Tips memulai Usaha (1)

Kebanyakan yang sukses menjadi pengusaha adalah “Si Bodoh”. Bagaimana tips memulai usaha agar “Si Pintar” juga bisa sukses menjadi pengusaha? Gunakan otak kanan!

Artikel “si Pintar dan si Bodoh” kiriman rekan saya (dari inspireneur) di bawah ini provokatif juga, yach.. đŸ™‚

Komentar saya adalah: yang dimaksud dengan “si Bodoh” dalam artikel di bawah adalah orang orang yang lebih condong otak kanan. Oleh karena itulah karena dunia entrepreneurship sangat membutuhkan kekuatan otak kanan untuk menindaklanjuti peluang bisnis, “si Bodoh” tadi perform lebih cepat punya ide dan lebih yakin dalam melangkah karena otak kirinya tidak menghambatnya. Atau bisa dibilang, “si Bodoh” menggunakan otak kanannya.

Otak kiri “Si Bodoh” tidak mem-filternya, seperti yang lazim terjadi pada orang orang otak kiri:

  • orang otak kiri saat mau memulai bisnis bilang: “jangan… resiko nya besar!” -> padahal resiko sebanding dengan reward bagi orang otak kanan
  • orang otak kiri jarang menggunakan intuisi, padahal intuisi banyak harus digunakan saat kita tidak punya petunjuk histori/data data dari pengalaman orang lain sebelumnya
  • dst

Belajar dari UFC (ceile), dalam dunia mixed martial art, atlet-atlet yang menjadi pemenang adalah yang hebat memakai segala jenis aliran bela diri yang efektif (menerapkan KOMBINASI dari wrestling, boxing maupun jiujitsu atau yang lainnya). Sama!… dalam dunia usaha, kenyataan yang harus di hadapi di lapangan adalah kita tidak bisa mendikotomikan otak kiri atau otak kanan. Memang budaya kita cenderung otak kiri. Sekolah kita hampir 100% otak kiri. Sehingga orang-orang otak kanan cenderung terlihat jadi “si Bodoh”. “Si Bodoh” yang nilai IPK nya pas pasan atau nilai rendah itu ternyata Jenius dalam bidang bidang otak kanan, seperti bidang entrepreneurship.

Ya, kita tidak bisa mendikotomikan otak kiri dan otak kanan, belajar dari Mixed Martial Art, GUNAKAN KEDUANYA.

Kata si Kiri: “Studi kelayakan dulu, ntar baru buka usaha”. Balas si Kanan: “Buka usaha dulu, ntar baru usahanya dilayakkan” (Ipho Santosa)

Latihlah menggunakan keduanya dengan sebaik mungkin jika mau segera memulai menjadi entrepreneur. Maksudnya: OTAK KANAN DULU baru otak kiri. Perkuat otak kanan!

Tahukan anda, otak kanan itu menentukan 80% kesuksesan, lantaran tak terpisahnya otak kanan dengan EQ

Tahukan anda, Golongan “Kanan” melakukan sesuatu karena panggilan jiwa, bukan panggilan kerja? Sepenuh hati, bukan sepenuh gaji

Tahukah anda, sekitar 80% – 85 % penduduk bumi itu adalah golongan “Kiri”? Sisanya sekitar 15% – 20 % adalah golongan “Kanan”

(Ipho Santosa)

Berikut ini artikel tentang “Si Bodoh” yang berkibar di dunia entrepreneurship.

==

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis

Agar bisnis berhasil, ia merekrut orang pintar

Walhasil, banyak boss2 orang pintar adalah orang bodoh…

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka rekrut orang pintar utk memperbaiki yg salah.

Walhasil, orang bodoh memerintah orang pintar untuk keperluannya…

Orang pintar belajar utk mendapatkan ijazah & mencari kerja.

Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang utk membayar orang2 pintar.

Orang bodoh berpikir pendek utk memutuskan sesuatu yg dipikirkan panjang2 oleh orang pintar.

Walhasil orang pintar menjadi staf orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang pintar yg bekerja.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu utk bekerja keras dg hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu utk bersenang2 dg keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari2 apa yg bisa dijadikan duit.

Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan2 pekerjaan yg lebih & lebih baik lagi…

Bill Gates, Dell, Henry Ford, Mas Agung (Gunung Agung) & banyak pengusaha2 lain, tidak pernah jadi sarjana, tapi jadi pengusaha2 yg mampu memperkerjakan orang2 pintar & menghidupi keluarga mereka.

Lalu PERTANYAANNYA?.

– Lebih baik jadi orang pintar atau orang bodoh ?

– Pinteran mana, orang pintar atau orang bodoh ?

– Mana yg lebih susah, orang pintar atau orang bodoh ?.

KESIMPULAN :

Jangan lama2 jadi orang pintar.!

Mari menyegerakan jadi orang bodoh yg pintar & menghindar jadi orang pintar yg bodoh.

Kata kuncinya adalah: “Resiko” & “Berusaha”.

Orang bodoh berpikir pendek, maka dia bilang resikonya kecil. Dia akan berusaha agar resiko betul2 kecil.

Orang pintar berpikir panjang, maka dia bilang resikonya besar. Dia tidak berusaha mengambil resiko tersebut & mengabdi pada orang bodoh.

Di manakah posisi kita saat ini ?. Keputusan ada di tangan kita :).

Indonesia mendominasi Kompetisi Contact Center Dunia

Cuplikan hal 155 buku “Call Center” by Grace Heny, Gramedia.

==

Indonesia menjadi langganan juara dalam ajang kompetisi contact center tingkat dunia. Tahun 2011 lalu, Indonesia memboyong 6 medali emas. Prestasi tersebut menempatkan Indonesia menjadi juara umum, mengalahkan tuan rumah Amerika Serikat di peringkat kedua.

Kita amat bangga dan pantas bangga karena kompetisi tersebut diikuti oleh 28 negara dan melalui proses yang lumayan panjang. Keenam medali emas itu antara lain dipersembahkan oleh Astra World, Halo BCA dan Direktorat Pajak.

Sebelum ikut kompetisi tingkat dunia, setiap peserta harus melewati tahapan menjadi pemenang di wilayahnya masing masing. Indonesia misalnya, harus menjadi juara dulu di kawasan Asia Pasifik yang berisi 18 negara dengan lebih dari 200 kontestan. Ajang kompetisi wilayah menjadi tahapan seleksi ketiga, sebelum masuk ke putaran final tingkat dunia. Hanya juara pertama setiap kategori yang berhak mengikuti kompetisi contact center dunia.

Tahun 2012 ini Indonesia kembali mengirimkan puluhan peserta dalam ajang tingkat Asia Pasifik. Lagi lagi sejumlah perusahaan besar yang langganan juara berhasil mengirimkan wakilnya. Mandiri Call menjadi perusahaan yang mengirimkan peserta terbanyak, disusul oleh Halo BCA – langganan juara tahun sebelumnya, Astra World, Ditjen Pajak, Hutchinson (Three) dan Infomedia. Mereka bersaing dengan negara negara kuat seperti Jepang, Australia, Filipina, Malaysia, Thailand, Hongkong, China dan tuan rumah Singapura.

Kompetisi contact center tingkat Asia Pasifik dan tingkat dunia sama sama memiliki gengsi dan sama sama berat.

….

Indonesia sudah terbukti mampu berbicara banyak dalam ajang kompetisi contact center tingkat Asia Pasifik dan Dunia. Selain itu praktisi Indonesia pun dipercaya menjadi juri dalam ajang tersebut. Semoga prestasi itu terus berlanjut, dipertahankan dan selalu meningkat.

Info perkembangan terakhir hasil championship: http://www.contactcenterworld.com/hreport.aspx?rid=APAC