Peran IT: Otomasi Bisnis, Current Business Enabler atau New Business Disruptor?

Pada masa yang lalu, tidak semua perusahaan melek terhadap apa peran IT pada perusahaan-nya.
Bahkan banyak yang menganggap IT adalah sbg Cost Center, bukan nya sbg Revenue Generator. Makanya era dulu, lebih condong memanfaatkan IT hanya sbg otomasi dari proses manual biasa.

Jarang yang piawai memberdayakan IT untuk melesatkan performansi bisnis Perusahaan. Kebanyakan terjebak pada mind set Otomasi biasa belaka.

Iya, itu dulu… , sekarang beda.
Bayangkan ada berapa banyak perusahaan yang tamat karena kalah bersaing dengan Perusahaan yang melek dengan Business Model Innovation, dimana hampir semuanya memakai IT sebagai Business Enabler yang menjadi senjata Pamungkas. Bahkan yang lebih drastis, perusahaan semacam itu berubah menjadi “Technology Company” dengan IT yang sangat maju.

Banyak contoh yang sudah terjadi baik di Global maupun di dalam negeri.

Lihat saja, apa jadi nya jika perusahaan Taxi berdiam diri saat sekarang ini pasar nya direbut oleh Technology Company semacam Taxi Online? Bahkan Technology Company tsb tidak punya karyawan sopir, tidak punya unit mobil nya.

Berkat IT Enabled dan Platform Business Model Innovation, si pemain baru tsb mampu membuat Perusahaan Taxi tak mampu berkutik. Pendapatan Perusahaan Taxi turun drastis 50% nya, bahkan lebih parah lagi. Coba saja ngobrol dengan Driver Taxi nya, apa kata mereka? Buktikan sendiri.
Tidak heran jika belakangan sempat adanya demo Perusahaan-perusahaan Taxi yang tidak suka dengan kehadiran Technology Company (Startup).
Tidak heran juga jika si pemain baru mampu merebut pasar Perusahaan Taxi karena menghadirkan banyak perubahan positif yang dibutuhkan masyarakat. Mulai dari mudah order, mobil datang lebih cepat dari Taxi pada umumnya, harga lebih murah, bahkan bisa milih yang punya produk mobil mewah bagi yang butuh dst dst.
Hal yang sama juga terjadi pada layanan ojek pangkalan vs ojek online.

Yang lebih mencegangkan adalah Nilai Perusahaan Technology Company tadi jauh lebih mahal dari Garuda Indonesia, Bluebird Group dll. Hal ini terjadi karena adanya valuasi thd “Unlimited Factor” dan Futures-nya, lebih lanjut:

Fenomena semacam ini tidak hanya terjadi pada Industri Transportasi, tapi juga bakal terjadi di Industri manapun! 🙂

Seperti inilah gambaran potensi IT pada Industri dan Masyarakat.

Enam tahun yang lalu, pada tahun 2011 pakar mengatakan:

“Software is eating the world” (Marc Andreessen)

yang kemudian terbukti terjadi dan berlangsung sampai sekarang.

Sekarang jaman berlanjut, yaitu sedang berlangsungnya:

“(Digital) Platform will eating the World”

seperti ilustrasi cerita di atas.

let_birds_fly_free

Iya, Peran IT adalah unlimited, bukan sekedar hanya Otomasi saja 🙂

Biarkan peran IT terbang ke angkasa, bersama dengan business model innovation dan business transformation.

Hasil Survey Pemilihan Online Payment pada Kasus Pembelian Tiket KA

Berikut adalah hasil sementara hasil survey yang form nya saya pasang pada Halaman: https://budiwiyono.com/2010/02/21/beli-tiket-ka-lewat-call-center-bayar-lewat-atminternet-banking/

Survey Form Online Payment Beli Tiket KA

Hasil isian survey diurutkan dari yang terbaru ke yang terlama:

  1. Pembelian Tiket via ATM
  2. Pembelian Tiket via Internet Banking
  3. Pembelian Tiket via ATM
  4. Pembelian Tiket via ATM
  5. Pembelian Tiket via Internet Banking
  6. Pembelian Tiket via ATM
  7. Pembelian Tiket via ATM
  8. Pembelian Tiket via ATM
  9. Pembelian Tiket via ATM
  10. Transfer ke Virtual Account dgn Menu Transfer via ATM
  11. Pembelian Tiket via Internet Banking
  12. Pembelian Tiket via Internet Banking
  13. Pembelian Tiket via ATM
  14. Pembelian Tiket via ATM
  15. Pembelian Tiket via ATM
  16. Pembelian Tiket via Internet Banking
  17. Pembelian Tiket via ATM
  18. Pembelian Tiket via ATM
  19. Pembelian Tiket via Internet Banking
  20. Pembelian Tiket via ATM
  21. Pembelian Tiket via Internet Banking

Wow…. Dari data di atas terlihat urutan yang paling diminati sebagai Solusi Online Payment adalah

  1. Pembelian Tiket via ATM : 13
  2. Pembelian Tiket via Internet Banking : 7
  3. Transfer ke Virtual Account dgn Menu Transfer via ATM :1

Hasil Survey Minat ePayment untuk Ticketing KA

Ternyata ATM masih menjadi Best of Top of Mind. Sebagai Runner Up adalah Online Payment dengan Internet Banking yang kita simpulkan merupakan Solusi yang sangat sangat berpotensi.

Catatan: Sejak halaman dipasang Form, Nov 2012 sampai 10 Feb 14, pembaca halaman https://budiwiyono.com/2010/02/21/beli-tiket-ka-lewat-call-center-bayar-lewat-atminternet-banking/ adalah sebanyak 1.111 orang, yang menjawab survey adalah 21 orang.

Payment Online di Indonesia 2012 (bag 1)

Kemana arah Trend Payment Online di Indonesia? Trend Industri Finansial di Indonesia secara umum adalah sbb:

Kenaikan Kredit pertahun pada Bank Umum: Kredit Modal Kerja naik 18%, Kredit Investasi naik 25.4%, Kredit Konsumsi naik 23.07%. Dengan kelas menengah yang melesat, Giro naik 14%, Deposito naik 15.02%, Tabungan naik 19.18%.

Penerbit ATM: 47 Bank, ATM/Debit: 56 Bank (Acquirer = 16), Prinsipal = 6 (salah satunya adalah Artajasa)

Transaksi RTGS sejak 2009: Nilai transaksi saat ini 404T/day, naik 437% sejak 2009. Pada sektor Retail Kartu Debit & Kredit: saat ini 8.8T/day naik 50% sejak 2009.

Dengan Jumlah Kartu 77 juta s/d 120 juta dengan volume trx 230 juta transaksi. Sedangkan Pengguna Internet di Indonesia 2012 ada 61 juta orang, Facebook 51 juta orang dan Twitter 30juta orang), terlihat sangat jelas yah pasar Netizen sudah guede! 🙂

Transaksi eMoney mulai 2009 sampai saat ini: Jumlah Kartu yang diterbitkan semula 3 juta kartu, saat ini telah menjadi 27 juta kartu. Volume 40 ribu trx/day menjadi 72 ribu trx/day. Nilai trx 1.4 Milyar/day menjadi 5.2 Milyar/day. Angka eMoney ini belum termasuk eMoney pada Busway lho! Angka tersebut akan melonjak, hal ini sebagai langkah awal menuju Cashless Society. Tahukah anda Estimasi Riset BI mengatakan Nilai transaksi akan menjadi Rp. 24Triliun per tahun! Bandingkan dengan pasar eCommerce di Indonesia saat ini Rp. 10 Triliun.

Dengan berkah trend positif meledaknya kaum menengah di Indonesia lah, volume transaksi Internet based Payment + Mobile Payment saat ini telah sama besarnya dengan ATM based Payment. Trend Payment melalui Teller pada Cabang Bank adalah stagnan, tentu hal ini memang yang dimaui oleh pihak perbankan pada umumnya karena Teller dirancang hanya untuk melayani transaksi yang bernilai besar tsb biaya operasionalnya adalah paling mahal. Sehingga eChannel Bank didorong untuk sebanyak mungkin take over proporsi transaksi masyarakat via teller secara sistemik dialihkan pada Payment Online via ATM, Internet dan Mobile.

Seperti pada Bank BCA, setelah Era transaksi Payment Online via ATM yang melesat volume nya, terbukti juga saat ini adik eChannel nya yang berupa Internet Banking dan SMS Banking secara gabungan telah menyamai volume transaksinya.

Berikut ini cuplikan statistik volume bisnis beberapa eChannel Payment Online yang terjadi pada Bank BCA:

Dengan Volume Total BCA 242 juta transaksi/bulan, dengan nilai transaksi 1.689 Triliun Rp/bulan, ATM memproduksi transaksi sebesar 100 juta transaksi/bulan (growth 150%), tetapi sepertinya kedepan ATM akan kalah dari Internet Banking yang saat ini volumenya 75 juta transaksi/bulan.

Mobile Payment sendiri volumenya sebesar 21 juta transaksi/bulan dengan nilai 29 Triliun Rp. Sekali lagi terlihat Internet Banking + Mobile Banking sudah berukuran sama dengan Transaksi via ATM! Cabang sendiri bervolume stagnan yaitu 15 juta transaksi/bulan.

Cantik sekali bukan profile nya? Indonesia gitu lho… Saat ini Indonesia mendadak jadi Gadis Molek yang tentunya menarik perhatian para “Jejaka” Luar Negeri untuk berbondong bondong berinvestasi di Indonesia.

Bicara soal nilai transaksi Teller/Cabang di design untuk melayani transaksi bernilai besar, tapi jangan salah, di BCA Internet Banking juga diperbolehkan untuk menangani transaksi besar juga, bahkan sampai milyaran juga bisa, menurut info dari Direktur BCA, Suwigyo Budiman. Katanya, untuk segmen Bisnis & Korporasi bisa unlimited, seperti Pertamina oleh BCA bahkan dibuatkan direct channel secara Host to Host.

Perkembangan terakhir soal pengamanan transaksi Payment Online berbasis Kartu, saat ini semua Kartu Kredit wajib dirubah menjadi Kartu berbasis Chip, dari yang semula berbasis Magnetic Stripe, mulai 1 Januari 2010. Setelah diterapkan regulasi BI ttg wajib berbasis Chip ini, tingkat Fraud kejahatan transaksi di Indonesia menjadi terendah se Asia Pasific dan se Asean (tahun 2010 terdapat 110 ribu fraud, tahun 2011 turun drastis menjadi 20 ribu fraud pada 2011). Sedangkan regulasi penerapan berbasis Chip juga diterapkan pada Kartu ATM, harus terimplementasi paling lambat 3 Desember 2015.

Lesson learned: tutup kemungkinan fraud, maka angka fraud akan terjun bebas dengan sukses.
Catatan: Fraud pada Bank masih banyak terjadi oleh kejahatan oleh staf internal Bank, sedangkan Fraud pada EDC/POS banyak terjadi kejahatan fraud oleh Merchant.

Bagaimana dengan standard basis Chip-nya? Saat ini di Indonesia telah tersedia standard terbuka ala Indonesia yang diterbitkan oleh Asosiasi ASPI (Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia), yang dimotori oleh pemain pemain utama Industri Payment Online seperti PT. Artajasa dan para pelaku lain. Standard ini juga direstui oleh Bank Indonesia. Standard Chip nya sendiri yang bernama National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS) setara dengan standard EMVco, ISO7816, Europay, Mastercard & VISA tersebut dibentuk secara bersama dengan mempertimbangkan:

  1. Kehandalan
  2. Efisien
  3. Open Platform
  4. Kepentingan Nasional.

Tentu standard ini juga bisa menghindarkan Industri dari kemungkinan Vendor LockIn.

Dengan fakta-fakta trend Industri Payment Online di Indonesia ini, bagaimana masa depan layanan berbasis Chip (Kartu ATM, Kartu Kredit dan eMoney) dan layanan eMoney berbasis non Chip seperti yang ada di Telco provider ? Bagaimana juga dengan masa depan Payment Online pada Industri eCommerce di Indonesia? Kemana arah Chip eKTP?

Pleaseeeee, jangan sampai pemain asing seperti Paypal etc merebut pasar transaksi di dalam Pasar Lokal Indonesia yach!

Monggo silakan dikomentari 🙂

(*) Data ini saya dapatkan melalui Seminar “Era Baru Pengamanan Transaksi Berbasis Kartu Chip” pada Rabu, 23 Januari 2013 yang disponsori oleh PT. Artajasa, anak perusahaan tempat saya bekerja (PT. Lintasarta).

Kisah kelahiran startup yang bernama Groupon

Groupon adalah salah satu yang perusahaan startup technology yang tercepat berkembang sepanjang masa. Namanya berasal dari Group Coupon (“kupon kelompok”), ide cerdas ini yang telah melahirkan banyak pemain industri social commerce.

Namun, pada awalnya tidak langsung berhasil. Ketika pelanggan mengambil Groupon atas “deal” diskon pertama-nya, dua puluh orang membeli “buy one get two” pizza di sebuah restoran ngantri di lantai satu dari perusahaan yang berhome base di Chicago tsb menjadi kisah klasik yang sulit tapi telah mengubah dunia.

Bahkan, Groupon awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi bisnis eCommerce. Pendirinya, si Andrew Mason, bermaksud perusahaannya untuk menjadi “Platform Aktifitas Kolektif” yang disebut “The Point”.

Tujuannya adalah untuk membawa orang bersama-sama untuk memecahkan masalah mereka yang tidak bisa memecahkan secara sendiri-sendiri, seperti contohnya penggalangan dana untuk suatu tujuan atau memboikot pengecer tertentu.

Hasil awal The Point malah mengecewakan, pada akhir tahun 2008 para pendiri memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Meskipun mereka masih memiliki ambisi besar, mereka bertekad untuk menjaga memulai dengan produk baru yang sederhana.

Mereka membangun produk yang layak dengan sistem minimum. Apakah ini titik awal tersebut terdengar seperti sebuah perusahaan miliar dolar bagi Anda?

Mason menceritakan kisahnya:

Kami mengambil Blog WordPress dan kami pasang skin untuk mengatakan sebagai “Groupon” dan kemudian setiap hari kita akan melakukan posting baru. Itu benar-benar “ghetto”. Kami akan menjual T-shirt pada versi pertama dari Groupon. Kami akan mengatakan dalam menuliskan, “Ini T-shirt akan hadir dengan warna merah, berukuran besar. Jika Anda ingin warna atau ukuran yang berbeda, maka e-mail lah kami”. Kami tidak memiliki form untuk menambahkan hal itu. Itu hanya terangkai/tergabung.

Itu sudah cukup untuk membuktikan konsep dan menunjukkan bahwa ternyata menjadi sesuatu yg disukai pasar. Generate kupon sendiri sebenarnya mereka lakukan semua dengan FileMaker. Mereka akan menjalankan script yang akan mengirim e-mail ber-attachment PDF kupon kepada orang-orang.

Itu sampai ke titik di mana mereka akan menjual 500 kupon sushi dalam sehari, dan mereka mem-blast/mengirimkan 500 PDF dengan Apple Mail pada waktu yang sama. Benar-benar sampai Juli tahun pertama itu hanya berjuang untuk meraih “harimau melalui ekor”.

Hal itu untuk mengejar ketinggalan dan cukup dalam membangun sebuah produk.
PDF Handmade, kupon pizza dan sebuah blog sederhana sudah cukup untuk memulai Groupon menjadi berhasil memecahkan rekor, itu adalah pada rekor kecepatan untuk menjadi perusahaan tercepat dalam sejarah dalam mencapai penjualan $ 1 miliar.

Ini adalah merevolusi cara bisnis lokal menemukan pelanggan baru, menjual penawaran khusus kepada konsumen pada lebih dari 375 kota di dunia.

Mendevelop sebuah produk minimum yang layak (“Minimum Viable Product” = MVP) membantu pengusaha memulai proses belajar secara kilat. Hal ini tidak selalu berupa produk terkecil yang terbayangkan, meskipun, itu hanya cara tercepat melalui “Build-Measure-Learn” – feedback loop.. hanya dengan effort yang minimum untuk memulai iterasi berkelanjutan pada pengembangan pasar dan produknya. Jika ide MVP tidak berjalan seperti skenario awal maka langkah selanjutnya adalah untuk untuk action “pivot” dan segera mencari sudut yang lebih tepat lagi.

Build Measure Learn - feedback loop

Bertentangan dengan siklus pengembangan produk tradisional, yang biasanya menggunakan pendekatan “one shoot” yang melibatkan waktu panjang, juga masa inkubasi yang panjang dan berkutat untuk mencapai kesempurnaan produk pada fase awal pengembangan bisnis/produk. Pendekatan lama ini sudah usang dan tidak bisa menjawab tantangan bisnis yang makin dinamis dan “tidak menentu“, yang menuntut dinamika perubahan-perubahan kebutuhan, persaingan dan market timing yang sangat demanding.

Tujuan MVP seperti pada kasus berdirinya Groupon tsb adalah usaha untuk memulai proses pembelajaran, bukan untuk mengakhirinya. Tidak seperti tes prototipe atau konsep, MVP yang dirancang tidak hanya untuk menjawab desain produk atau pertanyaan teknis. Tujuannya adalah untuk menguji hipotesis bisnis yang mendasar.

Kenapa teknik baru ini lebih unggul dan lebih sesuai dengan kondisi pasar yang ada saat ini? Karena kita mempunyai kesempatan menerapkan “continues improvement” dari segi Customer Development dan Product Development sekaligus! Cara lama adalah men-survey customer, baru kemudian membuat dan memproduksi produknya dalam satu siklus “One Shoot”, cara ini sudah sering menjadikannya menjadi pengembangan produk yang gagal.

Seperti itu lah Groupon Lahir. Hanya diawali dengan CMS WordPress! Test hipotesis ide bisnis dan… ternyata Ide Bisnisnya disambut oleh pasar!

Teknik ini bisa diterapkan untuk semua jenis usaha, baik usaha besar maupun usaha kecil… baik high tech maupun low tech…

Anda punya kisah pribadi yang senada? Mau share penerapan teknik ini pada usaha anda?

Monggo silakan comment 🙂

Social Media for B2B Company

Berhubung saya sering sekali menerima pertanyaan “Apa gunanya Social Media bagi B2B Company?”, berikut saya paste pandangan dari Pakar Social Media, Brian Solis. Sbb.

==
Question: What are the best practices for B2B?

Answer:

Social media is not relegated to any industry. The benefits of smarter engagement know no bounds. However, smarter engagement, regardless of market or industry, requires research and an understanding of how people find and share information and also how they influence and are influenced by their peers. You’ll find that with B2B, information, direction, insights around challenges and opportunities, are bound by shared experiences. What’s different of course, are the networks and the nature of the interaction. Depending on the nature of the business, the top networks are usually not Facebook and Twitter – instead, they’re blogs, YouTube, and LinkedIn.

Companies focused on solutions for other businesses find that participating in conversations for the sake of conversations carry little value. Instead, delivering value or insights based on real-world challenges or questions helps decision makers make decisions.

For example, Indium, a global solder supplier specializing in solder products and solder paste for electronics assembly materials, studies how prospects search for solutions based on keywords. Rather than manipulate search results to send people to Web pages, the company invests in useful content to match keyword searches with value-added original content. The result? The company experienced a 600% spike in leads over the course of six months.

If you add video to the equation, there’s a reason that Youtube is the second largest search engine next to Google. People are using similar keywords to find results based on a video narrative.
The question is, what are your customers and prospects searching for and what’s turning up in their results?

Overall, it’s time to take a few simple, but profound steps to bridge the gap between customer expectations and business objectives.

  1. Close the gap between what your audience wants and what you think they want.
  2. Avoid the repetitive, one-way messaging that gets you culled from people’s social streams.
  3. Turn your customers into your sales force with shareable new media experiences.

Altimeter Report: Social Commerce, How Brands Are Generating Revenue in Social Media, by @lcecere

Definisi dari eCommerce sangatlah luas. Bagi saya definisi  eCommerce model lama yang kurang berhasil adopsinya di Indonesia menjadi barrier adopsi eCommerce selanjutnya. Mestinya para pemain fokusnya adalah lebih jeli dalam memlilih model yang “cocok” untuk budaya Indonesia.

Tentu kita semua pernah mendengar Forum Jual Beli Kaskus (FJB). FJB Kaskus adalah bukti suksesnya eCommerce dengan model Social Commerce di Indonesia.

Dulunya sich saya yakin, Kaskus tidak membuat FJB by Design secara ter-struktur. Kemungkinan besar secara kebetulan dilahirkan setelah Forum membernya membesar dan ternyata kemudian sukses besar. Ternyata orang Indonesia cocok banget dengan model Social Commerce.

Lantas, bagaimana sich CARA men-generate revenue dengan model Social Commerce? Adakah guidance yang komprehensif ?

“Move quickly, make decisions based on the voice of the customer, and fail forward, taking your insights onto the next chapter of the Rise of Social Commerce.” (Manish Mehta, social pioneer at Dell)

Ringkasnya, stepping adopsi adalah sbb:

Silakan simak secara lengkap guidance dari Altimeter yang sangat berdaging di bawah ini.

Monggo silakan dikomentari untuk diskusi.