Profil Marketer 2.0, apakah anda comply? ;)

majalah_swa1-224x300

SwaSembada edisi 4-17 Desember 2008, menampilkan profiling dari riset yang telah dilakukan pada 12-21 Nop 08 terhadap sample 31 Manajer/GM/Direktur Pemasaran/Promosi/Merek.

Kriteria dan ciri-ciri Marketer versi 2.0, menurut SWA, pemasar yang sesungguhnya adalah mereka yang bisa menggabungkan kecerdasan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi.

Profiling yang dihasilkan dari survei, memperlihatkan spesies baru di dunia pemasaran memang sudah muncul.

Statistik antara lain sbb:

  • 100% responden telah menggunakan gadget (notebook(46,03%), Blackberry(14,29%), PDA(30,16%) & Communicator(9,52%).
  • 95% telah terlibat pada Komunitas Social Online, terbanyak facebook(32,79%), Friendster(26,23%), My Space(3,28%), milis(24,59%), LinkedIn(1,64%).
  • 41,94% telah memiliki blog, sisanya belum.

Yang menarik adalah tentang aktifitas, kegiatan di dalam kantor dan diluar kantor sama seringnya (61,29%). Mobilitas tinggi, 90% dalam setahun telah melakukan perjalanan bisnis luar negeri, 70% telah melakukan perjalanan dinas dalam negeri.

Selengkapnya berikut inilah Profile Marketer versi 2.0.

Apakah anda comply? 😉

profil-marketer-20

Apa alasan konsumen online

Menurut Amalia Maulana, motivasi konsumen untuk Online adalah sbb:

Saya highlight bahwa ada 4 motivasi online bagi konsumen, yaitu (1) to connect — ini makanya email2an makin jadi sehari2, juga connect yang sudah lebih interaktif seperti via Facebook, Friendster, dll, (2) to enjoy — ya lah, biarpun sedang cari berita atau lagi ngerjain pekerjaan apapun, sesekali diseling dengan browsing pekerjaan jadi ringan. Selain browsing, juga to enjoy ini ada hubungannya dengan fun, entertainment yang bisa didapat via Internet, (3) to learn — nah ini yang lebih seriousa.. lihat aja dari murid SD sampai mahasiswa S3 semuanya sekarang sudah cannot live without Internet, penelitian menyatakan bahwa orang merasa menjadi ‘resourceful’ dengan media ini, dan sebagian dari mereka juga bilang mereka menjadi ’smarter’ dengan adanya media ini. (4) to trade — nah, yang terakhir ini yang ada hubungannya dengan beli membeli, bayar membayar dan pokoknya any transaction via media ini.

Bagaimana memanfaatkan online media adalah dengan mengerti ato paham betul apa yang diinginkan oleh visitors, sebisanya dalam website dibekali dengan fungsi2 yang komplit, kalo bisa semuanya ada (dari no.1 sampai 4 diatas).

Bagaimana menurut anda ?

PR Is Dead As We Know It!!!

*Taken from my new book: “CROWD: Marketing Becomes Horizontal”

Sejak dini eBay sadar harus secara jujur dan transparan melakukan conversations dengan seluruh stakeholders-nya.
Caranya?
Secara cerdas memanfaatkan medium corporate blogging.

Langkah awalnya, eBay menyewa veteran social media, Richard Brewer-Hay, untuk merancang dan meluncurkan sebuah blog. eBay Ink, yang memberikan akses langsung bagi pelanggan untuk berkomunikasi secara langsung dan transparan dengan eBay. Singkatnya, eBay Ink merupakan media dimana investor, analis, karyawan, buyers-sellers di eBay, dan pengguna Paypal dan Skype dapat berdialog dengan siapapun orang di dalam perusahaan, dari satpam hingga CEO.

Yang menarik, Brewer-Hay disewa eBay sebagai blogger yang independen, tidak memihak baik kepada eBay maupun pihak di luar eBay yang menjadi audiensnya. Usut punya usut, sejak awal disewa, Brewer-Hay sudah meminta eBay meneken kontrak yang membebaskan dirinya ngomong apapun di blog: hal baik maupun jelek. Pokoknya dia menulis apa adanya secara seimbang, dengan kejujuran, dengan transparansi, tidak boleh yang baik-baik melulu.

Kata Brewer-Hay:
“My words go straight up onto the blog, unedited.”
“It’s got to be transparent.”
“There’s got to be an authenticity to it,”
“…an honesty to it,”
“People can comment, too, and comments are going to be open.”
“You’re going to get the good, the bad, and the ugly.”
“I have no prior agenda with any of the execs or people in the company.”
“That’s a big, important thing.”

Yang menarik dari kata-kata sang blogger adalah:
Bagaimana bisa ia disewa untuk bicara secara independen?
Termasuk untuk menjelek-jelekkan eBay, seperti yang terjadi pada Wal-Mart Watch?

Inilah “roh” dari corporate blogging.
Corporate blogging bukanlah PR
Corporate blogging bukanlah topeng.
Corporate blogging bukanlah pupur dan gincu.
Corporate blogging adalah CONVERSATIONS yang sesungguh-sungguhnya.

Kalau orang seperti Richard Brewer-Hay bisa menjembatani perusahaan dengan setiap stakeholders baik di dalam maupun di luar perusahaan secara jujur, transparan, dan dilandasi trust.

Pertanyaannya kemudian: “Lalu fungsi corporate PR mau dikemanakan?”
Kita tahu selama ini fungsi Public Relation (PR) adalah membangun citra positif perusahaan: dengan ngomong positif ke wartawan dan media massa; dengan melakukan kegiatan-kegiatan corporate social responsibility; dengan menulis advertorial di sebanyak di sebanyak mungkin surat kabar mengenai perilaku baik perusahaan.

Namun celakanya, seringkali terjadi PR adalah layaknya salon kecantikan.
Fungsinya memoles wajah perusahaan dengan pupur dan gincu.
Agar yang jelek di dalam menjadi kinclong di luaran.
Agar yang busuk-busuk di dalam menjadi wangi di luaran.
Agar yang bopeng-bopeng jadi mulus bersinar.

Kalau orang PR masih menyikapi pekerjaannya seperti itu,
…maka bisa saya pastikan profesi PR bakal mati, kenapa?
Karena yang dibutuhkan bukannya PR Manager,
…tapi CHIEF BLOGGER OFFICER – CBO,
…seperti Richard Brewer-Hay.

Akankah profesi PR di jurang kehancuran?
Waaaah… kok menakutkan amat!?!?…

From: Yuswo Hady

Pay It Forward

payitforward

Pay It Forward, film yang disutradarai oleh Mimi Leder itu mengisahkan tentang sebuah ide sederhana dari seorang anak kecil berusia 11 tahun, Trevor Mckinney, yang dibintangi oleh Haley Joel Osment. Trevor Mckinney hidup bersama ibunya, Arlene, yang diperankan oleh aktris Helen Hunt. Dikisahkan bahwa ibu Mckinney adalah seorang pemabuk, sedangkan ayahnya jarang berada di rumah.

Kisah film tersebut berawal pada saat seorang guru ilmu sosial di sekolah Mckinney memberikan sebuah tugas. Sang guru, Mr. Simonet, yang diperankan oleh Kevin Spcey, meminta para murid memikirkan sebuah ide yang dapat mengubah dunia. Para murid juga diminta untuk mewujudkannya langsung ke dalam tindakan nyata.

Pada saat itulah Mckinney Trevor mencetuskan ide Pay It Forward atau bayar dimuka. Inti dari ide Mckinney tersebut adalah ia hanya perlu menolong tiga orang. Tahap pertama Mckinney membantu temannya, seorang guru ilmu sosial di sekolahnya, dan seorang pemakai narkoba.

Sedangkan orang yang ditolong tidak perlu memberikan imbalan apa pun, kecuali menolong tiga orang lainnya. Ide Mckinney sangat sederhana, tetapi mekanismenya menciptakan mata rantai yang luas dan berkesinambungan. Dalam film tersebut dikisahkan bahwa ide sederhana Mckinney berpengaruh cepat dan meluas ke beberapa kota di sekitar tempat tinggalnya.

Anda terispirasi? Buatlah Club untuk social activity dengan skema tersebut dan untuk saling memotivasi, share hasil perkembangannya, OK?

Source: TDA

Strategi Menembus Pasar Luar Negeri Melalui Internet

Oleh : Nukman Luthfie — http://www.sudutpandang.com/

INTERNET adalah sebuah jaringan komputer dunia, yang tidak mengenal batas antara negara. Kita bisa terhubung dengan siapa saja di belahan dunia lain melalui Internet dengan begitu mudahnya.  Dengan karakter seperti  itu, semestinya Internet dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk menembus pasar ekspor. Kita bisa menjual barang ke manca negara tanpa harus melakukan pameran di luar negeri atau bertemu langsung dengan calon buyer secara langsung.

Jika kita berhasil menembus pasar ekspor hanya melalui Internet, maka margin usaha kita akan tinggi, mengingat salah satu biaya terbesar eksportir adalah biaya promosi roadshow di luar negeri.

Bagaimana strateginya? Di bawah ini saya uraikan beberapa strategi mendasar yang wajib dilakukan.

Memiliki Situs Web yang Sesuai Pasar

Memiliki situs web adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk menembus ekspor via Internet. Melalui situs web inilah calon pembeli mendapatkan informasi selengkap mungkin mengenai siapa kita, barang apa saja yang diproduksi, berapa besar kapasitas produksi, bagaimana kualitas barang, serta informasi pendukung lainnya. Anggaplah ini sebagai catalog produk yang biasanya dicetak oleh para eksportir dan disebarluaskan ke calon-calon buyernya di berbagai Negara. Bedanya, di situs web kita bisa memperbarui produk-produk dengan mudah dan cepat sehingga calon buyer selalu mendapat informasi terbaru.

Tentu saja, situs web bukan hanya pengganti katalog produk. Situs web juga sebuah media komunikasi yang interaktif dengan calon pembeli. Oleh karena itu, situs web harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk berkomunikasi langsung, baik dalam bentuk email maupun chat.

Kecuali itu, karakter situs harus disesuaikan dengan karakter pasar. Jika ingin lebih mudah menembus pasar Eropa misalnya, desain situs web sebaiknya sederhana, klasik, tanpa animasi aneh-aneh, karena memang seperti itulah kebanyakan karakter desain Eropa. Sebaliknya, jika ingin menembus Amerika Serikat, karakter desain yang modern kreatif akan mempermudah orang Amerika untuk tertarik membuka situs web kita.

Untuk bahasa, apa boleh buat, bahasa Inggris adalah sebuah keharusan. Namun jika ingin lebih efektif lagi menembus Eropa, buat beberapa versi bahasa untuk negara-negara yang lebih nyaman dengan bahasa ibunya, misalnya Perancis dan Spanyol.

Search Engine Friendly

Pengguna Internet memiliki perilaku khusus dalam hal mencari informasi  produk. Mereka tidak terlalu suka langsung masuk ke situs web sebuah perusahaan dan mencari informasi produknya di sana. Mereka lebih senang mencarinya melalui search engine seperti Google, Yahoo!, MSN Live dan lainnya. Statistik dari berbagai lembaga riset menunjukkan, sekitar  68% pengguna Internet mencari informasi produk melalui mesin pencarian.

Oleh karena itu, wajib hukumnya memiliki situs web yang search engine friendly. Situs yang memenuhi standar ini akan mudah dan cepat diindeks oleh berbagai search engine utama, seperti Google, Yahoo! dan MSN Live. Banyak perusahaan yang seringkali abai dengan hal-hal semacam ini. Perhatian mereka lebih terfokus pada tampilan – indah tidaknya – sebuah situs. Padahal, search engine friendly ini justru memiliki nilai startegis agar mudah dicari pengguna Internet.

Menguasai  Keyword yang Tepat

Jika kita berjualan furniture, maka kita harus melakukan audit, apakah ketika pengguna Internet mengetik keyword atau kata-kata kunci yang berkaitan dengan furniture itu, situs kita berada di halaman hasil pencarian yang strategis? Tidak harus no nomor satu hasil pencarian. Berada di halaman satu hasil pencarian sudah cukup bagus. Bagaimana pun, pengguna Internet masih rela membaca hasil pencarian sampai halaman ke lima.

Meski demikian, penguasaan kata kunci pun perlu strategi khusus. Saya sering bertemu dengan pemilik situs yang bangga bahwa kata kunci nama domiannya menduduki nomor satu hasil pencarian di search engine. Sebenarnya itu hal yang biasa saja. Yang justru harus diriset dengan serius adalah, kata kunci apa yang diketik oleh calon buyer kita berkaitan dengan produk yang kita tawarkan. Ketika kita menjual handphone misalnya, akankah menggunakan kata kunci handphone, mobile phone, atau cell phone? Memahami istilah-istilah yang berkaitan dengan produk yang kita jual ke negara-negara tertentu amat strategis dalam menembus ekspor.

Promosi Online

Meski calon buyer akan datang dengan sendirinya jika situs kita search engine friendly dan menguasai keyword yang tepat, tetap saja sebuah web yang berorientasi penjualan harus dipromosikan dengan serius untuk mendapatkan pengunjung berkualitas. Sedikitnya ada tiga hal yang penting dilakukan.

Pertama, bergabung dengan e-marketplace dunia, seperti Alibaba.com, Globalsources.com dan eBay.com serta emarket place vertical yang sesuai dengan produk yang kita jual. Di tempat maya itulah para buyer dan seller seluruh dunia bertemu.  Memang di sana persaingan amat ketat, banyak penjual produk yang sama dari negara lain atau bahkan dari sesama perusahaan Indonesia. Namun dari situlah kita akan mudah ditemukan oleh calon pembeli yang serius.

Kedua, bergabung dengan social networking dunia. Karena yang bergabung di social networking itu manusia, maka sebaiknya eksekutif perusahaan, bukan perusahaanya, yang bergabung ke socian networking itu. Jika ingin menembus pasar luar negeri, maka salah satu yang saya rekomendasikan adalah Linkedin.com. Inilah jaringan social dunia maya para eksekutif dan pebisnis dunia. Masuklah ke sana, bergabunglah dengan kelompok-kelompok orang yang diasumsikan membutuhkan produk kita.

Ketiga, promosi melalui Google Adwords, yang amat bermanfaat ketika kita tidak mampu menguasai keyword-keyword tertentu.

Paham Seluk Beluk Ekspor

Ini langkah strategis yang harus disiapkan jauh-jauh hari. Percuma saja kita mendapatkan banyak potential buyer jika kita pada akhirnya tidak bisa mengirim barangnya ke negara tujuan karena tidak paham prosedur ekspor. Hal lain yang harus jadi perhatian adalah soal pembayaran. Kita harus paham betul soal LC dan prosedur pembayaran gara jangan sampai kita tertipu. Selalu ada saja peluang kita ditipu oleh buyer yang mau menerima barang tapi enggan membayar. Apalagi di dunia Internet, di mana kita tidak pernah bertemu dengan buyer kita.

Oleh karena itu, lengkapilah diri dengan ilmu ekspor impor.

Selamat menembus pasar luar negeri melalui dunia maya!

The Top 5 Viral Facebook Techniques

Posted by Nick O’Neill on July 26th, 2007 4:04 PM

The dynamic of Facebook application marketing is rapidly changing. What
once was an environment in which your application was practically
guaranteed to go viral has shifted to one in which you need to come up
with creative ways of marketing your application. The MyBucks application
is a perfect example of this. After Aryeh Goldsmith (the creator of the
MyBucks application) added the “Top Referrers” feature, the application
immediately turned viral. After seeing all the applications go viral I
have decided to do a brief overview of a few key features that help
your application go viral. While this is not an exhaustive list, it
covers the majority of tricks of the trade that are currently being
used.

  • Forced Invite – The first instance that I saw this implemented was by David Gentzel when he launched the Happy Hour application.
    Within a matter of weeks the application has already become the 13th
    most popular application on Facebook, which is no easy feat. This
    method was duplicated by other applications with varying success within
    a matter of hours. What exactly is this method you ask? As soon as
    someone decides to add the application they are forced to invite 10
    friends. This is a risky tactic but David Gentzel was able to leverage
    his other highly popular applications to drive traffic to this
    application. Personally, I don’t recommend this tactic. It is a brute
    force method that can be used by those with popular applications that
    don’t have rich feature sets. I have a feeling that most happy hour
    users don’t return to the app on a daily basis, but then again I don’t
    have statistics to back that up.
  • Invite after action – When the Facebook platform first
    launched there were no restrictions as to how many people an
    application user could invite per day. As a result many of the initial
    applications that took advantage of the checkbox invite forms grew
    rapidly. Since the launch, there is now a limit of 10 friends per day
    by each application user. While it has been significantly limited by
    Facebook, it is still a useful form of marketing. When building your
    application you should definitely come up with an effective way of
    allowing users to invite other people.
  • News feed – The news feed is the most powerful component
    of Facebook. Period. There are two ways that applications can leverage
    the news feed. The first is naturally built in. Most of the time, when
    a user adds an application it is displayed in their friends’ news
    feeds. While it is not a guarantee that it will show up in other
    people’s news feeds (due to a number of factors pertaining to news feed
    optimization), this is the primary thing that helps applications spread
    virally. When I launched my Bush Countdown clock
    I added no viral components and relied completely on people’s news
    feeds. This has spread the application to close to 8,500 users. While
    not spectacular, it is hardly something to sneeze at. The second way of
    using a news feed is by leveraging the news feed API calls that
    Facebook has provided. Within reason, you can regularly post news items
    to a user’s mini-feed within their profile. A small percentage of the
    time that item will end up on their friends’ news feeds. While this is
    severely limited, at least you can get it on to your users’ mini-feeds.
    Every form of exposure you can get (within reason) for your
    application, you should strive for.
  • Referrals/Giveaways – This is the most recent form of
    viral marketing on Facebook. I am seeing a number of applications
    adopting this technique. The referrals tactic is to come up with an
    effective way of encouraging your applications users to market your
    application for you. They can market your application on blogs,
    websites, forums, Facebook walls, messages to friends and more. The
    bottom line is that you end up with your application users being the
    ones that get scrappy with the marketing, not you. Giveaways are
    usually combined with this to provide an incentive for users to promote
    your application. There is a risk though in making your application
    look cheap, but for now I think this is a great technique.
  • One-on-One – Used alone, this technique may not result in
    viral growth of your application but combining this technique with one
    of the others I have listed can result in exceptional results. The
    concept is straight forward. Reach out to people that you think will
    find your application useful. This technique is more for targeted
    applications, not for generic applications such as poke wars or zombie
    biting or any of the other generic applications out there. Reach out to
    those individuals that you think will benefit from your application and
    then follow-up with them once they’ve added it. The result is
    passionate users that become your own brand evangelists. This technique
    has been used by countless communities to help generate passionate
    users. If you nurture your application users you will see positive
    results in the long-term.

While each of these techniques can provide varying results, all of
them are targeted at creating the viral effect. Ultimately that is what
makes the Facebook platform so appealing currently. You can rapidly
reach thousands to millions of individuals in a short span of time at
minimal cost. The problem with these viral techniques are that many of
them will become practically useless soon after I release this post.
That is the nature of viral marketing. Viral marketing techniques lose
their appeal after they become adopted by the masses. While the
techniques that have been used until now are far from revolutionary, I
have a feeling that we will begin to see truly creative techniques in
the coming months.

Source: allfacebook.com

Facebook Pages Insider’s Guide

Many businesses, from leading global brands to favorite local bands, are enjoying tremendous impact using Facebook Pages for free viral marketing. Check out some key strategies from the most successful businesses on Pages:

1) Regularly adding engaging and useful content
2) Letting fans participate in the conversation
3) Expanding their distribution with Facebook Ads

We’ve collected some of these winning strategies—along with the nuts of bolts of how to create and manage a Page—into a Facebook Pages Insider’s Guide

Source: Facebook.com