Inspirasi Agrobisnis Indonesia

Tercengang setelah sempat melihat permadani kebun di Sumatra via udara, amaze…

Teringat kembali hampir 43% Warga Indonesia bekerja di sektor pertanian, 20% di sektor perdagangan/hotel/restoran.

Jika 43% Farmers tsb bisa di bina + di arahkan menciptakan value add dgn berkebun/bertani dan juga mengolah hasil agro mereka, sehingga mereka selain sbg farmer juga diajari menciptakan value add / menjadi manufacturer ringan, wow akan DASYAT!

Pantesan Industri kompetitor sawit memakai berbagai alasan lingkungan untuk memukul harga CPO.

Ada yang bisa kasih inspirasi apa saja yang bisa diolah farmers kita?

Dimulai dari saya yach…

Saya pikir KUD-KUD di daerah perkebunan Sawit rakyat harus bisa mengajak petani untuk turut mengadakan Pabrik CPO mini. Jadi TBS petani tidak ada kejadian busuk lagi karena tidak kebagian proses di Pabrik CPO eksisting.

Kemudian, KUD juga wajib berinovasi untuk memikirkan value add yang melibatkan petani dalam produksinya. Seperti produksi minyak goreng yang sesuai standar SNI.

Katanya neh, jika kita bandingkan: Petani menjual TBS dibanding jual sbg Minyak Goreng, maka value produk menjadi 6X lebih mahal.

Ada yang bisa bantu how nya?

Silakan komentarnya jika ada ide yang lain.

Advertisements

Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia

Orang Singapura tsb saja tahu yach…

Kenapa banyak orang Indonesia sendiri yang gak sadar ? 😉

===

PENILAIAN ORG SINGAPURA. TERHADAP INDONESIA

by Andy Rachmat

Suatu pagi, kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu & english, beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda. Beliau berkata, “Ur country is so rich!”

Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu… “Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia,” lanjutnya. “Everything can be found here in Indonesia, U don’t need the world.”

“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras..

Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg peluang..

Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!

KEMKOMINFO Meluncurkan Aplikasi Open Source Untuk Masyarakat Ekonomi Syariah

Silakan bagi rekan-rekan yang membutuhkan.
Semoga berguna.

==
Text Box: Disaksikan oleh Bapak Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika), aplikasi diserahkan oleh bapak Ashwin Sasongko (Dirjen Aptel Kemkominfo) kepada Bapak Wiwin P.Seodjito (Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah).

Bersamaan pada pembukaan acara 6th e-Indonesia Initiative Forum, di aula barat kampus ITB, Bandung, Kemkominfo menyerahkan secara resmi kepada Masyarakat Ekonomi Syariah, berupa aplikasi open Disaksikan oleh Bapak Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika), bertepatan kamis 6 mei 2010, aplikasi diserahkan oleh bapak Ashwin Sasongko (Dirjen Aptel Kemkominfo) kepada Bapak Wiwin P.Seodjito (Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah). Aplikasi yang diserahkan pada kesempatan tersebut adalah Sistem Informasi Manajemen Koperasi Syariah (SIM KJKS), Sistem Informasi Manajemen Muzakki dan pengelolaan Zakat (SIMZAKKI) dan Point of Sale (PoS).

Aplikasi ini merupakan kontribusi Kemkominfo untuk merangsang lebih berkembangannya UKM yang secara signifikan memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi. Selama ini peran Koperasi Syariah/BMT dalam menyediakaan pendanaan bagi UKM sangat penting, namun tidak semua dari mereka mampu membeli Aplikasi SIM KJKS, sehingga peran pemerintah dalam membantu mereka sangat diperlukan. Melalui SIM KJKS, diharapkan akan membantu pelaku Koperasi Syariah/BMT dalam memberikan layanan prima bagi UKM diseluruh Indonesia dan mampu bergerak secara lebih efisien karena mampu menghemat investasi sistem teknologi.  “Karena aplikasi ini open source, maka koperasi tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memakai aplikasi ini, sehingga membantu Koperasi syariah untuk meningkatkan pelayanannya kepada nasabah UKM”, ujar Wiwin P. Soedjito salah satu Ketua Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah.

Lembaga Pengelola Zakat/Badan Amil Zakat (LAZ/BAZ) merupakan lembaga yang bertugas untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat kepada masyarakat miskin dalam usaha pengentasan kemiskinan. Sebagai lembaga yang memberikan layanan sosial, maka akuntabilitas merupakan faktor penting dalam pengelolaan zakat. Semakin tinggi akuntabilitas, maka akan semakin besar zakat yang mampu dikumpulkan. Dalam meningkatkan akuntabilitas, salah satunya adalah tersedianya aplikasi SIMZAKI.

Kerja sama Kemkominfo dan Masyarakat Ekonomi Syariah merupakan hasil dari nota kesepakatan (MoU) antara Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika (diwakili Dirjen Aptel Bapak Ashwin Sasongko) dengan Masyarakat Ekonomi Syariah-MES (diwakili oleh Ketua IV PP MES Bapak Wiwin Soedjito). Penandatanganan disaksikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu (Bapak Prof. M. Nuh) pada September 2009 di Jakarta. Sebagai langkah lebih lanjut, MES akan segera duduk bersama dengan BAZNAS dan ABSINDO (Asosiasi BMT Seluruh Indonesia) untuk membantu mengkoordinasikan distribusi dan implementasi aplikasi di lapangan serta mendapatkan umpan balik aplikasi yang ada terus sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Perahu Nabi Nuh Akhirnya Ditemukan di Turki

Berikut berita yang tidak boleh dilewatkan.

===

“Kami belum yakin 100 % bahwa ini benar perahu Nuh, tapi keyakinan kami sudah 99 %.” (‘Noah’s Ark Ministries International’)
Rabu, 28 April 2010, 06:45 WIB
Elin Yunita Kristanti
Peneliti China dan Turki tengah meneliti perahu Nuh di Ararat (nationalturk.com)

VIVAnews – Dikisahkan, sekitar 4.800 tahun lalu, banjir bandang menerjang Bumi. Sebelum bencana mahadahsyat itu terjadi, Nabi Nuh — nabi tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi, diberi wahyu untuk membuat kapal besar — demi  menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi lainnya.

Cerita tentang bahtera Nabi Nuh dikisah dalam berbagai buku, sejumlah film dan lain-lain. Sejumlah ahli sejarah dari berbagai negara sudah lama penasaran dengan kebenaran kisah ini.

Untuk membuktikan kebenaran cerita itulah,  kelompok peneliti dari China dan Turki yang tergabung dalam ‘Noah’s Ark Ministries International’ selama bertahun-tahun mencari sisa-sisa perahu legendaris tersebut.

Kemarin, 26 April 2010 mereka mengumumkan mereka menemukan  perahu Nabi Nuh di Turki. Mereka mengklaim menemukan sisa-sisa perahu Nabi Nuh berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur.

Mereka bahkan mengklaim berhasil masuk ke dalam perahu itu, mengambil foto dan beberapa specimen untuk membuktikan klaim mereka.

Menurut para peneliti, specimen yang mereka ambil memiliki usia karbon 4.800 tahun, cocok dengan apa yang digambarkan dalam sejarah.

Jika klaim mereka benar, para peneliti Evangelis itu telah menemukan perahu paling terkenal dalam sejarah.

“Kami belum yakin 100 persen bahwa ini benar perahu Nuh, tapi keyakinan kami sudah 99 persen,” kata salah satu anggota tim yang bertugas membuat film dokumenter, Yeung Wing, seperti dimuat laman berita Turki, National Turk, 27 April 2010.

Grup yang beranggotakan 15 orang dari Hong Kong dan Turki hadir dalam konferensi pers yang diadakan Senin 26 April 2010 lalu.

Kepada media yang hadir saat itu, mereka juga memamerkan specimen fosil kapal yang diduga perahu Nuh, berupa tambang, paku, dan pecahan kayu.

Seperti yang dijelaskan para peneliti, tambang dan paku diduga digunakan untuk menyatukan kayu-kayu hingga menjadi kapal. Tambang juga digunakan untuk mengikat hewan-hewan yang diselamatkan dari terjangan bah — begitu juga dengan potongan kayu yang dibuat bersekat untuk menjaga keamanan hewan-hewan.

Penemuan besar ini jadi amunisi untuk mendorong pemerintah Turki mendaftarkan situs ini ke UNESCO — agar lembaga PBB itu ikut menjaga kelestarian perahu Nuh.

Awalnya, direncananya para arkeolog akan menggali perahu itu dan memisahkannya dari gunung. Namun, hal tersebut tak mungkin dilakukan, meski nilai sejarah penemuan ini sangat tinggi.

***


Diyakini, ketika air surut, perahu Nuh berada di atas Gunung. Meski tiga agama besar mengabarkan mukjizat Nabi Nuh, tak ada penjelasan sama sekali, di mana persisnya perahu itu menyelesaikan misinya.

Sejak lama penduduk lokal Turki yang tinggal di pegunungan maupun kota-kota lain percaya bahwa perahu Nabi Nuh berada di Gunung Ararat.

Apalagi, pilot pesawat temput Turki dalam sebuah misi pemetaan NATO, mengaku melihat benda besar seperti perahu di Dogubayazit, Turki.

Pada 2006, citra satelit secara detil menunjukan benda mirip kapal yang diduga perahu Nuh itu adalah gunung yang dilapisi salju.

Beberapa ahli lain berpendapat bahwa sisa-sisa perahu Nuh menjadi bagian dari pemukiman manusia — yang selamat dari bencana banjir bah.

Namun, peneliti yang mengklaim penemu perahu Nuh membantahnya. “Kami tak pernah menemukan ada manusia yang bermukim di ketinggian 3.500 meter dalam sejarah umat manusia.”

Cuaca sangat dingin di ketinggian 4.000 meter itu oleh para penemu diyakini menjaga kondisi perahu Nuh selama ribuan tahun.

Harta Karun senilai Rp 720 Miliar berumur 1000 tahun di Perairan Cirebon

Wow, telah ditemukan harta karun senilai Rp. 720 Milyar di Perairan Cirebon. Bukti kejayaan jalur perdagangan Indonesia 1000 tahun yang lalu.

Selengkapnya artikel Kompas sbb.

==

JAKARTA, KOMPAS.com – Ribuan potong batu permata, rubi, emas, dan keramik Kerajaan Tiongkok, serta perkakas gelas Kerajaan Persia, senilai lebih kurang Rp 720 miliar, dilelang di Jakarta, Rabu (5/5/2010). Harta karun tersebut ditemukan dari bangkai kapal berusia 1.000 tahun di perairan Cirebon, Jawa Barat.

Luc Heymans, seorang pemburu harta karun bawah laut, mengatakan, itu merupakan temuan terbesar di Asia yang setara dengan temuan harta kapal jenis Galeon Spanyol Atocha yang tenggelam di perairan Florida, Amerika Serikat, tahun 1622, yang menggegerkan dunia. Demikian disebutkan kantor berita AFP, Minggu. Harta karun di perairan Cirebon itu semula ditemukan tersangkut jaring nelayan.

”Temuan ini berasal dari sekitar tahun 976 Masehi. Ketika itu, perdagangan dan pelayaran antara Jazirah Arab-India-Sumatera dan Jawa sangat ramai,” tutur Heymans.

Menurut Heymans, diduga ada pejabat tinggi Kerajaan Tiongkok yang menumpang kapal bermuatan harta karun yang ditemukan itu. Pasalnya, kapal yang belum diketahui namanya itu memuat banyak keramik khusus milik Kerajaan Tiongkok.

Heymans dan tim menyelam sebanyak 22.000 kali untuk mengangkut harta dengan jumlah 11.000 mutiara, 4.000 rubi, 400 safir merah, dan 2.200 batu akik merah. Selain itu, ditemukan pula vas terbesar dari Dinasti Liao (907-1125 Masehi) dan keramik Yue dari era lima dinasti (907-960) dengan warna yang khusus digunakan untuk perkakas kekaisaran. Harta karun itu diangkat dari dasar laut sejak Februari 2004 hingga Oktober 2005.

Pelaksana Tugas Direktur Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Sudirman Saad, yang juga Sekretaris Jenderal Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga asal Muatan Kapal Tenggelam, yang sedang berada di Ambon, Minggu, mengatakan, pelelangan untuk 271.381 keping benda berharga muatan kapal tenggelam yang diangkat dari perairan Cirebon dilakukan pada tanggal 5 Mei 2010. Pelelangan dilakukan melalui Kantor Piutang Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta III dan terbuka untuk pasar internasional.

Koleksi artefak itu berasal dari era lima dinasti Tiongkok yang hanya berkuasa selama 53 tahun, meliputi Dinasti Liang (907-923), Tang (923-936), Jin (936-947), Han (947-951), dan Zhou (951-960). Selain itu, ditemukan juga artefak kerajinan gelas berasal dari Kerajaan Sasanian (Persia) dan Rock Crystal peninggalan Dinasti Fatimiyah (909-1711) yang berpusat di Mesir modern.

Hasil pelelangan benda berharga itu diharapkan mencapai 100 juta dollar AS, dibagi rata antara pemerintah dan perusahaan yang melakukan eksplorasi. Pengangkatan benda berharga muatan kapal tenggelam di Cirebon yang berlangsung sejak Februari 2004 hingga Oktober 2005 itu dilakukan oleh PT Paradigma Putra Sejahtera, bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd, dengan izin Pemerintah Indonesia.

Museum bawah laut

Fenomena penemuan ribuan artefak bawah laut yang menggambarkan jejak kejayaan maritim Indonesia pada masa lampau sudah saatnya mendorong pemerintah untuk mendirikan museum bawah laut serta membangun museum bahari pada lokasi-lokasi eks kerajaan bahari.

Sudirman mengemukakan, sudah saatnya Indonesia memiliki museum artefak bawah laut yang menjadi bukti jejak kejayaan maritim Nusantara pada abad silam. Museum itu tidak hanya menampilkan nilai sejarah kapal beserta isinya, tetapi juga kemajuan budaya kerajaan-kerajaan di Nusantara.

”Museum itu bisa menggambarkan nilai sejarah kapal beserta peninggalannya, kerajaan Indonesia, atau negara lain yang pernah bermitra dengan kerajaan kita pada masa lampau,” ujarnya.

Kendati demikian, ujar Sudirman, keinginan itu terbentur kapasitas negara yang tidak memadai, baik sumber daya manusia maupun pembiayaan. Oleh karena itu, pemerintah perlu membuka diri terhadap Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) guna membicarakan kemungkinan pembangunan museum bawah laut, kriteria lokasi, pemeliharaan, dan pengawasannya.

Dari potensi ratusan titik benda berharga muatan kapal tenggelam di perairan Indonesia, perlu diseleksi lokasi yang paling tepat untuk museum bawah laut. Dengan demikian, benda-benda peninggalan di museum itu kelak dapat dinikmati sebagai obyek wisata bahari.

Di sisi lain, perlu dibangun museum bahari di beberapa wilayah eks kerajaan maritim Nusantara guna menyimpan koleksi artefak bawah laut yang telah diangkat. ”Dengan diangkat ke permukaan, masyarakat umum dapat mengetahui jejak peninggalan sejarah maritim,” ujarnya.(LKT/ONG)

How Social media platform can effect your NPS score

Saya copas artikel menarik dari Gabriel Wu sbb. Semoga berguna.

===

How Social media platform can effect your NPS score
Whether it’s a book review on Amazon, a local food blogger reporting on your restaurant, or someone angrily tweeting about the service you just completed on their car – recommendations are now forming the basis of a number of services online.

This could be very important to you if you are using the Net Promoter score (NPS) as a key measure which clearly measures ‘recommendation’.

The rise of social media has led to consumer journalism; where everyone is a critic, everyone is a reviewer, and everyone can broadcast their opinion. How do consumers filter through this mass of reviews and recommendations? The social construct they employ is built on trust.

To what extent can you trust the reviewer? What else have they reviewed? What’s their experience with the category? A paper in the Journal of Consumer Psychology investigated trust levels of expert vs. novice and experienced vs. inexperienced reviewers, they found the following

The researchers found that people were more likely to trust a reviewer when the combination of the level of expertise and the degree of confidence was surprising. That is, they tended to trust the non-expert reviewer more when he was very confident than when he was not so confident.

In contrast, they tended to trust the expert reviewer more when he was tentative than when he was very confident.