Best Practice Pendidikan Anak di Indonesia

Minggu yang lalu saya berdiskusi dengan rekan rekan #twitedu. Dan mendapat share current status pemetaan pendidikan di Indonesia saat ini seperti apa.

Kemudian saya tweet sbb:

http://twitter.com/budiwiyono/status/305594666773004288

dan Twit ini:

http://twitter.com/budiwiyono/status/305608970289152000

serta Twit ini:

http://twitter.com/budiwiyono/status/305623027251572736

Rkn2 #twitedu, sdh jd fakta, keprihatinan kelemahan kurikulum Sekolah Ind kita sikapi sbg Ortu dgn Nambah “Sekolah di Rumah”. Semangat!

Sy tambah u/ anak2 sy: Leadership &Interpersonal Skill (Game Kelp), Entrepreneur Skill (Otak Kanan+Game Jualan) #twitedu

Rekan2 #twitedu jgn lupa, dari hampir semua tokoh yg sukses, Resepnya: peranan orang tua yg percaya dgn anak & full support!

Belakangan baru saya tahu, bahwa Twit saya tsb jika memakai istilah nya pak Renald seminggu kemudian dalam Kultwit beliau, termasuk Jalur Pendidikan Orang Tua. Dimana School of Life isinya adalah gabungan dari: (BS+BOT+BL).

Dimana: BS = belajar di Sekolah, BOT = Belajar dari Orang Tua, BL  = Belajar dari Lingkungan.

Jadi jelas ya, (BS+BOT+BL) harus mendapatkan waktu yang seimbang. Jika BS nya terlalu besar, maka anak sudah kecapekan dan tidak mampu lagi belajar dari BOT dan BL.

Belajar dari BOT pun perlu waktu yang cukup luas, karena BOT tidak hanya papa dan mamanya saja, tapi ada tante nya, om nya dan lain lain.

Kemudian setelah tweet tsb, saya menyempatkan diri menyimak Video Talkshow #twitedu:

Discussion – Lesson Learned from TIMSS & PIRLS Assessment: http://atamerica.or.id/video/detail/527/Discussion-Lesson-Learned-from-TIMSS-PIRLS-Assessment

Diskusi Status Pendidikan di Indonesia

==

Secara kebetulan Seminggu kemudian, 27 Feb, 2013 kemarin saya melihat Twit Pak @Rhenald_Kasali yang gue banget lah…

Twitter Post Text nya sbb:

Skali lagi ya (1): anak tdk hanya belajar dari sekolah, melainkan juga dari Orang tua dan dari Lingkungannya. Jd ada 3 pilar belajar.

Kurikulum Org Tua (2). Domainnya ada 8, tp yg pnting buat anak: afeksi, kognisi, bahasa, fisik, dan sosial. Kl ada yg ngerti blh jelaskan

Kurikulum Org Tua (3). Ksalahan terbesar kita sbg orgtua adlh melepas 100% pendidikan anak pd jalur skolah, atau pakai cara belajar sekolah

Kurikulum Org Tua (4). Mendidik di rumah cr skolah misalnya, menghabiskan waktu untuk membuat PR, mempersiapkan lbh dulu pelajaran bln depan

Kurikulum Org Tua (5). Shg kita tak pny waktu menemani bermain, melatih fisiknya, bercerita, mengajarkan moralitas dengan story telling

Kurikulum Org Tua (6): Org tua bs mengisi aspek “self” shg melatih habit anak spt Self discipline, self confidence, slf awareness dst

Jadi kalau anak pandai berhitung, jago menghafal, nilai sekolahnya bisa tinggi, jangan puas dulu. Kt mungkin terlalu “push” pd jalur sekolah

Kurikulum Org Tua (7). Bagaimn kl dia pandai di sekolah tetapi egois, afeksinya rendah, hubungan sosialnya buruk? Kasihan ms depannya.

Kurikulum Org Tua (8). Sy sendiri termsk sulit seklh waktu SD, merasa bodoh namun beruntung mndpt pendidikan kuat dr Org tua dan lingkungan

Kurikulum Org Tua (9). Kesulitan hidup melatih sy bkerja keras, introspeksi, self discipline, altruism, assertism, bahkan mngkin kreativitas

Kurikulum Org Tua (10). Jd nilai dlm school of life adlh gabngan dr: (BS+BOT+BL). BS bljr di sklh, BOT (bljr dr orgtua), BL ( dr lingkungan)

Ya, sdh berat di sekolah, di rumah anak dilatih dgn cara skolah: kursus2. Spy tak ketinggalan di sekolah, calistung. Bearti hny push 1 jalur

Tahukah anda, jmlh mata ajar trbnyk di dunia ada di sini? Di SMU 18 sd 24. Di Luar negri, kebanyakan sdh direduksi jd 2 wajib dan 4 pilihan

Kemudian di simpulkan sbb:

Apa akibat kebanyakan mata ajar?

Ini observasi saya: (1) semua dihafal, (2) mudah marah dan stress, (3) kesurupan mnjelang UN(4) lahir generasi bingung, (5) tdk bs mengungkapkan isi pikiran scr verbal dan tulisan(6) hanya menguasai permukaan dr sebuah bongkah besar pengetahuan (7) critical thinking dan creative thinking krg terlatih, cepat frustasi, mudah tertipu.

Ketika mata ajar akan dikurangi, kebanyakan generasi tua tdk senang dan percaya bhw pengurangan adlh pembodohan….

TINDAK LANJUT:

Jadi hrs bagaimana?

Pertama, kompetisi yg menegangkan antara sesama orangtua dgn membanding2 kan anak hrs dihentikan.

Kedua, jumlh mata ajar hrs dikurangi agar anak lbh bisa diisi kluarga dan lingkungan. Lingkungan pun hrs dicarikan yg kondusif

PENUTUP:

Ingatkah anda, bahwa prinsip (BS+BOT+BL) yang di remind lagi oleh pak @Rhenald_Kasali tsb orisinil nya berasal dari mana? Dari Ki Hajar Dewantoro, Bro & Sis… Bapak Pendidikan Indonesia!

Jadi jelas sekali rekan-rekan, dari Video jelas bahwa Sekolah bukan satu satunya Sekolah, perlu “gerakan budaya” untuk mendidik anak. Ini sama dengan pendapat pak Rhenald, bahwa Sekolah Hidup itu tidak hanya BS saja, tapi (BS+BOT+BL).

Peran orang tua ini sangaaaaat penting, dan kondisikan belajar dari Lingkungan yang hebat dan baik.

Khusus untuk “Peran Orang tua”, seperti yang pernah saya Twit:

http://twitter.com/budiwiyono/status/305623027251572736

Untuk Ayah dan Bunda yang Peduli dengan memaksimalkan Strategi Brain Development anak anak kita, silakan bergabung dan bahu membahu pada Online Community: “Brain Development Indonesia”. See you there…

Selamat mendidik anak Indonesia yang hebat!

Silakan comment dan berdiskusi 🙂



+ Budi Wiyono
on Google+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s