Get Ready! Dunia Export menanti anda

Dear Action Member,

Berikut disampaikan Materi TDA Ym Business Conference edisi November 2008.
Yang ingin mengetahui lebih specific dan bertanya mengenai proses export, segera daftarkan diri Anda mengikuti conference kali ini:

Materi TDA Ym Business Conference
Get Ready! Dunia Export menanti anda …
(By. Eka)

Dunia maya semakin memberi kemudahan untuk bertemu jejaring internatinal dengan 2 kondisi tanpa batas jarak dan waktu, terlebih lagi dengan akses internet yang semakin mudah dan murah. Dunia bergerak bebas, keterbukaan pasar dunia menjanjikan *”opportunity”* / kesempatan.
Mungkin ada dari anda yang bertanya, kenapa online bukan offline ?
Saya sudah mencoba untuk masuk kedalam bisnis off line yaitu bisnis yang membutuhkan ruang serta pasar yang bisa kita jangkau tanpa mengunakan Internet. Ada beberapa keterbatas yang saya rasakan yaitu tingginya modal dan biaya yang harus dikeluarkan, juga keterbatasan pasar yg ada.
Ada beberapa point-point penting yang harus digarisbawahi sebelum memasuki dunia export , dengan singkat ulasannya sebagai berikut :

Pentingnya Legalitas Usaha
Lengkapi izin usaha dengan izin ekspor. Dan izin-izin lain yang berkenaan dengan basic bisnis kita (misal: ETPIK untuk komoditi bermaterial hasil hutan kayu – seperti wooden furniture, dll ). Legalitas usaha juga akan berpengaruh untuk marketing usaha kita yang akan dibahas di point 3.

Product
Tentukan produk apa yang akan kita tawarkan serta mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh pasar international.

Marketing
Sekarang begitu banyak direktori-direktori perdagangan international yang menawarkan site untuk memasarkan product kita secara online. Seperti contoh Alibaba.com.

Menjalani bisnis virtual tentu “kepercayaan/trust ” menjadi kunci. Sebagai contoh, Alibaba menawarkan sistem keanggotaan dengan tag “Trust pass” dengan melewati proses verifikasi / survey oleh lembaga verifikasi international. Disinilah pentingnya legalitas usaha kita, karena verifikasi akan dilakukan properly. Setelah lolos, kita akan di*announce*sebagai member yang layak dipercaya, sehingga hal ini menguntungkan kita karena buyer tidak akan segan melakukan transaksi bisnis dengan kita.
Direktori Perdagangan (contoh : alibaba.com) akan meberikan site khusus untuk display room product kita. Display merupakan hal yang penting dalam dunia on-line karena tampilan gambar atau foto mempengaruhi buyer untuk mengambil keputusan untuk berbelanja atau bertransaksi. Sama seperti kalau kita memanjang barang kita yang ada di toko demikian juga di Internet

Others

  • Setiap negara mempunyai peraturan sendiri atas impor, berhubungan dengan komoditi dan dokumentasi. Jadi sebaiknya pelajari terlebih dahulu sebelum kita melakukan dealing. Misal Australia : sangat strict/ketat dengan aturan import terutama yang berhubungan dengan possibility product mengandung hama/penyakit. USA, mempunyai batas quota atas import untuk garment.
  • Networking. Jalin networking/hubungan kerja yang baik dengan supplier kita, rekan sesama pemain bisnis, tebarkan jaring-jaring anda kepada siapa saja. Kadang prospek bisnis datang dari salah satu dari mereka. Bergabung dengan asosiasi atau wadah yang kembali lagi disesuaikan dengan basic bisnis kita. Misal ASEPI untuk kerajinan. Kemudahan birokrasi, networking, dan informasi-informasi exhibisi biasa akan lebih mudah kita peroleh dengan menjadi bagian komunitas2 tersebut

Terima kasih
Eka

Advertisements

Ekosistem Industri Kreatif di Indonesia

Oleh: Restituta Ajeng Arjanti*

Mungkin belum banyak orang yang paham tentang industri kreatif. Mungkin juga banyak yang mengira industri kreatif sebagai sesuatu yang baru, padahal nyatanya tidak begitu. Kreatif industri sudah ada sejak jaman dahulu. Bahkan, UK Government Department of Culture pernah menyebutkan, kegiatan apapun yang dilakukan oleh seseorang, dengan mengandalkan kreativitas, keahlian, dan bakatnya; yang memiliki potensi ekonomi dan mampu menciptakan peluang kerja bagi banyak orang, dapat dikatakan sebagai industri kreatif.

Inggris kehilangan industri manufakturnya karena outsourcing dan offshoring. Tenaga kerja murah menggantikan produksi di negara-negara maju menjadi tidak feasible. Industri kreatif sebagai industri terbesar kedua di Inggris setelah finansial ternyata mampu memberikan kontribusi value added yang luar biasa.

Menurut definisi Inggris, industri kreatif dapat dikelompokkan menjadi beberapa subsektor—periklanan, arsitektur, ketrampilan dan desain furnitur, fashion clothing, produksi film dan video, desain grafis, aplikasi komputer dan games, musik live maupun rekaman, hiburan dan seni panggung, televisi, radio, dan internet broadcasting; seni visual dan barang antik, serta industri surat kabar dan penerbitan.


Sesuai dengan definisinya, kreatif industri sangat mengandalkan kreativitas, keahlian, dan bakat seseorang. Artinya, sumber daya manusia menjadi hal terpenting untuk menciptakannya. Mengingat bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi penduduk yang sangat besar, bisa dikatakan industri kreatif sangat cocok untuk dikembangkan di negeri kita ini.

Marketing Plan 2009: “Year of Living Dangerously”

Oleh : Yuswohady — MarkPlus Institute of Marketing

Minggu-minggu terakhir ini pasti Anda para marketer sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan budget dan menyusun marketing plan (MP) 2009. Penyusunan MP kali ini “spesial” karena kita tahu kondisi bisnis makro yang sedang kita hadapi kali ini tidak lazim dan tidak normal menyusul terjadinya krisis di seluruh dunia. Penyusunan MP kali ini semakin spesial dan kian challenging karena tahun depan kita punya gawe besar Pemilu, di mana berbagai kemungkinan ketidakmenentuan politik bisa terjadi.

Karena berbagai keadaan tak menentu tersebut, maka lengkaplah kita menyebut tahun 2009 sebagai tahun penuh ranjau, tahun penuh tantangan, tahun penuh ketidakmenentuan, tahun penuh gonjang-ganjing. Karena itu tak salah kalau tulisan ini saya beri sub-judul “year of living dangerously“, karena tahun depan adalah tahun gawat, tahun di mana marketer bakal banyak nyrempet-nyerempet bahaya.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian para marketer kemudian pesimis, diam saja menunggu kondisi membaik, dan loyo menghadapi terpaan krisis? Absolutely not!!! Justru dalam kondisi darurat seperti ini Anda harus 150% lebih waspada, 150% lebih kreatif, 150% lebih ngotot, 150% lebih smart, dan 150% lebih tahan banting. Hanya dengan begitu Anda bisa survive melalui tahun berat 2009. Ingat, pada saat krisis 1998, kita menyasikan beberapa smart player justru melesat di tengah kebanyakan pemain lain yang rontok, hancur-berguguran. Adhira Finance misalnya, justru meroket selama dan setelah krisis, karena kejeliannya membangun strategi dengan menggeser portofolio pembiayaannya dari mobil ke motor.

Saya punya lima tips yang mungkin bisa membantu Anda dalam merancang MP untuk menyiasati tahun 2009 yang penuh onak dan duri. Coba kita simak satu-satu.

Tips #1: Think Strategically. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat kondisi normal, MP Anda kali ini harus lebih strategis (tak sekedar taktikal) dan berdimensi jangka panjang tiga bahkan lima tahun ke depan. MP Anda juga harus fokus mencari sumber-sumber daya saing baru untuk bisa memenangkan kompetisi di industry’s rule of the game yang baru. Harus diingat, biasanya kondisi krisis yang begitu dalam seperti yang akan kita alamai ini menghasilkan industry’s rule of the game baru yang bisa jadi sama sekali berbeda dengan rule of the game yang berlaku sebelumnya.  Kejelian Anda menemukan sumber-sumber daya saing baru akan memungkinkan Anda memenangkan bahkan mengunci persaingan di lingkungan bisnis yang baru.

Tips #2: Outlook Is the Key. Saya selalu mengatakan bahwa tinjauan (outlook) terhadap lingkungan bisnis makro (mencakup tinjauan terhadapa perubahan ekonomi, politik, sosial-budaya, pasar, peta kompetisi, juga perubahan konsumen) merupakan proses penting pertama yang harus Anda lakukan dalam menyusun sebuah MP. Bahkan saya berani bilang, “haram” hukumnya, anda menyusun MP tanpa melakukan tinjauan lingkungan bisnis. Tinjauan lingkungan bisnis ini menjadi kian penting di saat-saat kondisi lingkungan bisnis sedang bergolak tidak lazim seperti sekarang ini. Karena itu Anda bersama tim harus mengalokasikan waktu cukup banyak untuk mengkaji dan mengevaluasi berbagai perkembangan lingkungan bisnis sebelum Anda merumuskan strategi, taktik, dan program. Janganlah tergesa-tergesa merumuskan strategi sebelum Anda tahu betul prahara macam apa yang bakal Anda hadapi. Anda harus yakin dan paham apa saja ancaman yang bakal Anda hadapi; apa saja peluang yang bisa diambil; dan Anda harus bisa mengukur kekuatan dan kelemahan internal.

Tips #3: Clear Direction – Built Scenario. Begitu bail-out pemerintah Bush sebesar 700 miliar dolar gagal meyakinkan para pelaku pasar modal di seluruh dunia, kini para pelaku ekonomi dihinggapi rasa kalut dan panik dalam merespons berbagai ketidakmenentuan yang terjadi. Di tengah kondisi gonjang-ganjing seperti ini, kalau Anda kalut dan panik, pasti kondisinya akan makin buruk. Melalui rumusan MP, mestinya Anda bisa secara jernih membaca keadaan yang terjadi, dan dari situ dengan jernih pula, Anda merumuskan strategi antisipasi. Saya tahu bahwa dalam kondisi gonjang-ganjing tak menentu seperti sekarang ini tak mudah menyusun strategi yang solid. Karena itu ada baiknya Anda menyusun skenario-skenario (plan A, plan B, Plan C) dalam merespons keadaan yang bakal terjadi. Ingat, dalam kondisi seperti sekarang ini tim Anda membutuhkan direction yang jelas untuk bisa
melangkah secara mantap dan konfiden.

Tips #4: Be Creative – Focused on Strength and Opportunity. Karena kondisinya serba sulit, maka wajar saja jika Anda harus 150% lebih kreatif dalam merancang strategi pemasaran tahun 2009. Saya yakin, kombinasi antara ketajaman melakukan outlook dan kreativitas dalam merancang strategi akan menjadi paspor kesuksesan Anda melampaui tahun 2009 dengan sukses. Satu hal lagi perlu diingat, dalam berkreasi membangun strategi dan taktik sejauh mungkin Anda fokus pada peluang (opportunity) yang muncul di pasar di satu sisi, dan kekuatan (strength) yang Anda miliki di sisi lain. Ini bukan berarti kemudian Anda melupakan sama sekali ancaman (threat) dan kelemahan (weakness) yang Anda miliki.

Tips #5: Minimize Risk – “Low Budget High Impact” Programme. Kalau outlook dan creative strategy sudah mampu Anda bangun, maka kini sampai gilirannya Anda merancang dan mengeksekusi taktik dan program pemasaran. Sekali lagi karena kondisi semasa krisis ini serba tidak menentu, maka pilihan yang Anda ambil harus sejauh mungkin meminimalisir resiko (minimize risk) dengan melakukan penghematan dan pengeluaran-pengeluaran yang bijak. Setiap rupiah uang yang Anda keluarkan haruslah menghasilkan dampak yang siknifikan. Dengan kata lain, program-program yang Anda luncurkan haruslah low budget, high impact.

B2B Brand Management

Philip Kotler & Waldemar Pfoertsch

Notes: Yang belum punya bukunya bisa pinjam ke saya.

Summary

Branding is just as relevant in B2B as it is in B2C. Brands like Microsoft, IBM, Intel, Dell, SAP, Siemens, FedEx, Boeing are vivid examples of the fact that some of the world’s strongest brands do exist in B2B. Branding is not about stirring people into irrational buying decisions – it is rather an effective and compelling means to communicate the benefits and value a product or service can provide. Branding is about taking something common and improving upon it in ways that make it more valuable and meaningful. Trusted brands act as touchstones, offering orientation the flood of information, and many other benefits and advantages to buyers. A brand is much more than a product , a brand name, a logo, a symbol, a slogan, an ad, a jingle, a spokesperson; these are just tangible components of a brand – not the brand itself! “Brand” comprises various aspects.

“Branding is about taking something common and improving upon it in ways that make it more valuable and meaningful.”

Brands serve exactly the same general purpose in B2B markets as they do in consumer markets: They facilitate the identification of products, services and businesses as well as differentiate them from the competition. They are an effective and compelling means to communicate the benefits and value a product or service can provide. They are a guarantee of quality, origin, and performance, thereby increasing the perceived value to the customer and reducing the risk and complexity involved in the buying decision.

A brand is emotional, has a personality, and captures the hearts and minds of its customers. Great brands survive attacks from competitors and market trends because of the strong connections they forge with customers.

Biggest misconception that branding is only for consumer products and therefore wasted in B2B, there are other common misunderstandings and misconceptions related to B2B branding and branding in general.
One frequently mentioned branding myth is the assumption that “brand” is simply a name and a logo. Wrong! Branding is much more than just putting a brand name and a logo on a product or service.

A brand is a promise.

A brand is the totality of perceptions – everything you see, hear, read, know, feel, think, etc. – about a product, service, or business.

A brand holds a distinctive position in customer’s minds based on past experiences, associations and future expectations.

A brand is a short-cut of attributes, benefits, beliefs and values that differentiate, reduce complexity, and simplify the decision-making process.

A further misconception of branding is that it is seen as a small subset of marketing management. Wrong again! Since a brand is reflected in everything the company does, a holistic branding approach requires a strategic perspective. This simply means that branding should always start at the top of your business. If your branding efforts are to be successful, it is not enough to assign a brand manager with a typically short-term job horizon within company.

Building, championing, supporting and protecting strong brands is everyone’s job, starting with the CEO. Active participation of leaders is indispensable because they are the ones who ultimately Being Known or Being One of Many will be driving the branding effort. Brands and brand equity need to be recognized as the strategic assets they really are, the basis of competitive advantage and long-term profitability. It is crucial to align brand and business strategy, something that can only effectively be done if the brand is monitored and championed closely by the top management of an organization. To appoint a Vice President of Branding, someone who is responsible solely for brand management would be an important step. No matter what the actual title, this person should be the one person taking the required actions for keeping the brand in line.

Strong leaders demonstrate their foresight for the brand, make symbolic leadership gestures and are prepared to involve their business in acts of world statesmanship that go beyond the short-run, and therefore require the sort of total organizational commitment which only the CEO can lead. Consider Nucor, America’s largest steel producer today. In 1972, about 5 years after facing bankruptcy, F. Kenneth Iverson as President and Samuel Siegel, Vice President of Finance, renamed their company and announced “Nucor sells steel to people who actually care about the quality of the steel”. This announcement and all steps that followed propelled the company to the top of its industry.

Professional’s Biggest Fear

Download PDF File

Apakah tingkat pendapatan Anda dapat membiayai pencapaian dari cita-cita Anda?

Bagi sebagian besar tenaga profesional, keteraturan pendapatan adalah hal yang lebih penting dari pada jumlah pendapatan.

Hampir semua karyawan tidak berani membayangkan diri mereka diberhentikan dari pekerjaan mereka. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang berani mendekati keadaan yang memantaskan mereka untuk diberhentikan.

Sebetulnya yang paling ditakuti oleh para profesional adalah mengundurkan diri dari pekerjaan untuk memulai usaha sendiri.

Hanya seseorang yang takut yang bisa bertindak berani.
Tanpa rasa takut itu – tidak ada apapun yang bisa disebut berani.

Seandainya saja kita berfikir jernih, dan memutuskan bukan dari keadaan yang menginginkan kekuatan;
memutuskan bukan dari kesedihan, tetapi dari kemarahan;
memutuskan bukan dari pembayangan kegagalan, tetapi dari kegembiraan dalam menyambut keberhasilan;
dan bukan dari ketakutan akan berkurangnya pendapatan, tetapi dari keikhlasan dalam meyakini janji Beliau Yang maha Menghargai Upaya.

Setelah itu rasa takutpun akan berasa manis.

Source: Mario Teguh

Kiat Sukses Quantum Ikhlas

Pertanyaan utama yang sering menjadi pertanyaan banyak orang adalah APAKAH sebenarnya “sukses” itu ? Apakah sebenarnya tujuan hidup yang kita cari ? Untuk apakah Allah menghadirkan kita di dunia ini ?

Sukses sudah ada pada diri saya. Diri Anda, demikian pesan yang disampaikan Erbe Sentanu.
Sukses sudah melekat pada diri Anda. Sama seperti NAMA Anda yang melekat pada diri Anda.

Mengapa kebanyakan kita salah mengartikan sukses itu sendiri dan rasanya masih jauh dari kesuksesan?

Nah, buku Quantum Ikhlas, menurut Nunu untuk mengembalikan lagi ‘fitrah’ kita sebagai ‘anak raja’ yang sukses. Dimulai dengan pertanyaan: Do you know who you are?

Sampai akhirnya dia mengadu dan berserah pada Allah, pasrah aja. Dan mengalirlah apa yang sekarang kita nikmati buah pikirannya. Kekuatan pikiran yang berada pada level sadar ternyata hanya 12% dari potensi besar pada diri kita. Kalau diibaratkan mobil hanya bermain pada gigi 1.
Ketika kita menginjak gas dengan kekuatan penuh, maka mesin akan malah menjadi panas. Yang 88% itu perasaan atau berada pada level bawah sadar.
Disini baru kita sadari bahwa ternyata gigi mobil kita bisa sampai pada gigi 4 atau 5. Bahkan kita tidak perlu lagi pakai transmisi manual, bisa di set secara ‘fully automatic’ dengan powerful yang dahsyat.

Manusia yang sempurna adalah manusia yang hidup seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya -kecerdasan fisik (Physical Quotient), kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient), kecerdasan emosional (Emotional Quotient), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient).

Menurut Mas Nunu, ikhlas dalam hati manusia mewujud melalui perasaan-perasaan damai, sabar, mudah bersyukur, tawakal, dan menyerahkan urusan pada Tuhan ketika kita sudah berusaha maksimal. Dengan kata lain, tidak memaksakan kehidupan untuk selalu berjalan sesuai kehendak kita.

Buku ini jutru memperkenalkan pentingnya ’Positive Feeling’ yang digambarkan sebagai suatu perasaan yang sudah mencapai ’zona ikhlas’ melalui pengandalan kepada kekuatan diri dan juga kekuatan Ilahiah yaitu Tuhan. Dengan selalu menjaga kondisi perasaan pada zona ini, maka keselarasan vibrasi/ getaran (dianalogikan dengan gelombang /frekwensi radio) kita akan lebih mudah bersinggungan dengan energi yang lebih tinggi yang asalnya dari energi Ilahi sehingga kejadian-kejadian yang kita alami akan lebih sering dalam sinkronitas dan keterhubungan yang tidak terduga-duga yang menuntun kita untuk bisa mencapai hal-hal yang kita dambakan (baca : DOA-kan)

Dikutip dari:

How to build a Simple Rocket Stove

Rocket Stove Principles

Dr. Larry Winiarski
Technical Director
Aprovecho Research Center
Apro@efn.org

vv

  1. Insulate, particularly the combustion chamber, with low mass, heat resistant materials in order to keep the fire as hot as possible and not to heat the higher mass of the stove body.
  2. Within the stove body, above the combustion chamber, use an insulated, upright chimney of a height that is about two or three times the diameter before extracting heat to any surface (griddle, pots, etc.).
  3. Heat only the fuel that is burning (and not too much). Burn the tips of sticks as they enter the combustion chamber, for example. The object is NOT to produce more gasses or charcoal than can be cleanly burned at the power level desired.
  4. Maintain a good air velocity through the fuel. The primary Rocket stove principle and feature is using a hot, insulated, vertical chimney within the stove body that increases draft.
  5. Do not allow too much or too little air to enter the combustion chamber. We strive to have stoichiometric (chemically ideal) combustion: in practice there should be the minimum excess of air supporting clean burning.
  6. The cross sectional area (perpendicular to the flow) of the combustion chamber should be sized within the range of power level of the stove. Experience has shown that roughly twenty-five square inches will suffice for home use (four inches in diameter or five inches square). Commercial size is larger and depends on usage.
  7. Elevate the fuel and distribute airflow around the fuel surfaces. When burning sticks of wood, it is best to have several sticks close together, not touching, leaving air spaces between them. Particle fuels should be arranged on a grate.
  8. Arrange the fuel so that air largely flows through the glowing coals. Too much air passing above the coals cools the flames and condenses oil vapors.
  9. Throughout the stove, any place where hot gases flow, insulate from the higher mass of the stove body, only exposing pots, etc. to direct heat.
  10. Transfer the heat efficiently by making the gaps as narrow as possible between the insulation covering the stove body and surfaces to be heated but do this without choking the fire. Estimate the size of the gap by keeping the cross sectional area of the flow of hot flue gases constant. EXCEPTION: When using a external chimney or fan the gaps can be substantially reduced as long as adequate space has been left at the top of the internal short chimney for the gasses to turn smoothly and distribute evenly. This is tapering of the manifold. In a common domestic griddle stove with external chimney, the gap under the griddle can be reduced to about one half inch for optimum heat transfer.

Lets begin…

How to build a Simple Rocket Stove