Bedah Buku “Crowd”

CROWD: M a r k e t i n g Becomes H o r i z o n t a l
NEW Marketing in the Web 2.0 Era

IMA (Indonesia Marketing Association) DKI Monthly Gathering, 03 February 2009

Saya tulis sedikit buat oleh-oleh untuk rekan-rekan yang tidak bisa hadir,
sekaligus tambahan info dari saya untuk diskusi dari rekan yang menanggapi/bertanya ke mas Siwo.
Jadi saya nambah sedikit info tentang fitur facebook “People You May Know“, yang menggunakan engine “Social Graph”…

Setelah presentasi mas Siwo, bliau bilang bahwa tema buku adalah hal baru, bahkan di luar negeri pun masih sedikit yang membahas secara memadai.
Saya sependapat dengan mas Siwo, soalnya saya pernah searching, gak nemu banyak memang.
Dan yang saya appreciate dari isi bukunya adalah penawaran suatu konsep yang sudah disimplifikasi how to adopt horizontalization secara mudah dengan formulasi 11 manifesto.
Jadi by nature horisontal itu jalan sejak lama tsb meledak setelah internet + web2.0, tetapi yang membahas dari scope marketingnya masih langka.

Bahan ini sudah cukup untuk menjadi guidance dalam memulai menerapkan ilmu baru tsb.

Buat teman-teman yang sedang mengelola komunitas atau mau akan mengelola komunitas, beberapa point penting yang bisa menjadi pertimbangan adalah buku ini sudah lebih dari cukup untuk mulai memperbaiki cara kita mengelola komunitas. Bisa juga untuk memulai memperbaiki format BTL yang saat ini jalannya tanpa bentuk, hehe…
Mungkin para praktisi karena kesibukan tidak sempat me-reengineering/memperbaiki praktek/tools horizontalization.

Contoh nyata yang down to earth aja, menurut saya, saat ini ada beberapa komunitas dimana kita tahu komunitas tsb sudah online/offline. Ranahnya khan horisontal, tetapi mindset community leader nya masih vertikal, contoh kecil spt banyak yang ngajak diskusi gak dijawab. Ada juga yang tim admin maunya anonim, kadang kalo menegur orang dengan kategori keras tidak berani menuliskan namanya, tetapi sembunyi dibalik anonim “tim moderator”.
Itu hanya beberapa contoh kecil yang nyata saja, maksud saya, bahan untuk memperbaiki sudah ada. Bahwa di dunia horisontal semua member adalah telajang ๐Ÿ™‚

Di gathering IMA tsb mas Siwo bilang, kalo ada yang ngajak ngobrol anda di Wall Facebook dan tidak anda tanggapi,ย  hehe… you will be a dead man ๐Ÿ™‚

Sekarang pertanyaan teman-teman bisa jadi HOW to getting started? Ya khan?

Saran yang disampaikan disitu untuk memulai adalah:
Komunitas adalah inkubator, tidak menggunakan format hardselling. Culture horisontal, harus conversation.
Bisa dimulai dengan post artikel yang berkualitas, sebar di komunitas via internet, provoke, ajak komunitas membahas, berdiskusi.
Yang pinter ngajari yang masih newbie, sesama yang sudah pinter kasih view/masukan yang berbeda-beda sesuai wisdom masing2 person.
Intinya WE smarter than ME. Sehingga crowdsourcing bisa jalan di dalam komunitas, yang mikir banyak, member pun makin pinter.

Dijelaskan bahwa, jika format soft tsb dijalankan, maka dengan sendirinya akan muncul evangelist yang ‘menjual’/merekomendasikan ke person lain di dalam komunitas nya tanpa merasa win lose. Yang saya lakukan sekarang ini, menjual bukunya mas Siwo, padahal saya tidak di suruh nya ๐Ÿ™‚

Saran mas Siwo, komunitas bisa pakai yang sdh ada, tapi dipilih2 lagi (conforming..). Conforming untuk menentukan mana yang menjadi komunitas kita. Menurutnya yang bisa mewabah/contagiuos/viral adalah yang berbau kontroversial/provoking.

Nah, saat Dr Firmansyah (Pascasarjana UI) memberikan view, menurutnya, syarat Crowd bisa jalan adalah:

  1. Adanya demokratisasi
  2. Teknologi internet
  3. Social network (masy kita, seneng tutur tinular), ini untuk level masyarakat yang sudah berlevel partisipatif. Untuk level yang lebih tradisional belum bisa masuk dalam crowd yang online dan belum partisipatif.

Ditutup pertanyaan/komentar oleh peserta gathering (sorry saya gak tahu namanya), dia cerita bahwa istrinya, dia bukain account facebook dan dia semula gak nganggep facebook, tetapi terkesan dengan apa yang terjadi setelah pembukaan account.
Dia bilang foto haruslah semenarik mungkin. Katanya, setelah friend nya 50, naik ke 75 cepat, kemudian dst, intinya adalah eksponensial dan ada tipping point. Dia juga heran, kalo suatu hari yang add adalah orang menado, maka hari itu menadoooo semua, dst.

Nah disini saya mau menjelaskan, jangan heran kalo Facebook canggih seperti itu, apa yang ada dibalik itu?
Keunggulan Facebook ada di situ, fitur “People You May Know“. Fitur inilah yang menjadi killer application Facebook, yang menjadi main diferensiator.

Saya temukan saat saya lagi ngoprek develop aplikasi facebook bersama adik saya (karena saya juga developer), untuk just for fun aja, adalah bahwa
pengalaman yang remarkably different dari facebook terhadap social network yang lain adalah kita memungkinkan mendapatkan friend request dari unusual suspect.
Kita sama2 mendaftar di facebook, segera setelah teman dan kita sama2 available terdaftar, kita sama2 saling melihat teman kita di “People You May Know“. Sehingga bisa dulu2an meng add sbg friend.

Anda juga sering khan anda mendapat notifikasi facebook, teman anda bernama “fulan” baru saja mendaftar facebook, add as friend jika “fulan” adalah teman anda.

Beda dengan social network lain, setelah anda terdaftar, ya sudah, begitu saja.

Untuk fitur tsb, facebook mempunyai engine “Social Graph”.
Social Graph anda adalah model dan kodefikasi dari relationship anda dengan teman-teman anda.
Relationship inilah yang menjadi basis dari killer application yang dibawa oleh facebook pada bagian depan untuk membantu user-usernya membangun Social Graph secara lebih efektif dari sebelumnya.

Di dalam framework facebook pun memungkinkan untuk developer independen membangun social graph management system yang powerfull menjadi custom app (disebut sbg facebook app).
Shg aplikasi “facebook app” baru tsb, bisa di install/di adopt oleh user-user facebook yang jumlahnya bejibun dan massive, semuanya well connected ke personal cyrcle mereka dan teman-temannya, serta sejawatnya.

Lho, koq saya malah jualan facebook yah? ๐Ÿ˜‰

Monggo dikomentari…