Uncovering Steve Jobs’ Presentation Secrets

For his new book, communications coach Carmine Gallo watched hours of Jobs’ keynotes. Here he identifies the five elements of every presentation by the Apple CEO

By Carmine Gallo
published on businessweek.com


The Apple music event of Sept. 9, 2009, marked the return of the world’s greatest corporate storyteller. For more than three decades, Apple (AAPL) co-founder and CEO Steve Jobs has raised product launches to an art form. In my new book, The Presentation Secrets of Steve Jobs: How to Be Insanely Great in Front of Any Audience, I reveal the techniques that Jobs uses to create and deliver mind-blowing keynote presentations.

Steve Jobs does not sell computers; he sells an experience. The same holds true for his presentations that are meant to inform, educate, and entertain. An Apple presentation has all the elements of a great theatrical production—a great script, heroes and villains, stage props, breathtaking visuals, and one moment that makes the price of admission well worth it. Here are the five elements of every Steve Jobs presentation. Incorporate these elements into your own presentations to sell your product or ideas the Steve Jobs way.


1. A headline. Steve Jobs positions every product with a headline that fits well within a 140-character Twitter post. For example, Jobs described the MacBook Air as “the world’s thinnest notebook.” That phrase appeared on his presentation slides, the Apple Web site, and Apple’s press releases at the same time. What is the one thing you want people to know about your product? This headline must be consistent in all of your marketing and presentation material.

2. A villain. In every classic story, the hero fights the villain. In 1984, the villain, according to Apple, was IBM (IBM). Before Jobs introduced the famous 1984 television ad to the Apple sales team for the first time, he told a story of how IBM was bent on dominating the computer industry. “IBM wants it all and is aiming its guns on its last obstacle to industry control: Apple.” Today, the “villain” in Apple’s narrative is played by Microsoft (MSFT). One can argue that the popular “I’m a Mac” television ads are hero/villain vignettes. This idea of conquering a shared enemy is a powerful motivator and turns customers into evangelists.

3. A simple slide. Apple products are easy to use because of the elimination of clutter. The same approach applies to the slides in a Steve Jobs presentation. They are strikingly simple, visual, and yes, devoid of bullet points. Pictures are dominant. When Jobs introduced the MacBook Air, no words could replace a photo of a hand pulling the notebook computer out of an interoffice manila envelope. Think about it this way—the average PowerPoint slide has 40 words. In some presentations, Steve Jobs has a total of seven words in 10 slides. And why are you cluttering up your slides with too many words?

4. A demo. Neuroscientists have discovered that the brain gets bored easily. Steve Jobs doesn’t give you time to lose interest. Ten minutes into a presentation he’s often demonstrating a new product or feature and having fun doing it. When he introduced the iPhone at Macworld 2007, Jobs demonstrated how Google Maps (GOOG) worked on the device. He pulled up a list of Starbucks (SBUX) stores in the local area and said, “Let’s call one.” When someone answered, Jobs said: “I’d like to order 4,000 lattes to go, please. No, just kidding.”

5. A holy smokes moment. Every Steve Jobs presentation has one moment that neuroscientists call an “emotionally charged event.” The emotionally charged event is the equivalent of a mental post-it note that tells the brain, Remember this! For example, at Macworld 2007, Jobs could have opened the presentation by telling the audience that Apple was unveiling a new mobile phone that also played music, games, and video. Instead he built up the drama. “Today, we are introducing three revolutionary products. The first one is a widescreen iPod with touch controls. The second is a revolutionary mobile phone. And the third is a breakthrough Internet communications device…an iPod, a phone, an Internet communicator…an iPod, a phone, are you getting it? These are not three devices. This is one device!” The audience erupted in cheers because it was so unexpected, and very entertaining. By the way, the holy smokes moment on Sept. 9 had nothing to do with a product. It was Steve Jobs himself appearing onstage for the first time after undergoing a liver transplant.

One more thing…sell dreams. Charismatic speakers like Steve Jobs are driven by a nearly messianic zeal to create new experiences. When he launched the iPod in 2001, Jobs said, “In our own small way we’re going to make the world a better place.” Where most people saw the iPod as a music player, Jobs recognized its potential as a tool to enrich people’s lives. Cultivate a sense of mission. Passion, emotion, and enthusiasm are grossly underestimated ingredients in professional business communications, and yet, passion and emotion will motivate others. Steve Jobs once said that his goal was not to die the richest man in the cemetery. It was to go to bed at night thinking that he and his team had done something wonderful. Do something wonderful. Make your brand stand for something meaningful.

For more of Job’s techniques, flip through this slide show. Then catch a video interview with Carmine Gallo about how he researched his book.

Rumus Sederhana Motivational Speaking

By Ikhwan Sopa

Tulisan ini saya rilis ulang terkait dengan note-nya Mas Yudi di sini:


Ini adalah tentang cara mudah menyajikan materi motivasional, yang diinspirasi dari materi oleh:  Mahavir Mohnot.

Kita sering mendengar dua kata ini, motivational speaker. Seseorang berbicara di depan audience, dengan cara bicara yang amat meyakinkan, membuat semua orang terkesima, dan bisa merubah hidup para pendengarnya. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Berikut adalah teknik yang paling umum digunakan oleh para motivational speaker.


Pertama dan paling penting: Buatlah audience merasa nyaman dengan pernyataan atau ungkapan yang kurang lebih berkesan: “I am Ok, You are Ok”. “Anda dan saya baik-baik saja.”

“Saya senang sekali bisa bersama di ruangan ini, dengan sekelompok orang yang cerdas, pandai dan brilian! Dengan orang-orang hebat yang siap untuk belajar!”

Jangan dulu bicarakan tentang subyek atau topik utama Anda. Kuasai keahlian “rapport” Anda. Beri sinyal bahwa sesi Anda akan menyenangkan, atau bahkan heboh, dan penuh makna.


Mulailah berbicara dari sebuah titik yang disebut dengan “titik kesepahaman”. Titik ini adalah sebuah cara pandang, atau persepsi, atau pemahaman di mana setiap orang akan mengatakan atau merasakan: “Ya! Memang begitulah adanya.”

“Cinta, adalah salah satu hal paling berharga di dunia.”

(contoh: Aa Gym dengan “betul?”, Tung Desem dengan “boleh?”, saya sendiri – ini sih kata orang – dengan “ya toh?”). Baca lagi note saya tentang teknik persuasi di sini, tentang kekuatan persuasi, khususnya bagian “Kerangka Persetujuan”:



Secara perlahan, bergeraklah ke “titik perbedaan”, atau “titik ketidaksepahaman” atau “titik kontroversi”. Di dalam bahasa pemrograman (NLP) ini erat hubungannya dengan “decision point”, di dalam hypnosis ini erat hubungannya dengan menciptakan “cataleptic moment”. Apapun itu, intinya Anda menggiring audience ke situasi tertentu.

Pergeseran ini harus dilakukan secara bertahap. Semua pergeseran itu harus merupakan pergeseran dari KEPALA ke HATI atau dari KEPALA ke PERUT. Dari alasan-alasan LOGIS ke persoalan PERASAAN dan SUASANA HATI.

“Kita mencintai kehidupan. Kita mencintai makhluk dan ciptaan Tuhan di bumi. Kita mencintai teman dan keluarga. Kita ingin semuanya terpelihara dan terpenuhi kebutuhannya. Kita ingin selalu ada di sana saat mereka memerlukan kita. Dalam suka dalam duka. Hanya dengan berada di sana, kita merasakan bahwa kita telah memberikan dukungan emosional. Hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk orang-orang yang kita cintai, adalah dengan berada di sana bersama mereka. Ingatlah kembali bagaimana Anda berinteraksi dengan orang-orang yang Anda cintai… Ingatlah kembali bagaimana Anda mencintai kehidupan ini…”

“Jika orang-orang itu adalah orang-orang penting dalam hidup Anda, maka merekalah cinta kita. Itu berarti bahwa Anda dan saya… adalah juga orang-orang penting dalam kehidupan setiap orang.”

“Dan jika kita mencintai mereka, maka mengapakah kita terus saja menghancurkan diri sendiri dengan berbagai perilaku yang buruk? Perilaku yang buruk di mata kita, dan di mata mereka — orang-orang yang kita cintai itu?”

“Bayangkanlah beberapa tahun dari sekarang, jika seseorang yang kita cintai berada dalam masalah, atau berada dalam kesenangan dan kebahagiaan. Dan saat itu, mereka begitu ingin, sangat-sangat ingin berbagi semua itu dengan kita. Sangat ingin saling menaruh perhatian dengan kita? Dan…”

Pertahankanlah kontak mata, perhatikan bahasa tubuh audience Anda.

Di sini, Anda mulai bisa mengajak mereka menyelami kembali kehidupan masing-masing. Anda akan sangat terbantu jika Anda memanfaatkan kecanggihan audio visual.


Saat Anda bisa merasakan bahwa mereka telah mencapai suatu “titik tuned-in” dengan Anda, jangan buang kata lagi. Mintalah mereka melakukan sesuatu! Sesuatu yang sangat jelas, mudah dan realistis. Sesuatu yang harus dilakukan — hari ini juga!

“Bisakah kita memutuskan — sekarang — dan berkomitmen mengakhiri segala perilaku buruk yang menyakiti dan melukai orang-orang yang kita cintai? Sebagai sebentuk rasa syukur kita kepada Tuhan?”

(misalnya, Anda bisa meminta audience Anda merenungkan sesuatu tentang “rasa syukur” seperti klip ini: http://www.youtube.com/watch?v=KT6FST2CPt0 )

Setelah itu Anda bisa melakukan break state, agar mereka bisa kembali berkonsentrasi.

“Mari kita tandai kesepakatan ini, dengan membubuhkan tanda tangan di kertas ini — sekarang!”


Anggaplah mereka bisa menyetujuinya. Katakan bahwa Anda yakin dan percaya bahwa mereka semua akan melakukannya sesuai komitmen.

Berterimakasihlah pada mereka, dan tutup bicara Anda.


Dalam setiap tahap, maksimalkan penggunaan kata “kita”. Kita tahu. Kita harus. Kita bisa. Kita ingin. Kita berharap.

Gunakan metode pathos (emosional) yang lebih powerful. Cara termudah adalah dengan menggunakan kalimat konotatif seperti “Kita berharap, seperti kita berharap saat kita melihat langit akan runtuh.”

Jangan lepas anak panah lebih dari yang diperlukan.

Jangan paksakan situasi emosional. Biarkan ia mengalir secara alamiah. Jika tidak, semuanya akan buyar.

Ingatlah bahwa satu CERITA TENTANG MANUSIA adalah lebih powerful dari pada seratus argumentasi, daripada ribuan fakta dan angka.

Buatlah seluruh sesi Anda dipenuhi dengan hypnotic language, Yes Factor, dan Wow Effect.

Semoga bermanfaat bagi Anda yang ingin menjadi motivational speaker atau ingin meningkatkan kekuatan bicara.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Public Speaker’s Mental Builder