTUNG ANAKNYA SUDAH KENA!!!
November 28

Berikut ini ciri-cirinya:

  • Di awali dengan badan panas dan tidak mau turun, maksudnya jika diturunkan, akhirnya balik naik lagi suhu badannya
  • Mata warna PINK
  • Sendi-sendi tangan dan kaki sakit sehingga tidak bisa buat jalan, anak menangis kesakitan
  • Saat cek darah: semua terlihat bagus dan negatif
  • Saat test jantung: akan ketahuan karena Virus tsb menyerang Jantung
  • Untuk yg fisiknya lemah: Lidah melepuh, tangan melepuh dan leher ada ruam merah (ciri tsb tidak terjadi pada teman Jia)

Satu lagi: Ada teman Jia sebelum dua kasus di atas, ada yang sakit paru-paru dengan kronologi yang mirip: tidak ketahuan sakit apa. Ortunya tidak puas saat di handle di Jkt, kemudian membawanya ke rumah kakek anak tsb di Bandung agar bisa dirawat oleh dokter keluarganya. Saat itu kemudian kami dapat kabar bahwa anaknya yang gagah dan sangat sehat tsb kena paru-parunya. Bayangkan ini anak atlet yang juga dilatih sbg atlet, anak tsb besar dan sangat sehat. Tahu-tahu kabarnya sakit paru-paru… bingung khan kita??? Sekarang anaknya jika kecapekan jadi kayak punya penyakit asma. Sampai saat ini kami tidak tahu kejelasan apa penyakitnya.

Berikut info langsung dari Ortu anak yang Sakit, bantu sebar luaskan, rekan-rekan!

Written by budiwiyono

November 28, 2010 at 7:31 am

Pilih Keseimbangan Alam yang Alamiah atau Bencana/Wabah

leave a comment »

Virus Machupo, sewaktu mewabah di San Quentin/Bolivia, ditemukan by riset: media penyebarnya adalah tikus (inang) via urin, selanjutnya menyebar lewat udara. Ternyata populasi tikus menjadi terlalu besar karena pemangsa alamiahnya yaitu kucing mati semua akibat semprotan anti malaria secara masal.

Solusi mendatangkan kucing dalam jumlah yang cukup ternyata menghentikan penyebaran Virus Machupo di San Quentin.

Moral of the Story:

Keseimbangan mata rantai alami jika rusak, bisa mendatangkan wabah dan bencana.

Jadi ingat statement Pakar Pelestarian & Konservasi Alam Bawah Laut New Zealand (NZ paling maju dalam pelestarian bawah laut):

Pengetahuan kami meningkat dari 1 menjadi 2 menjadi 4 dst. Tetapi cerita pada anak cucu kami bukanlah itu. Kami justru akan tekankan pada: betapa SEDIKITnya Pengetahuan kami.

Banyak yang bertanya kepada kami: Setelah Pelestarian ini dan itu kemudian apa sich hasilnya???

Jawaban kami: Kami TIDAK TAHU.

Yang jelas, yang kami tahu adalah kembalikan alam alamiah seperti semula, maka semua pelestarian akan sukses.

Jangan mencoba untuk mengendalikan/mengatur alam. Ide me-manage alam adalah Konyol. Yang harus dimanage adalah diri sendiri!!

Di situlah kebesaran Sang Pencipta.

Written by budiwiyono

November 25, 2010 at 12:20 am

Posted in Misc, my Corner

Talkshow Bisnis Export via eBay di Jakarta

with 2 comments

Berikut sharing Talkshow eBay dengan Komunitas Tangan Di Atas (TDA) bulan November baru-baru ini dari Abah Raditya.

Silakan bagi yang mau nambahin infonya yah…

===

Baru mengikuti talkshow eBay + Plasa di kawasan melawai Jakarta. Presenter adalah seller Development Manager eBay Asia Tenggara. Sempat berbincang secara langsung dengannya, ada bbrp poin yg akan sy share yg mungkin bermanfaat buat teman2. (November 3rd 2010)
#
eBay kini sudah melirik Indonesia sebagai pasar potensial untuk rekrut member (dan ambil untung tentunya) … walau cukup terlambat di bandingkan negara tetangga
#
Konon pertumbuhan seller indonesia mencapai sekitar 60% pada 2010, ini tentu menarik perhatian eBay :)
#
Plasa[dot]com adalah official partner eBay di Indonesia, mereka mengadakan talkshow/seminar untuk memperkenalkan eBay pada pebisnis Indonesia yg sudah eksis, dimana eBay adalah salah satu marketing channel untuk produk2 mereka
#
Tujuan eBay adalah mengajak para pebisnis lokal kita untuk go global bersama eBay. Sayangnya ajakan ini lebih ditujukan kepada pebisnis yg punya produk fisik untuk dijual, bukan produk2 custom yang selama ini dijual mayoritas pedagang eBay….
#
eBay akan memberikan pelatihan/pendampingan kepada pebisnis2 tersebut untuk setup bisnis di eBay dan membuka toko di eBay, bukan akun individual sellers…
#
Dengan begitu, maka akan terjadi kedekatan secara fisik dan komunikasi antara staff eBay dan pedagang eBay, sehingga terjadi suasana kondusif untuk safety selling.
#
Bagi saya sendiri, langkah eBay ini cukup baik untuk mendorong para seller untuk berbisnis eBay untuk kepentingan jangka panjang, menjual produk2 fisik, penuhi segala policy yang ada.
#
Cuma permasalahan terbesar kita belum terpecahkan, yaitu masalah shipping. Jadinya kita hanya bisa bermain di kategori2 produk yang ringan2 saja. Makanya eBay hanya merekomendasikan warga Indonesia jualan di 4 kategori saja: jewelarry …, clothing …, cell phones…, dan text book ….
#
Nah buat teman2, sy sarankan untuk mencoba mengkombinasikan jualan produk lokal juga di kategori2 tersebut. Coba buka toko, nanti jika memungkinkan meminta eBay untuk menjadi trading assitant. dgn begitu bisnis eBay akan lebih tahan lama dan berkelanjutan …
#
Tentu dilakukan secara bertahap, gunakan strategi jualan masing-masing. agar cashflow dan penghasilan tetap terjaga :) ….
#
Jika ternyata produk lokal kita lumayan banyak peminat, mungkin kita bisa melobi PT Pos Indonesia atau Departemen Perdagangan untuk mensubsidi biaya pengiriman.
#
“Jika kita dikenali dengan baik oleh eBay, selling limit tidak akan terjadi.” Itu salah satu pernyataan salah seorang manager eBay Spore yg sempet saya ajak ngomong.
#
Konsekuensinya, dengan semakin dekatnya eBay ke kita, besar kemungkinan pengawasan akan semakin ketat. So buat para Seller semoga lebih berhati-hati.
#
Sori kalo ada yg kurang berkenan, ini sekedar sharing aja dari apa yg saya dapat. Good luck guys…!
#
BTW acara eBay + Plasa ini tidak terbuka untuk umum, jadi sori sy gak ngabarin sebelumnya. Yg hadir hanya yg diundang saja. Saran saya ikutlah komunitas bisnis, jadi banyak info menarik :)
#
Trading/selling assistant ini sifatnya gratis: syaratnya kita harus serius ingin berbisnis di eBay, taati semua policy, dsb. Yang jadi assistant adalah Seller yang udah senior :) …. menurut saya sih gak terlalu urgent keberadaannya, karena mayoritas kita sudah terbiasa berjualan.

Written by budiwiyono

November 14, 2010 at 9:07 am

Posted in Uncategorized

5 Tips to Build Your Startup Business

with one comment

Sayang rasanya melewatkan artikel sharing experience dari Andi S. Boediman di bawah ini.

Silakan simak berikut ini dan monggo dikomentari :)

===

(@startuplokal) is a regular meetup event created by Natali Ardianto (@nataliardianto), Sanny Gaddafi, (@sagad) Nuniek Tirta Sari (@nuniek) and Aulia Halimatussadiah (@salsabeela).

Invited to sit as a panel in its 7th installment of Startup Lokal, I was put together with Chandra Marsono (@chandramarsono) from Oxford English School and moderated by Sumartok (@sumartok). Turn out that this is a vibrant night attended by many new startups and future technopreneurs which learn from each other and build their network.

This is some of my key points during the nights:

* Tips 1. Choose to be a celebrity or making money, pick one!
You might ended having both if you concentrate on one, but when you try to do both all at once, you will running out of resources.

* Tips 2. Make money from day one
Too many startup says that they use advertising as their revenue model. This is the sign that the site will fail since advertising can only be monetized at later stages where all the traffic has already built up. Find other short-term business model such as services or product selling and use advertising as other income. Kapanlagi.com did this by having mobile content company as a revenue generator to finance their website early stages.

* Tips 3. Serving a bigger client is a simpler & more profitable in a short-term business model than advertising-based business model.
Get into media industry by having advertising as a business model is a tough market. Getting into retail market too soon will drain your financial resources. Getting into B to B market is simpler since you serve a bigger clients needs. But keep in mind that B to B don’t build your brand, so keep your retail business to build your brand. Bhinneka.com did this by providing procurement services as well as retail market.

* Tips 4. Brand is more important than brain.
Partner with a bigger company and brand, tap in their customer database and offer value to this partner. Your own knowledge and effort to build your own market will usually take a lot more time than riding the access to market by a big partner or brand. Kaskus takes 12 years to build their own loyal community. Koprol reach quarter the users of Kaskus in 6 months after acquired by Yahoo. And you don’t have to be acquired to partner with other brand. The key is providing value proposition to this partner.

* Tips 5. Value that you can offer: product, access to market, media and attraction factor
Define your strength and look for partner that complement the other value. If you have a killer product, then find the right partner to access the market. If you have the access to market, look for the right product or media that benefit your customer, if you have the media, find something that will create a wow factor.

Hopefully what I share tonight will inspire future technopreneurs!

Original Article by Andi S. Boediman


Written by budiwiyono

November 9, 2010 at 11:00 pm

Coaching & Mentoring Tips by @Gmontadaro

with one comment

Banyak yang masih kagok menjadi Coach. Padahal menjadi coach adalah mestinya keseharian kita.

Suami Coach Istri. Orangtua coach anak. Istri Coach Asisten Rumah Tangga, Guru Coach Murid, Pimpinan Coach Staff, dan lain-lain.

Berikut ini Kultwit @Gmontadaro yang sangat menarik dan berguna :)

# 1. Many managers see #coaching as seperate task, side dish on the menu of business responsibility, extra job in busy day cc @indiraabidin
# 2. Only few realize #coaching is important, not just to develop a learning organization, but also to shape our leadership skill as manager
# 3. #Coaching can improve business result, lead to greater leadership satisfaction, develop mind and heart share of subordinates and staffs
# 4. Many managers think #coaching is the same as managing, but they are very different 8:42 PM Nov 8th via Twitter for iPad
# 5. As functional manager, it’s our job to direct our staffs on daily work, check their report / sales target. that’s managing, not #coaching
# 6. #Coaching is interaction aimed at helping our staffs to improve their performance & move toward greater success
# 7. Everyone needs to have coach, someone who can help us reshape our skills, assist us to improve to next level #coaching
# 8. There are several skills that can be learned to be a good coach #coaching 8:52 PM Nov 8th via Twitter for iPad
# 9. Coach must be supporting to sustain and enhance relationship, the person also must have be willing to give advice and encourage people
# 10. Coach must be a good initiator, includes initiate contact, start discussion, and giving feedback #coaching
# 11. Coach must be honest, honest in giving advice or even point blank feedback whether it is positive /negative for sake of improvement
# 12. Strong commitment, coaching require investment on time, took lots commitment to ensure sustain #coaching process until seeing result
# 13. Coach must be a good listener, #coaching is 80/20, 80% listening and 20% talking. Listening also requires skill 2 read body language
# 14. Coach must be a good observer, lots of unspoken words, still can be read through body gestures or “reading between lines” #coaching
# 15. Coach must have no vested interest, our single aim is to ensure the person improve to next level , nothing should clouds our judgement
# 16. Coach must be good in follow up, monitoring progress of staff we coached. Took lots of time & effort, but worth the investment #coaching
# 17. Success breeds success, we can only be considered as successful manager if we’re able to make our staffs successful
# 18. Our effectiveness as manager is dependent on how well we coach our subordinates , it have do be done consistently & frequently #coaching
# 19. When we see #coaching as way to integrate technical, business & build up relationship aspect with staff, “managing” is no longer exist
# 20. Having a #coaching culture will ensure sustainabilty of Company, creating a powerful “learning” organization
# 21. Well..that’s my twit on #coaching, semoga berguna untuk yg baca :)
# Yup agree with @riginoto: Coach is competence mgmt, mentor is life mgmnt.. @sipietz: how is #coaching different with mentoring?””
# Good one, komplitnya “Tell – show – reshape – monitor “@mrtampi: my #coaching principle = tell them and SHOW them.”
# Thanks :) “@sipietz: tweetnya Gmontadaro ttg #coaching bermanfaat bgt, baru ikut training 2 mgg lalu & skrg sdg practice.. thx bro..”
# Mumpung belum ngantuk, mari disambung obrolan ttg #coaching dan apa bedanya ama #mentoring *ajak ngobrol jg @revolutia @CiscaDV @carmel_888
# 22. #Coaching is different with #mentoring
# 23. #Coaching focus on i proving one performance while #mentoring focus on individual character building 9:33 PM Nov 8th via Twitter for iPad
# 24. #Coaching has specific agenda ex : coaching someone from accountant to be future CFO while #mentoring has no specific agenda
# 25. Normally company will assign someone to do #coaching for selected staff while #mentoring is you select someone to be your mentor
# 26. #Coaching is normally done by someone higher position to lower position while chosing someone 4 #mentoring is based on perceive value
# 27. #Coaching is task related, you’re coached to enable u to perform on certain job while #mentoring is lifetime with indefinete time frame
# 28. #Mentoring is like a sounding board, mentor can give advice but partner is free to pick or refuse, meaning there’s no progress assesment
# 29. #Mentoring is power-free, two way mutually beneficial relationship. Mentor act as facilitator, allow partner to discover his own path
# 30 #Mentor doesn’t provide solution, mentor will ask question to surface ur own thinking and let u find ur own solution #mentoring
# 31. #Mentor only provide advice, shares knowledge & experiences, teaches using low pressure – self discovery approach…
# 32. Both #Coach & #Mentor are important, coach is important to improve ur skill for career advancement, mentor guides you throughout life
# 33. That’s about #Coaching and #Mentoring :)

Silakan bagi yang nambahin dan comment :)

Written by budiwiyono

November 9, 2010 at 10:13 pm

Posted in Get Inspired

Tagged with ,

Altimeter Report: Social Commerce, How Brands Are Generating Revenue in Social Media, by @lcecere

with 2 comments

Definisi dari eCommerce sangatlah luas. Bagi saya definisi  eCommerce model lama yang kurang berhasil adopsinya di Indonesia menjadi barrier adopsi eCommerce selanjutnya. Mestinya para pemain fokusnya adalah lebih jeli dalam memlilih model yang “cocok” untuk budaya Indonesia.

Tentu kita semua pernah mendengar Forum Jual Beli Kaskus (FJB). FJB Kaskus adalah bukti suksesnya eCommerce dengan model Social Commerce di Indonesia.

Dulunya sich saya yakin, Kaskus tidak membuat FJB by Design secara ter-struktur. Kemungkinan besar secara kebetulan dilahirkan setelah Forum membernya membesar dan ternyata kemudian sukses besar. Ternyata orang Indonesia cocok banget dengan model Social Commerce.

Lantas, bagaimana sich CARA men-generate revenue dengan model Social Commerce? Adakah guidance yang komprehensif ?

“Move quickly, make decisions based on the voice of the customer, and fail forward, taking your insights onto the next chapter of the Rise of Social Commerce.” (Manish Mehta, social pioneer at Dell)

Ringkasnya, stepping adopsi adalah sbb:

Silakan simak secara lengkap guidance dari Altimeter yang sangat berdaging di bawah ini.

Monggo silakan dikomentari untuk diskusi.

Written by budiwiyono

November 6, 2010 at 8:14 am

Menilai tingkat pertumbuhan aset dengan Rumus 72

with 5 comments

Jika kita memiliki aset, katakanlah aset berupa Ruko, tentu kita ingin tahu apakah Ruko anda merupakan aset yang Nilai nya bertumbuh dengan semestinya.

Tentu banyak yang bertanya-tanya, aset kita ini bertumbuh apa menyusut yah?

Jika kita punya dana kemudian dibelikan mobil kedua baru yang sering nganggur di garasi, umunya banyak dari kita yang bisa menilai/menebak dengan mudah bahwa mobil tsb nilainya semakin lama akan makin menyusut. Sangat mudah, semisal mobil kita beli dengan harga Rp.250 juta, tahun depan harga mobil meyusut 15% (semisal), tahun depannya lagi semisal menyusut lagi 15% lagi dst… Sangat kasat mata.

Lain halnya jika kita membeli properti Ruko diatas, semua juga tahu bahwa setiap tahun harganya naik. Akan tetapi apa patokan performansi pertumbuhan harga aset Ruko tsb? Lebih bagus mana jika dibandingkan dengan disimpan sbg Deposito di Bank misalnya?

Silakan gunakan Rumus 72 sbb, rumus ini untuk mengetahui kapan aset anda NAIK menjadi 2 KALI lipatnya. Rumus ini dari Bradley J. Sugars.

72 : suku bunga rata-rata = n

n adalah jumlah tahun properti anda NAIK menjadi dua kali lipatnya.

Sebagai contoh:

  • Harga Ruko = Rp. 500 juta.
  • Rata-rata Suku bunga = 12%
  • Nilai Ruko menjadi double = 72:12 = 6

Dengan tingkat suku bunga 12% maka patokan Nilai Ruko menjadi dua kalinya, yaitu menjadi Rp. 1 Milyar PADA tahun ke 6 setelah pembelian.

Angka 6 tahun tsb bisa menjadi patokan. Jika kita membeli Ruko bekas ternyata histori harganya naik double dalam waktu kurang dari 6 tahun, maka performansi kenaikan nilai aset tsb lebih bagus karena melebihi patokan 6 tahun.

Atau jika beli Ruko baru, silakan di evaluasi, jika dalam 6 tahun bisa melebihi dua kali saat beli ( > Rp. 1 Milyar) maka kenaikan asetnya bagus, karena melebihi patokan.

Bandingkan juga dengan jika disimpan sbg Deposito, apakah uang kita menjadi 2 kalinya setelah 6 tahun?

Lebih-lebih lagi jika memperhitungkan hasil sewa Ruko juga ;)

Semoga berguna. Monggo silakan dikomentari.

Written by budiwiyono

October 28, 2010 at 9:44 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 295 other followers