Peluang menyongsong Ledakan Pasar Lapis Menengah (1)

Artikel mas Yuswohady di bawah ini isinya sangat senada dengan materi yang disampaikan Pak Faisal Basri pada Markplus’s Marketeers Club.

Budi Wiyono
Nice Article!
Kemarin saya juga dapat update di Markplus Marketeers, dipaparkan secara lugas (gak pake tedeng aling-aling) oleh Faisal Basri.

Perlu banyak tulisan Positif dalam menyongsong Breakout angka 3000 Mas…

Trend ini juga didukung dengan Capital InFlow yg berbeda dari tahun2 sebelumnya. Rasio Longterm Investment lebih bagus, dari 1:5 menjadi 1:2

Yuswo Hady
@Budi, @Tatty betul, momentum GDP/kapita $3000 harus direspons dan disikapi secara serius oleh pemerintah dan pelaku bisnis di negeri ini. Menilik ke Cina, bahkan Perdana Menteri Hu Jintau sendiri (pada tahun 2004) yang mengikrarkan dan me…ngajak seluruh komponen masyarakat agar Cina bisa cepat mewujudkan GDP/kapita $3000.Jadi jauh sebelum angka tersebut ditembus (karena visi Cina akan mencapainya di tahun 2020, tetapi karena komitmen yang tinggi dari bangsa besar ini akhirnya terwujud tahun 2008) Cina sudah mempersiapkannya (misalnya persiapan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara, dsb). Sehingga begitu angka tsb ditembus, negara ini sudah memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengakomodasi ledakan pertumbuhan yang terjadi.

Di Indonesia, hanya segelintir ekonom dan pejabat yang peduli dengan angka psikologis ini. Ketika posisi angka $3000 sdh ditembus saat ini, kita melihat kondisi infrastruktur kita baik jalan tol, bandara, pelabuhan yang memprihantikan dan overloaded. Karena itu tak terhindarkan akan terjadi “bottleneck” yang berakibat accelerated development di atas tak sehebat di Cina atau Korsel. Let’s seeSee More

==

Consumer 3000

by Yuswo Hady on Saturday, December 4, 2010 at 2:34pm

Minggu lalu (27/11) saya diundang SmartFM untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar Economic Outlook and Business Strategy 2011. Bersama beberapa pembicara lain, antara lain, ibu Aviliani, kami membahas perubahan lanskap bisnis tahun depan. Blessing in disguise, berkat seminar itu seminggu sebelumnya saya kurang tidur karena “keranjingan” menelusuri data demi data untuk bahan presentasi saya. Kenapa keranjingan? Karena saya mendapatkan sebuah temuan yang sangat menarik yang kemudian memacu andrenalin saya untuk menelusurinya.

Temuan menarik tersebut adalah kenyataan bahwa tahun depan (2011) untuk pertama kalinya GDP/kapita (nominal) Indonesia bakal menembus angka US$3000.  Saya periksa data IMF (International Monetary Fund) tahun ini diprediksikan GDP/kapita kita sebesar $2.963 dan tahun depan mencapai $3270. Sadarlah, kini kita sudah tidak lagi negara berkembang. Dengan jumlah penduduk 240 juta, Indonesia adalah negara besar dengan kekuatan ekonomi yang bakal sejajar dengan negara-negara besar lain seperti Cina, India, Brasil, atau Rusia.

Apa istimewanya angka GDP/kapita $3000? Menilik pengalaman negara lain, $3000 adalah angka batas (treshold) suatu negara yang akan masuk dalam jajaran negara maju. Ambil contoh Korea Selatan. Begitu Korea Selatan mencapai level angka GDP/kapita $3000, negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat (accelerated development) secara terus-menerus selama 11 tahun. Saking “kramat”-nya angka $3000 ini, Pemerintah Komunis Cina pada tahun 2002 pernah mencanangkan target GDP/kapita $3000 ini dicapai pada tahun 2020. Namun apa yang terjadi? Cina mampu menembus angka psikologis itu di tahuh 2008-2009, dan setelah itu menikmati akselerasi pertumbuhan yang sangat fenomenal.

Kenapa bisa begitu? Karena lapis masyarakat kelas menengah (middle class) dari negara yang GDP/kapita-nya menembus $3000 sudah begitu besar, sehingga kelompok ini menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang sangat powerful. Majalah Economist edisi 12 Februari 2009 mengenai tumbuhnya kelas menengah di negara-negara sedang tumbuh (emerging countries) mendefinisikan kelas menengah ini adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income) 1/3 dari keseluruhan pendapatan.

Disposable income inilah yang mereka pakai untuk membeli produk dan layanan “advance” seperti mobil, AC, lemari es, TV flat, gadget terbaru, layanan perbankan dan asuransi, berwisata ke luar negeri (nggak hanya ke Bali), nongkrong di cafe, hingga konsumsi broadband internet. Kuatnya permintaan dari kelas menengah inilah yang berpotensi mendorong tumbuhnya industri yang terkait secara meluas, yang pada gilirannya menggerakan laju pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.

Mengacu ke konsep kebutuhan dan motivasi manusia dari Maslow, begitu suatu masyarakat menembus angka psikologis $3000, maka kebututhan dasar (basic needs) sudah lewat. Karena itu mereka mulai naik ke atas, masuk ke kebutuhan yang lebih advance seperti self-respect, status sosial, kebutuhan bersosialisasi, dan sebagainya. Itu sebabnya tak mengherankan jika Starbuck begitu sukses di negeri ini. Atau, McDonalds dan KFC sekarang sudah berubah model, bukan fast food lagi, tapi sudah menjadi kafe. Coba saja Anda datang ke McDonalds dan KFC yang 24 jam, pada pukul 12 malam, pasti ramainya minta ampun. Mereka tak sekedar makan, tapi kongkow-kongkow, ada yang kerja dengan laptopnya, ada juga yang melakukan business meeting.

Macetnya jalan di Jakarta dan kroditnya bandara (melebihi stasiun dan terminal) juga merupakan bukti sudah hadirnya kelas menengah dan konsumen dengan buying power tinggi di negeri ini. Kemacetan Jakarta tak lain adalah akibat dari begitu banyaknya konsumen yang sudah mampu beli mobil, tapi panjang jalannya tidak bertambah. Begitu juga, kroditnya bandara adalah akibat begitu banyak konsumen kita yang sudah mampu beli tiket pesawat, tapi tidak didukung bertambahnya ruang bandara.

Apa implikasi dari tembusnya GDP/kapita kita ke angka ambang $3000? Saya memprediksikan akan terjadi revolusi konsumen. Tembusnya ambang $3000 akan memunculkan “konsumen baru” dengan psikografi, sosiografi, dan perilaku yang berbeda dengan yang ada sebelumnya. Konsumen baru itu saya sebut: “Consumer 3000”.

Di samping memiliki buying power yang tinggi, Consumer 3000 juga more educated, more knowledgable, more civilized. Mereka lebih modern, memiliki global mindset (thanks to Internet!), mereka juga lebih technology savvy yang haus gadget seperti Galaxy Tab atau iPad. Secara natural dan pelan tapi pasti, mereka akan menjadi konsumen yang lebih health-conscious dan environmentally-concern.

Tapi ingat, karena mereka more educated dan more knowledgable, maka mereka akan lebih rasional dan sangat kritis dalam menentukan pembelian dan memilih barang-barang yang akan mereka konsumsi. Karena itu Consumer 3000 adalah jenis konsumen yang sangat value-oriented. Artinya, mereka sangat kritis menimbang-nimbang dan mengkaji value dari produk yang ditawarkan. Mereka tidak lagi melihat dunia barat (dengan teknologi, merek, gaya hidup-nya) secara “terpana” dan “wah”. Mereka memiliki global mindset tapi tidak membabi-buta dalam mengonsumsi merek-merek global; value tetap menjadi ukuran terpenting bagi mereka dalam memutuskan pembelian.

Dengan tembusnya $3000, maka konsumen jenis baru ini akan tumbuh dengan pesat dan akan mewarnai pembelian dan konsumsi produk dan layanan di berbagai industri. Karena itu setiap marketer di negeri ini harus cermat memantau perubahan perilaku konsumen baru ini, dan kemudian meresponnya dengan strategi-strategi pemasaran yang relevan.

Transisi dari kondisi lama ke baru selalu diikuti dengan kondisi chaotic sebelum transisi tersebut mencapai keseimbangan baru. Karena itu, saya meramalkan kemunculan Consumer 3000 ini di Indonesia akan memicu munculnya “gempa tektonik” dalam jagat pemasaran di Indonesia. Dan dalam setiap keadaan yang tidak menentu selama “gempa tektonik” tersebut pasti terdapat banyak peluang (sekaligus ancaman) yang bisa dipetik oleh marketer. Siapa jeli, pasti dia dapat. “Welcome Consumer 3000”. *

Tips agar Perusahaan menjadi Inovatif

Berikut ini tips yang sangat… sangat sederhana tentang Bagaimana agar Perusahaan Menjadi Inovatif.

Tips ini menurut saya sangat cocok untuk Starter.Kalau perlu adopsi sbg Corporate Culture anda.

Jika model di bawah bisa di adopsi, maka silakan dilanjutkan ke level yang lebih serius lagi dalam mengadopsi prinsip-prinsip yang sama yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan berbasis Inovasi seperti IDEO dan Google.

Faktor-faktor tsb di bawah merupakan pengalaman Ciputra dalam menciptakan lingkungan perusahaan Inovatif.

===

Oleh: Harun Hajadi

Empat tahun yang lalu, saya sempat menulis tentang Innovation: Innovate or Die pada Edisi Ciputra News Juni 2005. Memang topik tentang inovasi tidak pernah usang. Dengan kompetisi di sekitar kita yang semakin ‘intense’, kita dipaksa untuk inovatif. Tetapi untuk kita menjadi sebuah perusahaan yang inovatif, tidak cukup kita hanya meng-‘hire’ orang-orang yang inovatif. Faktor lain yang penting adalah dengan menciptakan suasana yang mendorong orang-orang di sekitar kita menjadi inovatif.

1. Atasan yang terbuka dengan ide-ide baru bawahannya. Ini adalah faktor yang penting sekali. Atasan berani mengambil keputusan untuk ‘go’ atau ‘no go’. Jika sudah mengatakan ‘go’, dia juga harus menerima konsekuensinya kalau tidak sukses, atau sebaliknya.

2. Peers’ yang mendorong inovasi. Ini faktor yang penting sekali. Belum tentu orang yang inovatif dapat mendorong orang lain atau menciptakan suasana menjadi inovatif. Faktor yang lebih penting adalah misalnya dengan selalu menempatkan orang-orang yang antusias, orang-orang yang berpikiran positif, yang dapat bekerja sama sebagai tim (bukan individualis), aktif, selalu mau belajar hal-hal yang baru, yang tidak posesif terhadap apa yang dikerjakan, dan selalu terbuka dengan masukan-masukan.

3. Mempunyai rasa memiliki. Saya tidak pernah percaya seseorang bisa dituntut untuk inovatif jika dia tidak mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap perusahaan tempat dia bekerja. Jika dia berpikir bahwa dia hanya bekerja dan setiap hari hanya masuk kerja karena kewajiban, tidak adil rasanya kita menuntut dia untuk inovatif, karena ‘gak nyampe gitu lho!’

Sebenarnya faktor-faktor di atas sudah kita ketahui semua, hanya saja memang kita tidak menyadarinya. Saya juga memperhatikan bahwa proyek-proyek yang inovatif di Ciputra Group sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas tadi.

Sebenarnya kata besar dari ini semua adalah ENTREPRENEURSHIP seperti yang selalu didengung-dengungkan oleh Founder kita Bapak Dr. Ir. Ciputra. Apakah kita memiliki ‘entrepreneurship spirit’ yang tinggi, sehingga kita secara naluri inovatif, inovatif dari cara kita bekerja, cara kita mencari peluang, cara kita memecahkan masalah, cara kita berinteraksi dengan orang lain ataupun cara kita memotivasi ‘sub-ordinate’ kita atau kolega kita. Selamat berinovasi dan ber-enterpreneurship…



4 Kunci membuat sebuah produk atau layanan Elegan (Tanadi Santoso)

[tweetmeme source=”budiwiyono” only_single=false]

Berikut tulisan Tanadi Santoso yang sangat menginspirasi…

==

4 Kunci membuat sebuah produk atau layanan Elegan (Re-Post)

In Pursuit Of Elegance (~ Matthew E. May)
Why the Best Ideas have Something Missing.

In Pursuit of Elegance

Elegan. Mengapa idea yang terbaik selalu tidak lengkap?

Konsep menarik ini adalah bagaimana membuat sebuah “produk” itu bisa menjadi “elegan” dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Pengetahuan ini akan membuat kita mampu memanfaatkannya untuk menciptakan produk atau layanan yang lebih menarik, lebih menggiurkan, lebih disukai, lebih tepat guna, lebih diinginkan, lebih pas, atau dalam bahasa Matthew, lebih elegan.

Ada 4 kunci yang membentuk konsep ini.

Yang pertama adalah symmetry atau keselarasan. Kalau forensik menemukan separoh wajah anda dan diinstruksikan untuk mengkonstruksi ulang maka akan terbentuk wajah yang sangat amat mirip dengan wajah anda sebenarnya, karena wajah kita, otak kita, tangan kaki kita, semuanya dalam format simetri.

Simetri adalah keselarasan dan keharmonisan alam semesta. Alam dilengkapi dengan simetri. Gambar salju dapat digambar dari segitiga kecil, ditambahkan segitiga lagi, dan seterusnya. Hutan lebat, digambarkan pohon dengan dahan yang rumit, maka kalau kita sederhanakan akan terasa kesamaan dari ranting-ranting kecil yang membentuk daun dan dahannya sampai bentuk keseluruhannya. Elegan design memiliki simetri.

Kunci kedua adalah rayuan. “Seduced by Nothing” ini menerangkan, bahwa manusia sejak bayi selalu tertarik akan misteri, keingintahuan, atau ketidak lengkapan sesuatu.

Senyuman Monalisa dianggap misterius, dan membangkitkan banyak emosi yang berbeda dari orang yang melihatnya. Ada kesedihan, kebahagiaan, mencomooh, rayuan tersembunyi, bahkan amarah. Riset mendalam menunjukkan bahwa Leonardo sengaja menyamarkan dan mengaburkan beberapa bagian pada senyumnya, sehingga apa yang dilihat orang satu akan beda dengan orang lain, tergantung bagaimana otak dan asumsi orang yang melihatnya. Sehingga lukisan Monalisa ini bisa menjadi seperti cermin, menggambarkan kembali apa yang ingin anda artikan.

Presentasi perkenalan produk baru iPhone, yang kontan menjadi buah bibir semua orang yang melihat presentasi Steve Jobs, juga penuh misteri. Karena setelah demo itu, tidak ada lagi berita detail apapun, tidak ada iklan apapun, dan tidak ada keterangan apapun dari Apple, untuk waktu berbulan bulan. Kehausan akan rasa ingin tahu, dibiarkan menjadi senjata “Word Of Mouth” yang sangat sukses dalam promosi iPhone.

Ketiga adalah Laws of Substraction, atau Hukum Pengurangan, juga menjadi faktor kunci suksesnya iPhone. Steve Jobs yang selalu sangat fanatik pada design, mengutamakan kesederhanaan, computer mouse dengan satu tombol, komputer tanpa internet kabel, iPod tanpa banyak tombol, dan iPhone juga akhirnya diluncurkan dengan layar sentuh tanpa tuts keypad. Kesederhanaan adalah kunci elegan. Bisnis Hotel mengurangi pelayanan yang tidak dihargai pelanggannya untuk mampu menawarkan kamar baik dengan harga murah. Kita perlu hilangkan hal2 yang tidak penting buat pelanggan kita.

Kunci keempat, “On Sustainable Solution”, atau solusi yang bisa bertahan lama, mengajarkan tentang pemikiran yang mendalam. Sustainable hanya bisa dicapai kalau kita mencari jawaban dengan sangat mendasar. Solusi yang optimal, dan tidak cepat puas dengan jawaban yang pertama muncul, dan dapat bertahan dalam panjangnya waktu, adalah jawaban yang elegan. E=mc2 nya Einstein, Teori evolusinya Darwin, adalah salah satu contoh yang bertahan dalam perubahan waktu.

Pemikiran ini berguna bagi, pelukis, designer produk, pelaku advertising, dan pebisnis. Empat kunci dasar ini dapat diaplikasikan pada layanan dan produk, pada penulisan cerita fiksi atau pembuatan filem, pada pembuatan iklan, ataupun dipakai untuk memberikan solusi yang paling elegan pada persoalan bisnis kita.

Ori Source: Tanadi Santoso.

How Social media platform can effect your NPS score

Saya copas artikel menarik dari Gabriel Wu sbb. Semoga berguna.

===

How Social media platform can effect your NPS score
Whether it’s a book review on Amazon, a local food blogger reporting on your restaurant, or someone angrily tweeting about the service you just completed on their car – recommendations are now forming the basis of a number of services online.

This could be very important to you if you are using the Net Promoter score (NPS) as a key measure which clearly measures ‘recommendation’.

The rise of social media has led to consumer journalism; where everyone is a critic, everyone is a reviewer, and everyone can broadcast their opinion. How do consumers filter through this mass of reviews and recommendations? The social construct they employ is built on trust.

To what extent can you trust the reviewer? What else have they reviewed? What’s their experience with the category? A paper in the Journal of Consumer Psychology investigated trust levels of expert vs. novice and experienced vs. inexperienced reviewers, they found the following

The researchers found that people were more likely to trust a reviewer when the combination of the level of expertise and the degree of confidence was surprising. That is, they tended to trust the non-expert reviewer more when he was very confident than when he was not so confident.

In contrast, they tended to trust the expert reviewer more when he was tentative than when he was very confident.

Tips melatih anak berbicara di depan umum

Beberapa Tips melatih anak berbicara di depan umum:

  1. Susunan materi yang sederhana
  2. Kalimat pembuka sebaiknya dihafal dengan ekspresi yang lucu, boleh juga bila memperkenalkan diri dengan lucu
  3. Untuk isi presentasi sebaiknya disusun seperti cerita, agar mereka mampu menceritakannya
  4. Gunakan kata kunci yang singkat / gambar tertentu untuk mengingat alur cerita. Latih mereka untuk bercerita mengenai tiap gambar sebagai panduannya
  5. Latih ekspresi mereka, saat membawakan cerita.
  6. Anak-anak cenderung lebih mudah didekati dengan metode visual-kinetik karena lebih menarik perhatian mereka.
  7. Jika diperlukan presenter memberikan extra effort dalam hal gesture, misal: meniru gaya elmo dsb..
  8. Libatkan audience aktifitas-aktifitas, seperti gerak, nyanyi, etc…
  9. Selain itu alat bantu visual juga bermanfaat (mis: video lucu, gambar superhero, boneka, etc)
  10. Jangan lupa di akhir sesi ajak peserta anak-anak tsb mengingat/menceritakan kembali garis besar materi, beserta tokoh/ilustrasi pendukung jika perlu.
  11. Doorprize kecil2an (mis:permen, dll) pasti akan menarik juga

Sumber: sorry lupa, pemberi tips aslinya beneran kelupaan

Seminar Gratis dan Seminar gak Gratis

Walaupun banyak yang mengambil aliran:

“Saya tidak pernah kasih training gratis karena demi untuk mendidik peserta agar menghargai waktu dan lebih mendorong training nya di follow up menjadi action. Karena sudah dibayar mahal sehingga peserta merasa sayang uang training mubazir jika tidak action”.

Saya suka dengan Ide Seminar Gratis pak Ikhwan Sopa di bawah…

Ikhwan Sopa: Saya berencana mentradisikan “Seminar Gratis” tentang TQ (“Time Quotient”) alias “Kecerdasan Waktu” alias “Time Awareness” satu atau dua kali sebulan. Siapa mau jadi EO yang mengupayakan tempat, fasilitas belajar, dan woro-woro? Saya tidak dibayar, peserta tidak membayar, EO tidak dibayar. Tidak khusus untuk muslim, se…bab “waktu” adalah universal. – http://www.facebook.com/event.php?eid=289805967839

Menangani Keluhan Pelanggan

Menarik tulisan Bu Lies Sudianti di bawah ini…

Terutama yang ini:

Hadapi COMPLAINT dengan KARATE jangan dengan TAICHI…. maksudnya seperti seorang karateka jika menghadapi serangan akan langsung ditangkap sementara pemain taichi kalau ada serangan maka tidak selalu dihadapi secara frontal tetapi melemparkan / meneruskan energi serangan ke samping.

Saya jadi mesam mesem 😉 Rekan-rekan tidak ada yang merasa begitu khan, hehe 🙂
==

The best way to handle customer’s complaints is to handle it and take action QUICKLY.
Often customers get angrier because their requests take TOO LONG to be handled.

“MENANGANI KELUHAN PELANGGAN”

Cara terbaik menangani keluhan pelanggan adalah dengan langsung menanganinya dan SEGERA ditindak lanjuti.
Seringkali pelanggan bertambah marah karena permintaan mereka ditangani secara BERTELE TELE

Komentar moderator:

Sesempurna apapun pelayanan yang diberikan tidak selalu langsung memuaskan pelanggan karena pengharapan pelanggan tidak selalu sama dengan asumsi kita, akan ada saja kemungkinan dimana pelanggan merasa tidak puas. Sebenarnya hal seperti ini lumrah saja dan tidak perlu ditakuti oleh para petugas front liner. Sayangnya tidak semua staff kita menyadari akan hal ini dan selalu berusaha menghindar jika ada tanda tanda pelanggan akan menyampaikan complaint mereka apalagi kalau disertai dengan marah marah. Padahal sikap demikian justru membuat pelanggan semakin marah dan merasa dipermainkan.
Menurut James Gwee dalam pelatihan tentang Customer Service Excellence:
Hadapi COMPLAINT dengan KARATE jangan dengan TAICHI…. maksudnya seperti seorang karateka jika menghadapi serangan akan langsung ditangkap sementara pemain taichi kalau ada serangan maka tidak selalu dihadapi secara frontal tetapi melemparkan / meneruskan energi serangan ke samping. Perbandingan ini bukan untuk membahas tentang karate ataupun taichi sebagai salah satu seni bela diri tetapi lebih kepada response mereka saat menghadapi serangan dari lawan.
Bicara gampang menjalankannya tidak segampang itu…. kata teman teman, apalagi yang seumur hidup belum pernah dikasari siapapun baik di keluarga maupun lingkungan sehingga pelayanan yang terasa kasar dan tidak ramah membuat mereka sangat terkejut dan tidak nyaman akhirnya mereka memilih untuk tidak lagi menginjak tempat itu lagi, kan sayang satu calon loyal customer meninggalkan kita dengan kemarahan yang bisa bisa ditumpahkan pada orang orang yang tak berkepentingan yang secara tidak langsung bisa merusak reputasi perusahaan kita.

Salam fantastic!!!