Asyiknya Menganyam Laba dari Export Rotan lewat Internet tanpa ikut Pameran

Mengikuti kisah Tonton Taufik membangun bisnis rotan

Pada usia 26 tahun, Tonton Taufik menjadi calo mebel rotan. Meski begitu, keinginannya untuk jadi pengusaha tak pernah pupus. Akhirnya, keinginan Tonton itu terwujud melalui Rattanland Furniture.

Rovina Intan

Kebanyakan orang ingin menjadi pengusaha ketimbang bekerja sebagai karyawan buat orang lain. Maklum saja, banyak pengusaha yang sukses di bidang mereka. Alhasil, gelimang harta pun gampang diraih. Siapa tidak ingin kehidupan seperti itu? Nah, satu dari sedikit orang yang mengguratkan kesuksesan usaha ini adalah Tonton taufik.
Kerja keras Tonton, yang bisa dibilang relatif singkat ini, sudah membuahkan hasil. Kini Tonton memiliki tiga usaha berbeda. Ada Rattanland, perusahaan membikin mebel rotan. Selain itu, ia punya perusahaan transportasi dengan nama Budi Surya dan satu pompa bensin umum di Cirebon.
Kalau mau dihitung, pendapatan Tonton saban bulan terbilang luar biasa. Dari Rattanland saja, ia bisa mencatat omzet Rp 900 juta-an sebulan. Setiap tahun, penghasilan Rattanland pun mengalami kenaikan hingga 50 %. Belum lagi dua perusahaan lain milik lelaki berumur 34 tahun ini.
Hanya, keberhasilan bisnis Tonton memang tidak terjadi dalam waktu semalam. Semua itu dimulai pada tahun 1999. Tonton, yang kala itu berusia 26 tahun, mengikuti seminar mengenai segmentasi pasar yang diadakan oleh Rhenald Kasali. Seminar ini, menurut Tonton, ternyata mendatangkan inspirasi bagi dirinya. ”saya mendapatkan ilham untuk berdagang rotan,” ujar Tonton.
Tonton yang saat itu haus akan pengetahuan tentang trik penjualan dan pemasaran rotan pun memutuskan untuk belajar. Selang beberapa bulan, bapak dua orang anak ini mengambil kursus di Pusat Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI). ”Di situ saya belajat tentang kontak bisnis melalui internet,” paparnya.
Merasa belum cukup, Tonton pun melanjutkan pelajaran tentang cara pembuatan website di Bandung. Baginya, belajar terus-menerus adalah dasar penting untuk membangun bisnis.

Sempat putus asa karena kena klaim besar

Inilah awal perjuangan usaha Tonton. Pada bulan Oktober 1999, ia mendirikan Rattanland Furniture. Modal yang dikeluarkannya untuk memulai usaha ini adalah satu buah komputer lengkap dengan fasilitas Internet. ”Modal awal saya kira-kira Rp 5 juta,” kata Tonton.
Tonton memanfaatkan modalnya untuk membuat website sendiri. Selama tiga bulan dia berkutat dengan komputer dan tidak keluar rumah atau bergaul dengan teman seusianya. Alhasil, ibu Tonton, Erna Ma’soem, kerap menegru dan memarahinya. Sang ayah, Ruchimat Samsudi, juga meragukan keberhasilan bisnis anaknya. ”Mereka sering bilang: masa cari uang lewat komputer sih?” ujar Tonton, sembari menirukan perkataan kedua orangtuanya.
Namun, keraguan orangtuanya itu terpatahkan. Pesanan dari luar negeri akhirnya mampir ke website Tonton:

http://www.rattanland.com/

Hanya, Tonton yang saat itu belum mengerti soal dokumen ekspor memilih untuk menjadi calo mebel rotan. Selama setahun, Tonton menjalankan pekerjaan sebagai calo, tapi ia tetap belajar mengenai produksi dan ekspor rotan. ”Saya belajar dari perusahaan eksportir rotan rekanan saya,” tutur suami Hilda D. Syafei ini sambil tertawa.
Nah, pada tahun 2000, Tonton memberanikan diri untuk terjun langsung sebagai eksportir. Tapi, langkah nekatnya tidak berjalan mulus.
Pertama kali mengirim produk ke luar negeri, ternyata konsumennya langsung mengajukan klaim. Pembeli Tonton itu menganggap kualitas mebel rotan buatannya buruk. Jadi, Tonton wajib mengganti setiap produk yang rusak. Kalim ini merupakan pukulan  besar bagi Tonton. Mau tak mau, ia harus berhutang guna menutupi penggantian itu. ”Sedih sekali, rasanya ingin mundur dari bisnis ini,” kenang Tonton.
Walaupun sempat putus asa, Tonton tetap berusaha. Ia yakin bahwa masa depan cerah akan menanti bisnisnya. ”Jika saya tetap tekun berusaha, saya pasti mendapatkan berkah,” tandas Tonton. Doa Tonton pun terjawab. Pesanan sebanyak empat kontainer menghampiri Rattandland. Berkat pesanan itu, seluruh utang dan kerugian yang sebelumnya diderita Tonton bisa terbayar lunas. ”Wah, saya senang sekali. Semangat saya pun bertambah,” kata Tonton.
Tapi, Tonton masih mendapat pengalaman buruk lain. Ia pernah ditipu pembelinya dari Arab Saudi. Pasalnya, ”Waktu itu saya belum paham soal posisi tawar dalam masalah pembayaran,” ungkap pria yang gemar jogging ini.
Setelah kejadian itu, Tonton pun mewajibkan para konsumennya untuk melakukan pembayaran uang muka terlebih dahulu. ”Kalau ada uang muka, produk baru dikerjakan,” ucap lulusan Fakultas Teknik Universitas Parahyangan ini.
Biar sudah sukses, Tonton tak berhenti bermimpi. Obsesi Tonton yang terpendam adalah menaikkan jumlah kontainer untuk ekspor. ”Harapan saya, di tahun 2008, target ekspor bisa mencapai 30 kontainer per bulan,” katanya. Untuk mencapai target itu, Tonton tak segan-segan terus belajar mengenai rotan. Ia juga selalu mencoba hal baru, misalnya saja mengombinasikan rotan dengan pelepah pisang, rumput laut, abak dan enceng gondok untuk mebelnya. Tak lupa,  menurut Tonton, ia harus mengikuti perkembangan desain dam kebutuhan pasar yang ada.
Selain itu, Tonton memberikan garansi. ”Berapa pun unit yang rusak, pasti saya ganti dan tidak dipungut biaya apa pun,” tandasnya dengan tegas.

Bisnis di Jari Tangan Tonton

Biarpun tidak punya gerai di luar negeri, tapi produk rotan Rattanland Furniture cukup kondang di benak penggemar mebel rotan mancanegara. Maklum saja, Tonton Taufik, pemilik Rattanland Furniture, memang mengandalkan pemasaran melalui internet. Bahkan, Tonton tetap setia mengandalkan gerai di dunia maya selama delapan tahun belakangan.
Pada tahun 1999, dengan bermodalkan jari tangan dan satu buah komoputer, Tonton mulai menjajakan mebel di dunia maya dengan kemampuannya sendiri membikin situs internet. ”Saya belum sanggup mem bayar pegawai. Jadi, saya kerjakan sendiri saja,” kenang Tonton.
Tidak tanggung-tanggung, Tonton juga langsung mendaftarkan website miliknya ke jaringan perdagangan dunia dan pencarian on-line (search engine). ”Kalau bekerja, kita harus maksimal. Tidak boleh setengah-setengah,” tandas bapak dua anak ini bangga. Maka, jangan heran jika Rattanland Furniture cukup terkenal di dunia.
Sekarang, ayah dari Fattan Habibi Rahman dan Keisha Iradati Rahmania ini tak pelu repot mencari pembeli. Pasalnya, pembeli datang sendiri dan pesanan demi pesanan pun mengalir melalui situsnya. Alhasil, Tonton bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kedua buah hatinya. ”Ini kan bisa dilakukan di rumah, tidak perlu datang ke kantor,” imbuh Tonton. Jangan heran jika sang istri mendukung pekerjaan Tonton.

Source: http://www.stmik-mdp.net/artikel.php?id=78

Advertisements

11 thoughts on “Asyiknya Menganyam Laba dari Export Rotan lewat Internet tanpa ikut Pameran

  1. maaf mas budiwiyono, makasih atas infonya. Boleh minta alamat web dari pak Tonton Taufik? makasih ya.
    Moga kita semua sukses juga, sehingga tidak ada kemiskinan di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s