Peran IT: Otomasi Bisnis, Current Business Enabler atau New Business Disruptor?

Pada masa yang lalu, tidak semua perusahaan melek terhadap apa peran IT pada perusahaan-nya.
Bahkan banyak yang menganggap IT adalah sbg Cost Center, bukan nya sbg Revenue Generator. Makanya era dulu, lebih condong memanfaatkan IT hanya sbg otomasi dari proses manual biasa.

Jarang yang piawai memberdayakan IT untuk melesatkan performansi bisnis Perusahaan. Kebanyakan terjebak pada mind set Otomasi biasa belaka.

Iya, itu dulu… , sekarang beda.
Bayangkan ada berapa banyak perusahaan yang tamat karena kalah bersaing dengan Perusahaan yang melek dengan Business Model Innovation, dimana hampir semuanya memakai IT sebagai Business Enabler yang menjadi senjata Pamungkas. Bahkan yang lebih drastis, perusahaan semacam itu berubah menjadi “Technology Company” dengan IT yang sangat maju.

Banyak contoh yang sudah terjadi baik di Global maupun di dalam negeri.

Lihat saja, apa jadi nya jika perusahaan Taxi berdiam diri saat sekarang ini pasar nya direbut oleh Technology Company semacam Taxi Online? Bahkan Technology Company tsb tidak punya karyawan sopir, tidak punya unit mobil nya.

Berkat IT Enabled dan Platform Business Model Innovation, si pemain baru tsb mampu membuat Perusahaan Taxi tak mampu berkutik. Pendapatan Perusahaan Taxi turun drastis 50% nya, bahkan lebih parah lagi. Coba saja ngobrol dengan Driver Taxi nya, apa kata mereka? Buktikan sendiri.
Tidak heran jika belakangan sempat adanya demo Perusahaan-perusahaan Taxi yang tidak suka dengan kehadiran Technology Company (Startup).
Tidak heran juga jika si pemain baru mampu merebut pasar Perusahaan Taxi karena menghadirkan banyak perubahan positif yang dibutuhkan masyarakat. Mulai dari mudah order, mobil datang lebih cepat dari Taxi pada umumnya, harga lebih murah, bahkan bisa milih yang punya produk mobil mewah bagi yang butuh dst dst.
Hal yang sama juga terjadi pada layanan ojek pangkalan vs ojek online.

Yang lebih mencegangkan adalah Nilai Perusahaan Technology Company tadi jauh lebih mahal dari Garuda Indonesia, Bluebird Group dll. Hal ini terjadi karena adanya valuasi thd “Unlimited Factor” dan Futures-nya, lebih lanjut:

Fenomena semacam ini tidak hanya terjadi pada Industri Transportasi, tapi juga bakal terjadi di Industri manapun! 🙂

Seperti inilah gambaran potensi IT pada Industri dan Masyarakat.

Enam tahun yang lalu, pada tahun 2011 pakar mengatakan:

“Software is eating the world” (Marc Andreessen)

yang kemudian terbukti terjadi dan berlangsung sampai sekarang.

Sekarang jaman berlanjut, yaitu sedang berlangsungnya:

“(Digital) Platform will eating the World”

seperti ilustrasi cerita di atas.

let_birds_fly_free

Iya, Peran IT adalah unlimited, bukan sekedar hanya Otomasi saja 🙂

Biarkan peran IT terbang ke angkasa, bersama dengan business model innovation dan business transformation.

Rancangan Kurikulum Nasional 2013 BELUM LAYAK diluncurkan

Melihat banyaknya ketidaksiapan dengan penerapan Kurikulum 2013, perwakilan Ortu menghadap Kepala Sekolah.

Dahsyat, kata KepSek Sekolah anak, pada Kurikulum 2013, pelajaran basic disuruh cari referensi sendiri, disuruh belajar sendiri, disuruh latihan sendiri. WWWOW!

Bayangkan, anak kelas 2 SD mana bisa dilepas begini. Jadinya tanggung jawab pembelajaran ilmu basic yang semula tanggung jawab Guru jadinya beralih ke Ortu di rumah.
Trus fungsinya Guru apa nih? Pada Kurikulum 2013, fungsinya Guru katanya cuma sbg Fasilitator.
Benar benar dahsyat. Ckckck.

Berdasarkan pengamatan saya, Ortu tugasnya jadi lebih berat, karena tugas guru beralih ke ortu. Dikhawatirkan anak jadi stress.. karena ilmu basic belum matang tapi anak sudah disuruh jawab banyak PR soal-soal terapan/tematik.

Continue reading “Rancangan Kurikulum Nasional 2013 BELUM LAYAK diluncurkan”

Harga Kurban 2013 dan Jual Sapi Kurban

Bisakah anda memperkirakan harga Qurban tahun 2013 ini? Pastinya harga akan melesat jauh dari harga tahun 2012, karena saat ini saja harga daging karkas sudah berada di level 100 ribuan, dari harga semula di level 50 ribuan, padahal Idul Adha masih 4 bulan lagi. Untuk Harga Kurban 2013, silakan mengunjungi: Jual Sapi Kurban 2013 ini…

Di dalamnya berisi contoh, bahwa anda yang membutuhkan Hewan Kurban seperti Sapi Kurban, bisa mendapatkan harga kurban yang lebih murah, JIKA anda membeli lebih awal. Sehingga anda bisa mendapatkan Sapi yang lebih besar dengan budget awal. Jadi silahkan dimanfaatkan ide ini. Buatlah kesepakatan setelah dibeli, sapinya diantarkan saat Idul Adha tiba.

Jual Sapi Kurban Terbaik & Termurah 2013

Selanjutnya, yuk kita bahas ide-ide yang menarik untuk menjamin kelangsungan Ibadah Qurban kita.

Saya punya beberapa ide, bagaimana caranya kita bisa berkurban tanpa mengurangi kocek tabungan kita. Caranya tentu saja dengan Usaha Ternak. Ooopps ngapain bro kita berepot repot ngurusin ternak hewan qurban? Sabar sabar… Maksud saya disini adalah, tentu saja kita bekerjasama dengan farmer/peternak untuk implementasi usahanya.

“Wahai Pekerja Jangan Habiskan Semua Upahmu Sebagian Belikan Kambing atau Ladang” (Sayidina Umar RD/Khalifah Umar)

Cara ini juga dapat digunakan untuk menambah qurban kita, jadi semisal kita biasanya qurban 1 kambing, maka ada dapat tambahan hasil usaha untuk nambah qurban jadi 2 kambing, lebih banyak dari yang biasanya.

Sapi Qurban 2013

Berikut 2 ide sederhana:

Cara #1. Anda bisa bekerjasama setor hewan Qurban Dewasa kepada farmer/peternak. Setor saja 2 ekor, 1 ekor betina yg sdh bunting dan 1 ekor pejantan. Idul Adha tahun depan, silakan cek ke petani: “Pak, ada berapa ternak yang bisa saya kurbankan?” Tentu saja Pak Tani mengambil share nya dulu (biasanya 50:50), baru kita tarik sisanya untuk kita kurbankan. Tahun depannya lakukan lagi, dst. Maka tiap tahun anda bisa ber-qurban tanpa mengurangi kocek tabungan anda. Cara ini sudah di praktekkan teman saya, dan berhasil dengan baik. Saran saya: pilih farmer/peternak yang bisa dipercaya.

Cara #2. Anda bisa bekerjasama dengan farmer/peternak. Setor bibit sapi kurus, Pak Tani bisa membantu membelikan. Kemudian Pak Tani akan menggemukkannya. Selang beberapa bulan penggemukkan (4-6 bulan) hingga tiba saat panen, yaitu saat Idul Adha, maka ternak anda akan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi ketimbang saat anda beli (Profit Taking). Profit taking ini setelah dibagi hasilnya dengan farmer/pak Tani (biasanya 50:50 juga), maka anda bisa gunakan profitnya untuk membeli 1 ekor kambing (atau bahkan lebih), dan uang modal sapi anda bisa anda tarik kembali. So, anda bisa ber-qurban satu ekor kambing tanpa mengurangi kocek tabungan anda. Saran saya: pilih farmer/peternak yang bisa dipercaya. Contoh:

Silakan di tindaklanjuti bagi yang tertarik. Atau Anda cara lain lagi? Monggo silakan ditambahkan dan dikomentari.

Tambahkan cara lainnya, syarat saya cuman satu, harap sertakan dan libatkan Pak Tani dalam ide kerjasama Usaha Qurban ini.

Kisah kelahiran startup yang bernama Groupon

Groupon adalah salah satu yang perusahaan startup technology yang tercepat berkembang sepanjang masa. Namanya berasal dari Group Coupon (“kupon kelompok”), ide cerdas ini yang telah melahirkan banyak pemain industri social commerce.

Namun, pada awalnya tidak langsung berhasil. Ketika pelanggan mengambil Groupon atas “deal” diskon pertama-nya, dua puluh orang membeli “buy one get two” pizza di sebuah restoran ngantri di lantai satu dari perusahaan yang berhome base di Chicago tsb menjadi kisah klasik yang sulit tapi telah mengubah dunia.

Bahkan, Groupon awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi bisnis eCommerce. Pendirinya, si Andrew Mason, bermaksud perusahaannya untuk menjadi “Platform Aktifitas Kolektif” yang disebut “The Point”.

Tujuannya adalah untuk membawa orang bersama-sama untuk memecahkan masalah mereka yang tidak bisa memecahkan secara sendiri-sendiri, seperti contohnya penggalangan dana untuk suatu tujuan atau memboikot pengecer tertentu.

Hasil awal The Point malah mengecewakan, pada akhir tahun 2008 para pendiri memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Meskipun mereka masih memiliki ambisi besar, mereka bertekad untuk menjaga memulai dengan produk baru yang sederhana.

Mereka membangun produk yang layak dengan sistem minimum. Apakah ini titik awal tersebut terdengar seperti sebuah perusahaan miliar dolar bagi Anda?

Mason menceritakan kisahnya:

Kami mengambil Blog WordPress dan kami pasang skin untuk mengatakan sebagai “Groupon” dan kemudian setiap hari kita akan melakukan posting baru. Itu benar-benar “ghetto”. Kami akan menjual T-shirt pada versi pertama dari Groupon. Kami akan mengatakan dalam menuliskan, “Ini T-shirt akan hadir dengan warna merah, berukuran besar. Jika Anda ingin warna atau ukuran yang berbeda, maka e-mail lah kami”. Kami tidak memiliki form untuk menambahkan hal itu. Itu hanya terangkai/tergabung.

Itu sudah cukup untuk membuktikan konsep dan menunjukkan bahwa ternyata menjadi sesuatu yg disukai pasar. Generate kupon sendiri sebenarnya mereka lakukan semua dengan FileMaker. Mereka akan menjalankan script yang akan mengirim e-mail ber-attachment PDF kupon kepada orang-orang.

Itu sampai ke titik di mana mereka akan menjual 500 kupon sushi dalam sehari, dan mereka mem-blast/mengirimkan 500 PDF dengan Apple Mail pada waktu yang sama. Benar-benar sampai Juli tahun pertama itu hanya berjuang untuk meraih “harimau melalui ekor”.

Hal itu untuk mengejar ketinggalan dan cukup dalam membangun sebuah produk.
PDF Handmade, kupon pizza dan sebuah blog sederhana sudah cukup untuk memulai Groupon menjadi berhasil memecahkan rekor, itu adalah pada rekor kecepatan untuk menjadi perusahaan tercepat dalam sejarah dalam mencapai penjualan $ 1 miliar.

Ini adalah merevolusi cara bisnis lokal menemukan pelanggan baru, menjual penawaran khusus kepada konsumen pada lebih dari 375 kota di dunia.

Mendevelop sebuah produk minimum yang layak (“Minimum Viable Product” = MVP) membantu pengusaha memulai proses belajar secara kilat. Hal ini tidak selalu berupa produk terkecil yang terbayangkan, meskipun, itu hanya cara tercepat melalui “Build-Measure-Learn” – feedback loop.. hanya dengan effort yang minimum untuk memulai iterasi berkelanjutan pada pengembangan pasar dan produknya. Jika ide MVP tidak berjalan seperti skenario awal maka langkah selanjutnya adalah untuk untuk action “pivot” dan segera mencari sudut yang lebih tepat lagi.

Build Measure Learn - feedback loop

Bertentangan dengan siklus pengembangan produk tradisional, yang biasanya menggunakan pendekatan “one shoot” yang melibatkan waktu panjang, juga masa inkubasi yang panjang dan berkutat untuk mencapai kesempurnaan produk pada fase awal pengembangan bisnis/produk. Pendekatan lama ini sudah usang dan tidak bisa menjawab tantangan bisnis yang makin dinamis dan “tidak menentu“, yang menuntut dinamika perubahan-perubahan kebutuhan, persaingan dan market timing yang sangat demanding.

Tujuan MVP seperti pada kasus berdirinya Groupon tsb adalah usaha untuk memulai proses pembelajaran, bukan untuk mengakhirinya. Tidak seperti tes prototipe atau konsep, MVP yang dirancang tidak hanya untuk menjawab desain produk atau pertanyaan teknis. Tujuannya adalah untuk menguji hipotesis bisnis yang mendasar.

Kenapa teknik baru ini lebih unggul dan lebih sesuai dengan kondisi pasar yang ada saat ini? Karena kita mempunyai kesempatan menerapkan “continues improvement” dari segi Customer Development dan Product Development sekaligus! Cara lama adalah men-survey customer, baru kemudian membuat dan memproduksi produknya dalam satu siklus “One Shoot”, cara ini sudah sering menjadikannya menjadi pengembangan produk yang gagal.

Seperti itu lah Groupon Lahir. Hanya diawali dengan CMS WordPress! Test hipotesis ide bisnis dan… ternyata Ide Bisnisnya disambut oleh pasar!

Teknik ini bisa diterapkan untuk semua jenis usaha, baik usaha besar maupun usaha kecil… baik high tech maupun low tech…

Anda punya kisah pribadi yang senada? Mau share penerapan teknik ini pada usaha anda?

Monggo silakan comment 🙂

Tips memulai Usaha (1)

Kebanyakan yang sukses menjadi pengusaha adalah “Si Bodoh”. Bagaimana tips memulai usaha agar “Si Pintar” juga bisa sukses menjadi pengusaha? Gunakan otak kanan!

Artikel “si Pintar dan si Bodoh” kiriman rekan saya (dari inspireneur) di bawah ini provokatif juga, yach.. 🙂

Komentar saya adalah: yang dimaksud dengan “si Bodoh” dalam artikel di bawah adalah orang orang yang lebih condong otak kanan. Oleh karena itulah karena dunia entrepreneurship sangat membutuhkan kekuatan otak kanan untuk menindaklanjuti peluang bisnis, “si Bodoh” tadi perform lebih cepat punya ide dan lebih yakin dalam melangkah karena otak kirinya tidak menghambatnya. Atau bisa dibilang, “si Bodoh” menggunakan otak kanannya.

Otak kiri “Si Bodoh” tidak mem-filternya, seperti yang lazim terjadi pada orang orang otak kiri:

  • orang otak kiri saat mau memulai bisnis bilang: “jangan… resiko nya besar!” -> padahal resiko sebanding dengan reward bagi orang otak kanan
  • orang otak kiri jarang menggunakan intuisi, padahal intuisi banyak harus digunakan saat kita tidak punya petunjuk histori/data data dari pengalaman orang lain sebelumnya
  • dst

Belajar dari UFC (ceile), dalam dunia mixed martial art, atlet-atlet yang menjadi pemenang adalah yang hebat memakai segala jenis aliran bela diri yang efektif (menerapkan KOMBINASI dari wrestling, boxing maupun jiujitsu atau yang lainnya). Sama!… dalam dunia usaha, kenyataan yang harus di hadapi di lapangan adalah kita tidak bisa mendikotomikan otak kiri atau otak kanan. Memang budaya kita cenderung otak kiri. Sekolah kita hampir 100% otak kiri. Sehingga orang-orang otak kanan cenderung terlihat jadi “si Bodoh”. “Si Bodoh” yang nilai IPK nya pas pasan atau nilai rendah itu ternyata Jenius dalam bidang bidang otak kanan, seperti bidang entrepreneurship.

Ya, kita tidak bisa mendikotomikan otak kiri dan otak kanan, belajar dari Mixed Martial Art, GUNAKAN KEDUANYA.

Kata si Kiri: “Studi kelayakan dulu, ntar baru buka usaha”. Balas si Kanan: “Buka usaha dulu, ntar baru usahanya dilayakkan” (Ipho Santosa)

Latihlah menggunakan keduanya dengan sebaik mungkin jika mau segera memulai menjadi entrepreneur. Maksudnya: OTAK KANAN DULU baru otak kiri. Perkuat otak kanan!

Tahukan anda, otak kanan itu menentukan 80% kesuksesan, lantaran tak terpisahnya otak kanan dengan EQ

Tahukan anda, Golongan “Kanan” melakukan sesuatu karena panggilan jiwa, bukan panggilan kerja? Sepenuh hati, bukan sepenuh gaji

Tahukah anda, sekitar 80% – 85 % penduduk bumi itu adalah golongan “Kiri”? Sisanya sekitar 15% – 20 % adalah golongan “Kanan”

(Ipho Santosa)

Berikut ini artikel tentang “Si Bodoh” yang berkibar di dunia entrepreneurship.

==

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis

Agar bisnis berhasil, ia merekrut orang pintar

Walhasil, banyak boss2 orang pintar adalah orang bodoh…

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka rekrut orang pintar utk memperbaiki yg salah.

Walhasil, orang bodoh memerintah orang pintar untuk keperluannya…

Orang pintar belajar utk mendapatkan ijazah & mencari kerja.

Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang utk membayar orang2 pintar.

Orang bodoh berpikir pendek utk memutuskan sesuatu yg dipikirkan panjang2 oleh orang pintar.

Walhasil orang pintar menjadi staf orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang pintar yg bekerja.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu utk bekerja keras dg hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu utk bersenang2 dg keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari2 apa yg bisa dijadikan duit.

Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan2 pekerjaan yg lebih & lebih baik lagi…

Bill Gates, Dell, Henry Ford, Mas Agung (Gunung Agung) & banyak pengusaha2 lain, tidak pernah jadi sarjana, tapi jadi pengusaha2 yg mampu memperkerjakan orang2 pintar & menghidupi keluarga mereka.

Lalu PERTANYAANNYA?.

– Lebih baik jadi orang pintar atau orang bodoh ?

– Pinteran mana, orang pintar atau orang bodoh ?

– Mana yg lebih susah, orang pintar atau orang bodoh ?.

KESIMPULAN :

Jangan lama2 jadi orang pintar.!

Mari menyegerakan jadi orang bodoh yg pintar & menghindar jadi orang pintar yg bodoh.

Kata kuncinya adalah: “Resiko” & “Berusaha”.

Orang bodoh berpikir pendek, maka dia bilang resikonya kecil. Dia akan berusaha agar resiko betul2 kecil.

Orang pintar berpikir panjang, maka dia bilang resikonya besar. Dia tidak berusaha mengambil resiko tersebut & mengabdi pada orang bodoh.

Di manakah posisi kita saat ini ?. Keputusan ada di tangan kita :).

Indonesia as Top 10 World Largest Economies at 2020

Senangnya melihat Outlook masa depan Indonesia 🙂

Kilas balik sedikit:

“…. But the biggest praise will be for Indonesia: it will be the emerging-market star of 2011, with analysts lauding its innovative companies, growing middle class and relative political stability.” (Economist, 22 November 2010)

Roubini bilang:

“Goodby China, Hello Indonesia” !!

WOW!!!

Sebagai Ilustrasi:

Anak saya termasuk dalam kelompok umur yang jumlah nya paling besar di Indonesia (lihat gb. piramida penduduk, kelompok 5-9 thn).

Mereka akan produktif di kisaran tahun 2020-2030.

Bayangkan, saat itu Indonesia Dependency Rationya reversal ke arah super produktif. Kelompok umur yang paling besar di Indonesia, yang saat ini belum produktif, tahun 2025 mendadak jadi produktif.

Akan ada ledakan produktifitas kolektif lanjutan dari ledakan kelas middle yg sudah mulai terjadi saat ini

Tidak mengherankan jika  tahun 2020 Indonesia mulai masuk sbg Top 10 Largest Economies. Tahun 2030 Indonesia menjadi Top 6 Largest Economies..

So bagusnya jadi apa anak kita pada saat Indonesia sbg Top 6 Largest Economies di tahun 2030?

Peluang Usaha & Strategi Investasi khusus untuk Pensiunan (1)

Pada prinsipnya, profesional yang mengambil atau terkena program pensiun maupun pensiun dini, idealnya dipersiapkan terlebih dahulu. Tetapi kenyataan yang ada, umumnya kebanyakan belum sempat membekali diri / mempersiapkan diri untuk berpindah dari kuadran karyawan ke kuadran entrepreneur. Kebanyakan terkaget-kaget dn stress jika masuk ke dunia wirausaha.

Untuk itu, berhubung saya telah mendapatkan banyak ilmu dari para coach saya, untuk itu saya merasa perlu membagikan tips strategi usaha dan investasi yang cocok untuk para pensiunan.

Karekteristik Usaha

Karakteristik Usaha yang cocok untuk pensiunan menurut saya adalah:

  • sektor usaha yang resikonya terukur dan secara alamiah tahan terhadap siklus trend naik turun (artinya bukan komoditas yang harga di pasar bisa diombang ambingkan oleh bandar, contoh: bukan saham, komoditas CPO, termasuk emas yang dalam trend jangka pendek bisa naik turun, etc).
  • bukan bisnis spekulatif
  • mudah dioperasikan
  • value meningkat bahkan dalam keadaan didiamkan sekalipun
  • mengandung leverage/daya ungkit

Kenapa karakter usaha di atas perlu kita define di depan? Karena banyak sekali cerita-cerita pengalaman para pensiunan yang kecebur bisnis yang salah. Seperti cerita mantan pimpinan sebuah perusahaan Multi National Company yang pensiun kemudian terjun ke bisnis taxi. Seluruh pesangon di guyurkan, tetapi bisnis gagal karena bisnis tsb adalah bukan bisnis yang mudah dioperasikan. Perlu jam terbang dan skill yang spesifik. Sehingga beliau yang seharusnya menikmati “uang bekerja untuk kita”, jadi terpaksa mencari kerja lagi sbg karyawan.

Juga cerita-cerita Pensiunan yang kehilangan hartanya setelah mengguyurkan pesangonnya pada bisnis yang spekulasi seperti bursa saham, bursa komoditas dan lain-lain.

Tentu ada yang comment, emangnya ada bisnis yang gampang? Jawabannya: Ada!

Pada artikel ini saya akan lempar satu ide strategi untuk Pensiunan.

Menurut saya, masa pensiun adalah masa yang memerlukan aktifitas yang mengarah pada kegiatan spiritual. Jadi bisnis yang “mulia” bisa menjadi faktor pendorong yang memotivasi.

Salah satu ide yang sesuai dengan paparan kriteria di atas adalah Bisnis Properti. Bisnis properti yang cocok untuk Pensiunan salah satunya adalah Bisnis / Kerjasama Bisnis Pengembang Perumahan (Property Developer). Bisnis ini berisi banyak sekali cabang peluang pembukaan lapangan kerja, mulai dari jasa tukang, mandor, arsitek, tukang listrik, dst dst, bahkan setelah perumahan jadi akan muncul usaha-usaha disekitarnya mulai dari warteg, rumah makan, fitness center, klinik, apotik, dst dst. Jadi setuju khan, jika kita sebut bisnis ini adalah bisnis yang mulia.

Demand Pasar

Juga, secara demand trend, menurut Riset Markplus, Urban Movement di Indonesia akan makin kuat. Bayangkan, pada akhir tahun 2010,  50% penduduk Indonesia adalah kaum Urban yang tinggal di perkotaan, bahkan tahun 2025 makin menguat menjadi +/- 68% penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan. Jelas khan, jika akan makin banyak saja kota satelit di kota-kota besar di Indonesia.

Tapi… emangnya menjadi Pengembang Properti itu gampang coy? Tenang… tenang, nanti akan saya jelaskan strateginya.

Mengingat:

  • Pensiunan memiliki dana pensiun / pesangon yang bisa di manfaatkan untuk Investasi yang aman
  • Pensiunan umumnya tidak memiliki skill strategi pemilihan lokasi perumahan

Sehingga menurut saya, sebaiknya Pensiunan bekerja sama dengan Pengembang Property.

Pembagian tugasnya simple sbb:

  1. Pengembang: bertugas mendesign produk rumah, mendevelop lahan, mendevelop rumah, dan menjual rumah sampai habis dengan menciptakan profit yang menarik
  2. Pensiunan: pensiunan dapat mengambil peran dalam mengakuisisi lahan yang prospektif. Dalam hal ini pensiunan mengambil peran sbg Pemilik Lahan. Jika dana terlalu kecil bisa bersama-sama dengan teman-temannya. Jika tidak tahu lahan yang bagus seperti apa bisa konsultasi dengan Pengembang. Jika tidak bisa menemukan Lahan yang bisa di akuisisi, bisa bekerjasama dengan Mediator Lahan, fee nya relatif murah dan sangat masuk akal.
  3. Investor: investor biasanya meminjamkan dananya untuk disertakan dalam pendanaan Pengembangan Perumahan. Investor memiliki keahlian dalam menilai project yang layak.

Nah, dari ketiga pemain di atas, posisi manakah yang paling aman? Posisi mana yang paling tidak beresiko? Jawabnya adalah posisi nomor 2. Yaitu Pemilik Lahan. Kenapa? Karena selama Lahan di develop, maka Lahan TETAP atas nama si Pemilik Lahan. Lahan hanya berpindah pemilik hanya jika sudah ada akad dengan pembeli rumah (buyer). Selama belum ada penjualan rumah, maka Lahan TETAP atas nama pemilik lahan.

Setiap ada rumah yang terjual, maka akan ada pemindahan kepemilikan dari pemilik Lahan ke Pembeli rumah, setelah sertifikat di split.

Sedangkan peran Developer dan Investor yang bisa saja dijalankan oleh satu badan usaha adalah dalam posisi yang paling beresiko. Kenapa? Karena Developer dan Investor tsb membangun Lahan dan Rumah di atas tanah milik pihak lain!

Bandingkan pada sisi pemilik Lahan, dalam kondisi apapun, lahan masih milik pemilik lahan dan tiap tahun harga tanah naik terusss…

Saran saya, mulailah menindaklanjuti Lahan yang hot deal, yang harganya bagus dengan prospek yang bagus untuk anda akuisisi. Jika Lahan terlalu luas, ajaklah teman-teman anda bersama-sama mengakuisisi Lahan dan split lah ke atas nama anda masing-masing. Jadi, anda masing-masing mengantongi Sertifikat Lahannya sendiri-sendiri. Juga secara bersama-sama telah mengakuisisi Lahan yang relatif luas dan prospektif.

Contoh:

Lahan 1 Hektar (=10.000 meter persegi), dengan harga lahan rp. 500rb/m2,maka harga lahan keseluruhan = 10.000 * 500 rb = rp. 5 M. Jika per orang hanya bisa invest 250 juta, maka bisa mengumpulkan  sebanyak 20 orang.

Setelah masing2 telah memegang sertifikat lahan seluas 500 m2, secara bersama bisa memulai bekerja sama dengan Property Developer.

Sebagai gambaran, jika Lahan 1 Hektar, perkiraan Laba adalah sebesar rp. 2 M. Jika para pensiunan sbg pemilik Lahan menerima Share Laba sebesar 30%, maka Laba yang diterima adalah sebesar rp. 0.6 M secara bersama sama.

Jadi yang diterima masing-masing Pensiunan sebagai pemilik lahan adalah:

  1. Menerima pencairan penjualan tanah, jika di jual setahun kemudian, asumsi harga tanah naik 20%, maka masing-masing Pensiunan akan menerima: 1.2* 500rb* 500 meter= rp. 300 juta
  2. Menerima Laba Pengembangan properti= rp. 0.6M/20 = rp. 30juta (penambahan penerimaan laba senilai 12% dari nilai tanah)

Case diatas hanyalah contoh, dalam contoh ini modal rp.250 juta -> menerima rp.330 juta, RoI 32% dalam satu tahun. Cukup duduk manis dan biarkan uang yang bekerja untuk anda!

Dalam dunia nyata, profit bisa saja lebih dari rp. 2 M per Hektar Lahan. Umumnya, proyek dengan lahan 1 – 2 hektar bisa selesai mulai di develop s/d terjual habis hanya perlu waktu 1 – 1.5 tahun.

Setelah anda menerima penjualan tanah + laba pengembangan rumah, silakan anda ulangi proses ini ke proyek proyek yang lain 🙂

Sementara saya rasa cukup, silakan comment jika ada yang perlu didiskusikan 🙂

Semoga sukses, selamat menjadi Land Lord dan selamat membangun 🙂

Notes:

Artikel ini saya dedikasikan umumnya untuk semua pensiunan, khususnya untuk rekan-rekan Indosat yang saat ini menjalani Program Pensiun Dini. Semoga sukses, kawan.

Berlangganan gratis Strategi Kebebasan Finansial melalui Properti

Ingin informasi lebih? Jangan khawatir, silakan berlangganan Gratis untuk mendapatkan informasi terkini berbagai strategi membangun kemakmuran melalui Property. Juga info terkini rekan-rekan yang telah berhasil menerapkannya.

Free Email Newsletter SignUp

Artikel Sejenis: