Posts Tagged ‘Indonesia’
About Bali and Java 1932, documentary home movies by Charlie Chaplin
Courtesy by favenchi,
Charlie Chaplin visited Java and Bali with his half brother Sidney in 1932. Together they took 16 mm black and white movie footage.
Charlie Chaplin travelled to “Batavia” (now Jakarta) on a mail steamer from Singapore……with his half brother Sydney they travelled to Bandung where they refreshed at the Grand Hotel Preanger….they went on to Garut, Borobudur Temple, Surabaya and then to Bali. Mr Chaplin was shown aroun Bali by artist and poet Wouter Spies (the young blonde headed man in the footage)….for 25 usd Charlie Chaplin hired out a local village to dance and perform whilst on Bali. Charlie Chaplin commented on the bare breasted ladies of Bali. Full details are in Mr Chaplin’s writings “A comedian sees the world”…..
Indonesia as Top 10 World Largest Economies at 2020
Senangnya melihat Outlook masa depan Indonesia
Kilas balik sedikit:
“…. But the biggest praise will be for Indonesia: it will be the emerging-market star of 2011, with analysts lauding its innovative companies, growing middle class and relative political stability.” (Economist, 22 November 2010)
Roubini bilang:
“Goodby China, Hello Indonesia” !!
WOW!!!
Sebagai Ilustrasi:
Anak saya termasuk dalam kelompok umur yang jumlah nya paling besar di Indonesia (lihat gb. piramida penduduk, kelompok 5-9 thn).
Mereka akan produktif di kisaran tahun 2020-2030.
Bayangkan, saat itu Indonesia Dependency Rationya reversal ke arah super produktif. Kelompok umur yang paling besar di Indonesia, yang saat ini belum produktif, tahun 2025 mendadak jadi produktif.
Akan ada ledakan produktifitas kolektif lanjutan dari ledakan kelas middle yg sudah mulai terjadi saat ini
Tidak mengherankan jika tahun 2020 Indonesia mulai masuk sbg Top 10 Largest Economies. Tahun 2030 Indonesia menjadi Top 6 Largest Economies..
So bagusnya jadi apa anak kita pada saat Indonesia sbg Top 6 Largest Economies di tahun 2030?
Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (2)
Lanjutan artikel sebelumnya : Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (1)
Budi Wiyono Wow! Akan makin banyak peluang
Ayo para Seniman Produk & Entrepreneur, siap-siap lah menampung disposable income target pasar![]()
Yuswo Hady Berbisnis di social media murah meriah, modalnya cuma laptop, koneksi, plus hosting setahun sejuta perak, tapi bisa create value (money) tak terbatas mas. “Pabriknya” ada di otak, modalnya cuma dua: THINKING dan CREATIVITY. Pasti bakal boom… fresh graduate bakal makin males kerja kantoran, enakan kerja di rumah jadi SOCIAL MEDIA ENTREPRENEUR… viva social media
==
Consumer 3000 (2): Some Trends
Minggu lalu saya telah menguraikan secara umum mengenai fenomena tembusnya GDP/kapita kita ke ambang batas psikologis US$3000 pada tahun depan (2011) dan bagaimana implikasinya kepada perubahan perilaku konsumen. Saya menyebut di situ bahwa dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi perubahan cepat konsumen Indonesia menuju terbentuknya Consumer 3000 yang didorong oleh dua perubahan fundamental, yaitu naiknya buying power dan meningkatnya pendidikan yang menjadikan mereka lebih knowledgable dan civilized. Berikut ini adalah beberapa tren ke depan yang saya lihat akibat munculnya Consumer 3000.
Democratize of Consumption
Naiknya daya beli Consumer 3000 akan menjadikan produk-produk yang dulunya hanya mampu dibeli kalangan atas kini sudah mampu dibeli oleh orang kebanyakan. Fenomena inilah yang saya sebut “demokratisasi konsumsi” (“democratize consumption”). Kebanyakan konsumen kita kini sudah mampu membeli produk-produk seperti lemari es, TV flat, telepon seluler, mobil seperti Avanza, Xenia atau Jazz (itu sebabnya macetnya Jakarta nggak ketulungan), paket-paket liburan (bahkan kini kita sudah biasa berlibur ke Universal Studio Singapura atau ke Pucket Thailand, tak hanya sekedar ke Bali), kartu kredit dan asuransi, tiket pesawat (itu sebabnya Bandara Soekarno-Hatta lebih krodit dari stasiun Gambir).
The Rise of “Mass Luxury”
Banyak barang-barang yang dulunya merupakan barang mewah, tanpa terasa kini downgrade menjadi “tidak mewah-mewah amat”. Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah “mass luxury”. Tanpa kita sadari, kini mobil Mercy-BMW sudah “tidak lagi” menjadi mobil mewah. Kenapa? Ya, karena kita melihatnya berseliweran tiap hari di jalan-jalan, termasuk melenggang di jalan-jalan kampung yang becek. Dan yang penting, begitu banyak kelompok masyarakat kita (termasuk kelompok yang bukan berasal dari kalangan atas) yang memiliki mobil tersebut. Mobil Alphard adalah “mass luxury”; Kartu kredit gold dan platinum adalah “mass luxury”; apartemen di Segitiga Emas adalah “mass luxury”. Barang-barang tersebut mewah, tapi semakin terjangkau oleh kantong kita.
Smart Consumer: “Hyper Value-Oriented”
Meningkatnya pendidikan membentuk Consumer 3000 menjadi smart consumers yang selalu kritis menimbang-nimbang produk dan layanan yang mereka beli. Berbekal informasi yang kaya (yang di-search di Google) secara cerdas mereka membandingkan benefit produk yang mereka beli dengan harga yang harus dibayar. Tak heran jika boom midnight sale terjadi di mal-mal di berbagai kota, yang diserbu smart consumers ini. Tak heran juga jika value-for-money brand seperti Nexian mengalami boom luar biasa. Ya, karena konsumen cerdas ini lebih memilih Nexian yang memiliki functionality yang sama dengan Blackberry, tapi dengan harga yang jauh lebih murah.
More Competitive, More Mobile
Ketika populasi Consumer 3000 sudah cukup besar, maka makin banyak kelompok masyarakat yang memiliki pekerjaan bagus dengan gaji yang cukup memadai. Dengan buying power yang cukup dan basic needs yang sudah terlampaui, maka kebutuhan untuk mencapai kesuksesan di karir dan pekerjaan menjadi urgensi yang kian penting. Mereka pun menjadi semakin kompetitif dan ingin selalu produktif. Mereka menjadi semakin mobile dengan semakin banyaknya urusan. Pemilik merek cekatan merespons tren ini, misalnya, membuat kemasan yang “one-time consumed” seperti yang dilakukan oleh Coca Cola dengan kemasan kecil (genggam). Begitu pula Pulpy Orange (kini diikuti Buavita) yang jeli meluncurkan produk kemasan kecil sekali minum yang memang pas untuk orang yang mobile dan sibuk.
We Need a Place to Talk
Ketika treshold $3000 sudah terlewati maka basic needs (food, shelter, sex, sleep) pun sudah terlewati. Yang muncul kemudian adalah kebutuhan yang lebih advance seperti status sosial, aktualisasi, self-esteem, narsis, bersosialisasi dan berkomunitas, dan sebagainya. Karena pergeseran ini, tidak heran jika Starbuck dan J.Co sukses luar biasa. Tak heran juga KFC dan McDonalds berubah fungsi menjadi kafe tempat nongkrong. Konsep ritel dan kantin 24 jam (dengan koneksi WiFi-nya tentu saja) seperti 7-Eleven atau McCafe juga dikerumuni anak nongkrong sampai pagi. Saat ini juga muncul kebiasaan baru, dimana anak-anak muda berjejaring sosial di Facebook atau Twitter, lalu “kopdar” (kopi darat)-nya di 7-Eleven atau McCafe.
Civilized Consumers
Beranjak naiknya pendidikan Consumer 3000 juga menjadikan mereka lebih civilized. Karena itu, saya meramalkan dalam kurun waktu yang tak lama peminat software bajakan dan VCD-DVD bajakan akan berkurang (thanks God, gedung-gedung bioskop bakal tambah ramai). Sinetron yang absurd dan membonsai otak pemirsa akan semakin sepi peminat. Begitu juga film-film yang judulnya menggunakan atribut-atribut menyeramkan seperti “Kuntilanak”, “Pocong”, atau “Sundel Bolong” akan menyurut; sebaliknya film hebat semacam “Laskar Pelangi” atau “Ayat-Ayat Cinta” kian menjadi mainstream.
Tecnology Savvy: Gadget Freak!!!
Ketika basic needs sudah terlampaui, maka kebutuhan gadget dan produk-produk konsumsi berteknologi seperti ponsel, kamera, digital music player, hingga komputer tablet akan mendominasi. Tak heran jika iPad dan Galaxy Tab laris bak kacang goreng. Gampang diprediksi, antrian mengular seperti di Plasa Senayan saat Galaxy Tab launching dua bulan lalu bakal berulang saat Blackberry Playbook, Dell Streak, atau HP Slate nanti meluncur di pasar. Begitupun App Store dan Android Market bakal menjadi tempat favorit untuk mengunduh apps. Consumer 3000 tahu ditel mengenai gadget-gadget terbaru di dunia karena mereka begitu gampang mendapatkan informasinya melalui blog, Facebook, Twitter, dan sebagainya.
Modern Retail Explosion
Tergusurnya pasar tradisional oleh modern retail 5-10 tahun lalu menjadi isu sosial-politis yang sensitif. Namun kini, isu tersebut semakin melunak. Kenapa? Karena kita semakin “terbiasa” dengan layanan lebih baik yang ditawarkan oleh modern retail seperti Indomaret atau Alfamart. Kombinasi antara konsumen yang knowledgable dan memiliki buying power tinggi membentuk Consumer 3000 menjadi konsumen yang high-demanding. Mereka menuntut value tinggi (convenience, bersih, ber-AC, dan dengan harga kompetitif) yang bisa dipenuhi oleh modern retail. Karena kenyataan ini, ledakan modern retail bakal terjadi untuk berbagai retail category mulai dari barang konsumsi sehari-hari (Indomaret/Alfamart), kelontong dan perkakas (ACE Hardware), apotik (Apotik 24), elektronik (Electronic City), bahan bangunan (Mitra-10), spare-part otomotif (Shop & Drive), dan lain-lain.
“Broadband Hunger”: Social Media Boom
Consumer 3000 juga adalah jenis konsumen yang sangat lapar koneksi broadband. Mereka berjejaring sosial di Facebook dan Twitter, mengoleksi beragam gambar di Flickr, dan men-download/upload video di YouTube, dan menampung presentasi di Slideshare. Tak hanya itu, mereka adalah kelompok konsumen yang paling siap melakukan e-commerce untuk berbagai produk seperti gadget, buku, software, beragam apps (di App Store atau Android Market). Karena itu beberapa tahun ke depan, kisah sukses e-commerce seperti Kaskus, Bhineka.com, atau TokoBagus.com bakal disusul ribuan kasus sukses berikutnya.
Era Satu Miliar Wirausaha
McKinsey&Co. secara umum mendefinisikan kelas menengah (middle class) adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai 1/3 dari keseluruhan pendapatan. Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Nantinya akan banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di bisnis franchise. Pilihan lain mereka terjun secara full-time menjadi social media entrepreneur. Kenapa social media entreppreneur? Karena berinvestasi untuk menjadi social media entrepreneur menuntut investasi yang relatif rendah tapi memilki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business. Karena itu saya memprediksi franchise entrepreneur dan social media entrepreneur bakal boom dalam beberapa tahun ke depan.
Welcome Consumer 3000! ***
Indonesia pada tahun 2050 AKAN menjadi 7 negara paling besar di dunia
Breaking News!
Goldman Sachs, sebuah global investment banking and securities firm, meramalkan Indonesia pada tahun 2050 AKAN menjadi 7 negara paling besar di dunia (urutan GDP) antara USA, CHINA, BRAZIL, RUSIA, etc termasuk Indonesia.
Ini berarti 40 tahun ke depan Indonesia Insya Allah dari negara yang tidak punya ranking ekonomi menjelma menjadi negara terbesar urutan ke 7.
Sofjan Wanandi mengingatkan, hal tersebut baru bisa tercapai jika Indonesia bersih dan bebas dari segala bentuk Korupsi.
Semangat!
Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia
Orang Singapura tsb saja tahu yach…
Kenapa banyak orang Indonesia sendiri yang gak sadar ?
===
PENILAIAN ORG SINGAPURA. TERHADAP INDONESIA
by Andy Rachmat
Suatu pagi, kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu & english, beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda. Beliau berkata, “Ur country is so rich!”
Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu… “Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia,” lanjutnya. “Everything can be found here in Indonesia, U don’t need the world.”
“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras..
Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg peluang..
Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!
ATLANTIS the lost continent finally found at INDONESIA
ATLANTIS did Exist.
Prof. Arysio Nunes dos Santos:
ATLANTIS the lost continent finally found at INDONESIA.
http://www.atlan.org/
Siklus 700 tahun & Trend Kejayaan Indonesia
Ada tulisan menarik dari rekan Ippho Santosa.
Kalo kita terbiasa mencari & mengamati suatu Trend, terlihat ada trend kejayaan Indonesia yang puncaknya berulang dengan siklus setiap 700 tahunan.
Apakah trend tersebut akan berlanjut?
“History repeat itself”?
——————–
Subject: Rahasia 700 Tahun !!!
Ada satu fenomena menarik:
— Pada 700 tahun yang pertama, tepatnya pada abad ke-7 negeri ini pernah jaya. Kita mengenalnya sebagai Sriwijaya.
— Dan 700 tahun pun berlalu. Pada 700 tahun yang kedua, tepatnya pada abad ke-14, negeri ini kembali jaya. Kita mengenalnya sebagai Majapahit.
— Dan 700 tahun pun berlalu. Sekarang, pada 700 tahun yang ketiga, tepatnya pada abad ke-21, semestinya negeri ini kembali jaya. Kita terlanjur mengenalnya sebagai Indonesia.
Sungguh, siklus jaya 700 tahun ini amat kami yakini. Itu pula yang spiritualis Ary Ginanjar yakini. Bahkan motivator Malaysia, Billi Lim, terang-terangan menegaskan kepada kami bahwa bintang Asia berikutnya adalah Indonesia. Bukan China! Bukan India! Bukan pula Malaysia –negerinya Billi Lim! Salah satu alasannya, krisis ekonomi yang tiada henti dan bencana alam yang silih berganti telah menempa stamina kita. Bagaimana menurut Anda?
Semangat Ramadhan! Semangat kemerdekaan!












