Tradeshift, the “Skype for e-Invoicing”

[tweetmeme source=”budiwiyono” only_single=false]

Untuk pasar Indonesia laku gak ya?

===

Tradeshift, which has been described as the “Skype for invoicing”, has announced a raft of new partners in the SaaS accounting space, along with plans to open up its API to enable more third-parties to tie into its free invoicing system.

The launch partners who have had access to a beta version of Tradeshift’s API include: ERPLY (free ERP system), E-conomics (a SaaS accounting solution provider), Workbook (a specialized platform for the media business), Office123 (an open-source ERP system), Continia (bank payments systems), Winfinans (Windows-based desktop accounting), and Ibistic (the leading e-invoicing workflow system in Scandinavia).

This, says the company, in which early Skype investor Morten Lund is an adviser, puts it on track to bring “directly integrated electronic invoicing” to more than 100,000 small European businesses over the next 6 months.

Tradeshift, which competes with Maventa.com, is working on what it positions as the world’s first free invoicing platform – essentially dragging invoicing and business transactions into the 21st century via open standards and the cloud – news which we broke on its launch in February. However, the roll out of its API brings into focus more ambitious plans to become “the cloud platform linking what so far have been isolated islands of business software”, says co-founder and CEO Christian Lanng.

The Tradeshift API will launch publicly on the 1st of August 2010 to enable anyone who wants to build connected business software on top of the company’s platform making it possible for developers to create applications that utilize the Tradeshift Business Network Infrastructure in order for users to exchange business documents over the network.

Source: techcrunch.com

High cost economy of Indonesia riil sector

[tweetmeme source=”budiwiyono” only_single=false]

OMG! High cost economy!

Baru tahu dari bini, ternyata ongkos kirim ke Luar Negeri naik 100% jika pakai EMS POS. Sbg gambaran kirim ke Singapore per 80 kg semula rp.2.2 juta menjadi rp.4.4juta.

Lebih mahal dari biaya pesawat garuda eksekutif, JKT-SIN, pulang pergi lagi 😦
Ckckck… geleng-geleng. Jaman CAFTA kita banyak banyak bicara daya saing koq kayak gini ya!

4 Kunci membuat sebuah produk atau layanan Elegan (Tanadi Santoso)

[tweetmeme source=”budiwiyono” only_single=false]

Berikut tulisan Tanadi Santoso yang sangat menginspirasi…

==

4 Kunci membuat sebuah produk atau layanan Elegan (Re-Post)

In Pursuit Of Elegance (~ Matthew E. May)
Why the Best Ideas have Something Missing.

In Pursuit of Elegance

Elegan. Mengapa idea yang terbaik selalu tidak lengkap?

Konsep menarik ini adalah bagaimana membuat sebuah “produk” itu bisa menjadi “elegan” dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Pengetahuan ini akan membuat kita mampu memanfaatkannya untuk menciptakan produk atau layanan yang lebih menarik, lebih menggiurkan, lebih disukai, lebih tepat guna, lebih diinginkan, lebih pas, atau dalam bahasa Matthew, lebih elegan.

Ada 4 kunci yang membentuk konsep ini.

Yang pertama adalah symmetry atau keselarasan. Kalau forensik menemukan separoh wajah anda dan diinstruksikan untuk mengkonstruksi ulang maka akan terbentuk wajah yang sangat amat mirip dengan wajah anda sebenarnya, karena wajah kita, otak kita, tangan kaki kita, semuanya dalam format simetri.

Simetri adalah keselarasan dan keharmonisan alam semesta. Alam dilengkapi dengan simetri. Gambar salju dapat digambar dari segitiga kecil, ditambahkan segitiga lagi, dan seterusnya. Hutan lebat, digambarkan pohon dengan dahan yang rumit, maka kalau kita sederhanakan akan terasa kesamaan dari ranting-ranting kecil yang membentuk daun dan dahannya sampai bentuk keseluruhannya. Elegan design memiliki simetri.

Kunci kedua adalah rayuan. “Seduced by Nothing” ini menerangkan, bahwa manusia sejak bayi selalu tertarik akan misteri, keingintahuan, atau ketidak lengkapan sesuatu.

Senyuman Monalisa dianggap misterius, dan membangkitkan banyak emosi yang berbeda dari orang yang melihatnya. Ada kesedihan, kebahagiaan, mencomooh, rayuan tersembunyi, bahkan amarah. Riset mendalam menunjukkan bahwa Leonardo sengaja menyamarkan dan mengaburkan beberapa bagian pada senyumnya, sehingga apa yang dilihat orang satu akan beda dengan orang lain, tergantung bagaimana otak dan asumsi orang yang melihatnya. Sehingga lukisan Monalisa ini bisa menjadi seperti cermin, menggambarkan kembali apa yang ingin anda artikan.

Presentasi perkenalan produk baru iPhone, yang kontan menjadi buah bibir semua orang yang melihat presentasi Steve Jobs, juga penuh misteri. Karena setelah demo itu, tidak ada lagi berita detail apapun, tidak ada iklan apapun, dan tidak ada keterangan apapun dari Apple, untuk waktu berbulan bulan. Kehausan akan rasa ingin tahu, dibiarkan menjadi senjata “Word Of Mouth” yang sangat sukses dalam promosi iPhone.

Ketiga adalah Laws of Substraction, atau Hukum Pengurangan, juga menjadi faktor kunci suksesnya iPhone. Steve Jobs yang selalu sangat fanatik pada design, mengutamakan kesederhanaan, computer mouse dengan satu tombol, komputer tanpa internet kabel, iPod tanpa banyak tombol, dan iPhone juga akhirnya diluncurkan dengan layar sentuh tanpa tuts keypad. Kesederhanaan adalah kunci elegan. Bisnis Hotel mengurangi pelayanan yang tidak dihargai pelanggannya untuk mampu menawarkan kamar baik dengan harga murah. Kita perlu hilangkan hal2 yang tidak penting buat pelanggan kita.

Kunci keempat, “On Sustainable Solution”, atau solusi yang bisa bertahan lama, mengajarkan tentang pemikiran yang mendalam. Sustainable hanya bisa dicapai kalau kita mencari jawaban dengan sangat mendasar. Solusi yang optimal, dan tidak cepat puas dengan jawaban yang pertama muncul, dan dapat bertahan dalam panjangnya waktu, adalah jawaban yang elegan. E=mc2 nya Einstein, Teori evolusinya Darwin, adalah salah satu contoh yang bertahan dalam perubahan waktu.

Pemikiran ini berguna bagi, pelukis, designer produk, pelaku advertising, dan pebisnis. Empat kunci dasar ini dapat diaplikasikan pada layanan dan produk, pada penulisan cerita fiksi atau pembuatan filem, pada pembuatan iklan, ataupun dipakai untuk memberikan solusi yang paling elegan pada persoalan bisnis kita.

Ori Source: Tanadi Santoso.

Are You Unhappy? Come to Indonesia. Welcome to Smiling Country

[tweetmeme source=”budiwiyono” only_single=false]

Are You Unhappy? Come to Indonesia.

Welcome to Smiling Country 🙂

Tadi pagi mendengarkan talkshow Tanadi Santoso, bicara soal ranking negara ter-happy, Indonesia mendapatkan rating yang bagus!

Hal ini penting untuk memberi masukan kepada banyak pihat tentang Branding yang tepat bagi Indonesia.

Di saat saat tingkat stress secara global naik, ada fakta menarih nih…
Indonesia mendapatkan urutan ke 23 Negara ter-Happy.

Posisi Indonesia lebih bahagia (happy) ketimbang negara berikut ini yang saya yakin banyak yang menganggap hidup di negara berikut ini lebih menjamin kebahagiaan 😉

Negara, Ranking

  • China, 31
  • Thailand, 32
  • Malaysia, 44
  • Timor Leste, 48
  • Papua New Guinea, 76
  • Jerman, 81
  • Saudi Arabia, 89
  • India, 90
  • New Zealand, 94
  • Jepang, 95
  • Brunei Darusalam, 100
  • UK, 108
  • Israel, 117
  • Singapore, 131
  • USA, 150

Dengan Top 10 sbb:

  • 10. Luxembourg  – 7.6 points
  • 9. Guatemala – 7,6 points
  • 8. Canada – 7,6 points
  • 7. Sweden – 7,7 points
  • 6. Australia – 7,7 points
  • 5. Finland – 7,7 points
  • 4. Iceland – 7,8 points
  • 3. Austria – 8,0 points
  • 2. Switzerland – 8,1 points
  • 1. Denmark – 8,2 points

Selain ranking di atas juga ditemukan bahwa:

Mystery Shopping Providers around the world have participated in the Smiling Report 2009 which compiles customer service data from evaluations conducted across a spectrum of industries. The summary for 2008 includes answers to more than 2.5 million questions covering Smile, Greeting and Add-on sales in 66 countries.

Smiling 2008 was 77% compared to 82% in 2007 and 87% in 2004. The highest smiling country was Indonesia with 98% and the lowest was Pakistan with 44%. The best smiling industries were Health & Beauty Care and Transport with 86% and the lowest scores were in B2B with only 52%.

Add-on Sales scores have always been much lower than smile and greeting.

In 2008 it was 45% which is the same as in 2004. The score has been a bit better in 2005 51%, 2006 56% and 2007 48%, but now when sales is even more important it has dropped back to 45%. Highest sales score was in Pakistan with 82% and lowest is Finland with as low as 3%.  B2B had the highest scores for add-on sales 65% while Leisure had the lowest with 40%.

Greeting 2008 and 2007 was 81% compared to 88% in 2004. The highest greeting countries were Indonesia and Hong Kong with 98% and the lowest was Morocco at 48%. The best greeting was found in Government services with 94% while B2B had 70%.

Big gap between the Continents
Australia had highest scores of all continents, in Smiling 89%, Greeting 92% and Add-on Sales 58%. Africa had the lowest scores of all continents, in Smiling 61%, Greeting 51% and Add-on sales 33%.

Pernah juga di bahas di salah satu forum marketer club yang saya ikuti di Jakarta, ada fakta bahwa, untuk ukuran Singapura, membuat branding Layanan Singapore Airlines yang standard nya adalah Pramugari harus Caring dan ramah, katanya susah sekali. Mereka harus di training untuk murah senyum. Ini senyum palsu lho!
Beda dengan melatih Caring values untuk Pramugari Indonesia, tidak selalu sulit karena budaya ramahnya masih bagus. Dan ini terlihat dari Ranking, Indonesia ranking 23 sedangkan Singapore berada di ranking 131, jauh sekali bukan?

Saya setuju sekali jika untuk Pariwisata, Indonesia harus di branding menjadi Smiling dan Happiness!. Cukup kuat karena fakta menunjukkan ranking kita bagus dalam hal ranking kebahagiaan. Jangan sampai negara yang urutannya di bawah Indonesia malah berhasil menancapkan ke benak pasar bahwa negara mereka adalah “Smiling Country”!

Bagaimana kita jadikan:

Are You Unhappy? Come to Indonesia. Welcome to Smiling Country 🙂

Silakan check negara-negara dengan ranking di bawah Indonesia yang memakai “Smiling Country” sebagai branding nya, saya mendapatkan beberapa temuan. Ayo buruan dipakai ramai-ramai, jangan sampai dipakai oleh negara yang urutannya di bawah kita 😉

Sebagai pentutup artikel ini, saya selalu suka dengan inspirasi The 7 Laws of Happiness dari bung Arvan Pradiansyah:

If you want to be Happy, be Happy NOW! 🙂

Monggo silahkan dikomentari.

Reference:

Indonesia pada tahun 2050 AKAN menjadi 7 negara paling besar di dunia

Breaking News!

Goldman Sachs, sebuah global investment banking and securities firm, meramalkan Indonesia pada tahun 2050 AKAN menjadi 7 negara paling besar di dunia (urutan GDP) antara USA, CHINA, BRAZIL, RUSIA, etc termasuk Indonesia.

Ini berarti 40 tahun ke depan Indonesia Insya Allah dari negara yang tidak punya ranking ekonomi menjelma menjadi negara terbesar urutan ke 7.

Sofjan Wanandi mengingatkan, hal tersebut baru bisa tercapai jika Indonesia bersih dan bebas dari segala bentuk Korupsi.

Semangat!